Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Panik


__ADS_3

Rania termenung dalam duduknya. Sekali lagi ia mencerna ucapan yang di sampaikan Evelin tadi, ia mencoba mengambil napas dari hidung lalu membuangnya dari mulutnya. Ia lakukan beberapa kali agar ia bisa tenang menyikapinya.


Rupanya ibu mertuanya sangat ingin sekali memiliki seorang cucu dari mereka. Namun tidak tahu kondisi Rania saat ini, mereka memang sengaja tidak memberitahukan orang tua mereka demi menghindari kepanikan.


Hari sudah mulai sore. Setelah di rasa pikirannya mulai tenang, Rania keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan keluar rumah untuk berjalan-jalan kecil menyusuri taman di di rumahnya. Semenjak tinggal di rumah suaminya. Ia hanya melihat halaman depan rumah nya saja, belum sekalipun ia mengelilingi halaman rumah suaminya.


Dengan menggunakan sweater, ia menyusuri setiap halaman rumah suaminya. Langkahnya berhenti ketika melihat kuda kesayangan suaminya, si Ponny, Ia berjalan mendekati, tampak seorang penjaga kuda di depannya.


"Selamat sore, Nyonya apa yang anda lakukan di sini?" tanya penjaga kuda itu dengan sopan seraya menundukkan kepalanya.


"Ah... Tidak apa-apa, aku hanya bosan di dalam terus. Aku ingin berjalan-jalan." ucap Rania sambil tersenyum. Penjaga kuda itu hanya tersenyum menanggapi jawaban Rania.


Rania terus menatap Ponny yang tampak sedang asik makan rumput.


Hah... Entah kenapa, sekarang si Ponny tampak manis dibanding pertama kali aku melihatnya. Batin Rania, lalu tersenyum.


Bisa berkuda, pasti sangat menyenangkan. Pikiran lainnya datang.


"Apa... Aku bisa memberinya makan?" tanya Rania melirik si penjaga kuda.


"Tentu saja, Nyonya. Ambil ini dan berikan dengan jarak yang tidak terlalu dekat mulutnya." jelas si penjaga itu sambil menyodorkan rumput.


"Ah, terima kasih..." Rania tersenyum senang sambil meraih rumput lalu memberi makan si Ponny.


Ponny melahapnya dengan cepat.


Zein akhirnya pulang ke rumah, ia tersenyum pada setiap karyawan yang menyapa kedatangannya.


Zein menaiki tangga demi tangga sampai akhirnya ia membuka pintu kamar.


Di mana dia? Batinnya.


Lalu mencoba mencari di kamar mandi. Dan ternyata tidak ada juga. Ia mendongakkan kepala seolah sedang berpikir.


Di mana sebenarnya dia? Batinnya lagi.


Akhirnya ia keluar kamar lalu bertanya pada pelayan.


"Bibi Ros, di mana Rania?" Teriak Zein.


Dengan segera Bibi Ros menghampirinya.


"Maaf tuan, bukankah Nyonya sedang ada di kamar." jawab Bibi Ros.


"Tidak ada Bi, aku sudah mencarinya." kata Zein tergesa, matanya sambil menyapu seluruh ruangan.


"Ta... Tapi tadi terakhir Bibi lihat, ada Nona Evelin datang, lalu masuk ke kamar Nyonya. Setelah itu aku tidak melihat Nyonya keluar dari kamar. Jawabnya lagi.


Evelin datang ke sini? Apa mereka sedang keluar bersama? Bagaimana jika orang itu menculik Rania lagi? Terlebih di luar rumah, Tapi keamanan di sini sudah sangat ketat, dan terlebih dia sudah berjanji tidak akan melakukan penculikan lagi. Batin Zein mencoba menerka.


"Semuanya... Cepat cari Nyonya!" Teriakan Zein mengejutkan para pelayan di sana.


Dengan segera semua pelayan bergerak menyusuri setiap ruangan rumah, sampai area luar rumah dan menyusuri setiap taman di halaman rumahnya. Tanpa terkecuali kandang kuda yang berada di belakang rumahnya.


Nyonya, Rania... (teriak para pelayan).


Teriakan itu menggema ke seluruh taman, sampai Rania mendengarnya.

__ADS_1


"Eh... Suara apa itu? Ramai sekali." Rania menerka dari mana suara itu berasal.


