Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Ciuman pertama Ronald


__ADS_3

"Belum, Nyonya... Tapi sebentar lagi kita akan sampai." Ronald menjawab pertanyaan Rania.


"Wah... Adem sekali yah." kata Rania sembari menyapu pandangan pada jendela kaca mobil. "Sayang... Coba lihat itu...!" Rania menunjuk sebuah wisata perkebunan strawberry yang baru saja di lewatinya.


Zein mendekati Rania, menempelkan dagunya di bahu Rania sembari menatap jendela kaca.


"Apa sayang...?" tanya Zein.


Cih... Mereka seperti pasangan pengantin baru saja. Untung saja ada Ronald, jika tidak ada... Betapa mengenakannya aku berada di tengah-tengah mereka. Jiwa jomblo Tania mulai meronta mendengar kemesraan kakak dan iparnya.


"Yah... Sudah lewat, tadi itu aku lihat kebun strawberry." jawab Rania dengan memasang wajah cemberut.


"Oh... Ya sudah nanti kita ke sana kalau sudah sampai di Villa." ucap Zein.


"Bagaimana kalau kita ke kebun strawberry dulu sayang... Aku ingin memetik strawberry." Rania merengek.


"Hem... Ya sudah." Zein setuju.


Apalah daya, Zein tahu benar sifat istrinya yang jika meminta sesuatu tidak bisa di hentikan ataupun di ganti. Jika Rania ingin itu, dia akan tetap minta itu. Tidak akan mau di ganti dengan yang ini.


"Ron... Putar balik...! Kita ke kebun strawberry dulu. Nyonya ingin ke sana." perintah Zein pada Ronald.


"Baik, Tuan..." jawab Ronald sembari mengangguk.


Ronald akhirnya mencari tempat yang lebih luas untuk memutar mobilnya sesuai perintah Zein.


Dan setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di depan kebun strawberry yang bukan tujuan utama mereka, hanya karena permintaan Rania yang tiba-tiba ingin ke kebun strawberry saja.


Setelah memarkir mobilnya, diikuti dengan satu mobil di belakang yang berisi para pengawalnya. Mereka pun akhirnya keluar dari dalam mobil.


"Wah... Segar sekali." Rania menghirup udara sejuk begitu dirinya keluar dari mobil.


"Sayang... Ayo kita makan dulu...!" ajak Zein.


"Nanti saja, sayang... Aku mau lihat-lihat kebun strawberry dulu." Rania menolak di ajak makan.


"Hem... Ya sudah." jawab Zein pasrah.


"Ron... Kau makan saja dulu bersama mereka." Zein melirik ke arah para pengawalnya. "kalian tidak perlu mengikuti kami." lanjutnya.


"Baik, Tuna." jawab Ronald sembari menunduk.


"Tania... Kau. Mau ikut dengan kami? Atau di sini bersama Ronald?" tanya Zein pada Tania.


"Aku di mobil saja, kak." jawab Tania sembari tersenyum.


"Baiklah." sahut Zein.


Sementara Rania dan Zein mengelilingi kebun strawberry. Ronald mengatur beberapa pengawal sebelum dirinya menyusul Zein dan Rania untuk berjaga-jaga.


"Kalian makan saja dulu." Ronald memerintahkan para pengawalnya untuk makan.


Para pengawal itu mengangguk setuju dan mulai menuju restauran terdekat.


Sementara itu, Tania kembali masuk kembali masuk ke dalam mobil.


Setelah selesai mengatur para pengawalnya, Ronald yang tak melihat keberadaan Tania pun gelisah. Ia takut Tania tersasar atau bahkan terjadi sesuatu pada Tania.


Belum memeriksa ke dalam mobil, Ronald langsung menuju kebun strawberry dan menyusurinya.


Kemana perginya dia? Batin Ronald gelisah.


Ronald terus menyapu pandangannya ke sekeliling area perkebunan. Ia sempat melihat Zein dan Rania yang tengah asik memetik buah strawberry. Namun matanya masih belum bisa menemukan keberadaan Tania.


Memerintahkan para pengawal untuk mencari Tania, jelas itu akan membuat kegaduhan dan ketidaknyamanan bagi para pengunjung lainnya. Terlebih jika Rania sampai tahu Tania tidak ada. Tentu bisa membuatnya terkejut dan khawatir.


