
Situasi di dalam Villa dengan keberadaan Evelin, membuat Ronald merasa tidak nyaman. Ia butuh udara segar untuk menyegarkan otaknya yang terkontaminasi akibat tingkah Evelin yang selalu membuatnya jengkel.
Dengan berjalan kaki, Ronald menyusuri setiap sudut kota yang terkenal dengan keindahan alam dan cuaca dinginnya yang menusuk hingga ke tulang.
Sore hari tepatnya pukul tiga. Setelah berjalan-jalan cukup jauh, Ronald akhirnya memutuskan menepi dan duduk di warung kecil sederhana. Ia menikmati secangkir teh dan juga jagung bakar yang aroma menggoda selera.
Sementara itu, Evelin kembali ke kamarnya untuk beristirahat, setelah bercerita dengan Ronald. Entah kenapa, perasaan Evelin menjadi sangat melankolis. Meski ia tidak pernah serius dalam memacari mantan kekasihnya hingga yang terakhir mengkhianatinya. Namun, pengkhianatan yang di lakukan kekasihnya sebelumnya bersama sahabatnya sendiri, cukup mengusik hatinya. Bagaimana pun ia pernah melalu masa-masa bersama kekasihnya sebelumnya dengan indah. Meski harus berakhir kecewa karena pengkhianatan. Selama ini ia bahkan tidak pernah di khianati oleh mantan-mantannya, biasanya Evelin lah yang memutuskan mantan-mantannya sebelum akhirnya jadian dengan laki-laki lain, namun baru kali ini ia di khianati dan di sakiti oleh laki-laki. Membuatnya berpikir, mungkinkah ini karma atas perlakuannya di masa lalu terhadap mantan-mantannya dulu?
Sembari merebahkan tubuhnya di bawah selimut hangat di tengah cuaca yang dingin. Perlahan Evelin memejamkan kedua matanya, ia berharap mendapatkan mimpi indah, bertemu dengan seorang pangeran layaknya kisah-kisah di negeri dongeng di masa kecilnya.
Setelah mengakhiri pembicaraannya melalui chat dengan David, Tania yang sudah berjam-jam di dalam kamar. Akhirnya memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke luar Villa sebentar demi membuang rasa bosan yang menderanya.
Tania beranjak dari kasurnya, berjalan mendekati tas miliknya, membuka rel sleting tas dan meraih sweater panjang yang cukup tebal untuk ia kenakan sebelum keluar dari area Villa. Cuaca yang dingin jelas membuatnya akan kedinginan jika ia tak memakai sweater. Pikirnya.
Perlahan ia berjalan melewati lorong dan meninggalkan kamarnya, menuruni anak tangga hingga keluar dari dalam pintu rumah.
Ia berjalan menyusuri taman yang luas dengan rumput yang hijau nan segar. Saat dirinya hendak keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba seorang pengawal yang dari tadi mengikutinya di belakang mencoba menahannya.
"Maaf... Nona mau pergi ke mana?" tanya salah seorang pengawal dengan sopan.
Tania menatap wajah pengawal sembari berkata. "Aku hanya ingin mencari udara segar." balas Tania sembari melempar senyum manisnya.
"Maaf, Nona... Saya akan menemani Nona selama di luar...!" dengan suara pelan, pengawal tersebut memberi pengertian pada Tania agar mau di temani olehnya.
Pasalnya, baik Tania maupun Evelin, Zein sudah memerintahkan dua wanita ini untuk di kawal ketat saat keluar dari dalam Villa, minimal satu pengawal. Begitu pesan Zein terhadap para pengawalnya.
"Bisakah aku menikmati liburanku sendiri, Paman...? Aku tidak terbiasa di kawal seperti ini... Dan lagi, aku bukan anak kecil yang tidak tahu arah... Aku akan kembali jika sudah selesai." Tania membujuk.
Mendengar ucapan Tania, pengawal tersebut merasa tidak enak, namun ia juga mendapatkan perintah dari Tuannya yang tak boleh di langgar.
"Tapi, Nona..." pengawal tersebut mengelak.
"Paman tidak perlu cemas, aku yang akan bertanggung jawab jika kak, Zein memarahimu...!!" balas Tania meyakinkan.
