
Sepanjang perjalanan pulang, keduanya hanya membisu. Zein masih dalam pikiran kesal membayangkan wajah dan ucapan Rey yang begitu kurang ajar padanya. Sementara Rania memikirkan kesalahannya, ia bingung harus berbuat apa? Dalam benaknya, ingin sekali jujur pada Zein dan mengatakan semua kelakuan Rey yang juga mengusik dirinya. Namun pikiran lainnya menahannya untuk jujur.
Begitu sampai di rumah.
"Malam ini kau boleh merasa senang, Rania... Aku akan tidur di kamar sebelah. Selamat malam!" ucap Zein datar sambil berjalan mendahului Rania menuju kamar sebelah.
Ada apa dengannya? Apa dia masih marah soal kejadian di Resort tadi? Hatiku... Kenapa terasa sakit mendengarnya mengatakan itu?Rania membatin penuh tanya.
Rania hanya diam tak bersuara mendengar ucapan dari Zein, seharusnya Rania senang mendengar ucapan Zein yang tidak lagi tidur sekamar dengannya. Namun entah kenapa, hatinya terasa sakit mendengar ucapan itu dari Zein.
Ah... Rasanya bisa tidur di kamar seperti ini memang ternyaman." braaaak Rania menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menarik napas dalam-dalam dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut, dilakukannya berulang-ulang sampai dirinya merasa jauh lebih tenang.
Jadi malam ini aku benar-benar tidur sendiri? Atau malam-malam selanjutnya aku akan tidur sendirian juga? Ah... Biarlah, aku tidak perduli, lebih baik seperti ini. Rania terus menggerutu sebelum akhirnya ia tertidur.
Sementara itu di kamar Zein.
Zein merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, membenamkan dirinya di bawah selimut, melipat kedua tangannya dan meletakkannya di bawah kepala. Matanya menatap langit-langit, sementara itu pikirannya masih saja membayangkan kejadian tadi di Resort. Aku yakin ada kebohongan besar yang Rania sembunyikan dariku!! Ronald, aku tahu cara kerjamu seperti apa? besok kuharap kau bisa memberikan informasi dari laki-laki kurang ajar itu. Zein membatin dengan penuh rasa penasaran.
Ah... Rasanya aku ingin tidur bersama di tempat tidur yang sama dengannya. Tapi apa dia sudah tidur yah? Zein terlihat sangat gelisah dalam tidurnya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar Rania dan melihat apa yang di lakukan Rania di jam malam seperti ini tanpa dirinya.
Begitu membuka pintu kamar, Zein melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuat Rania terbangun.
Dilihatnya Rania yang sudah tertidur pulas, dengan posisi tidur tanpa memakai selimut. Hmmmm... Bagaimanapun dirimu, aku tidak bisa membencimu Rania. Aku bisa terima perlakuan buruk-mu, tapi aku tidak bisa terima perkataan buruk laki-laki tadi siang. Tidak bisakah kau jujur? Sebelum aku tau kenyataan yang sesungguhnya dari Ronald. Batin Zein kecewa, sambil mengangkat tubuh Rania dan membenarkan posisi tidurnya, lalu menyelimutinya, dan terakhir mencium keningnya dengan lembut.
Saat ia bergegas pergi, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat ponsel Rania yang diletakkan di atas meja samping tempat tidur. Diraihnya ponsel itu dan di sentuhnya layar ponsel yang tidak terkunci, nampak sebuah foto Rania sedang bersama ayah, ibu dan adiknya duduk disebuah tahan, di dalam foto itu semuanya tampak tersenyum.
Ah... Sayang sekali tidak ada aku di sini. Harusnya dia memajang foto nikah kita di ponselnya!! Sepertinya besok aku harus foto selfie bersamanya! Membayangkannya saja sudah membuat Zein tersenyum sendiri dalam hatinya.
__ADS_1
Kemudian Zein menyapu lagi layar ponsel Rania, penasaran ingin tahu apa nama kontak nya di ponselnya. Dan, ternyata ia bahkan tidak menemukan nomor ponselnya tersimpan di kontak ponsel Rania. Awalnya ia kesal, namun setelah di pikir, ia sadar bahwa Rania memang belum sepenuhnya menerimanya sebagai suami. Akhirnya ia memasukkan sendiri kontaknya di ponsel Rania dan di beri nama sayangku. Ia bahkan tidak berpikir apakah Rania akan menyukainya, ia hanya berpikir bahwa ia menyukainya.
