
Setelah selesai menghubungi dokter Gea untuk menanyakan kondisi istrinya, dan dokter Gea pun mengatakan bahwa Rania boleh melakukan perjalanan untuk liburan keluar kota. Dengan catatan jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah.
Akhirnya Rania bisa bernapas lega, ada raut wajah gembira di wajah Rania saat itu begitu tahu Zein akan mengajaknya pergi berlibur.
"Lalu... Kapan kita akan berlibur, sayang?" tanya Rania dengan wajah penasaran.
Seolah sudah tidak sabar untuk segera pergi liburan.
"Nanti, sayang... Besok atau lusa kita pergi, aku akan atur pekerjaan di kantor dulu. Belum lagi, besok kita akan berkunjung ke rumah mama dan papa." balas Zein.
Rania terkejut ketika Zein bilang, besok akan pergi ke rumah mertuanya.
"Apa terjadi sesuatu dengan mereka, sayang?" Rania bertanya dengan wajah cemas.
"Bukan itu sayang... Mereka baik-baik saja, walau bagaimana pun, mereka harus tahu kehamilanmu. Pasti mereka akan senang." balas Zein tersenyum.
"Oh... Ya sudah. Tapi... Sebenarnya aku malu." balas Rania ragu.
"Malu kenapa, sayang?" Zein terkejut.
"Ya gak apa-apa sih... Cuma malu aja." balas Rania datar.
"Hem... Tidak usah malu, sayang." kata Zein meyakinkan.
Keesokan harinya.
Minggu pagi yang cerah kala itu benar-benar memberikan kesejukan dan kenyamanan. Selalu ada cinta di kediaman Zein yang luas bak istana itu. Para pelayan selalu menebar senyum satu sama lain dan saling menyapa. Karena Zein menerapkan keramahan di dalam rumahnya, semua karyawannya di kantor maupun semua pelayannya di rumah diperintahkan untuk saling sapa dan senyum.
Dalam prinsip Zein, kenyamanan hidup adalah keharmonisan hidup antar sesama baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Rumah yang nyaman adalah rumah yang para penghuninya saling menghormati satu sama lain.
Pagi itu, Rania dan Zein sarapan pagi di meja makan. Karena merasa bosan dengan bubru sayuran, di tambah rasa mualnya sudah berkurang, Rania memilih untuk makan pagi dengan selembar roti, begitupun dengan Zein.
"Sayang... Kau mau selai apa?" Rania menatap wajah suaminya.
"Srikaya saja." balas Zein sembari tersenyum.
Rania meraih selai Srikaya dan mengoleskannya pada selembar roti tawar untuk suaminya. Setelah itu, matanya beralih pada selai cokelat, ia meraih selai cokelat dan mengolesinya pada selembar roti tawar miliknya.
"Sayang... Jam berapa kita akan pergi ke rumah mama?" tanya Rania sambil mengunyah roti di dalam mulutnya.
"Setelah sarapan pagi, sayang..." balas Zein yang saat itu sedang meneguk air putih, lalu meletakkannya di atas meja makan.
"Baiklah." ucap Rania.
Tidak lama setelah keduanya sarapan pagi, keduanya pun bersiap untuk pergi berkunjung ke rumah orang tua Zein.
Selama dalam perjalanan menuju rumah orang tua Zein, keduanya tidak lepas dari berpegangan tangan, Rania menyandarkan kepalanya di bahu suaminya hingga membuatnya tertidur selama dalam perjalanan.
Setelah tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Zein.
Saat hari libur seperti ini, keluarga Zein biasanya berkumpul di rumah. Membuat Zein tidak perlu menghubungi mereka akan kedatangannya. Karena sudah pasti mereka ada di rumah.
Melihat Rania tertidur di mobil, membuat Zein tidak tega untuk membangunkannya. Sampai beberapa menit kemudian Rania bangun dari tidurnya.
"Sayang... Kau sudah bangun." ucap Zein sembari mengelus rambutnya.
Rania mengangguk lemas.
Dengan segera Rania bangkit dari duduknya dan keluar dari mobil, begitupun dengan Zein.
Zein menggandeng tangan Rania dari depan taman sampai masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Begitu mereka sampai di depan pintu rumah, para pelayan menyambut kedatangan Zein dan Rania dengan sangat ramah. Dan tidak lama orang tua Zein pun datang menemui mereka.
"Akhirnya... Kalian datang juga. Mama kira kalian sudah lupa alamat rumah ini." ibunya Zein terkejut, lalu meledek.
Mendengar ucapan mamanya. Zein dan Rania hanya tersenyum malu.
"Mama... Ngomong apa sih?" jawab Zein tersenyum.
"Ayo masuk, Rania..." papanya Zein menggiring Rania untuk masuk.
Keduanya benar-benar di sambut hangat oleh orang tua Zein.
"Di mana Evelin?" Zein melirik ke arah mamanya.
"Adikmu sedang ada acara di kampusnya." jawab mamanya.
"Hem... Begitu." Zein mengangguk.
Lalu ke empatnya berjalan menuju ruang tengah dan duduk di atas sofa.
Rania duduk di samping ibu mertuanya, sementara itu, Zein duduk di samping papanya.
Seorang pelayan datang dengan membawa minuman dan makanan untuk di hidangkan.
"Rania... Apa kau mau makan?" tanya ibunya Zein sembari memegang bahu Rania.
"Tidak, Bu... Terimakasih, aku masih kenyang, sebelum ke sini, kami sudah makan di rumah." balas Rania sambil tersenyum.
"Zein bagaimana pekerjaanmu?" tanya papanya Zein.
