
David dan Ronald tampak terkejut satu sama lain.
Sial... Kenapa dia bisa ada di sini? Batin Ronald kesal.
Brengsek... Beraninya dia datang ke sini? Kau pikir aku tidak tahu maksudmu? Ternyata diam-diam kau...? Batin David kesal.
Keduanya saling memaki di dalam hati mereka.
"Sedang apa kau di sini?" tanya David dengan tatapan penuh selidik.
"Kau sendiri...? Sedang apa di sini?" belum menjawab pertanyaan David, Ronald malah bertanya balik.
"Tentu saja ingin menyaksikan suara merdu calon istriku." balas David dengan percaya dirinya.
Hahaha... Bicara apa dia? Apa dia sedang mabuk? Batin Ronald mencela.
Ronald menatap dalam wajah David dengan tatapan sinis-nya. "Calon istri? Siapa maksudmu?" tanya Ronald penasaran.
"Tentu saja Tania." balas David dengan wajah bangganya.
David melipat kedua tangannya di atas dada dan mendongakkan kepalanya ke atas.
Cih... Mimpi saja kau...! Batin Ronald melecehkan.
Tak ingin menimpali ucapan David, Ronald pun diam dan hanya menatapnya dengan tatapan sinis, menyilangkan kaki kanannya menumpuk di atas kaki kiri, lalu meneguk lemon tea yang masih di pegangnya.
"Apa kau tahu, Ron?" ucap David sembari mendekati wajah Ronald. "Tania pergi bersamaku tadi." bisiknya dengan sengaja di telinga Ronald.
Mendengar pernyataan dari David barusan, cukup membuat Ronald kesal, ia kalah cepat dengan David.
******** ini... Apa dia tidak takut pada Zein? Beraninya mendekati adik iparnya. Ronald membatin penuh emosi.
"Lalu... Apa urusanku." balas Ronald berlagak tidak perduli dengan ucapan David barusan.
Sial... Apa maksudnya bicara seperti itu? Jelas-jelas aku tahu maksudmu datang ke sini. David membatin penuh curiga.
"Yah..." David menghela napas. "Baguslah kalau kau tidak perduli, setidaknya aku cukup lega karena kau bukan sainganku." imbuhnya.
"Hahaha... Apa kau takut jika harus bersaing denganku?" Ronald tertawa melecehkan.
"Tentu saja tidak, karena kau bukan tipe Tania." balas David sok tahu.
"Ngomong-ngomong... Bagaimana kau bisa tahu, Tania ada di sini malam ini?" tanya David penasaran.
Bagaimana pun David sedikit penasaran, bagaimana caranya Ronald bisa tahu Tania ada di sini? Sementara dia yakin kalau mereka tidak memiliki kontak satu sama lain, melihat latar belakang Ronald sebagai orang kepercayaan Zein dan sudah terbiasa dengan hal-hal yang berbau mencintai, tentu David berpikir kalau Ronald melakukan penyelidikan untuk bisa tahu kegiatan Tania tanpa perlu berkomunikasi dengan Tania.
"Aku ke sini untuk mengantar adik dari temanku, tidak ada hubungannya dengan Tania." balas Ronald dengan wajah meyakinkan, menepis kecurigaan David.
Meski pada kenyataannya, mudah saja bagi Ronald untuk tahu kegiatan Tania dengan kemampuannya yang sudah sangat sering dengan penyelidikan.
Kau pikir aku anak kecil? David membatin.
Seolah tidak percaya dengan ucapan Ronald barusan. David tahu betul bagaimana cara Ronald menatap Tania saat mereka berada di rumah Zein, terlihat sangat jelas bahwa Ronald menyimpan ketertarikan pada Tania.
Di tengah-tengah saling adu mulut antara Ronald dan David, tiba-tiba terdengar gemuruh para penonton, baik para guru maupun siswa dan siswi atau bahkan para anggota keluarga mereka yang ikut menyaksikan acara malam perpisahan.
Setelah kontes raja dan ratu selesai, acara selanjutnya adalah lagu bebas yang akan di nyanyikan para siswa dan siswi termasuk Tania salah satunya.
Setelah berlatih keras sampai menjaga pola makannya, kini Tania akan mempersembahkan sebuah lagu tentang cinta yang akan di nyanyikannya di atas panggung.