"Baiklah." pengawal tersebut akhirnya pasrah dan membiarkan Tania pergi sendiri. Ia yakin Tania adalah seorang gadis yang cukup pintar, dia tidak akan tersesat, pikirnya.
Setelah mendapat izin pergi sendiri dari pengawalnya, Tania pun melanjutkan langkahnya untuk berjalan-jalan mencari udara segar.
Sesekali ia menghirup udara melalui hidungnya dan mengeluarkannya melalu mulut, kedua tangannya di masukkan ke dalam kantung sweater, rasa dingin kian menusuk tulang persendiannya. Sambil melihat kiri dan kanan, terlihat pemandangan alam yang begitu mempesona.
Tanpa terasa karen terlalu asik berjalan kaki, ia pun merasa lelah, sampai ia melihat sebuah warung kecil di tepi jalan. Tania mencoba mendekatinya untuk sekedar beristirahat ataupun menikmati jagung bakar.
"Huuh... Lumayan juga nih kaki." Tania duduk di sebuah kursi panjang yang terbaik dari kayu, membungkuk lalu menggoyangkan lututnya dengan telapak tangannya demi mengurangi rasa lelahnya.
__ADS_1
Sementara itu, di sampingnya duduk, ada seorang laki-laki.
Ya, laki-laki itu adalah Ronald yang sedang menikmati secangkir teh hangat, duduk dengan posisi membelakangi Tania.
"Tania..." panggil Ronald dari samping, begitu ia mengenali suara dengusan Tania.
Mendengar namanya di panggil, dengan suara yang ia kenal, Tania pun menoleh wajahnya ke samping. Benar saja, Ronald lah yang memanggilnya.
"Oh... Kak, Ron di sini rupanya?" ucap Tania dengan wajah terkejut.
"Ya... Apa kau sedang berupaya mencariku?" tanya Ronald dengan percaya dirinya.
"Hahah... Sepercaya diri itu ya." balas Tania tertawa sinis.
Ronald tersenyum melihat Tania tertawa, meski terlihat sinis dan terkesan meremehkannya.
"Ngomong-ngomong... Kenapa kau ada di sini?" tanya Ronald dengan ekspresi bingung.
Tania bangun dari duduknya lalu berdiri dan berbalik badan.
"Hem... Aku hanya ingin mencari udara segar, hari ini aku terkontaminasi dengan banyak kejadian, itulah sebabnya aku keluar." balas Tania, lalu pergi meninggalkan Ronald.
Tania melanjutkan kembali berjalan kaki, meski ia tidak memiliki tujuan, yang terpenting banginya, ia bisa merasakan hembusan angin yang segar yang tidak pernah ia dapatkan di kota besar tempatnya tinggal.
Melihat Tania pergi begitu saja, Ronald pun menyusul Tania dengan berlari kecil mengejar Tania.
"Aku suka udara seperti ini... Biarkan aku menikmatinya...!" bantah Tania.
"Baiklah, aku juga suka udara seperti ini... Meski dingin menusuk hingga ke tulang, tapi semuanya jadi terasa hangat, ketika berjalan di sampingmu." tanpa sengaja Ronald mengucapkan kalimat yang jauh dari karakternya.
Entah ia keceplosan atau perlahan ia ingin Tania tahu akan perasaannya.
Mendengar ucapan Ronald barusan, tentu saja membuat Tania terkejut, seorang Ronald yang bahkan untuk bicara saja sangat terbatas dan singkat, namun baru saja ia mendengar ucapan yang sulit di percaya keluar dari mulut seorang yang kaku dan cuek.
"Apa kakak bilang?" tanya Tania dengan wajah heran.
Tania menghentikan langkahnya untuk sejenak, menoleh wajahnya ke arah Ronald, menatap dengan tatapan serius.
Melihat Tania berhenti dari langkahnya, Ronald pun akhirnya berhenti seraya berkata.
"Ya... Tentu saja, semua laki-laki yang berjalan dengan seorang wanita di tengah-tengah udara yang dingin seperti ini, pasti akan mengatakan hal seperti itu." Ronald masih kekeh menyembunyikan perasaannya, dan mengalihkan maksud dari rayuannya tadi.
