Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Aku mencintaimu


__ADS_3

Foto itu... Zein, mungkinkah aku pernah mencintaimu ? Seperti kau mencintaiku selama ini? Batinnya terus mengingat. Hal apa saja yang pernah dilaluinya bersama Zein saat masih kecil. Sekeras apapun ia berusaha mengingat, ia tetap tidak bisa mengingatnya.


Ya Tuhan... Kembalikan lah ingatanku!! Laki-laki di depanku ini terlalu baik jika harus terhapus dalam ingatanku. Rania membatin berharap ingatan masa kecilnya segera kembali.


Zein melirik foto berbingkai di sudut meja, lalu pandangannya beralih menatap wajah Rania yang terus menatapnya penuh tanya, matanya terlihat berkaca-kaca. Apa kau sudah mengingatku, Rania? Zein membatin penasaran. Keduanya saling menatap satu sama lain, diam dalam tatapan yang tak bisa diartikan.


"Kak..." suara panggilan Evelin di belakang membuyarkan lamunan mereka. "Cieeee... Pagi-pagi sudah main tatap tatapan saja." Evelin berusaha meledek mereka.


"Hahaha... Tentu saja! Apa kau iri?" tawa Zein pecah mendengar ucapan adiknya. Begitupun dengan Rania, ia hanya tersenyum malu.


"Kaka sudah melihat kondisi ibu?" tanya Evelin.


"Belum, sebentar lagi kaka ke ruang rawat." balas Zein.


"Oh... Ya sudah. Nanti kita sarapan bersama ya kak!" pinta Evelin manja.


"Tentu saja." Zein menjawabnya dengan senyum sembari mengelus manja rambut adiknya.


Semenjak menikah, Zein dan adiknya memang jarang sekali bertemu, apa lagi untuk sekedar bercanda bersama.


Mereka terlihat sangat dekat. Batin Rania tersenyum melihat kedekatan kakak beradik yang begitu manis. Dalam benaknya, Zein hampir tidak pernah mengelus rambutnya semanis itu, namun ia cukup sadar diri, selama ini dirinya tidak pernah berlaku baik dan lembut pada suaminya. Bagaimana mungkin suaminya memperlakukan nya dengan manja. Selama ini Zein begitu canggung terhadap Rania, karena Rania selalu acuh terhadapnya. Tidak sedikit juga ia mendapat penolakan dari Rania sebelumnya.


Zein, hari ini dan seterusnya aku ingin terus mencintaimu layaknya kau mencintaiku selama ini. Jujur... Rasanya aku ingin memelukmu. Batin Rania penuh harap.


"Sayang... Apa kau akan terus berdiri di sini dan menatapku terpesona seperti itu?" lagi-lagi suara Zein memecah lamunannya sembari meledek. "Hahaha... Apa? Kau bilang, aku terpesona padamu? Kau lah yang terpesona padaku!!" Rania membalikkan perkataan Zein.


Lalu Zein berjalan menuju ruang rawat, di ikuti Rania yang berjalan di sampingnya. Melihat keadaan ibunya yang sedang di rawat. Begitu masuk ke dalam, Zein mendapati ibunya tengah duduk menyandar di bahu ranjang. Terlihat juga ayahnya yang sedang menyuapi ibunya.


"Zein... Sejak kapan kau di sini?" ibunya bertanya heran, lalu pandangannya beralih ke wajah Rania yang berada berdiri di samping Zein. "Rania... Kau juga di sini?" tanyanya lagi.


"Ah... Iya mah, semalam aku dan Zein datang ke sini untuk melihat keadaan mamah." jawab Rania sambil melempar senyum.


"Kami juga menginap di sini semalam" sambung Zein.


"Benarkah?" ibunya tersenyum senang. Lalu di tatap wajah anak dan menantunya seraya menarik tangan keduanya. "Ibu ingin sekali memiliki cucu dari kalian!!" pintanya dengan wajah pucat, berharap anaknya segera mendapatkan keturunan.


Hmmm... Sudah ku duga... Itulah alasan mamah kemarin datang menemuiku. Rania membatin.

__ADS_1


Rania hanya tersenyum mendengar perkataan ibu mertuanya. Begitupun dengan Zein.


"Tentu saja mah... Secepatnya mama akan mendapatkan cucu dari kami." ucap Rania tersenyum, berusaha menghibur hati mertuanya yang sedang sakit. Seketika Zein menatap wajah istrinya, seolah tidak percaya dengan yang dikatakan istrinya barusan. Ia berpikir istrinya banyak berubah akhir-akhir ini. Tentu saja ia merasa senang dengan perubahan itu.


"Nah... Mama sudah dengar kan yang dikatakan Rania barusan? Jadi, sekarang mama harus semangat buat sembuh yah." dengan tersenyum, Zein menyemangati ibunya. Lalu Ibunya membalas senyum.


"Ya sudah... Aku berangkat kerja dulu ya mah. Mama sehat-sehat di sini. Pulang kerja aku ke sini lagi." ucap Zein sembari memegang tangan ibunya, ibunya hanya mengangguk.


Kemudian Zein dan Rania meninggalkan kamar dan menuju ruang makan. Di sana sudah ada Evelin, duduk manis menunggu Zein dan Rania untuk makan bersama.


"Wah... Sudah sudah menunggu kaka rupanya?" Ucap Zein melirik Evelin yang tengah duduk di bangku.


"Tentu saja, ayo cepat makan kak! Aku sudah lapar nih..." pinta Evelin tidak sabar.