Akhirnya Ronald berusaha mencari keberadaan Tania seorang diri tanpa melibatkan siapa pun.

__ADS_1


Sepanjang kakinya melangkah menyusuri kebun strawberry, rupanya ia mulai lelah dan berhenti lalu duduk di kursi untuk sejenak. Dengan napas yang tersengal karena berjalan kaki sampai berlari, ia mencoba mengatur kembali agar napasnya stabil.


Sementara itu, Tania yang berada di dalam mobil sendirian terlihat bosan. Ia akhirnya keluar dari mobil dan berusaha menyusul kakak dan iparnya.


Kemana perginya mereka ya? Batin Tania menerka. Pandangannya menyapu seluruh area tersebut.


Namun karena kebun strawberry di sana sangat luas dan tidak sedikit para pengunjung yang datang. Akhirnya Tania berjalan menyusuri perkebunan tersebut dengan berjalan santai, sesekali ia memetik buah strawberry dan melahapnya.


"Wah... Warnanya sangat menarik, sepertinya manis." Tania memetik buah strawberry yang terlihat berwarna merah pekat.


"Awh... Asem banget ya." Tania bergidik dan menunjukkan ekspresi wajah layaknya orang yang makan makanan yang asam.


Ah... Bodoh sekali aku jika berpikir buah strawberry itu manis. Sejak kapan buah strawberry itu manis...? Batin Tania mamaki dirinya sendiri.


Ia kembali melanjutkan langkahnya yang begitu santai menyusuri area perkebunan strawberry, sesekali ia memetik daun-daun di sampingnya dan membuangnya ke tanah dengan wajah kesal.


Sementara itu di tempat Zein dan Rania.


Rania tampak masih asik memetik buah strawberry, Zein berjalan di sampingnya sambil memegang keranjang berukuran kecil untuk wadah strawberry yang Rania petik.


Keduanya tampak menikmati momen tersebut, sesekali Zein meledek Rania hingga membuat Rania kesal dan akhirnya tertawa.


"Sayang... Di mana Tania dan Ronald? Kenapa mereka tidak menyusul kita?" tanya Rania dengan wajah bingung.


Zein menarik kedua bahunya ke atas lalu menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dirinya juga tidak tahu.


"Sudah... Jangan pikirkan mereka, mereka bukan anak kecil yang akan tersesat atau pun hilang di tempat seperti ini." seru Zein sembari meminta Rania untuk melanjutkan memetik buah strawberry.


Mendengar ucapan Zein yang ada benarnya, Rania pun mengangguk lalu melanjutkan kembali kegiatannya memetik buah strawberry.


Sementara itu, Ronald kembali melanjutkan langkahnya mencari Tania, sayang ia tak memiliki nomor ponsel Tania, jika saja ia tahu nomor ponsel Tania. Ia tidak akan repot-repot mencarinya seperti ini.


Anak itu... Awas jika aku melihatmu. Batin Ronald yang sudah mulai geram.


Sebenernya Ronald dan Tania sama-sama sedang mencari satu sama lainnya. hanya saja, area perkebunan yang sangat luas itu membuat mereka sulit untuk menemukan satu sama lainnya.


Begitu menabrak Ronald, wanita itupun terkejut, sama halnya dengan wanita tersebut. Ronald pun terkejut di buatnya.


Lalu wanita itu mendongak ke atas, menatap wajah Ronald. Begitu mengenali bahwa laki-laki yang di tabrakanya barusan adalah Ronald, sekertaris kakaknya sendiri, wanita tersebut pun semakin terkejut melihat keberadaan Ronald di kebun strawberry. Pikirnya sedang apa dia di sana?


Siapa wanita ini? Wajahnya terlihat familiar... Tapi di mana aku melihatnya...? Batin Ronald mencoba menerka.


Ronald pun mulai menyingkir dari pandangan wanita tersebut dan melanjutkan langkahnya mencari Tania. Belum sempat Ronald melangkahkan kakinya, tiba-tiba wanita itu justru menarik tangan Ronald dan dengan cepat mendaratkan ciuman di bibir Ronald.


