
Begitu Zein sudah sampai di rumahnya. Ronald dan David pergi melanjutkan pencairannya.
🍀Di rumah Rey🍀
Dengan dunia hitam yang pernah digelutinya, terutama jejak hitamnya yang menghubungkan dari satu dan lainnya. Hanya dalam hitungan jam saja, Rey mampu menemukan otak di balik kejahatan yang menimpa Rania dengan mengerahkan orang-orang suruhannya.
Di dalam ruangan sempit dan penat, Yina tampak duduk di atas kursi kayu dengan tubuh terikat dan kedua tangan dan kakinya juga terikat. Serta mulut yang tidak bisa bicara akibat ditempelkan perekat di mulutnya.
Rey berjalan perlahan mendekati Yina dengan tatapan sinis.
Sialan... Dasar laki-laki pecundang. Beraninya memperlakukan wanita seperti ini...! Yina membatin penuh kesal.
Kini tubuhnya mulai terlihat lelah berada di atas kursi selama berjam-jam dengan tubuh terikat.
Settt, Rey membuka secara kasar perekat yang menempel di mulut Yina hingga membuat Yina tersentak.
"Aw... Brengsek..." Yina meringis dan memaki dengan tatapan sinis.
"Hahaha... Apa aku tidak salah dengar? tindakanmu jauh lebih brengsek dari pada ucapanmu barusan, Yina." Rey tertawa dengan tawa sinis.
"Cih... Kau seharusnya mendukungku dan bekerja sama denganku...! Bukan menangkapku seperti ini?" ucap Yina sembari tersenyum licik.
"Apa yang kau ucapkan barusan? Coba ulangi...?" tanya Rey dengan tatapan penuh amarah.
"Bukankah kau juga ingin merebutnya dari tangan Zein dan memilikinya? Apa yang ada dipikiranmu? Apa kau sudah menyerah?" Teriak Yina dengan lantang.
"Aku tidak sekejam dirimu...! Jika posisinya berbalik, aku yang menyakiti orang yang kau cintai? Apa kau masih bisa diam?" ucap Rey dengan lantang.
Yina tertunduk diam mendengar ucapan Rey.
__ADS_1
"Cih... Pantas saja Rania tidak memilihmu, kau hanyalah laki-laki yang tidak tahu apa-apa dan lemah." Yina berdecak dengan nada menghina.
Mendengar ucapan Yina membuat Rey kesal. Rey berjalan mendekati Yina lalu melayangkan tamparan pada wajah Yina.
"Ini untuk tamparan yang pernah dilayangkan oleh orang suruhanmu pada wanita yang sangat aku cintai." ucap Rey dengan nada geram.
Brengsek... Beraninya dia menamparku. Batin Yina marah.
Seolah belum puas menyiksa wanita yang sudah berusaha mencelakai wanita yang dicintainya. Rey kembali meluapkan kekesalannya dengan memegang kedua pipi Yina dan menekannya dengan kencang hingga membuat bibir Yina terbuka. "Jika saja kau seorang laki-laki, aku sudah melemparmu ke dalam kandang macan dan menjadikanmu santapan malam mereka. Beruntung kau seorang wanita. Tidak ada yang bisa lolos dari kematian jika sudah berurusan denganku, terlebih jika sampai menyakiti orang-orang yang aku sayangi." kemudian Rey melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Berhenti berlaku kasar pada wanita! Aku bisa melaporkanmu pada polisi, terlebih kau membawaku dengan paksa tanpa bukti." Teriak Yina penuh emosi.
"Hahaha... Kau yakin bisa menjebloskanku ke penjara? Yina... Yina... Rupanya kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa." Rey tertawa penuh percaya diri. "Biar ku tunjukkan padamu siapa sebenernya yang kau lawan? Seharusnya kau berpikir matang-matang sebelum mengkambinghitamkan aku atas perbuatannmu...!" lanjutnya, sembari menepuk kedua tangannya memberi tanda pada pengawalnya.
Tidak lama setelah mendengar suara tepukan tangan Rey, akhirnya dua pengawalnya datang dengan membawa laki-laki yang sudah tak berdaya dengan sejumlah luka dibagian tubuhnya terutama bagian wajahnya yang penuh dengan luka memar.
Brengsek... Kenapa dia bisa tertangkap? Seharusnya ku habisi saja dia sebelumnya. Yina membatin.
"Cih... Itu saja tidak akan cukup untuk dijadikan bukti dan menjebloskanku ke penjara." bela Yina.
"Oh... Rupanya kau ingin bukti yang lebih lengkap? Baiklah, akan ku tunjukkan padamu." balas Rey sembari berjalan menunjukkan sebuah video pertemuan Yina dan laki-laki suruhannya dengan memberikan sejumlah uang.
