
Setelah selesai sarapan, seperti biasa Zein segera berangkat ke kantor dengan di antar oleh supir pribadinya.
Rania tetap berada di dalam rumah dan menikmati masa-masa kehamilannya. Dan selalu seperti biasa, ia merasakan rasa mual dan pusing saat pagi hari. Menjelang siang hingga sore hari, rasa mual dan pusingnya mulai berkurang.
Setelah selesai merapikan tempat tidur, Rania kini mulai rutin melakukan penyiraman tanaman saat pagi hari. Lalu, siangnya di lanjutkan dengan aktivitas membaca buku, menonton acara televisi hingga tidur siang.
Begitulah aktivitas Rania saat ini, sementara ini ia masih belum bisa pergi ke butik miliknya karena tubuhnya yang masih lemas, berbeda dengan kebanyakan wanita lain saat hamil. Rania termasuk wanita yang mengalami kehamilan dengan rasa mual dan pusing berlebihan.
Sementara itu, di kantor Zein.
Seperti biasa, saat Zein sudah berada di ruang kerjanya. Ronald datang dengan membawa beberapa berkas untuk di lihat dan ditandatangani oleh Zein.
Setelah Zein menandatangani berkas-berkas tersebut dan Ronald mulai bergegas kembali ke ruang kerjanya. Tiba-tiba Zein menghentikan langkahnya dengan sebuah kalimat ajakan yang selama ini ia pun tidak pernah mengatakan hal itu pada Ronald. Tapi semua ia lakukan demi kebahagiaan istrinya.
"Ron... Apa pekerjaan kantormu sibuk untuk satu atau dua hari ke depan?" tanya Zein.
Ronald menghentikan langkahnya dan memutar balik tubuhnya, mendekati Zein untuk beberapa langkah dan berdiri tepat di depan meja kerjanya.
"Sebenarnya tidak terlalu padat untuk jadwal yang penting, Tuan, namun tetap selalu ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." jelas Ronald tegas.
"Aku rasa kau perlu liburan." usul Zein dengan nada canggung.
Mendengar ucapan Zein baru, cukup membuat Ronald tercengang. Untuk beberapa saat, Ronald tertegun dan tak menjawab apapun sembari memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan atas pertanyaan Zein.
Belum sempat Ronald menjawab, Zein langsung mengatakan inti dari pernyataannya barusan.
"Hem... Maksudku, apa kau mau ikut liburan bersamaku?" ajak Zein.
Ajakan Zein barusan tentu saja membuat Ronald semakin terkejut dan bingung dibuatnya. Selama bertahun-tahun ia mengikuti Zein, belum pernah sekalipun Zein mengatakannya liburan. Hanya mengizinkannya untuk cuti berlibur, untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat yang mengejutkan baginya.
"Tapi... Tuan, mohon maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud untuk menolak. Hanya saja... Aku merasa tidak enak jika aku harus berada di tengah-tengah liburan Tuan dan Nyonya." balas Ronald dengan sopan.
"Kau tidak perlu sungkan, Ron, ini semua adalah ide Nyonya." jawab Zein.
"Oh... Begitu, apa aku harus ikut, Tuan?" tanya Ronald dengan wajah ragu.
"Ya... Tentu saja. Mungkin kita hanya akan menginap satu malam di sebuah Villa." jelas Zein tegas.
"Apa kita akan bermalam di Villa milik, Tuan?" tanya Ronald penasaran.
"Tidak, Ron... Kita akan menginap di Villa milik orang lain. Aku suasana berbeda dan tentu saja aku menyerahkan tujuan liburan pada Nyonya. Terserah dia mau pergi kemana." jelas Zein.
Mendengar penjelasan Zein, akhirnya Ronald mulai mengerti. Ronald akhirnya mengangguk setuju, ia hanya berpikir akan membantu semua kebutuhan Zein dan Rania saat liburan, tentunya sembari memberi perlindungan pada mereka berdua, meskipun tanpa Ronald ikut bersama mereka, Zein tentu tidak akan pergi tanpa pengawal, terlebih saat ini kondisi Rania sedang hamil muda.
"Baiklah, Tuan, kapan kita akan pergi?" tanya Ronald serius.
"kemungkinan besok, nanti akan aku kabari." jawab Zein singkat.
"Baik, Tuan. Jika ada yang perlu saya urus, katakan saja, Tuan." balas Ronald.
"Tentu saja, Ron." jawab Zein singkat.
Lalu keduanya kembali melakukan pekerjaan mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, setelah melakukan beberapa pertemuan dengan klien nya. Zein akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke rumah pada pukul tiga sore.
