Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Perubahan sikap Rania


__ADS_3

Zein membawakan susu yang dibuatnya dengan cinta untuk istrinya. Duduk di tepi kasur dan melihat senyum bahagia dari wajah istrinya, lalu menyodorkan gelas tersebut ke dalam mulut istrinya, Rania pun meneguknya dengan perlahan, meski merasa sedikit aneh dengan rasa susu yang baru pertama kali diminumnya, namun Rania berusaha menikmatinya dan menghargai usaha suaminya dalam membuat susu tersebut dan juga mengurus dirinya saat hamil.


"Sayang... Mana buah belimbingnya?" tanya Rania dengan raut wajah tersenyum setelah menghabiskan susu tersebut.


"Tunggu sebentar ya sayang, Ronald sedang mencarinya, dia pasti datang dengan membawa pohon beserta buahnya." jawab Zein dengan wajah yakin.


"Hem... Ya sudah aku akan menunggunya!" balas Rania.


"Sementara menunggunya datang, kau tidur saja dulu." Zein meminta agar istrinya tidur selama menunggu Ronald datang.


"Tapi aku tidak ngantuk sayang... Aku akan menunggunya datang." balas Rania dengan nada penekanan.


Apa begini wanita saat hami dan ngidam? Hem... Aku merasa dia semakin keras kepala. Batin Zein heran.


Zein tidak habis pikir bagaimana mungkin prilaku wanita saat hamil menjadi aneh dan berubah drastis? Namun ia tidak ingin mengecewakan istrinya dan berusaha memenuhi keinginan istrinya sekalipun itu aneh dan sulit.


"Sayang... Pergi sana...!" ucap Rania dengan tegas.


Entah kenapa tiba-tiba Rania mengucapkan kalimat tersebut, kalimat yang sebelumnya tidak pernah di ucapkannya di depan suaminya. Saat itu Zein sedang duduk di sampingnya sambil melamun, memikirkan keanehan-keanehan tingkah istrinya yang berubah.


Apa...? Dia mengusirku dari kamarku? Bagaimana mungkin...? Zein membatin.


Mendengar ucapan istrinya yang memintanya untuk keluar dari kamarnya dengan nada tegas, tentu membuat Zein semakin tidak habis pikir.


"Sayang... Apa barusan kau mengusirku?" tanya Zein dengan raut wajah sedikit bingung dan kedua alisnya tampak mengernyit.


"Tentu saja... Kau boleh datang ke kamar kalau kau sudah mendapatkan pohon belimbingnya." balas Rania dengan lantang.


Cih... Entah apa yang merasukimu, sayang? Hingga kau tega mengusirku dari kamarku sendiri...? Zein membatin.


Tak ingin berdebat dan membuat istrinya kesal, Zein memilih mengalah dan pergi dari kamar untuk sementara waktu. Zein tak ingin istrinya kesal terlebih ada calon anaknya di dalam perut Rania saat ini.


"Baiklah, aku akan keluar dari kamar." ucap Zein sembari berdiri dan berjalan keluar dari kamar, lalu menutup pintu kamar.


Melihat suaminya sudah keluar, Rania pun tersenyum puas.


Sembari menunggu pohon belimbingnya datang, Rania membuka ponselnya sembari membaca dan mempelajari tentang ibu hamil yang tersebar luas di dalam situs Internet yang ada di ponselnya.


Sementara itu, di ruang tengah tampak Zein sedang duduk di atas sofa dengan kedua tangan melipat di atas dada, kaki kanan menyilang dan bertumpu di atas kaki kirinya.

__ADS_1


Sesekali ia meneguk kopi hangat yang ada di atas meja yang ada di depannya.


Sepertinya aku harus terbiasa dengan sikap-sikap aneh istriku ke depannya. Zein membatin, sembari menikmati secangkir kopi yang masih dalam genggaman tangannya.


Sudah hampir sepuluh menit Zein duduk di atas sofa dengan bersantai sejenak sembari memikirkan perubahan sikap istrinya saat ini.


Kenapa lama sekali...? Di mana Ronald sebenarnya mencari pohon belimbing tersebut? Batin Zein menerka.


Karena tidak sabar dan takut istrinya menanyakan pohon belimbing lagi, akhirnya Zein mencoba menghubungi Ronald melalui ponselnya.


Tidak lama sambungan teleponnya tersambung pada Ronald.


"Iya tuan, ada apa?" jawab Ronald dari seberang telepon.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan pohon belimbingnya?" tanya Zein dengan pikiran gelisah.


"Tentu saja sudah, tuan..." balas Ronald dengan bangga.


