Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Foto di dalam bingkai


__ADS_3

Akhirnya Zein membuka ponselnya, dilihatnya dan ternyata panggilan itu dari (Evelin). Yang tak lain adalah adik perempuannya. Ada apa Evelin menghubungiku malam-malam begini? Batinnya cemas, Evelin tidak akan menghubunginya kecuali hal yang begitu penting. "Iya, ada apa de?" tanya Zein.


"Kak, mama kumat lagi.. Hiks." Sambil terisak tangis, Evelin memberitahukan.


"Ya Tuhan, lalu bagaimana kondisi mama sekarang?" tanya Zein tergesa.


Tiba-tiba wajah Zein berubah cemas dan matanya berkaca-kaca. Rania yang mendengar perkataan Zein ikut cemas. Ia beranjak dari ranjang dan merapikan baju tidurnya yang tersingkap karena cumbuan Zein.


"Sekarang mama sudah di tangani dokter Viona, kondisinya cukup membaik kak." jelas Evelin.


"Hhhhh... Syukurlah... Kaka ke sana sekarang. Jaga mama baik-baik di rumah!!" Mendengar jawaban dari adiknya, cukup membuat Zein lega dan sedikit tenang, lalu mengakhiri panggilan itu dengan segera dan bersiap untuk pergi melihat kondisi ibunya.


"Zein... Apa yang terjadi dengan mama?" tanya Rania penasaran sembari memegang lengan suaminya.


"Mama kumat lagi... Sekarang sedang dalam perawatan di rumah." jelas Zein cepat.


"Tadi siang aku lihat, mama sehat-sehat saja, Zein. Bagaimana mungkin sekarang mama jatuh sakit?" ucap Rania bingung, karena siang tadi ia masih berbincang dengan ibu mertuanya.


"Mungkin hari ini mama terlalu sering terkena sinar UV (Ultra Violet) membuatnya jatuh sakit, aku sudah melarang mama datang ke rumah, tapi tetap memaksa." jelas Zein.


Sejenak Rania membatin, mencerna setiap ucapan yang dikatakan Zein barusan, dalam benaknya mulai menerka. Apakah ibu mertuanya mengidap penyakit yang cukup serius? Sehingga tidak boleh terkena paparan sinar matahari. Jika memang demikian, lalu untuk apa memaksa menemuinya tadi siang? Hanya untuk menanyakan dirinya sedang hamil atau belum? Tadi siang, mama memang terlihat sedikit pucat. Dadanya berdesir, entah kenapa Rania berpikir jika mama mertuanya sangat berharap dirinya segera hamil.


"Jika demikian, seharusnya mama tidak perlu repot-repot datang ke rumah, Zein! Aku bisa sesekali berkunjung ke sana jika mama mau." ucap Rania pelan.


"Itulah mama, kadang kalau berkeinginan, ya harus. Tidak perduli dirinya sendiri, sudah cepat bersiap, kita akan ke sana sekarang juga!!." ajak Zein tergesa.


"Iya, aku ganti baju sebentar." dengan tergesa, Rania bergegas mengganti pakaian.


Mobil itu melaju dengan kecepatan maksimal menembus dinginnya malam kala itu. Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Zein. Dengan segera keduanya berjalan memasuki rumah sampai langkahnya berhenti di sebuah pintu kamar bertuliskan (Ruang Rawat) di rumah mertuaku ada kamar khusus rawat. Batin Rania menerka, apa mungkin mama menderita penyakit yang cukup serius hingga membuatnya harus sering di rawat di kamar ini? Padahal ibu mertuanya terlihat sehat-sehat saja setiap kali bertemu pada beberapa pertemuan.

__ADS_1


Namun ia tak ingin banyak bertanya ataupun bicara, hanya mengikuti langkah suaminya di samping.


Dengan segera, Zein membuka pintu kamar tersebut. Nampak di dalam ibunya sedang tertidur di tempat tidur dengan selang infuse di tangan kanannya. Terlihat juga ayah, adiknya dan juga dokter Viona yang sedang menunggu, duduk di sofa dekat tempat tidur ibunya.


"Kak Zein dan kak Rania" Evelin mendekat dan memberi salam pada mereka.


Zein segera mendekati mamanya lalu mencium tangan papanya. Diikuti dengan Rania."Pah, bagaimana kondisi mama saat ini? Tanya Zein cemas.


"Tidak apa-apa, Zein. Sudah agak membaik." jawab papanya sembari melirik Rania dan tersenyum. "Bagaimana kabarmu Rania?"


"Baik pah." Rania menjawab salam sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu." balas mertuanya.


Setelah mereka berbincang selama hampir dua jam, waktu juga sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Terlalu malam untuk melakukan perjalanan pulang. Akhirnya Zein memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya malam itu.


*Keesokan harinya.


"Selamat pagi, Nyonya?" beberapa pelayan di dapur menyapanya dengan sopan seraya menundukkan kepala mereka.