Terlihat seorang laki-laki di belakang wanita tersebut sedang berlari mencoba menghampiri wanita tersebut. Namun melihat adegan ciuman di depan matanya. Laki-laki tersebut justru kesal dan membuang wajahnya, memutar balik tubuhnya seraya memaki. Dasar gila kau... Evelin. Usai memaki, laki-laki itupun pergi meninggalkan Evelin.


Ya, laki-laki tersebut sebenarnya adalah kekasih Evelin. Mereka sedang berlibur bersama kawan-kawan mereka di sebuah Villa yang ada di puncak. Tadinya hubungan Evelin dan kekasihnya baik-baik saja, sampai Evelin memergoki kekasih sedang bercumbu dengan salah satu teman perempuannya yang ternyata adalah sahabatnya sendiri di sudut ruangan. Evelin pun merasa kesal dan di khianati. Ia pun pergi meninggalkan kekasihnya usai memergoki mereka, sampai akhirnya ia bertemu dengan Ronald secara tidak sengaja dan menabraknya.


Namun menyadari kekasihnya yang masih mengejar dirinya, Evelin justru memanfaatkan Ronald dengan menciumnya secara paksa dengan tujuan ingin membuat kesal kekasihnya tersebut sambil membalas perlakuan kekasihnya itu.


Mendapatkan ciuman secara tiba-tiba dari Evelin, membuat Ronald terkejut bukan main, terlebih itu adalah ciuman pertamanya dengan seorang wanita. Ada rasa kesal di mata Ronald karena perlakuan Evelin. Setelah berlangsung hanya beberapa detik ciuman yang di layangkan Evelin, Ronald pun melepaskan genggaman tangan Evelin yang menggenggam lengan tangannya dengan kuat lalu mendorong tubuh Evelin hingga membuat tubuh Evelin menjauh darinya sejauh satu meter.


Ronald tampak menutupi bibirnya dengan telapak tangannya, ada wajah malu, kesal, menyesal dan bercampur aduk saat itu bagi Ronald mengingat itu adalah ciuman pertanyaan yang seharusnya di tujukan untuk Tania. Wanita yang saat ini telah memikat hatinya.


Begitupun dengan Evelin, ia tampak mengusap kasar bibirnya dengan lengan tangannya.


Ronald akhirnya memutar balik tubuhnya dan memutuskan untuk kembali ke tempat di mana mobilnya di parkir. Kejadian tadi, cukup membuat Ronald kesal.


Namun sayangnya, Begitu ia membalik tubuhnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Tania sedang berdiri di belakang mereka dengan tatapan penuh amarah.


Marah, kesal, cemburu. Itulah yang di rasakan Tania saat melihat laki-laki yang di sukainya tengah berciuman dengan seorang wanita tepat di depan matanya.


Tania terlihat mengepalkan kedua tangannya, mengigit bibir bawahnya dengan raut wajah penuh kekecewaan lalu berlari meninggalkan Ronald dan Evelin.


Ronald berusaha mengejar Tania dan menjelaskan kejadian yang sebenernya terjadi, namun belum sempat ia mengejar. Evelin memanggilnya dengan sebutan.


"Hey kau... Tunggu...! Mau kemana kau Ronald...? panggil Evelin dari belakang dengan nada santai seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

__ADS_1


Mendengar namanya di sebut, Ronald semakin penasaran. Siapa sebenarnya wanita ini? Wanita yang dengan beraninya mencium dirinya dan memanggil namanya. Tentu saja wanita itu mengenalnya, Pikir Ronald.


Ronald melangkah mendekati Evelin dengan tatapan penuh kekesalan.


"Siapa sebenarnya kau...?" tanya Ronald dengan wajah mengancam.


Alih-alih menjawab pertanyaan Ronald. Evelin justru tertawa terbahak.


"Hahaha... Apaaaa...? Kau tidak mengenalku...?" jawab Evelin sembari tertawa.


"Jika aku mengenalmu... Aku tidak akan bertanya padamu...!" sahut Ronald.


Ronald begitu heran melihat wanita di depannya yang justru tertawa dan tak menunjukkan rasa malu sedikit pun di depannya setelah perlakuannya yang tidak sopan.


"Serius... Kau tidak mengenalku?" tanya Evelin mematikan.


Mendengar ocehan wanita yang aneh dan tidak tahu malu di depannya. Ronald pun akhirnya memutuskan untuk tidak memperdulikannya dan kembali ke area parkir.