"Hahaha... Bagus Ronald, kau memang selalu bisa di andalkan." Zein memuji Ronald begitu tahu Ronald sudah mendapatkan pohon belimbing tersebut, setidaknya Zein merasa sudah lebih lega saat ini.


"Sekarang saya dalam perjalanan menuju rumah tuan." balas Ronald sembari melirik kaca spion mobilnya dan menggelengkan kepalanya.


Ya, Ronald mendapatkan pohon tersebut dari penjual tanaman yang banyak sekali di temui di pinggir-pinggir jalan kota. Sebenarnya tidak sulit dan tidak butuh waktu yang lama bagi Ronald dalam mendapatkan pohon belimbing tersebut, karena terdapat di beberapa penjual yang menjual tanaman di pinggir jalan kota, hanya saja yang membuat Ronald berdecak adalah ketika harus membawa pohon tersebut di atas mobil pick up dan terlebih ini adalah permintaan ibu hamil.


Sementara itu di tempat Zein.


"Sayang..." Teriak Rania dari dalam kamar.


Teriakan yang membuat telinga suaminya yang sedang siap siaga itu tampak berdengung.


Astaga... Benar saja kan, dia memanggilku. Zein membatin penuh cemas.


Ia beranjak dari duduknya dan berlari menaiki tangga lalu mendekat istrinya.


"Ya, sayang... Ada apa?" jawab Zein saat sudah sampai di dalam kamarnya sembari mengatur napasnya yang tersengal karena berlari.


"Mana pohon belimbingnya?" tanya Rania dengan wajah kesal karena sudah lama menunggu.


Zein mulai mendekati istrinya kemudian duduk di tepi kasur di samping istrinya menyandarkan tubuh pada punggung kasur.

__ADS_1


"Sayang... Tunggu sebentar lagi yah, Ronald sedang dalam perjalanan ke sini saat ini." jelas Zein mencoba menenangkan sembari mengelus rambut istrinya.


Kemudian Rania menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Sayang... Maafkan aku jika aku merepotkanmu dengan permintaan-permintaan aneh ini. Habisnya bagaimana yah? Entah kenapa aku ingin sekali makan buah belimbing dan memetiknnya langsung dari pohon." ucap Rania dengan nada manja sembari memeluk tubuh suaminya.


"Tidak apa-apa sayang... Aku mengerti, ini karena kau sedang hamil dan pertama kali dalam hidupmu, aku bisa mengerti kok." balas Zein dengan suara lembut lalu mengecup rambut atas kepala istrinya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu. Membuat Zein dan Rania menerka siapa yang mengetuk?


"Nyonya..." ucap Bibi Ros dari balik pintu.


Oh... Ternyata Bibi Ros. Batin Rania terjawab.


"Iya bi... Ada apa?" jawab Rania dari dalam kamar dengan suara keras.


"Ada Nona Tania di bawah, Nyonya." jawab Bi Ros.


Mendengar nama Tania, Rania pun segera beranjak dari kasurnya dan bergegas menemui adiknya dengan penasaran karena datang tanpa memberitahukan padanya sebelumnya.


Melihat istrinya yang begitu bersemangat menyambut adiknya datang, Zein pun senang dan lega.


"Sayang... Hati-hati jangan berjalan terlalu terburu-buru...! Gunakan lift dan jangan gunakan tangga...!" Teriak Zein yang berusaha mengejarnya di belakang.


Namun sayangnya Rania tidak menghiraukan perintah suaminya karena tidak mendengar dengan fokus. Rania tetap menggunakan tangga saat turun.


Astaga... Rania. Zein hanya membatin dengan perasaan cemas.


Tentu saja Zein merasa cemas melihat istrinya turun dengan gerakan yang cepat dalam menuruni tangga, bagaimana jika Rania sampai tergelincir? Zein tidak bisa membayangkannya dan juga memarahinya saat ini, Zein hanya menggelengkan kepala atas sikap ceroboh istrinya.


Beruntungnya Rania menuruni tangga dengan baik tanpa tergelincir, membuat Zein lega melihatnya.


Kemudian Zein menyusul Rania dan menuruni tangga dengan perlahan.


Bersambung\=\=\=\=\=>


Mohon maaf ya readersku tercinta karena sudah dua hari ini saya tidak up. Dikarenakan sedang kurang sehat dan alhamdulillah sudah lebih baik saat ini dan bisa melanjutkan kembali menulis cerita lagi untuk kalian. Maaf belum bisa banyak-banyak updatenya dan semoga update hari ini bisa mengobati kalian yang sudah menunggu cerita NYT.


Terimakasih. 🤗

__ADS_1


__ADS_2