Dengan dress berwarna gading setinggi lutut, sedikit aksen renda di sisi kanan dan kiri bahunya, serta di bawah lututnya. Di tambah heels setinggi tujuh sentimeter, rambut panjang sedada dibiarkan terurai bergelombang, membuat Tania tampil mempesona malam itu hingga membuat para siswa berdecak kagum dengan penampilannya.
Kini Tania mulai menyanyikan lagunya, lagu melow yang di bawakannya terdengar sempurna di telinga para pendengarnya, hingga membuat keriuhan kala itu berubah menjadi keheningan yang syahdu dengan alunan lagu melow dan suara merdu Tania mampu menyihir para pendengarnya hingga larut dalam alunan lagu tersebut.
Ronald dan David ikut menikmati lagu tersebut, mereka sampai melupakan pertengkaran mereka ketika Tania mulai bernyanyi di atas panggung, Ronald diam menatap penuh hangat ke arah Tania dan sesekali memejamkan matanya demi meresapi lagu tersebut masuk ke dalam jiwanya, begitupun dengan David, ia tampak tidak berkedip sama sekali, tak ingin melewatkan sedetik pun momen bernyanyi Tania di atas panggung.
Setelah tujuh menit Tania berdiri di atas panggung dengan lantunan suara merdunya menyanyikan lagu cinta, akhirnya ia selesai membawakan lagu tersebut dengan sempurna hingga membuat sorak sorai gembira dan tepuk tangan dari para penontonnya begitu riuh.
Tania hanya membawakan satu lagu, lalu di akhiri dengan ucapan terimakasihnya pada seluruh anggota guru dan juga teman-temannya yang selama ini menjadi bagian dari dirinya dalam menuntut ilmu di sekolah tersebut, tidak lupa ia juga mengakhirinya dengan puisi karyanya sendiri yang ia ciptakan khusus untuk gurunya tercinta.
Setelah selesai mengungkapkan seluruh rasa Terimakasihnya, akhirnya Tania turun dari atas panggung.
Di belakang panggung, Rania tampak duduk di atas kursi dengan memegang selembar tisu di tangan kanannya, sesekali ia menyeka air matanya dengan tisu tersebut.
Bagaimanapun bahagianya malam itu, namun tetap saja Tania merasakan kesedihan karena harus berpisah dengan para guru dan teman-temannya. Ia akan meninggalkan sekolah tersebut dan melanjutkan kuliah.
Di tengah-tengah rasa sedihnya, teman-temannya datang mengucapkan selamat atas penampilannya yang sempurna di atas panggung.
"penampilanmu sempurna Tania... Kau luar biasa." kata laki-laki di sampingnya.
Laki-laki tersebut adalah teman dekatnya sekaligus teman sekelasnya yang selalu mendukung setiap kegiatannya di sekolah, laki-laki dengan wajah tampan dan sikap yang pendiam yang diam-diam menaruh rasa pada Tania, namun Tania hanya menganggapnya teman tidak lebih dari itu.
__ADS_1
Prinsip Tania adalah, tidak akan berpacaran selama masa sekolah kecuali kuliah, dan dia benar-benar menerapkan prinsipnya. Meski banyak teman laki-laki yang mendekatinya semasa sekolah, namun Tania selalu mengabaikannya dengan alasan prinsipnya.
Sementara itu Ronald dan David tampak gelisah menunggu Tania datang dan mendekati mereka, namun keduanya hanya bisa menunggu tanpa berani mendekati Tania karena alasan ada banyak guru dan teman-temannya pada saat itu.
"Kau tidak pulang?" tanya David pada Ronald.
"Apa perdulimu...? Kau sendiri, kenapa masih di sini?" balas Ronald.
"Tentu saja aku menunggu Tania, aku akan mengantarnya pulang." balas David dengan seringai liciknya.
Sial... Aku harus cari cara untuk mendekati Tania, kalau tidak, David akan lebih dulu, dia terlalu agresif. Ronald membatin penuh cemas.
Di sela-sela obrolan antara Ronald dan David, tiba-tiba ponsel milik David berbunyi.
Melihat itu adalah panggilan dari Tania, dengan tergesa David langsung menjawabnya.
"Ya, ada apa Tania?" tanya David dengan lantang dan sengaja agar Ronald tahu bahwa Tania menghubunginya.
Melihat David menerima panggilan dari Tania, tentu membuat Ronald kesal. Namun Ronald tidak bisa menampakkan kemarahan dan kekesalannya pada David, karena itu akan membuat David berpikir kalau dia sengaja datang demi melihat Tania.
