
"Jangan memegang yang lain, selain yang aku perintahkan...!" Ronald mengingatkan.
Memangnya aku wanita macam apa...? Enak saja...! Batin Tania kesal mendengar ucapan Ronald barusan.
Saking penasaran, Tania menarik benda itu hingga keluar dari dalam kantung.
Haaaa...
Tania terkejut bukan main ketika ia tahu bahwa benda itu adalah sebuah pistol sungguhan. Hampir saja ia menjatuhkan pistol tersebut karena terkejut dan lagi lumayan berat saat di pegang.
Ya Tuhan... Apa dia seorang mafia? Batin Tania mencoba menerka.
Sesaat Ronald menghentikan langkahnya, menurunkan Tania dari gendongannya. Kini Tania sudah berdiri di hadapannya masih dengan wajah terkejut sambil memegang pistol miliknya.
Kemudian Ronald meraih pistol tersebut lalu memasukkan kembali ke dalam saku celananya seraya berkata.
"Aku bisa melihat ketakutan di wajahmu...! Apa Itu artinya aku adalah laki-laki yang beruntung karena bisa melihat ekspresi wajahmu saat ini?" ucap Ronald dengan nada meledek.
Mendengar ucapan Ronald barusan seketika raut wajahnya berubah dan menyembunyikan rasa takutnya.
"Hah... Apa yang perlu aku takuti? Itu hanya sebuah pistol." ucapnya dengan santai sambil berlari menjauh dari Ronald seraya menjulurkan lidahnya.
"Hahah... Baiklah, akan ku tunjukkan bagaimana caranya menembak...!" seru Ronald sembari berlari mengejar Tania di belakang.
Dan tidak lama, mereka akhirnya sampai di Villa pada pukul tujuh malam. Lalu berjalan berdua memasuki gerbang Villa.
Di dalam tampak Zein dan Rania sedang asik membakar daging untuk mereka santap saat makan malam bersama.
Begitupun dengan Evelin, ia tampak asik menata piring dan makanan-makanan pendamping lainnya.
"Waaaah... Adik kakak yang manis ini sudah pulang rupanya, dari mana saja tadi? Apa harimu menyenangkan?" tanya Rania menggoda.
Tania hanya tersenyum dan tak menimpali pertanyaan kakaknya.
__ADS_1
Evelin berlagak sibuk, namun padahal sesekali ia melirik dengan tatapan aneh.
"Ron... Setelah selesai membersihkan diri. Cepatlah bergabung...!" seru Zein pada Ronald sambil tersenyum.
"Baik, Tuan." jawab Ronald singkat seraya berlalu meninggalkan mereka, di ikuti dengan Tania.
Melihat Ronald pergi berdua bersama Tania, ada rasa kesal yang menggelayuti hati Evelin. Entah itu cemburu atau kesal karena bukan dengannya Ronald pergi, justru bersama Tania. Namun Evelin tak ingin memikirkan soal mereka, ia kembali fokus pada kegiatannya menata makanan.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Ronald yang selesai lebih dulu di banding Tania, segera menuju taman untuk makan malam bersama.
"Ron... Mana Tania?" tanya Rania.
"Aku tidak tahu, Nyonya... Mungkin masih di dalam." balas Ronald.
Ronald pun akhirnya bergabung dengan Zein, Rania dan Evelin yang sudah bersiap di kursi mereka masing-masing.
"Ron... Duduklah di sini...!" panggil Evelin lalu tersenyum.
Tidak lama setelah Ronald duduk, Tania datang dan bergabung bersama mereka. Ronald menata penuh harap ke arah Tania, berharap Tania duduk di sampingnya. Alih-alih duduk di samping Ronald, Tania justru duduk di samping kakaknya, yaitu Rania.
Tania sengaja duduk di sampung kakaknya, ia ingin tahu bagaimana sikap Ronald yang sebenarnya terhadap Evelin.
Dengan wajah bingung, Ronald tampak sedikit kecewa. Namun ia tak ingin terlihat aneh di depan Zein maupun semuanya.
Di tengah-tengah makan malam mereka, Zein juga memberitahukan pada semuanya. Bahwa besok mereka akan kembali ke Jakarta.