Seperti biasa, Zein pulang dengan di antar oleh supir pribadinya.
Sementara itu, di rumah Rania, ia terlihat sedang berada di kamarnya dengan memegang ponsel miliknya untuk menghubungi Tania.
Sambungan telepon akhirnya terhubung.
__ADS_1
"Halo kak... Ada apa?" jawab Tania dari seberang telepon.
"Tania... Apa kau ada acara besok?" tanya Rania.
"Hem... Tidak ada kak, memangnya kenapa?" tanya Tania dengan wajah bingung.
"Kakak ada rencana pergi liburan besok, ya... Gak jauh sih, hanya menginap satu malam di puncak." ajak Rania.
Ke puncak? Tumben... Dan kenapa harus mengajak aku juga? Batin Tania heran.
"Sejujurnya aku mau sih kak, ikut ke puncak... Tapi masalahnya, aku gak enak sama kak Zein." jelas Tania.
"Tenang saja, Kak Zein akan senang jika kau ikut bersama kami." bujuk Rania.
Hem... Pasangan yang aneh, tapi... Gak apa-apa lah, anggap saja refreshing. Batin Tania penuh heran.
"Oke kak... Jam berapa aku ke rumah kakak?" tanya Tania serius.
"Kau tidak perlu ke rumah kakak, siapkan saja keperluanmu, nanti kakak akan menjemputmu dan langsung berangkat." jelas Rania.
"Oh... Oke kak." balas Tania setuju.
Rania pun mengakhiri panggilan tersebut. Setelah sudah memastikan jawaban dari Tania, ia pun segera beranjak dari duduknya di atas kasur, berjalan menuju lift, turun ke bawah untuk menyiram tanaman dan bunga.
Ada beberapa pelayanan yang tampak mengawasi Rania di sela-sela kegiatannya menyiram bunga. Para pelayan tersebut diperintahkan untuk mengawasi Rania kalau-kalau terjadi sesuatu pada Rania.
Sementara itu, Bibi Ros tampak berada di samping Rania.
"Nyonya... Jangan terlalu lelah." ucap Bibi Ros memperingatkan.
"Tidak apa-apa, Bi... Kegiatan menyiram bunga seperti ini tidak akan membuatku lelah." balas Rania sembari tersenyum.
"Bi... Apa Bibi tidak merindukan keluarga Bibi?" tanya Rania di sela-sela menyiram tanaman.
Pertanyaan itu cukup membuat Bibi Ros terkejut, selama ini, tidak pernah ada yang menanyakan hal itu padanya. Mengingat keluarga Zein sudah mengetahui kehidupannya dari dirinya saat masih muda.
Seketika Bibi Ros tertegun, ia bingung apakah harus menceritakan kehidupan pribadinya yang tidak penting itu pada Rania.
Melihat Bibi Ros diam dan tak menjawab pertanyaannya, Rania akhirnya menghentikan kegiatan menyiramnya untuk sejenak.
"Bi... Apa pertanyaanku membuatmu sedih?" Rania meletakkan selang yang sedang di pegangnya saat itu. Menatap dalam ke arah wajah Bibi Ros. "Jika Bibi tidak berkenan untuk menjawab pertanyaanku, Bibi tak perlu menjawabnya...! Aku hanya bertanya asal saja." lanjutnya sembari tersenyum.
Tidak lama setelah Rania mengatakan itu, Bibi Ros akhirnya membuka suara.
"Sebenarnya, Bibi tidak memiliki keluarga lagi di dunia ini setelah kejadian di masa lalu itu menimpa Bibi." Meski terasa berat menceritakan masa lalunya yang begitu membuatnya terpukul, namun Bibi Ros tak ingin menyimpan rahasia pada Rania, bagaimana pun, Rania berhak tahu tentang kehidupannya.
"Apa maksud Bibi?" Rania terkejut mendengar jawaban Bibi Ros.
Di dunia ini, tidak ada orang terlahir sendirian, sekalipun seorang yatim piatu yang tak memiliki ayah dan ibu. Tentu setelah dewasa, seorang yatim piatu yang tak memiliki orang tua pun akan berumah tangga setelah dewasa. Terlebih, Bibi Ros sudah memasuki usia tua. Mana mungkin ia tak memiliki seorang suami ataupun anak? Meski suaminya sudah meninggal sekalipun, tentu Bibi Ros masih memiliki seorang anak. Terkecuali, jika Bibi Ros tidak memiliki anak hingga di usia tua. Pikir Rania.
