Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Membujuk Rania


__ADS_3

Tidak berapa lama setelah Rania pergi meninggalkan meja makan saat sarapan pagi, karena merasa kecewa dengan sikap Zein tadi pagi. Kemudian Zein bergegas pergi menemui Rania di kamarnya.


Tok..tok..tok..


Mendengar suara ketukan pintu yang terdengar pelan, membuat Rania memutar kepalanya untuk sekedar melirik siapa yang mengetuk pintu barusan. namun tetap dengan posisi tubuhnya yang berbaring miring dan berselimut di atas kasur.


Hmmm...itu pasti dia! Batin Rania kesal. Dan memalingkan kembali kepalanya seperti posisi awal yang sedang termenung, sambil menatap jendela kaca lebar diseberang matanya.


Rania tetap diam tanpa mengatakan apapun atau bahkan untuk sekedar bangun dari tidurnya dan membuka pintu kamar. Rania memang berubah menjadi perempuan yang dingin dan acuh setelah menikah dengan Zein, orang yang tidak dicintainya. Walau sebenarnya jauh sebelum dirinya menikah, ia adalah wanita yang sangat bersemangat dan juga periang.


Zein tahu, bahwa Rania sedang kesal dengannya karena perkataannya tadi di ruang makan. Lalu Zein memutuskan untuk membuka pintunya dengan sangat hati-hati sampai tidak terdengar suara pintu terbuka, hanya terdengar sedikit suara dari gagang pintu yang ditarik.


Rania yang menyadari bahwa Zein lah yang membuka pintu barusan pura-pura tertidur.


Kemudian terdengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kasur tempatnya tidur. Membuat jantung Rania berdegup kencang, takut kalau-kalau Zein menyentuhnya disaat ia sedang berbaring di kasur karena kesal.


Jantungnya semakin berdegup kencang, ketika ia merasa kasurnya menimbulkan suara dan gerakan seperti orang yang sedang duduk. Benar saja, Zein duduk diujung kasur sebelah kirinya yang berjarak tiga meter saja darinya. Lalu Zein merebahkan kedua kakinya di atas kasur dengan posisi kaki kanan menumpuk di atas kaki kirinya.


Apa dia sedang duduk di atas kasur bersamaku? Beraninya dia!! awas saja jika dia berani menyentuhku!! Hhhh... Apa dia tidak tahu aku pernah memenangkan lomba bela diri tingkat sekolah dulu? Gerutu Rania menahan kesal. Belum puas ia memaki di dalam hati, suara Zein memotong.


"Maaf, Rania, jika tadi kata-kataku membuatmu kesal?" Ucap Zein penuh kelembutan. Tanpa mengubah posisinya yang sedang menyandarkan punggungnya di bahu kasur.


Sontak Rania terkejut mendengar pernyataan maaf dari Zein. Jarang sekali laki-laki yang dengan mudah meminta maaf, pikirnya. Tapi tetap saja ia tak bisa menutupi rasa kesalnya.

__ADS_1


Hhhh... Sudah membuatku kesal, lalu dengan mudahnya minta maaf!! Dasar lelaki. Gerutu Rania.


"Pergi atau tidak, semua mutlak keputusanmu. Aku yang hanya orang asing di matamu ini tidak akan memaksamu. Aku tahu meski status kita adalah suami istri. Namun aku bukanlah apa-apa bagimu. Hanya seorang yang terpaksa menjadi suamimu saja bukan? Ini hanya bagian dari upayaku mendekatimu. Walau terkesan terlambat dan tidak kebanyakan pada umumnya laki-laki yang mendekati seorang wanita jauh sebelum menikah." Ucap Zein dengan nada lirih.


Mendengar semua perkataan Zein, membuat Rania terenyuh dan sadar bahwa dirinya juga bersalah, tidak seharusnya ia menutup diri dari Zein dan berprilaku semaunya dengan status dirinya yang sudah menjadi seorang istri.


Perlahan Rania mulai memalingkan tubuhnya dari posisi membelakangi Zein mengubah posisi dengan mengangkat tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya pada bahu kasur. Sama persis seperti posisi Zein yang berada tidak jauh dari dirinya. Mereka hanya duduk di ujung kiri dan kanan kasur yang cukup luas hingga menyisakan banyak ruang di tengah kasur.


Sementara Zein hanya menatap ke depan layar tv besar yang menempel di dinding, tanpa berbicara sepatah katapun setelah pernyataannya barusan yang belum mendapat respon dari Rania.


Untuk sesaat, keheningan menggelayuti mereka yang hanya diam mematung di atas kasur besar. Tiba-tiba Rania menarik kedua kakinya dan menekuk sambil meletakkan kedua tangannya di atas lutut seperti membentuk tempurung.


Mungkin tidak seharusnya aku bersikap seperti ini padamu, Zein! Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura baik seolah menerimamu dan pernikahan ini tanpa dasar cinta..!! Bagaimanapun orang tua kita merenggut kebahagiaan kita dengan pernikahan ini. Aku tetap tidak bisa menerimanya. Setidaknya untuk saat ini. Tapi karena kau sudah baik dan tak pernah memaksa untuk menyentuhku, maka aku akan memberikan kesempatan dan mencoba membuka diri untukmu. Rania membatin dalam lamunannya disertai rasa bersalah.


Suara Rania memecah keheningan dan mengejutkan Zein yang juga termenung di sebelahnya.


"Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Zein sambil membalik kepalanya dan menatap ke arah Rania, lalu tak lupa melempar senyum terbaiknya dan tidak menutup-nutupi rasa bahagianya atas perkataan Rania barusan.


"Tentu saja, jangan bertanya lagi jika tidak ingin mendengar penolakan untuk kedua kalinya" Ucap Rania ketus, seperti sebuah peringatan, lalu memalingkan wajahnya membelakangi Zein.


Rania menggigit tipis bibirnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan. Ah, apa kau sudah gila, Rania? Batin Rania tidak percaya.


Sementara Rania masih menunjukkan sikap kesalnya pada Zein dengan tetap membuang muka. Zein menyodorkan kembali stiker yang di tolak mentah-mentah Oleh Rania.

__ADS_1


"Baiklah stiker ini ku letakkan disini, kau lihat saja dulu baru tentukan mau pergi kemana? Aku akan keluar!" Ucap Zein sambil tersenyum lucu melihat Rania yang tampak sedang kesal dengan wajah cemberut.


Tidak lama Zein keluar dari kamar, guna memberi kesempatan Rania untuk berpikir dan memilih.


Setelah Zein sudah di rasa keluar dari pintu. Rania melirik dan meraih stiker yang berada di sampingnya, yang tidak jauh dari dirinya.


Dari sekian daftar tempat yang menunjukkan berbagai negara, Rania hanya tertuju pada satu tempat yang menunjukkan gambar menara besar nan menjulang tinggi sambil membatin. Hmm... Sepertinya menara ini cukup untuk menjatuhkanku dari ketinggian tanpa rasa sakit, kalau-kalau Zein menyentuhku secara paksa. Ya, menara Eiffel yang terletak di kota Paris tepatnya negara Prancis, sepertinya cukup menarik perhatian Rania dengan pemikiran konyolnya.


Bersambung.


Halo... semua pembaca setia NYT 🤗


Terus dukung aku yah dengan cara:


➡️klik suka/like


➡️klik favorit


➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)


➡️beri tanda bintang lima


➡️terakhir jangan lupa beri sedikit tip dan vote nya ya! 🤗 biar aku makin semangat nulisnya.

__ADS_1


Terimakasih. 😊


__ADS_2