"Sepertinya mereka memanggil Nyonya." ucap penjaga kuda.


"Eh... Iya kau benar." saut Rania.


Belum sempat ia bergegas pergi menuju rumah, tiba-tiba Zein sudah berada di depannya hingga mengejutkannya.


"Ah... Suamiku sudah pulang rupanya." sapa Rania sembari tersenyum manis.


Zein mendekatinya, memeluknya dengan segera dengan napas tersengal karena berlari.


Rania terkejut, namun ia tetap membiarkan pelukan suaminya yang memeluknya begitu erat hingga membuat napasnya sedikit sesak.


Umm... Kau kenapa tiba-tiba memelukku begini? gumamnya.


"Bisakah tidak membuatku ketakutan begini?" ucap Zein sambil mengelus rambut istrinya. Lalu melepaskan pelukannya. Kedua telapak tangannya sudah berada di samping telinga Rania. "Kau membuatku cemas, begitu aku tidak melihatmu di kamar maupun seisi ruangan rumah. Lain kali kalau kau ingin berjalan-jalan ke taman, mintalah Bibi Ros untuk menemanimu!" sambungnya lagi.


"Tapi kenapa harus di temani? Aku kan tidak keluar rumah, aku masih berada di dalam rumah, Zein." Rania berusaha membela dirinya, sambil memanyunkan bibirnya.


Melihat Rania bicara lalu memanyunkan bibirnya, membuat Zein melupakan kemarahannya. Seolah redup saat menatap wajah cemberut istrinya yang tampak menggemaskan ketika cemberut.


"Apa boleh aku menciummu di sini?" tanya Zein menggoda.


"Iiish... Kau ini. Bisa-bisanya bicara seperti itu di sini. Lihat mereka sedang memperhatikan kita." jawab Rania berbisik sambil melirik penjaga dan beberapa pelayan yang tampak berdiri di belakang mereka.


"Makanya jangan tunjukkan wajah menggemaskanmu di depan umum seperti ini. Kau hanya boleh cemberut kepadaku dan di dalam kamar...!" balas Zein.


Aish... Apa-apaan dia? Permintaan yang tidak masuk akal. Batin Rania, sambil memonyongkan bibirnya lagi.


"Kau benar-benar ingin aku menciummu di sini yah?" Zein menggoda lagi.


Kali ini Rania tidak melakukan perlawanan ketika di gendong suaminya, ia sudah mulai paham sifat suaminya yang sangat suka sekali menggendongnya.


Begitu sampai kamar, Zein menurunkannya dengan sangat hati-hati.


"Sayang... Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Rania yang saat itu sedang duduk di atas kasur sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kasur.


"Hmmm... Biasa saja, tidak ada yang menarik di kantor." jawab Zein datar sambil menghela napas.


Lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Hmmm... Tidak ada yang menarik? Apa maksudnya? Apa dia ke kantor hanya untuk mencari wanita yang di anggap menarik? Rania membatin penuh tanya.


Setelah Selesai membersihkan tubuh dan sudah dengan baju tidur yang menempel di tubuhnya. Ia bergegas naik ke atas kasur duduk di samping Rania yang tengah duduk menyandarkan tubuhnya di punggung kasur.


Kini keduanya duduk bersandar di punggung kasur.


"Zein... Kau bilang, di kantor tidak ada yang menarik. Apa yang menarik bagimu di kantor?" tanya Rania penasaran.


Mendengar pertanyaan Rania membuat Zein berpikir, apakah istrinya sedang cemburu? Ia pun menahan tawanya di dalam hati. Lalu ia memalingkan wajahnya ke samping dan di tatapnya wajah istrinya yang tampak masam.


"Yang menarik bagiku, hanyalah dirimu... Tidak ada hal apapun yang lebih menarik mataku selain memandang wajahmu." ucap Zein sambil menatap wajah istrinya lalu memegang tangan istrinya.


"Ehem... Apa barusan kau sedang membual, Zein?" ucap Rania meledek dengan lirikan mata yang sulit di artikan.


"Ayolah... Sayang, kenapa setiap ucapan manisku selalu terdengar bualan di pikiranmu?" Zein berusaha membela dirinya dan meyakinkan Rania.

