
Begitu selesai, Dokter Viona pun bergegas untuk pulang.
"Tuan... Sebaiknya segera periksakan Nyonya ke dokter kandungan untuk lebih baiknya." jelas Dokter Viona.
"Baik Dok, terimakasih." balas Zein.
"Saya sudah berikan beberapa obat yang bisa meredakan sedikit rasa pusingnya. Selebihnya bisa periksakan ke dokter kandungan secara langsung." balas Dokter Viona.
Dokter Viona hanyalah dokter umum yang selama ini menjadi dokter pribadi keluarga Arka. Namun untuk pengetahuan seputar kandungan tidak begitu mahir seperti dokter kandungan.
Zein mengangguk sembari tersenyum, lalu dokter Viona pun berlalu meninggalkan mereka.
Setelah dokter Viona pergi, Zein mendekati istrinya dan duduk di tepi kasur.
"Sayang..." ucap Zein sembari mengelus bagian perut istrinya dengan sangat lembut.
"Sekarang di dalam perutmu sudah ada anak kita... Kau harus banyak istirahat, jangan terlalu sibuk...!" Zein meminta agar istrinya mengurangi kesibukannya di butik.
Karena beberapa minggu belakangan ini, Rania memang di sibukkan dengan pekerjaannya di butik.
Mendengar ucapan suaminya, Rania hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Untuk kali pertamanya, Rania tidak membantah sedikit pun perintah suaminya. Mungkin karena ia juga merasa sangat menantikan buah hati di tengah-tengah pernikahan mereka.
Terlebih, mama mertuanya juga sangat menginginkan kehadiran seorang cucu pertama di keluarga mereka.
"Sayang... Orang tua kita pasti senang sekali mendengar berita ini." ucap Rania dengan yakin.
"Tentu saja... Ini adalah cucu pertama di keluarga kita, sayang." timpal Zein sembari tersenyum.
"Oh ya... Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang." kata Zein dengan semangat.
"Tapi bagaimana jika dalam perjalanan, aku muntah lagi?" tanya Rania.
Rania takut ia akan muntah lagi di dalam mobil.
"Tidak apa-apa sayang... Mulai sekarang, aku akan menyediakan plastik dan semua kebutuhanmu di dalam mobil." balas Zein dengan antusias.
Rania menggelengkan kepalanya.
Zein menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta, meyakinkan istrinya agar mau pergi ke dokter kandungan.
"Sayang... Demi anak kita, aku mohon." balas Zein dengan wajah memelas.
Melihat suaminya yang begitu tulus dan perhatian. Akhirnya Rania menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju.
"Nah... Ini baru istriku tercinta." goda Zein sembari tersenyum.
"Sayang... Jangan menggombal di depanku, aku tidak suka mendengarnya." balas Rania ketus, begitu mendengar kalimat menggoda dari suaminya.
__ADS_1
Hem... Sensitif sekali. Batin Zein heran.
"Baiklah... Aku tidak akan menggodamu lagi, sayang." balas Zein sembari mengusap rambut atas kepala Rania.
"Ih... Apaan sih, sayang, gak usah lebay deh." Rania menepis usapan tangan suaminya dan memperlihatkan wajah masam.
Ada apa dengannya? Kenapa dia begitu sensitif...? Bukankah biasanya juga selalu seperti ini...? Batin Zein semakin bingung di buatnya.
Entah kenapa istrinya jadi sensitif tiap kali dirinya menggoda istrinya.
"Ya sudah... Ayo bersiap." ucap Zein.
Zein beranjak dari duduknya, lalu berdiri meraih jaket miliknya lalu mendekati Rania lagi. "Sayang, apa kau ingin aku menggendongmu?" tanyanya dengan wajah menggoda.
"Tidak perlu... Aku bisa jalan sendiri." balas Rania datar.
"Aduuuuh..." begitu sudah berdiri, Rania tampak pusing. Ia memegang kepalanya untuk sejenak.
"Kenapa sayang?" Zein terlihat panik lalu memegang bahu istrinya.
"Kepalaku, rasanya..." ucap Rania dengan kalimat terpotong.
Akhirnya Zein menggendong kembali tubuh istrinya, kali ini ia menggunakan lift agar lebih cepat.
Lalu meletakkan tubuh istrinya di dalam mobol berukuran besar, kali ini ia menggunakan mobil khusus, agar Rania bisa tiduran di dalam mobil.