Video tersebut di dapatkan Rey dari orang-orang suruhannya yang sudah handal. Sebelum pergi, mereka meminta secara paksa untuk menunjukkan CCTV Resort milik Yina dan mengambil rekaman yang memperlihatkan transaksi antara Yina dan laki-laki itu.
Melihat bukti nyata yang dipegang Rey, Yina sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain diam dengan tatapan wajah penuh dendam.
"Apa ini cukup membuatmu lemas?" tanya Rey sinis.
"Lepaskan aku Rey, aku janji tidak akan menyakiti Rania lagi." kini Yina mengakui kesalahannya dan meminta belas kasih dari Rey.
__ADS_1
"Cih... Sekarang kau sudah mengakuinya?" Rey berdecak.
"Rey... Tolong lepaskan aku dan jangan bongkar kejahatanku pada Zein... Aku mohon, Rey." bujuk Yina meminta pengampunan dari Rey agar tidak dijebloskan ke penjara.
Yina terlalu takut jika sampai Zein mengetahui dialah pelakunya, Yina tidak bisa membayangkan jika Zein akan membencinya. Ia lebih baik mati jika harus dibenci oleh laki-laki yang dicintainya.
"Berhenti merendahkan dirimu di depanku, Yina!! Meski kau berlutut dihadapkan, kau tidak akan bisa lepas dari hukuman. Keberuntunganmu adalah terlahir menjadi seorang wanita, jika kau adalah seorang laki-laki, kau tidak akan bisa lepas dari kematian. Karena aku tidak pernah melepaskan buronanku hidup-hidup kecuali perempuan. Dan laki-laki di depanmu itu." Rey menunjuk ke arah laki-laki yang sudah tak berdaya. Ya, laki-laki yang sudah menyakiti Rania. "Sampah di depanmu itu seharusnya tidak akan bisa hidup sampai sekarang, hanya karena aku tidak bisa melenyapkanmu dan membutuhkan laki-laki itu sebagai saksi demi menjebloskanmu ke dalam penjara." lanjutnya.
"Bersyukurlah untuk kesempatan hidup yang aku berikan padamu, meski di dalam penjara seumur hidup." ucap Rey dengan penuh percaya diri, lalu tersenyum sinis.
Untuk sejenak Yina diam dalam penyesalannya, ia tidak bisa menyangka ini akan terjadi pada dirinya. Kehancuran hidupnya justru berawal karena ia di butakan oleh cinta yang salah.
Setelah puas, Rey bergegas meninggalkan mereka. Namun belum sempat ia keluar, tiba-tiba suara Yina menghentikan langkahnya.
"Jika saja aku tidak pernah mencintainya, hidupku tidak akan berakhir seperti ini. Cih... Bicara tentang cinta membuatku muak. Kau dan aku tidak ada bedanya Rey, kau bahkan hampir membunuh orang yang kau cintai karena cinta butamu? Hiks... Kau dan aku sama buruknya Rey. Jangan terlalu naif dan berlagak menjadi pahlawan di depan wanita yang kau cinta." Yina mengungkapkan seluruh isi hatinya yang kecewa sembari menahan isak tangisnya, sesekali ia meneteskan air mata yang tak mampu di bendungnya lagi.
"Kau benar Yina... Aku dan kau tidak jauh berbeda, kita sama. Sama-sama pernah melakukan kejahatan demi mendapatkan apa yang kita inginkan. Bedanya, jauh sebelum hal ini terjadi, aku sudah sadar dan tidak mengganggu mereka lagi. Kini aku hanya perlu menjaga wanita yang aku cintai tetap bahagia meski dengan laki-laki lain. Inilah alasanku melakukan ini." jelas Rey sembari membelakangi Yina yang berada di belakangnya. "Maaf Yina, aku tidak bisa membiarkanmu berkeliaran di luar, karena jika kau masih berkeliaran di luar, itu sama saja dengan membiarkan wanita yang aku cintai dalam bahaya." lanjutnya.
"Cih... Naif sekali kau." Yina berdecak sinis.
"Terserah kau... Ini adalah caraku mencintai wanita yang aku cintai. Jika dia memang cinta sejatiku, maka Tuhan akan menyatukannya, begitupun sebaliknya." Rey meninggalkan Yina dan laki-laki itu di dalam ruangan itu. Tiba-tiba langkahnya berhenti.
"Jeremi, beri mereka makan yang cukup... Bagaimanapun kita butuh mereka hidup-hidup sebelum mengantarkan mereka ke rumah baru mereka." Rey memerintahkan pada Jeremi.
"Baik, tuan." jawab Jeremi.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukungannya yah.
__ADS_1
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
Terimakasih. 🤗