__ADS_1


"Ucapanmu memang selalu terdengar seperti bualan." Ledek Rania sembari tertawa kecil.


"Hahahah... Aku pun bingung, kenapa akhir-akhir ini aku sangat suka membual di depanmu." Zein mengaku. "Tapi ini serius... Belakangan ini, aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersamamu dari pada di kantor." sambungnya lagi.


Kali ini Rania tersenyum mendengar ucapan suaminya yang terdengar manis di telinganya. Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Zein... Aku ingin berlibur ke pantai." ucap Rania pelan.


"Pantai...? Kau ingin kita kembali ke Resort milik Yina beberapa waktu lalu? Apa kau menyukai tempat itu?" tanya Zein bersemangat.


Cih... Kenapa dia begitu bersemangat mengatakannya? Mendengar nama itu membuatku ingin melayangkan tanganku di kepalanya lalu menarik rambutnya. Aku memang ingin ke pantai, tapi yang jelas bukan ke sana. Wanita menyebalkan itu... Aku tidak akan pergi ke sana lagi.


"Apa pantai yang indah hanya di Resort milik temanmu, Zein?" tanya Rania kesal.


"Yah... Menurutku di sana memang yang paling indah." jawab Zein santai. "Ah... Benar, aku dengar saat ini dia sedang ada di sana. Bagaimana jika besok kita ke sana?" sambungnya lagi.


Mendengar ucapan Zein, Rania langsung menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh selidik seraya bertanya. "Ohyah... Dari mana kau tahu dia ada di sana saat ini?"


Apa dia sering berkomunikasi? Batin Rania menerka.


"Sepertinya beberapa hari lalu dia mengabariku lewat pesan singkat, bahwa dirinya sedang ada di sana dan memintaku untuk berlibur ke sana... Hah... Aku sampai lupa." jelas Zein.


Hanya kau? Lalu apa artinya aku...? Teman macam apa yang mengirim pesan kepada laki-laki yang sudah menikah dan memintanya untuk datang. Aku merasa dia menyukai suamiku. Rania membatin penuh selidik.


"Tidak... Aku tidak mau ke sana. Lagi pula masih banyak pantai yang lebih indah selain di sana." Rania menolak untuk pergi ke sana.


Sejenak Zein diam dan berpikir, tempat mana lagi yang memiliki keindahan pantai selain di sana. Sebelumnya ia bahkan tidak pernah pergi ke pantai lain selain di sana bersama Yina meski hanya sekedar melepas penat.


Dalam keheningan, keduanya diam untuk beberapa saat. Lalu tiba-tiba ponsel milik Zein berbunyi hingga membuyarkan lamunan mereka.


Zein meraih ponselnya dan menyentuh layar.


Zein, jika kau tidak keberatan, besok datanglah ke sini, ada teman-teman kita dulu waktu kuliah di london, termasuk David.


Zein baru saja membaca sebuah pesan singkat dari Yina.


Zein tampak tersenyum senang membaca isi pesan singkat dari Yina, bukan karena pesan dari Yina, melainkan karena teman akrabnya David juga berada di sana.


Dia tersenyum... Pesan dari siapa? Batin Rania menerka sambil mencoba mengintip layar ponsel suaminya.


"Hemmm... Tampaknya kau begitu senang, pesan dari siapa?" celetuk Rania.


"Sepertinya besok kita akan pergi ke Resort milik Yina, sayang." ucap Zein sambil tersenyum.


Yina...? Sesenang itu wajahnya mendapat pesan dari Yina? Batin Rania kesal ketika mendapati suaminya tersenyum begitu membaca pesan dari Yina.


"Pergi saja sendiri...!" jawab Rania ketus, sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"Sayang... Bukankah tadi kau bilang ingin ke pantai? Kebetulan di sana sedang ada beberapa teman baikku sewaktu kuliah di london. Jadi, tidak ada salahnya jika kita ke sana sekalian aku menemui temanku." jelas Zein sambil membujuk.


Beberapa... Apa itu artinya tidak hanya Yina seorang yang ada di sana? Batin Rania.


*Bersambung.


➡️**LIKE➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


MAMPIR JUGA DI NOVEL TERBARUKU YAH

__ADS_1


➡️TERJEBAK CINTA DALAM PENCARIAN.


TERIMAKASIH. 🤗**


__ADS_2