Melihat Ronald yang mengabaikan dirinya, tentu saja membuat Evelin merasa kesal.


Saat Ronald mulai melangkahkan kakinya, tiba-tiba Evelin memanggilnya kembali.


"Hey... Apa kau serius bekerja di keluarga Arka?" Teriak Evelin.


Lagi-lagi Ronald benar-benar di buat kesal olehnya dan membuatnya penasaran dengan setiap ucapan Evelin, ia kembali memutar balik tubuhnya dan mendekati Evelin. Namun kali ini dengan tatapan seolah ingin memangsa.


Ronald berjalan perlahan mendekati Evelin, Alih-alih takut melihat aura kekesalan di wajah Ronald, Evelin justru semakin menantang Ronald dengan berjalan maju mendekati Ronald.


"Hahah... Apa kau ingin aku menciummu lagi?" ucap Evelin dengan wajah tersenyum santai dan menggoda.


Melihat Evelin yang justru dengan sengaja mendekatinya dengan tatapan menggoda, Ronald pun menghentikan langkahnya.


Sial... Siapa sebenarnya wanita ini? Batin Ronald semakin geram di buatnya.


Evelin benar-benar mendekati Ronald, memegang bahu Ronald dari samping, melirik tajam ke arah mata Ronald begitupun dengan Ronald. Keduanya saling beradu tatap, Evelin dengan tatapan menggoda sedangkan Ronald dengan tatapan geramnya.


"Kau pasti ke sini bersama Kak, Zein, bukan? Antarkan aku padanya...!!" dengan santai dan entengnya Evelin mengucapkan kalimat tersebut di telinga Ronald.


Mendengar ucapan dari Evelin, sontak membuat Ronald terkejut bukan main. Tubuhnya seolah tak bertulang dan hampir saja ia tersungkur. Ronald tidak menyangka bahwa wanita itu adalah adik dari Tuannya sendiri yaitu Zein.


Sial... Bagaimana mungkin aku tidak bisa mengenalinya...? Batin Ronald memaki dirinya sendiri.


Pasalnya, meski Ronald bekerja bertahun-tahun di keluarga Arka. Karena waktunya lebih banyak dilakukan di kantor bersama Zein. Ia tidak bisa mengenali adik dari tuannya sendiri, ia hanya mengenali kedua orang tua Zein saja. Dan lagi, Evelin jarang sekali ada di rumah hingga membuatnya tidak bisa mengenali Evelin. Meski sebenarnya ia begitu familiar dengan wajah Evelin sebelumnya.


"Tunggu apa lagi...? Cepatlah... Di sini terlalu panas." ucap Evelin dengan nada memerintah.


Mendengar ucapan Evelin yang terdengar memerintah, sebenarnya membuat Ronald kesal, bukannya minta maaf, Evelin justru seenaknya saja memerintah dirinya.


Namun apalah daya, Ronald yang hanya seorang bawahan dari kakaknya, hanya bisa mengikutinya. Terlebih, ucapan dan perintah Evelin, sama halnya dengan ucapan Zein padanya.


Dengan perasaan yang masih sangat kesal, akhirnya Ronald mengiringnya berjalan untuk menemui Zein.


Ada raut wajah penuh kepuasan di wajah Evelin saat dirinya berhasil membuat Ronald kesal, entah kenapa sejak kejadian ciuman yang dilakukannya tadi pada Ronald hingga membuat Ronald kesal, Evelin jadi tertarik pada Ronald. Selama ia dekat dengan laki-laki, hampir tidak ada satupun laki-laki yang berani menolak ataupun bersikap kasar padanya. Apa lagi saat di cium olehnya, banyak laki-laki yang ingin sekali menjadi kekasihnya dan menginginkan ciumannya, Ronald justru dengan terang-terangan menunjukkan wajah kesal pada dirinya karena sudah di cium olehnya.


Ya, Ronald memang bukanlah laki-laki mata keranjang dan suka tebar pesona pada wanita meski banyak wanita yang mengejarnya karena ketampanan dan kegagahannya.


Sikap Ronald yang seperti ini justru membuat Evelin tertarik. Satu-satunya laki-laki yang tidak tertarik pada kecantikan dan keseksiannya.


Bersambung\=\=\=>


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.

__ADS_1


Terimakasih. 🙏🏻


__ADS_2