"Kakak di mana? Aku sudah selesai dan akan pulang, apa kak David masih di sini?" tanya Tania dari seberang telepon.
"Aku masih di sini kok, aku ada di pojok kanan tidak jauh dari terakhir kali kamu pergi meninggalkanku." jelas David.
"Oh... Oke aku kesitu sekarang." balas Tania lalu mengakhiri panggilannya.
Gawat... Sepertinya Tania akan datang kesini, lebih baik aku pulang saja. Batin Ronald gugup.
Lalu Ronald memutuskan untuk pulang, rasanya sangat tidak nyaman jika harus menyaksikan kedekatan David dan Tania di depan matanya, terlebih David akan mengantar Tania pulang.
"Baiklah, aku pulang dulu." ucap Ronald pada David.
"Loh... Kenapa buru-buru?" Ledek David dengan sengaja.
Ronald pun berlalu meninggalkan David tanpa membalas pertanyaan dari David.
Huh... Payah, kenapa dia begitu penakut terhadap wanita? Cih... David bergumam.
Tidak lama setelah Ronald pergi, Tania datang dan mendekati David.
"Kak... Sedang melihat apa?" tanya Tania sembari menepuk punggung David.
David memang sedang membelakanginya dan melihat Ronald pergi meninggalkannya.
"Eh... Kau sudah datang rupanya." ucap David sembari tersenyum.
Tania mengangguk.
"Tadi kakak lihat apa?" tanya Tania lagi dengan wajah penasaran.
"Oh itu... Ternyata Ronald juga datang ke sini." jawab David.
"Kak Ronald itu yang waktu itu duduk bersama kak David bukan ya?" tanya Tania dengan wajah penasaran.
"Iya... Dia namanya Ronald." balas David dengan wajah datar.
Dia datang ke sini... Apa untuk melihatku? Tania membatin penuh selidik. Ah... Tidak mungkin. Pikiran lainnya mencoba menepisnya.
"Ya sudah ayo kita pulang, sudah malam juga." ajak David.
Ucapan David barusan membuyarkan lamunan Tania tentang Ronald.
"Ah... Iya benar, sudah malam sekali, ayo kita pulang." balas Tania.
Lalu keduanya pun bergegas untuk pulang.
Saat keduanya sudah berada di dalam mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Tania... Penampilanmu tadi sangat memukau." David memuji Tania di sela-sela menyetirnya.
"Benarkah? Terimakasih." balas Tania datar.
Di dalam perjalanan menuju rumahnya, sesekali Tania memikirkan dan masih bertanya-tanya apa maksud kedatangan Ronald tadi? Namun beberapa kali ia juga menepisnya.
"Oh ya... Apa kau lapar?" tanya David pada Tania.
"Ah... Enggak kak, ini sudah terlalu malam, aku hanya ingin cepat pulang, takut ibu dan ayah khawatir, pasti mereka sedang menungguku." jelas Tania.
"Baiklah." balas David tersenyum.
Malam itu pukul setengah sebelas, untuk gadis rumahan seperti Tania, jelas itu sudah sangat malam. Terlebih ayah dan ibunya tidak pernah membiarkan dia pulang sampai larut malam.
__ADS_1
Setelah setengah jam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah orang tua Tania.
David keluar lebih dulu, berlari kecil meraih gagang pintu mobil dan membukakan pintu mobil untuk Tania.
Tania pun keluar dari pintu. "Terimakasih Kak David sudah mengantarku pergi dan pulang malam ini." ucap Tania berterima kasih sembari tersenyum.
"Sama-sama, kau tidak perlu sungkan." balas David tersenyum. "Masuklah." pinta David.
"Kakak pulang saja, nanti aku masuk." balas Tania.
"Aku hanya ingin memastikan kau sudah masuk dan aku bisa pulang dengan tenang." balas David.
"Aku juga ingin memastikan kakak pulang lebih dulu." balas Tania lalu tersenyum.
"Hahaha... Baiklah, aku akan pulang." ucap David sembari tertawa.
David segera membuka gagang pintu mobilnya lalu menariknya hingga pintu itu terbuka, dan ia masuk ke dalamnya.
Begitu sudah berada di dalam mobil, David melambaikan tangannya seolah tanpa perpisahan untuk pertemuan malam itu dengan Tania, begitupun dengan Tania, ia membalas lambaian tangan David sembari tersenyum.
Lalu David memacu mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi.