Ya, hanya Rania yang memutuskan segalanya. Saat Rania meminta berlibur untuk beberapa hari, maka Zein akan berusaha mengabulkannya, dan saat Rania yang mengubah jadwal tersebut, mendadak ingin segera kembali ke Jakarta. Maka tanpa membantah, Zein juga akan mengabulkannya. Semua hanya demi menyenangkan hati istrinya yang saat ini sedang mengandung anaknya.
Sore tadi, saat Zein dan Rania berjalan-jalan sore menikmati udara sejuk di puncak. Menikmati teh hangat dan jagung bakar berdua. Rania tiba-tiba meminta pada Zein untuk kembali ke Jakarta besok. Bagi Rania satu hari di sana, memetik strawberry, berjalan-jalan sore sambil menikmati jagung bakar dan teh hangat sudah cukup membuatnya senang.
Akhirnya Rania memutuskan untuk segera kembali, terlebih dengan adanya Evelin yang tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka. Membuat Rania merasa ingin segera pulang, meskipun Rania tidak tahu pasti bagaimana perasaan Tania yang sesungguhnya terhadap Ronald, namun Tania bisa melihat, ketidaknyamanan di wajah Tania saat Evelin tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka. Hal itu juga yang membuat Rania tidak ingin berlama-lama dan ingin segera kembali ke Jakarta.
Sampai akhirnya, Zein membicarakan rencana kembali mereka pada acara makan malam mereka.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa membantah keputusan Zein, sekalipun Evelin. Zein adalah sosok seorang kakak yang di segani Evelin, apapun yang di ucapkan kakaknya. Ia akan menyetujuinya. Meskipun sebenarnya Evelin berharap akan lebih lama menikmati masa liburan yang tak di sengaja ini bersama Ronald.
Malam itu, di tengah hamparan rumput hijau dan taman yang luas, langit yang memperlihatkan keindahannya dengan bertabur cahaya dari bintang. Suasana makan malam yang berbeda bagi Tania dan Ronald yang akan menjadi kisah tersendiri bagi Tania dan Ronald dengan perasaan mereka yang tak bermuara satu sama lainnya. Mengalir seperti air hingga bermuara pada satu tempat atau takkan pernah mendapat tempat karena selalu ada celah untuk mengalir.
Keesokan harinya.
Seperti yang sudah di sampaikan oleh Zein semalam, mereka sudah bersiap untuk kembali saat pagi hari setelah selesai sarapan pagi. Semuanya berjalan dengan lancar, sampai pada saat mereka mulai memasuki mobil.
"Aku duduk di depan lagi ya...!" Evelin menyerobot langkah Tania yang sedang berjalan di samping Ronald, lalu bergegas masuk ke dalam mobil bagian depan, duduk bersama Ronald.
"Ah... Silahkan, aku juga lebih suka duduk di kursi belakang." sahut Tania sambil tersenyum.
Zein dan Rania sudah berada di dalam mobil lebih dulu, sebelum Evelin masuk ke dalam mobil dan di susul Tania dan Ronald.
Tanpa menunggu lama, Ronald mulai memacu mobilnya, menuruni jalanan yang kian menurun. Di ikuti dengan mobil para pengawalnya di belakang mobilnya.
Sepanjang jalan, Rania hanya bersandar di bahu suaminya dengan manja.
Tania yang berada sendirian di kursi belakang, menghabiskan waktunya dengan bermain game yang ada di ponselnya.
Sementara itu, Evelin hanya diam duduk menyandar di kursi. Entah apa yang dia pikirkan saat itu? Yang jelas, ia merasa kecewa karena harus kembali ke Jakarta lebih cepat di tengah-tengah rasa kecewanya terhadap laki-laki yang mengkhianatinya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Ronald dan merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Ronald, namun di satu sisi. Evelin menduga bahwa ada sesuatu di antara Ronald dan Tania. Sesampainya di jakarta, mungkin Evelin akan mencari tahu soal mereka atau bahkan mencoba untuk mendekat Ronald.
Bersambung\=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
Terimakasih. 🙏🏻
__ADS_1