"Iya... Iya..." kata Zein tersenyum.


Di meja makan itu hanya ada Zein, Rania dan Evelin. Ayah dan ibunya berada di ruang rawat, ketiganya menikmati sarapan pagi dengan santai.


"Sayang... Apa hari ini kau pergi ke butik?" tanya Zein.


Rupanya panggilan itu berasal dari Melly, asisten pribadinya di butik. Dengan segera ia menggeser tombol berwarna hijau.


"Halo... Kenapa mel?" tanyanya pelan.


"Halo... Selamat pagi Bu? Hari ini ada klien yang memaksa ingin bertemu dengan Ibu sekarang juga. Apa ibu bisa datang ke butik sekarang?" kata Melly tergesa di seberang telepon.


Siapa? Mungkinkah orang itu adalah...? Batin Rania bertanya-tanya.


"Mmm... Baiklah, aku akan ke sana." balas Rania, lalu segera mengakhiri panggilan dari Melly.


Sebenarnya Rania tidak begitu senang, ketika pikirannya menebak kalau-kalau yang menunggunya di butik adalah Rey. Justru ia ingin sekali memakinya, setelah Rey mengancam suaminya di pantai waktu itu.


"Apa panggilan itu dari Melly?" tanya Zein.


"I... Iya Zein, Melly memintaku segera ke butik!" jawab Rania terbata.


Perasaanku tidak enak hari ini. Tapi aku cukup lega karena kemanapun kau pergi, aku tetap bisa memantaumu dari jauh lewat GPS yang sudah ku pasang semalam di ponselmu. Batin Zein sedikit tidak tenang setelah Rania menjawab panggilan telepon dari Melly.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai ke butik." Zein tersenyum, lalu mengelus rambut pendek Rania.


Tiba-tiba wajah Rania berubah, ada rona merah di pipinya. Merasa malu bercampur senang, dan melemparkan senyuman pada suaminya.


"ckckckck... Wah... Apa kalian sedang membuatku iri?" suara Evelin membuyarkan keduanya.


"Hahahah... Suatu saat kau juga akan seperti ini de!! Kau tidak perlu iri, makanya di rubah lebih feminim sedikit lah penampilanmu biar ada yang tertarik padamu."


"Eitsss... Kaka tidak tahu yah? Di kampus... Aku ini banyak di gilai para laki-laki. Ini bukan perkara laku atau tidak, tapi ini soal hati." Evelin balik meledek dan memajukan bibirnya.


"Hahaha... Tentu saja kaka tahu. Kau kan cantik, mana mungkin adik dari laki-laki yang tampan ini tidak di kejar oleh laki-laki, benar kan sayang?" Zein melirik wajah Rania dan berusaha melambungkan hati adiknya.


"Huuuh..." balas Evelin.


Rania hanya tertawa melihat tingkah mereka. Dari situ, Rania mulai menyadari, bahwa laki-laki yang ada di sampingnya itu sesungguhnya sosok suami yang sempurna. Hari itu, Rania seolah tersihir oleh kehangatan sikap suaminya.


Tetapi pikiran lainnya menerobos masuk, seolah mengganggu pikirannya tentang Zein saat itu. Siapa orang yang ingin menemuinya di butik? Bahkan jika itu ternyata adalah Rey, ia berharap itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Rey, ia ingin sekali melenyapkan Rey dari hatinya dengan menegaskan pada Rey, bahwa dirinya sudah melupakannya mencintai suaminya.


Setelah selesai sarapan. Keduanya berangkat dalam satu mobil seperti biasanya.


Hanya lima belas menit saja untuk sampai di butik milik Rania. Begitu sampai di depan butik, Rania bergegas keluar, namun Zein menarik dan memegang tangan kanan Rania. Kemudian Rania membalik tubuhnya dan menatap wajah suaminya, ia mengernyitkan alisnya. Bingung apa yang akan di lakukan suaminya hingga menghalanginya yang hendak keluar mobil dengan memegang tangannya. Rania diam dan tidak bertanya apa maksud suaminya. Zein mendaratkan kedua tangannya di pipi Rania, memajukan wajahnya dan mengecup kening Rania, kemudian beralih mendekati telinga Rania.


Aku mencintaimu... Sejak sembilan belas tahun yang lalu, saat kau melempar es krim coklat ke wajahku, hanya karena aku mengejekmu jorok ketika makan es krim. Bisik Zein menggoda. Lalu menggeser pelan tubuhnya dan berlagak merapikan jas dan juga dasi yang melingkar di lehernya.


Deg... Untuk kesekian kalinya, hatinya berdebar mendengar ucapan suaminya yang mengejutkannya."Zein... Kau" belum sempat Rania meneruskan perkataannya. "Cepat turun, Melly sudah menunggumu!!" Zein memotong ucapan Rania, sembari menunjuk ke arah butik dari dalam mobil. Menyadari Melly sedang menunggunya, Rania pun segera turun.


Namun sebelum ia keluar dari mobil, Rania mendekati Zein dan balik berbisik di telinga Zein. Sembilan belas tahun yang lalu, waktu usiaku tujuh tahun... Apa kau yang telah mencuri jepit rambutku? Mendengar bisikan itu, Zein terkejut. Hatinya berdesir, pikirnya, mungkinkah ingatkan Rania sudah kembali?


*Bersambung.


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Tolong Hargai author yang lagi semangat nulis 🖊️membuat cerita buat kalian. 😊


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


TERIMAKASIH. 🙏🏻❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2