Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Memendam rasa


__ADS_3

Untuk beberapa menit keduanya larut dalam keheningan. Ronald masih merasakan Jantung Tania yang masih berdegup kencang.


Setelah merasa sudah lebih baik dan tenang. Tania segera melepaskan pelukan Ronald.


Keduanya tampak jadi begitu canggung setelah adegan pelukan mereka selama beberapa menit.


"Hari sudah semakin sore, sebaiknya kita pulang...!" ucap Ronald.


Tania mengangguk setuju.


Dalam jingganya langit sore kala itu, keduanya berjalan berdampingan menuruni jalan yang kian menurun, hembusan angin mulai terasa sangat menusuk tulang mereka. Meski sudah mengenakan sweater yang cukup tebal, nyatanya Tania masih merasakan dingin yang luar biasa di tubuhnya saat itu. Beberapa kali ia mengusap lengan tangannya dengan telapak tangannya, sesekali menggosok-gosok telapak tangannya dan menutup bagian mulutnya demi mendapat sedikit kehangatan dari hembusan napasnya yang hangat.


Sama hal nya dengan Tania, sejujurnya Ronald pun merasakan hal yang sama. Rasa dingin yang kian menusuk tulangnya, meski ia sudah memakai jaket tebal. Hanya saja, Ronald menyembunyikan rasa dingin yang menyerangnya saat itu.


Melihat Tania yang tampak kedinginan sampai bibirnya menggigil. Membuat Ronald merasa perlu melepas jaket tebalnya dan memakaikan pada tubuh mungil Tania.


Rasa dingin berlebih pada Tania sebenernya karena bercampur dengan efek perasaan gugup nya berjalan berdampingan dengan Ronald setelah kejadian tadi menimpanya, membuatnya merasa canggung dan gugup hingga cuaca yang dingin membuatnya merasa menggigil.


Meski terasa malu dan canggung untuk sekedar menempelkan jaket tebal miliknya di punggung Tania, namun melihat Tania yang masih menggigil. Ronald akhirnya memberanikan dirinya untuk memakaikan jaket di punggung Tania.


Settt...


Dengan gerakan yang sangat pelan, akhirnya Ronald memakaikan jaket tebalnya tepat di punggung Tania. Tania sempat terkejut dan menolak.


"Tidak perlu kak... Aku sudah pakai sweater, nanti kakak sakit." Tania menolak dengan sopan.


Seolah tak menghiraukan penolakan Tania, Ronald tetap meletakkan jaket tebalnya di bahu Tania.


"Pakailah... Aku tidak suka melihatmu kedinginan seperti itu." ucap Ronald dengan tegas.


Ucapan Ronald barusan terdengar sangat manis bagi Tania, meski kedengarannya terkesan memaksa.


Ya, memang bukan Ronald jika tidak memaksa. Pikir Tania sembari tersenyum tipis.


Setelah membuka jaket tebalnya, sebenarnya Ronald merasakan dingin yang luar biasa menusuk tubuhnya, namun ia berusaha menutupi rasa dinginnya dengan mengalihkan pandangan pada Tania. Sepanjang jalan menuju Villa, mata Ronald selalu awas pada Tania. Dengan penuh penjagaan, Ronald mengiringi Tania, berjalan di sampingnya dan memastikan tidak ada benda-benda apapun di depan Tania yang bisa menyebabkan Tania terpeleset atau pun tersandung, meski hanya kerikil di tepi jalan.

__ADS_1


Sambil berjalan, Tania sebenarnya menyimpan satu pertanyaan yang kerap membuat hatinya gelisah semenjak melihat Ronald dan Evelin berciuman. Dalam hatinya sangat ingin bertanya, bagaimana bisa ia berciuman dengan Evelin, jika kenyataannya Ronald berusaha menjelaskan yang terjadi padanya saat di kebun strawberry? Namun, ia merasa pertanyaan itu belum tepat ia katakan pada Ronald yang bahkan tak memiliki status apapun dengannya.


"Tania... Apa kakimu lelah?" tanya Ronald dengan wajah menyimpan rasa malu.


Untuk apa ia menanyakan itu...? Apa ia bermaksud menawarkan diri untuk menggendongku? Batin Tania bingung.


"Hem... Tidak juga, sebentar lagi juga akan sampai." balas Tania sambil tersenyum.


Ronald hanya membalas senyuman Tania dengan senyumannya.