Tania bergegas masuk ke dalam rumah, namun begitu ia membalik tubuhnya untuk membuka pintu gerbang di sebelah kanannya berjarak lima belas meter dari dirinya, tampak sebuah mobil hitam menyalakan lampu depan dan mengarahkan pada dirinya namun tidak berjalan maju dan hanya diam di tempat.
Sinar lampu tersebut membuat Tania tampak silau dan sempat membuatnya takut, akhirnya ia memutuskan untuk segera masuk ke dalam dan mengunci pintu gerbangnya.
Begitu Tania sudah berada di dalam, ia berjalan dengan cepat lalu masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintunya.
Mobil yang tadi dengan sengaja menyinari lampu ke arah Tania pun segera pergi begitu Tania sudah masuk ke dalam.
Sementara itu, di ruang tengah sudah ada ibu dan ayahnya yang sudah menunggu Tania pulang.
"Syukurlah kau sudah pulang, ibu mencemaskanmu." ucap ibunya dengan wajah setengah mengantuk, lalu berjalan gontai menuju kamarnya untuk beristirahat.
Sementara itu ayahnya sedang menonton acara televisi.
"Maaf sudah membuat ibu menunggu, semoga mimpi indah." ucap Tania sembari tersenyum.
"Istirahatlah." ucap ayahnya pada Tania dengan wajah yang masih menatap layar kaca televisi.
"Iya ayah." balas Tania sembari tersenyum.
Tania berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di samping kamar kakaknya.
🍀 Satu bulan kemudian 🍀
Seperti biasa Rania dan Zein memulai aktifitas pagi mereka dengan kesibukan masing-masing.
Zein yang tidak pernah luput dari kesibukannya mengurus perusahaan dan bisnis-bisnisnya yang tersebar di dalam maupun di luar negeri, membuatnya menjadi seorang suami yang sangat sibuk dan sedikit sekali memiliki waktu santai.
Begitupun dengan Rania, kini butiknya kembali menjadi ramai oleh pengunjung yang datang untuk memesan gaun pernikahan, ia mulai sibuk di buatnya. Namun Rania tetap senang menjalaninya, karena usaha yang di jalankannya merupakan hobinya, jadi tidak ada kata bosan baginya dalam melakukan pekerjaannya sekaligus hobinya.
Pagi itu seperti biasa Rania tampak sedang melayani konsumennya yang akan melangsungkan pernikahan untuk bulan depan.
"Aku mau gaun yang ini yah." kata salah seorang wanita sembari menatap gaun yang ada di depannya.
"Baik, Nona." jawab Rania yang saat itu sedang berada di sampingnya sembari tersenyum.
"Mel, tolong bantu Nona ini...!" Teriak Rania pada Melly.
Melly pun mendekat lalu membantu wanita tersebut dan mencatat segala yang diperlukannya untuk pernikahannya bulan depan.
Lalu Rania pergi ke toilet karena perutnya tiba-tiba merasa sangat mual dan tidak sengaja memuntahkan kembali makanan tadi pagi yang sudah di makannya, entah kenapa perutnya saat itu terasa mual sekali, setelah memuntahkan makanan tersebut, ia menatap cermin yang ada di depannya.
Apa aku salah makan yah? Batin Rania kebingungan.
Kenapa mendadak perutnya terasa mual dan ingin sekali memuntahkannya. Dengan wajah memerah dan matanya terlihat ada air mata yang menggenang karena baru saja mengeluarkan tenaga yang cukup dalam ketika memuntahkan makanan dari dalam perutnya. Ia pun membasuh wajahnya berulang kali dan mengelapnya dengan tisu.
Kemudian ia kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena banyaknya tamu yang datang untuk memesan gaun.
Saat dirinya sudah duduk di atas kursi, tiba-tiba kepalanya terasa pusing hingga membuatnya tidak fokus dalam membuat sketsa gaun.
Ada apa dengan kepalaku? Kenapa terasa pusing? Sepertinya tadi baik-baik saja. Ah... Ini aneh sekali. Rania membatin penuh heran.
Pagi itu benar-benar membuatnya kebingungan, dengan sarapan pagi yang biasa dia makan,seharusnya tidak akan membuat perutnya mual sampai harus membuangnya kembali melalui mulutnya, setelah itu tiba-tiba kepalanya terasa pusing hingga membuatnya tidak fokus dalam bekerja.
Sepertinya aku masuk angin. Batin Rania menerka.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukungannya ya
__ADS_1
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
Terimakasih.