"Sayang, apa kau nyaman?" tanya Zein sembari melirik wajah istrinya yang berbaring di sampingnya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Zein yang duduk di samping istrinya yang tidur, terus memegangi telapak tangan istrinya sepanjang jalan menuju rumah sakit terdekat dari rumahnya.
Rania memilih untuk tidur dalam perjalanannya agar tidak muntah lagi di dalam mobil, setidaknya dengan tidur, ia akan melupakan rasa mualnya.
Setelah sepuluh menit mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
"Sayang... Bangun, kita sudah sampai di rumah sakit." Zein mencoba membangunkan Rania dengan pelan agar tidak syok saat bangun karena kaget.
"Emmm... Ya." balas Rania dengan suara lemas.
Lalu Zein menggendong tubuh istrinya dan meletakkannya di atas kursi roda, mendorongnya masuk ke dalam.
Setelah selesai mendaftar, mereka pun menunggu sebentar selama beberapa menit sebelum nama Rania di panggil.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya nama Rania di panggil, dengan segera Zein mendorong istrinya masuk ke dalam ruang poli kandungan.
Setelah keduanya masuk.
Menyadari bahwa yang masuk adalah laki-laki yang di kenalnya lewat media televisi maupun media cetak, yaitu Zein Arka seorang pengusaha muda dan juga sukses.
"Selamat siang, tuan Zein?" sapa Dokter perempuan tersebut.
__ADS_1
"Siang juga." balas Zein dengan ramah.
Lalu Dokter segera memeriksa tubuh Rania dan begitu sudah selesai.
"berdasarkan tanggal terakhir selesai menstruasi, Istri tuan sedang hamil satu bulan lebih, tepatnya menginjak dua bulan." jelas Dokter tersebut.
Mendengar pernyataan dari Dokter, Zein dan Rania saling bertatap wajah dengan senyum bahagia mereka.
"Lalu bagaimana kondisi bayinya Dok? Baik-baik saja, kan?" tanya Zein penasaran.
"Ya, semuanya baik, hanya perlu menjaga pola makan dan istirahat yang cukup dan jangan terlalu lelah." jelasnya lagi.
Rania hanya tersenyum mendengar pernyataan dari Dokter.
"Kira-kira... Bayinya laki-laki atau perempuan ya Dok?" tanya Zein lagi.
"Di usia saat ini, masih belum bisa diketahui jenis kelaminnya, tuan." jawab Dokter tersebut sembari tersenyum.
"Sayang... Jangan terlalu terburu-buru...! Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting sehat." ucap Rania sembari menatap wajah suaminya.
"Kau benar sayang... Aku terlalu bahagia sampai aku ingin tahu segalanya." balas Zein tersenyum.
"Em... Dok, apa aku akan merasa mual dan pusing seperti ini setiap harinya?" tanya Rania.
"Dalam usia saat ini, kebanyakan akan merasakan seperti itu, namun tidak sedikit juga yang di masa kehamilannya tidak merasakan pusing atau bahkan mual yang berlebihan, tergantung hormonnya, jangan khawatir, karena masa seperti ini hanya beberapa bulan saja, selebihnya bisa kembali normal." jelasnya.
Mendengar penjelasan dari Dokter, akhirnya Rania paham, dan ia harus bersiap dengan segala yang akan di rasakannya selama masa kehamilan.
Kemudian Zein dan Rania keluar dari dalam ruangan dan bergegas mengambil obat di ruang farmasi.
Setelah selesai, mereka akhirnya pulang kembali ke rumah mereka.
Begitu sudah sampai di depan rumahnya, seperti biasa, Zein menggendong istrinya dengan menggunakan lift lalu masuk ke dalam kamar dan meletakkan tubuh Rania di atas kasur, menyelimutinya dan membiarkan Rania beristirahat.
"Sayang... Istirahatlah, dokter bilang, kau harus banyak istirahat." ucap Zein sembari memegang tangan istrinya.
Tanpa menjawab ucapan suaminya, Rania hanya mengangguk setuju. Rasanya sudah terlalu lelah saat itu, karena banyaknya makanan yang pada akhirnya keluar dari dalam perutnya akibat rasa mualnya.
"Aku akan turun ke bawah dan meminta Bibi Ros untuk membuatkan bubur untukmu, kau istirahat saja dulu." ucap Zein.
Rania lagi-lagi hanya mengangguk.
Sebelum pergi meninggalkan istrinya, Zein mencium kening istrinya lalu pergi ke bawah.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukungannya ya.
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
__ADS_1
Terimakasih.