Mendengar balasan dari Ronald, Tania merasa sedikit kesal, pasalnya ia berharap Ronald benar-benar mengatakan itu. Setidaknya itu menjadi sinyal atau jawaban atas pertanyaan selama ini tentang perasaan Ronald padanya. Namun ternyata semua hanya omong kosong.
__ADS_1
Yang Ronald ucapkan tak pernah serius dab hanya sebuah harapan kosong yang menyiksa dirinya.
Di tambah kejadian tadi siang saat dirinya melihat Ronald berciuman dengan Evelin. Itu saja sudah memupuskan perasaannya pada Ronald.
Dengan rasa kecewa, Tania melanjutkan kembali langkahnya. Ia jadi berpikir bahwa mungkin saja, Ronald sedang mendekat Evelin atau bahkan sudah jadian.
Seketika Ronald merasa bersalah ketika melihat ada raut wajah kekecewaan di wajah Tania, sama seperti saat dirinya kepergok berciuman dengan Evelin.
Keduanya pun melanjutkan kembali berjalan kaki menyusuri jalan yang kian naik ke atas bukit, hingga keduanya sampai di atas bukit. Ada beberapa orang yang sedang menikmati senja kala itu.
Waktu yang menunjukkan pukul setengah lima sore, membuat langit berubah warna menjadi menjadi kecoklatan.
Tania duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu, begitupun dengan Ronald. Ia duduk di samping Tania.
"Kenapa kakak mengikuti-ku sampai ke tempat ini?" Tania melirik ke arah Ronald.
"Aku tidak mengikuti-mu... Aku hanya ingin pergi ke tempat ini saja." jawab Ronald dengan wajah santai lalu tersenyum.
Mendengar Jawaban dari Ronald, Tania semakin tidak mengerti. Apa sebenarnya yang di inginkan Ronald padanya? Ronald tampak selalu ingin dekat dengannya, namun saat Tania mencoba memancing perasaannya dengan setiap pertanyaannya. Ronald selalu saja menjawab dengan santai dan seolah tak pernah ada sesuatu.
Belum lama, Tania duduk di sana, hanya hitungan menit mereka duduk di sana. Kemudian Tania bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan Ronald yang masih duduk di sana.
"Kau mau ke mana?" Teriak Ronald.
"Bukan urusanmu...!!" jawab Tania kesal.
Tania berjalan dengan sangat cepat karena emosi, Tania memutuskan untuk kembali ke Villa. Namun jalanan yang menurun ke bawah dan dengan sedikit kecepatan, cukup membuatnya sulit mengendalikan kakinya untuk berhenti atau mengecilkan volume langkah kakinya. Tania hampir saja terjatuh bahkan jatuh ke dalam jurang karena kakinya tergelincir.
Namun dengan cepat Ronald menarik tangan Tania dengan kencang hingga membuat tubuh Tania yang mungil itu tersentak dan jatuh di pelukan dada bidang Ronald.
"Jangan berjalan dengan rasa kesal, karena itu bisa mencelakai-mu sendiri...! Jika kau benar-benar jatuh, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku." dengan spontan Ronald mengucapkan kalimat itu disertai amarah yang memuncah saat itu.
Masih dalam pelukan Ronald yang begitu terasa kencang, Tania hanya diam dan tak menimpali ucapan Ronald. Dadanya masih berdetak sangat kencang karena rasa syok saat dirinya hampir terjatuh ke dalam jurang.
Ada rasa takut yang menyelimutinya saat itu, takut jika ia benar-benar terjatuh ke dalam jurang di usianya yang masih sangat muda. Terlebih ia baru merasakan rasanya cinta, di satu sisi, ada rasa lega yang selama ini membuatnya gelisah dan bertanya-tanya atas perasaannya pada Ronald. Melihat ekspresi Ronald saat menarik tubuhnya dan menahannya agar tidak jatuh, lalu mendengar ucapan Ronald tentang pengakuan perasaannya meski tidak spesifik. Namun Tania cukup lega dan bahagia. Akhirnya ia tahu bahwa Ronald ternyata juga perduli padanya. Meski ia tidak tahu apakah Ronald benar-benar menyukainya.
Bersambung\=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
__ADS_1
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
Terimakasih. 🙏🏻