Di pertengahan jalan, tepatnya di tepi jalan bagian kiri, ada sebuah warung kecil yang menjajakan jagung bakar. Bau harum dari asap bakaran jagung yang melewati hidung Tania, rupanya membuat Tania tergugah.


"Hem... Bau jagung bakar ini harum sekali." celetuk Tania dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia ingin menikmati jagung bakar tersebut.


Melihat raut wajah Tania saat itu, membuat Ronald hanya bisa menahan tawanya di dalam hati. Bagaimana bisa sepolos ini wajahnya...? Batin Ronald tersenyum.


"Kita bisa istirahat di sana... Kakiku juga sudah mulai lelah." Ronald beralasan.


Tania mengangguk setuju seraya melempar senyum lebarnya.


Tania begitu menikmati jagung bakarnya, hingga tidak terasa sudah menghabiskan dua buah jagung bakar.


Sementara itu, Ronald hanya menghabiskan satu buah jagung bakar. Sisanya, hanya memandangi Tania yang begitu asik menghabiskan jagung bakarnya.


Secangkir teh hangat dan jagung bakar yang masih hangat, cukup menghangatkan tubuh mereka yang di landa kedinginan saat itu. Sampai mereka tidak menyadari lampu-lampu di warung tersebut menyala dan jalanan sudah terlihat sangat gelap.


Astaga... Ini sudah sangat gelap. Batin Ronald terkejut ketika ia menyadari bahwa hari sudah gelap.


Ya, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh setengah tujuh kala itu.


Karena terlalu asik menikmati jagung bakar dan secangkir teh hangat. Di barengi obrolan ringan antara keduanya, membuat keduanya lupa waktu.


"Tania... Cepat selesaikan makanmu...! Kita harus segera pulang." ucap Ronald tergesa.


"Memangnya kenapa?" jawab Tania dengan entengnya.

__ADS_1


"Loh... Kok kenapa?" kau tidak lihat hari sudah sangat gelap?" sahut Ronald dengan wajah panik.


Memang belum terlalu malam untuk ukuran orang dewasa seperti mereka berada di luar rumah. Permasalahannya adalah dengan siapa Ronald pergi? Jika sampai Zein atau Rania tahu bahwa ia bersama Tania hingga malam. Tentu akan mengundang banyak pertanyaan bagi mereka dan yang pasti, ia takut Tania akan di marahi oleh kakaknya.


"Kita bukan anak kecil yang harus takut berada di luar rumah saat malam hari kak...!" ucap Tania dengan wajah santai.


Sementara Ronald begitu cemas dan panik, Tania justru sebaliknya, ia tampak tidak perduli mau jam berapa ia kembali ke Villa. Yang ia rasakan saat itu, berada di dekat Ronald membuatnya merasa tenang dan bahagia.


"Kenapa kau malah senyum-senyum sendiri?" tanya Ronald sambil menatap wajah Tania yang terlihat menebar senyum bahagianya.


"Tidak apa-apa... Aku hanya sedang menikmati udara malam yang sejuk ini." jawab Tania santai.


"Kau ini..." sahut Ronald dengan wajah kesal.


"Lihat itu kak...!" Tania menunjuk sebuah pemandangan yang memperlihatkan cahaya-cahaya kecil seperti bintang di bawah dan di atas bukit, tepatnya di depan mereka duduk saat itu. "Wah indah sekali yah..." Tania menyeru penuh kekaguman melihat keindahan di puncak saat malam hari.


Ronald mengikuti arah telunjuk Tania menunjuk, dan benar saja. Lampu-lampu itu terlihat seperti bintang.


Untuk kali pertamanya ia berada di tempat seperti itu, terlebih bersama dengan wanita yang di sukainya.


Entah sampai kapan Ronald akan mengungkapkan isi hatinya? Ia bahkan tak memiliki keberanian untuk sekedar memegang tangan Tania. Ada banyak pertimbangan dan keterbatasan baginya untuk mengungkapkan isi hatinya pada Tania. Ia hanya ingin segalanya mengalir seperti air.


Sebuah prinsip yang tidak seharusnya di pegang oleh laki-laki. Namun kenyataan, banyak alasan yang membuatnya tidak bisa dengan mudah menuruti keinginannya, bahkan untuk urusan hati.


Bersambung\=\=\=>


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


Terimakasih. 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2