"Pagi." jawab Rania sembari tersenyum.


Hanya untuk menyiapkan sarapan pagi saja membutuhkan empat orang pelayan di dapur? Di rumahku, satu orang saja di dapur sudah cukup. Rania membatin heran.


"Nyonya, apa yang anda butuhkan sehingga harus repot-repot datang ke dapur?" tanya salah seorang pelayan.


"Ah... Tidak apa-apa, aku hanya ingin membantu menyiapkan makanan saja, heheh..." jawab Rania sembari tertawa kecil.


"Nyonya, itu tidak perlu! Kami bisa mengurusnya. Sebaiknya Nyonya istirahat saja!" sela pelayan itu.

__ADS_1


"Mmm... Baiklah." Rania meninggalkan dapur, langkahnya mulai mengelilingi ruang tengah, memamndangi setiap isi rumah yang luas itu. Ada beberapa foto menggantung di tembok. Mendekati setiap foto dan melihatnya sambil menerka.


Nampak beberapa foto keluarga menggantung di tembok.


Apa itu Zein? Dia lucu sekali... sambil tertawa geli di dalam hati, Ia melihat foto balita laki-laki dengan tubuh gemuk sedang memegang pistol mainan. Pikirnya pasti itu adalah suaminya, sebab hanya Zein lah anak laki-laki di keluarga mereka.


Matanya terus menelusuri setiap foto. Sampai ketika matanya tertuju pada sebuah bingkai kecil di sudut meja. Betapa terkejutnya ketika ia melihat foto dirinya dan seorang laki-laki sedang duduk bersama dengannya disebuah bangku di taman. Seolah tidak percaya, ia mengucek-ngucek matanya, memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat. Tetap saja itu adalah foto dirinya.


Nampak gadis kecil berusia tujuh tahun sedang memegang es krim di tangannya dengan ekspresi tertawa. Dan seorang laki-laki berusia sepuluh tahun sedang menatap dengan tersenyum gadis kecil di sampingnya yang sedang memakan es krim itu.


Ia ingat itu adalah dirinya. Wajahnya terlihat jelas. Dalam benaknya, bagaimana mungkin dirinya dan suaminya ada dalam foto satu foto? Sedangkan dia sendiri baru mengenal suaminya setelah nikah. Ia bahkan tidak mengingat masa kecilnya, karena sebuah kecelakaan beberapa tahun silam menimpanya. Apa mungkin aku dan Zein sudah saling mengenal sejak kecil? Rasa penasarannya semakin membuncah, di pandangnya foto dirinya dengan seksama.


Jepit rambut itu... Rasanya aku pernah melihatnya? Tapi di mana? Rania berusaha mengingat jepit rambut berwarna merah muda yang menempel di rambutnya di dalam bingkai foto tersebut. Namun, pikiran lainnya datang.


sepertinya aku pernah melihat jepit rambut itu di rumah suamiku? Selang beberapa detik. Ah... Aku ingat waktu itu aku lihat benda itu di dalam kotak kaca berukuran kecil yang ada di lemari kaca suamiku. Lalu apa artinya semua ini? Batinnya masih terus menerka.


Bodoh sekali sih... Bahkan untuk mengingat masa kecilku saja, aku tidak bisa? Aku bahkan tidak mengingatmu, Zein. Rania meneriaki dirinya sendiri dengan kata bodoh.


Belum sempat ia menerka semua masa kecilnya yang hilang dari ingatannya.


"Sayang... Sedang apa di sini? Apa yang kau lihat sampai begitu serius? Zein datang dan mengagetkannya hingga membuatnya terperanjat dan berdiri tegak.


"Ah... Tidak apa-apa, Zein." jawab Rania seolah tidak melihat apa-apa sambil menatap wajah Zein penuh dengan tanya.


Apa kau sudah menyukaiku sejak kecil, Zein? Itukah maksud dari ucapanmu waktu itu? Apa akulah cinta pertamamu, Zein? Batinnya menerka, bercampur rasa sedih menggelayut di hatinya. Foto masa kecil dirinya bersama Zein di dalam bingkai kecil itu, seolah melukai hatinya. Entah kenapa ia merasakan perasaan berbeda ketika melihat foto itu, seperti ingin menangis, tapi air matanya terlalu sulit untuk di keluarkan dengan bebas di hadapan suaminya yang sedang menatapnya.


*Bersambung.


Alhamdulillah novel ini sudah dapat kontrak dari Noveltoon hari senin tgl 16 maret 2020 kemarin 🤗. Semua berkat kalian yang sudah setia dan nyempetin buat baca Novel author ini. Mohon dukungannya yang lebih lagi dongs readers ku tercinta 🤗 biar semakin semangat nulisnya.

__ADS_1


Klik like, tinggalkan komen, klik favorit, kasih bintang lima dan vote sebanyak-banyaknya ya. Terima kasih. 🤗


Ingat yah. VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE. 🤗


__ADS_2