Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Berlibur


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, dengan segera Zein mengantar Rania ke kamar untuk beristirahat.


Rania pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, sembari menunggu Rania tidur. Zein menemaninya dengan duduk di atas sofa, setelah Rania sudah terlelap. Zein menghubungi dokter Viona untuk datang dan memeriksa kondisi istrinya.


Sementara menunggu dokter datang. Zein ketiduran di atas sofa.


Selang beberapa menit kemudian dokter Viona datang.


Tok tok tok


Mendengar suara ketukan di balik pintu, Zein langsung bangun dari tidurnya dan bergegas membuka pintu.


"Selamat sore, tuan." sapa dokter Viona.


"Sore." balas Zein, sembari meminta dokter untuk segera memeriksa kondisi istrinya.


Dengan segera dokter Viona pun memeriksa Rania yang saat itu masih tertidur, namun rupanya sentuhan tangan dokter Viona saat memeriksa bagian dada Rania membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Dokter." ucap Rania pelan.


"Iya Nyonya, izinkan saya memeriksa kondisi Nyonya saat ini yah?" ucap dokter Viona sopan.


Rania mengangguk.


Zein yang mengamati dari samping dan duduk di atas sofa hanya diam menunggu hasil dari pemeriksaan dokter Viona.


Setelah selesai, Zein beranjak dari duduknya dan bertanya pada dokter Viona. "Bagaimana keadaannya Dok?"


"Sejauh ini masih aman, tuan, tidak ada penyakit serius atau apapun. Nyonya hanya kelelahan dan mungkin ada sedikit yang mengganggu pikirannya." jelasnya.


"Syukurlah." Zein sedikit lebih tenang mendengar penjelasan dokter Viona.


"Kalau begitu, saya permisi pulang, tuan." ucap dokter Viona.


"Silahkan Dok, terimakasih." balas Zein sembari tersenyum.


Setelah dokter Viona keluar, Zein mendekati Rania dan duduk di tepi kasur.


"Sayang jangan terlalu banyak berpikir, istirahatkan pikiranmu." ucap Zein sembari membelai rambut istrinya. Rania mengangguk sembari tersenyum.


"Sayang, sepertinya kita butuh liburan! Akhir-akhir ini terlalu melelahkan buatmu." usul Zein.


Rania mengangguk setuju.


"Kau mau pergi ke mana sayang?" tanya Zein bersemangat.


"Aku tidak ingin jauh-jauh, yang dekat saja." sahut Rania.


"Hem... Yang dekat... Kemana ya?" Zein mencoba berpikir.


"Singapura, bagaimana?" usul Rania.


"Hem... Apa tidak terlalu dekat sayang?" tanya Zein memastikan.


"Kan sudah ku bilang tidak mau yang terlalu jauh." balas Rania datar.


"Hahaha... Baiklah, besok kita berangkat yah sayang." ucap Zein sembari tertawa.

__ADS_1


"Besok...? Kenapa secepat itu...?" tanya Rania heran.


"Tentu saja, semakin cepat semakin baik." balas Zein tersenyum senang.


Pffft... Rania pasrah.


🍀keesokan harinya🍀


"Sayang... Apa kau sudah siap?" tanya Zein pada Rania yang masih mempersiapkan barang bawaannya di kamar.


"Belum, sebentar lagi." Teriak Rania dari atas kamarnya.


Sementara itu, Zein sudah menunggunya di bawah.


Dengan di bantu pelayan membawa koper miliknya, Rania menuruni tangga.


Keduanya pun mulai berangkat ke bandara dengan di antar oleh Pak Surya, supir pribadinya.


"Sayang... Apa kau bahagia menikah denganku?" tanya Zein sembari menikmati perjalanannya menuju bandara.


"Hem... Kenapa kau menanyakan itu?" Rania mengernyitkan dahinya.


Untuk kali pertama suaminya bertanya seperti itu setelah beberapa bulan menikah tanpa cinta, namun karena ketulusan Zein, akhirnya Rania mulai mencintainya dengan tulus.


"Jika aku tidak bahagia, aku tidak akan meneruskan pernikahan ini." ucap Rania sembari menggenggam tangan suaminya.


Mendengar ucapan dari Rania, membuat hati Zein tenang dan bahagia. Dicintai oleh orang yang sangat dicintainya merupakan suatu hal terindah dalam hidupnya.


"Sayang... Apa kau ingat sedikit saja kenangan kita saat kita masih kecil?" tanya Zein penasaran.


"Entahlah... Aku benar-benar tidak mengingatnya." jawab Rania ragu.


Tidak seperti suaminya yang masih dengan jelas mengingat masa-masa pertemanan mereka saat masih kecil.


"Sayang... Boleh aku tanya satu hal?" tanya Rania sembari menatap wajah suaminya.


"Tentu saja, sayang." sahut Zein sembari tersenyum.


"Kapan pertama kali kau jatuh cinta padaku?" tanya Rania malu-malu.


