
Akhirnya Rania dan Zein kembali ke rumah mereka, tentunya dengan hati yang berbeda. Beberapa bulan yang lalu ketika mereka pertama kali menginjakkan kaki mereka di rumah itu. Hanya ada satu hati yang mencinta, yaitu Zein seorang. Namun kini dua hati yang saling mencintai dan di penuhi aura kebahagiaan nampak dari raut wajah keduanya yang begitu penuh cinta.
Seperti kehidupan yang baru saja di jalaninya dengan penuh cinta, itulah perasaan Rania saat ini.
Kedatangan mereka tetap di sambut oleh para pelayan di rumah Zein.
Zein menggendong Rania menaiki setiap anak tangga. Hingga langkahnya berhenti di depan pintu, seorang pelayan membukukan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
Zein meletakkan Rania di atas kasur. Seperti sepasang pengantin baru yang sedang di landa cinta. Padahal mereka sudah menikah beberapa bulan yang lalu, pernikahan yang hanya atas dasar satu cinta itu, kini nyatanya menjadi pernikahan atas dasar dua cinta. Tentu saja berkat ketulusan dan kesabaran hati Zein dalam meluluhkan hati Rania.
"Sayang... Diam di sini ya!" kat Zein.
"Kenapa, sayang? Kau mau kemana?" jawab Rania penasaran.
"Aku akan melihat Ponny sebentar." Kata Zein
Ponny adalah kuda kesayangan Zein, kuda peliharaannya yang ada di belakang rumahnya. Dulu sebelum menikah, ia memang sering menghabiskan waktunya dengan berkuda di taman rumahnya ya begitu luas. Namun setelah menikah, Zein hampir jarang sekali berkuda, menghadapi sikap ketus Rania saat itu saja sudah membuatnya menguras emosi. Namun kini ia bisa lebih santai.
Belum sempat Zein bangun dari duduknya di. Tapi kasur, Rania menarik tangannya.
"Aku ingin naik kuda, boleh?" bujuk Rania.
"Nanti ya sayang... Kondisi kamu masih belum memungkinkan untuk berkuda." jelas Zein.
Rania diam dan mengangguk.
Sementara itu, Zein pergi untuk melihat Ponny.
Trddd... Trddd...
__ADS_1
Suara ponsel Rania berbunyi, panggilan itu dari Melly, asisten pribadinya.
Rania segera menggeser tombol warna hijau di layar ponselnya dan menempelkannya tepat di telinga kanannya.
Rania: Ya, ada apa mel?
Melly: Bu, Rania... Sudah beberapa hari ini tidak datang ke butik. Apa terjadi sesuatu Bu?
Melly cemas, sebab terakhir kali Melly membantunya keluar dari butik secara sembunyi-sembunyi.
Rania: Tidak apa-apa Mel, oya. Mulai besok butiknya di tutup selama satu minggu ya Mel. Akhir-akhir ini saya sangat sibuk, tolong sampaikan pada yang lainnya ya Mel.
Melly: Syukurlah kalau tidak terjadi ada apa-apa dengan Ibu.
Rania: Iya, jangan khawatir Mel.
Zein lama sekali... Sebaiknya aku menyusulnya ah. Batin Rania penasaran.
Ia bangun dari tidurnya dan berjalan sangat pelan karena luka di bagian perutnya masih terasa saat bergerak. Ia berjalan menuju lift, begitu sampai di ruang tengah. Bibi Ros yang melihatnya berjalan khawatir melihat keadaan Rania yang masih belum pulih.
"Nyonya, mau kemana?" tanya Bi Ros.
"Aku ingin melihat tuan Zein. Dimana ya Bi tuan sekarang?" tanya Rania.
"Tuan ada di belakang rumah, sedang berkuda, sebaiknya Bibi antar ya Nyonya? Bibi ambil kursi roda dulu di dalam." ucap Bi Ros.
"Ah iya Bi..." jawab Rania. Dengan segera Bibi Ros pun mengambil kursi roda ke dalam.
Sementara Bi Ros mengambil kursi roda, Rania tidak sabar, akhirnya ia berjalan sendiri menuju taman. Perlahan ia berjalan.
__ADS_1
Beberapa pelayan tampak mengiringinya di belakang, kalau-kalau Rania jatuh. Baru beberapa meter Rania berjalan. Tiba-tiba Zein bersama Ponny menghampirinya.
"Sayang... Kenapa keluar?" tanya Zein terkejut.
"Hehehe... Aku bosan di dalam, aku ingin melihatmu berkuda, Zein." jawab Rania manja.
"Jangan sayang... Lain kali saja yah!' bujuk Zein.
"Mmm..." Rania mengangguk setuju.
Lalu Zein turun dari atas punggung Ponny dan mendekati Rania, menyerahkan ponny pada pelayan di sampingnya. Bibi Ros datang dengan membawa kursi roda, namun tiba-tiba Zein menggendong Rania dan membawanya masuk ke dalam.
"Zein... Kau membuatku terkejut. Aku malu di lihat mereka, lagi pula aku bisa berjalan sendiri." Rania menutup bibirnya seolah merasa malu, sementara banyak pelayan yang sedang melihat mereka.
"Salah sendiri, tidak mau menurut." jawab Zein sambil tersenyum.
"Zein... Kenap kamu begitu suka sekali menggendongku?" tanya Rania.
"Jika tidak menggendongmu, lalu aku harus menggendong siapa? Tidak mungkin kan aku menggendong janda?" ledek Zein.
"Ihhh... Kamu ngomong apa barusan?" Rania melotot dan memukul dada suaminya yang tengah membuatnya jengkel.
"Hahaha... Makanya diam saja kalo aku gendong!" Zein tertawa, Rania memanyunkan bibirnya, seolah kesal dengan candaan suaminya.
***BERSAMBUNG.
LIKE➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
TERIMAKASIH 🤗**❤️
__ADS_1