"Lancar pah." balas Zein singkat sembari tersenyum.
"Papa dengar, beberapa hari lalu kau ke Singapura?" tanya papanya.
"Kalian sehat kan?" tanya mamanya sembari melirik mata ke arah Rania dan Zein.
"Tentu saja mah... Kami baik-baik saja dan sehat." jawab Rania tersenyum.
"Rania... Ini ada makanan khas bali, beberapa hari lalu, Evelin habis dari bali, ayo di coba...!" ibunya menyodorkan kue pie khas bali pada Rania."
Rania meraihnya dengan wajah tersenyum, perlahan ia membuka bungkusnya dan mengambil satu. Sayangnya saat ia hendak memasukkannya ke dalam mulutnya, tiba-tiba ia merasa mual ueeeek hingga membuatnya menutup mulutnya lalu berjalan cepat menuju toilet.
Aroma durian yang menyengat dari pie durian tersebut membuat Rania merasa mual.
Melihat Rania berlari dengan tergesa menuju toilet sembari mual. Mamanya dan papanya Zein terkejut. Keduanya saling menatap mata lalu beralih tatapan ke arah Zein.
Melihat tatapan kedua orang tuanya, Zein hanya bisa tersenyum malu.
Melihat ekspresi wajah Zein, papanya sudah bisa menduga. Namun mamanya masih belum percaya dan ingin mendengar langsung.
"Zein... Apa Rania sedang hamil?" tanya mamanya dengan wajah penasaran.
Zein mengangguk. "Benar, mah..." jawab Zein sambil tersenyum.
Mendengar jawaban dari Zein. Tentu membuat hati orang tuanya senang mendengarnya, terlebih mamanya Zein, sudah lama ia mengharapkan seorang cucu.
Begitu Rania kembali dari toilet dan kembali duduk di sofa, mamanya Zein langsung memeluk tubuh Rania dengan hangat.
Melihat perlakuan mama mertuanya barusan, cukup membuat Rania bingung.
"Rania... Selamat, sayang... Akhirnya aku akan menjadi seorang nenek." ucap mamanya saat sedang memeluk tubuh Rania.
__ADS_1
Mendengar ucapan mama mertuanya, Rania pun tersenyum senang. Bagaimana mungkin seorang mertua bisa se sayang ini padanya? Meski saat mengetahui dirinya hamil.
"Iya mah... Terimakasih." jawab Rania sembari tersenyum.
Melihat adegan menantu dan mertua saling berpelukan, membuat Zein dan papanya hanya tersenyum bahagia memandanginya.
"Rania... Kau harus jaga kesehatanmu dan jangan terlalu lelah...!" kata mama mertuanya sembari melepaskan pelukan tersebut.
Entah kenapa, Rania merasa ucapan mama mertuanya barusan, terdengar seperti mengancam.
Mendengar ucapan mamanya, membuat Rania berpikir lebih hati-hati lagi dalam melakukan segala hal. Sikapnya yang ceroboh memang sulit di hilangkan. Namun Rania kini mulai paham, di setiap alasan suaminya melakukan hal-hal yang selalu membuatnya kesal termasuk memagar tangga. Tidak lain, karena Zein dan keluarganya memang benar-benar menyayanginya dan terbiasa melakukan segalanya dengan sangat hati-hati.
"Iya mah..." jawab Rania tersenyum.
"Zein... Kau harus perhatian Rania dan jangan membuatnya kesal...! Ibu hamil tidak boleh stres." mamanya berusaha mengancam Zein.
Mendengar ancaman yang baru saja keluar dari mulut mamanya, Zein hanya bisa tertawa.
"Hahaha... Mama ini, tanpa mama mengancam, aku tidak akan membuatnya kesal. Lagi pula.. Aku tidak juga tidak pernah membuatnya kesal, iya kan sayang...?" Zein melirik mata ke arah Rania lalu mengedipkan matanya.
Preeet... Batin Rania menolak ucapan suaminya barusan yang sangat bertentangan.
Zein memang kerap kali terlihat menyebalkan di mata Rania dengan segala aturan-aturannya untuk Rania. Namun semua yang ia lakukan semata-mata demi kebaikan istrinya.
"Heheh... Benar Mah, Zein itu suami yang sangat manis." Rania melirik kesal ke arah Zein. "Dia juga tidak pernah membuatku kesal." lanjutnya.
Akhirnya.. Dia memujiku. Batin Zein merasa puas.
Setelah beberapa beberapa jam mereka berbincang. Akhirnya Zein memutuskan untuk segera kembali ke rumahnya.
Mengingat pesan dokter Gea pada istrinya agar tidak terlalu lelah dan banyak istirahat.
"Ya sudah... Mah, pah... Kita pulang dulu." ucap Zein di sela-sela tawa mereka.
"Yah... Mama kan masih kangen Zein." bantah mamanya dengan wajah cemberut.
"Lain kali kami akan sering datang mah...!" sahut Zein. "
Kemudian papanya menyambar.
"Mah... Jangan begitu, Rania itu sedang hamil, dia harus banyak istirahat." bela papanya.
"Hem... Iya benar juga. Ya sudah... Tapi kalian harus sering-sering ke rumah ya...!" lagi-lagi mamanya mengancam.
Rania memegang tangan mama mertuanya seraya berkata.
"Tentu saja mah." sahut Rania sembari tersenyum.
Mamanya memeluk tubuh Rania sebelum ia benar-benar pulang.
"Hati-hati Rania... Jaga kesehatanmu..!" Teriak mamanya saat Rania dan Zein berjalan menuju mobil.
Rania mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil.
Bersambung\=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
__ADS_1
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
Terimakasih. 🙏🏻