Entah apa yang membuatnya sampai melayangkan pertanyaan itu. Namun, ia begitu penasaran tentang masa kecilnya bersama suaminya dulu yang tidak di Ingatnya sama sekali.


"Hahahah..." Zein tertawa mendengar pertanyaan istrinya.


"Kenapa kau tertawa?" Rania kesal.


"Sayang... Apa yang membuatmu sampai bertanya seperti itu?" jawab Zein sembari mencubit hidung Rania.


"Aku hanya penasaran, apa yang terjadi pada kita saat masih kecil." balas Rania dengan wajah cemberut.


"Entahlah... Kapan tepatnya aku jatuh cinta padamu. Yang aku ingat adalah saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu." jelasnya sembari tersenyum.


"Lalu... Setelah kau pergi ke luar negeri, apa tidak ada satupun wanita yang kau cintai? Atau bahkan menjalin hubungan dengan seorang wanita?" tanya Rania.


Rania begitu penasaran dengan masa lalu suaminya yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Pernikahannya dengan suaminya adalah sesuatu yang di jodohkan oleh orang tua mereka sehingga mereka tidak pernah menjalin kedekatan satu sama lain saat dewasa.


"Tidak ada satupun wanita yang bisa membuatku jatuh cinta selain dirimu, sayang..." jawab Zein meyakinkan.

__ADS_1


"Masa sih?" Rania seolah tidak percaya.


"Kalau tidak percaya, tanya saja pada David, dia teman dekatku sewaktu sekolah di luar negeri. Dia tahu semua tentangku." balas Zein meyakinkan lagi.


Mendengar nama David membuat Rania jadi teringat pada Yina. Wanita yang hampir saja mencelakainya.


"Hem... Sudahlah, aku tidak mau membahas pertemananmu dengan David. Membuatku mengingat wanita itu saja." ucap Rania dengan nada kesal.


"Apa kau masih marah dengan Yina, sayang?" tanya Zein pelan.


Rania melipat kedua tangannya di atas dadanya dengan wajah cemberut.


"Sayang... Dia tidak akan mengganggu kita lagi mulai saat ini." ucap Zein meyakinkan.


Rania pun tersenyum mendengar ucapan suaminya, dalam perjalanan menuju bandara keduanya saling berpegangan tangan selama berada di dalam mobil.


Akhirnya mereka pun sampai di bandara. Zein, Rania beserta beberapa pengawalnya yang ikut dalam perjalanan mereka berlibur mengikuti dari belakang.


Rania dan Zein duduk di ruang tunggu sembari menunggu jam keberangkatan mereka.


Tidak lama setelah menunggu, akhirnya pesawat yang akan membawa mereka pergi menuju Singapura mulai bersiap.


Dengan segera Zein dan Rania beserta para pengawalnya berjalan memasuki pesawat.


Begitu sudah sampai di dalam pesawat.


"Sayang... Kau boleh tidur selama dalam perjalanan." ucap Zein sembari memasangkan seat belt di pinggang istrinya.


"Tapi aku tidak ingin tidur, aku ingin memandangi keindahan alam dari jendela ini." balas Rania sembari tersenyum senang.


Ini bukan kali pertamanya naik pesawat, sebelumnya ia sudah sering naik pesawat meski hanya ke luar kota. Rania selalu menikmati perjalanannya saat berada di dalam pesawat, ia lebih senang memandangi cerahnya langit dengan awan menggumpal yang terlihat indah saat sedang berada di atas langit.


"Baiklah." balas Zein sembari mengelus rambutnya dengan manja.


Kemudian Zein pun duduk di sebelahnya.


Setelah beberapa menit di dalam pesawat yang sedang melaju di atas awan. Tiba-tiba Rania ingin ke toilet.


"Sayang... Aku mau ke toilet dulu yah?" tanya Rania pada Zein.


"Ya sudah... Biar aku antar." jawab Zein.


"Tidak usah sayang... Aku bisa pergi sendiri, di dalam pesawat tidak akan ada yang berbuat jahat. Jangan terlalu takut sayang." balas Rania.


Rania menolak di temani oleh suaminya.


"Baiklah... Hati-hati." ucap Zein tersenyum.


Rania mengangguk kemudian berjalan menyusuri jalan yang di sisi kiri dan kanannya hanya terdapat kursi-kursi mewah.


Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba seorang wanita yang sedang berjalan melawan arah tidak sengaja menabrak tubuhnya hingga membuat secangkir gelas di tangan wanita itu terjatuh dan mengenai bajunya hingga meninggalkan noda.


"Aw..." Teriak Rania, ia terkejut karena air yang tumpah membasahi dadanya masih terasa hangat.


"Eh, Maaf... Maaf... Aku tidak sengaja." ucap wanita tersebut sembari mengelap baju Rania yang kotor akibat noda minuman yang di tumpahkannya.


Mendengar suara berisik di sampingnya duduk, membuat seseorang yang sedang duduk di kursi merasa kesal.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" protes laki-laki tersebut dengan nada marah.


Bersambung\=\=\=\=\=>


__ADS_2