Diletakkannya kembali ponsel itu, dan bergegas kembali ke kamarnya.
*keesokan harinya.
Rania sudah bersiap untuk pergi ke butik dengan pakaian rapihnya. Sambil berjalan menuruni tangga, sesekali ia merapikan rambutnya.
"Selamat pagi Nyonya?" sapa Bi Ros sambil menggeser bangku dan menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Pagi juga Bi." balas Rania sembari tersenyum, lalu matanya melirik ke arah Zein yang saat itu sudah duduk duluan dan sedang asik dengan sendok dan garpu di tangannya, pandangannya hanya fokus pada piring di depannya tanpa melihatnya.
Zein masih menunjukkan wajah kesalnya di depan Rania, meski hatinya bertolak belakang.
"Apa kau akan pergi ke butik hari ini?" tanya Zein sembari melirik Rania.
"I...iya Zein." jawab Rania terbata.
"Tapi kenapa, Zein?" tanya Rania penasaran.
"Aku tidak akan membiarkanmu di luar sendirian tanpa aku setelah kejadian kemarin?" balas Zein tegas.
"Tapi... Aku tidak apa-apa, Zein. Di butik ada melly dan yang lainnya, dia tidak akan berbuat jahat padaku. Kau tidak perlu khawatir!!" bantah Rania sambil berusaha meyakinkan Zein.
"Kalau begitu... Aku akan menyiapkan beberapa orang untuk menjagamu." balas Zein sembari menatap wajah Rania.
"Zein... Aku rasa tidak perlu!!" bantah Rania.
__ADS_1
"Rania, ada aku saja, dia berani datang hanya untuk mengancamku dan berkata kasar seperti itu, bagaimana jika tanpa aku?" tegas Zein.
"Iya aku tahu, tapi meminta beberapa orang untuk menjagaku, apa itu tidak terlalu berlebihan?" balas Rania berusaha meyakinkan Zein bahwa dirinya tidak suka di atur dan di awasi oleh orang suruhannya.
"Untuk orang seperti dia, ini bukan hal yang berlebihan." Zein mendekatkan wajahnya dekat dengan wajah Rania dengan tatapan penuh selidik.
"Tapi tetap saja aku tidak suka dengan kebijakanmu itu!!" ucap Rania dengan nada tinggi.
"Kenapa sih, kamu begitu keras kepala? Apa susahnya mengikuti perintahku, Rania? Atau ada hal yang memang kamu sembunyikan dariku?"
"Apa maksudmu, Zein? Kau tidak berpikir seperti itu kan?" ucap Rania kesal dengan kata-kata Zein barusan yang seolah mencurigainya.
"Kau sendirilah yang membuatku berpikir seperti itu...! Apa kau pikir wajar jika ada teman pria datang hanya untuk menemui teman perempuannya, lalu mengancam suaminya dengan ancaman yang serius?" dengan tatapan tajam, Zein menatap wajah Rania.
"Baiklah... Jika itu mau-mu." Rania mengiyakannya, karena tidak ingin pembicaraannya berujung pertengkaran.
"Oh... Ya, kalau ada apa-apa, panggil saja kontak dengan menekan angka satu lebih lama di ponselmu." ucap Zein sambil tersenyum tipis.
"Ah... Iya." Rania menjawabnya dengan singkat. Sambil mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas. "Kau tidak perlu mencoba memanggilnya sekarang." ucap Zein sambil menghentikan tangannya merogoh tas miliknya.
Apa dia memasukkan nomor polisi? Rania membatin penasaran.
Ponselnya bergetar, lalu Zein membukanya dan mendapati pesan singkat dari Ronald. Tuan, aku sudah mendapatkan semua data yang menyangkut nama itu.
Bagus Ronald, kerjamu memang tidak bisa diragukan lagi. Usai membaca pesan singkat dari Ronald, Zein tampak tersenyum puas.
*Bersambung.
__ADS_1
Halo pembaca yang budiman🤗
Jangan lupa dukung author dengan cara: klik like, komen, favorit, kasih bintang lima dan bagi vote nya ya! Biar author makin semangat nulisnya. 🤗