"Bibi adalah seorang anak yatim piatu sejak kecil, menjelang dewasa, Bibi menikah dengan seorang laki-laki yang saat itu menjadi suami Bibi. Kemudian Bibi memiliki seorang anak laki-laki hingga usianya menginjak empat tahun, kami mengalami kecelakaan bus saat dalam perjalanan. Suami dan anak Bibi meninggal di tempat, hanya Bibi yang selamat dari maut." jelas Bibi Ros.
Menceritakan masa lalunya benar-benar membuatnya terpukul dan tak sanggup, perlahan ada genangan air di kedua matanya yang mulai jatuh membasahi pipinya.
Rania hanya tertegun mendengar setiap kata dari mulu Bibi Ros yang terdengar sangat menyayat hatinya, Rania ikut merasakan kesedihan yang di alami Bibi Ros saat menceritakan masa lalunya.
Rania berjalan mendekati Bibi Ros lalu memeluknya dengan hangat.
"Jadi... Bibi Ros hanya menikmati waktu selama lima tahun kebersamaan Bibi dengan suami dan anak Bibi?" tanya Rania penasaran dengan tubuh yang masih memeluk Bibi Ros.
Bibi Ros mengangguk, seolah mengiyakan pertanyaan Rania.
__ADS_1
"setelah itu, apa yang terjadi pada Bibi? Kenapa Bibi tidak menikah lagi? Pasti saat itu, usia Bibi masih muda." seolah masih belum puas mendengar cerita masa lalu Bi Ros, Rania kembali bertanya dan melepaskan pelukan tersebut sembari menatap wajah Bibi Ros.
Bibi Ros pun kembali menceritakan kisah hidupnya di masa lalu hingga akhirnya memilih bekerja seumur hidup di keluarga Arka.
"Saat itu usia Bibi baru menginjak 25 tahun, Bibi menikah di usia muda, yakni di usia dua puluh tahun. Hidup menjadi seorang anak yatim piatu tanpa merasakan kasih sayang orang tua, sudah cukup membuat Bibi merasa kesepian dan tak berarti menjalani hidup, sampai Bibi keluar dari panti asuhwdi usia delapan belas tahun, bekerja di luar dan akhirnya bertemu dengan suami Bibi saat itu hingga kami menikah, namun pernikahan itu hanya bertahan lima tahun, Bibi kehilangan segalanya hingga Bibi merasa terpukul dan hancur sekali saat itu, Bibi berusaha mengakhiri hidup Bibi dengan terjun ke sungai. Namun, belum sempat Bibi terjun, tiba-tiba datang keluarga Arka dan menghentikan niat Bibi untuk bunuh diri. Nyonya besar, yaitu orang tua dari Tuan Zein yang saat itu sedang melakukan perjalanan tiba-tiba menghentikan mobilnya dan menarik tubuh Bibi hingga menghalalkan rencana Bibi, dan saat itulah keluarga Arka mempekerjakan Bibi di rumahnya untuk mengasuh Tuan Zein, saat itu usia Tuan Zein masih berusia empat tahun. Dan Bibi memutuskan untuk mengabdi di keluarga ini dan tak berniat untuk menikah lagi sampai detik ini hingga Bibi tak memiliki anak. Bibi hanya berharap suatu saat akan bertemu kembali dengan keluarga Bibi di tempat yang berbeda dan abadi untuk selamanya." jelas Bibi Ros.
Setelah menceritakan semuanya, Bibi Ros mencoba tersenyum di depan Rania yang saat itu begitu menghayati setiap kata yang keluar dari mulut Bibi Ros, hingga membuat hati Rania terenyuh dan memeluk kembali tubuh yang sudah menua itu.
"Aku benar-benar tidak menyangka dengan kisah hidup Bibi di masa lalu, jika hal itu terjadi padaku, rasanya aku tidak akan sanggup seperti Bibi. Bibi yang sabar ya, ada aku dan Zein di sini, Bibi tak perlu merasa kesepian lagi." ucap Rania dengan suara pilu.
Di sela-sela obrolan Rania dan Bibi Ros, tiba-tiba Zein datang dan melihat pemandangan Rania yang sedang memeluk tubuh Bibi Ros.
Ada apa dengan mereka...? Batin Zein terkejut melihat Rania dan Bibi Ros sedang berpelukan.
Menyadari kedatangan Tuan Zein, Bibi Ros pun mencoba memberitahukan kedatangan Zein pada Rania.
"Nyonya... Tuan muda sudah pulang." kata Bibi Ros memberitahukan.
Mendengar ucapan Bibi Ros, Rania langsung melepaskan pelukannya dengan Bibi Ros dan berbalik badan, melihat suaminya yang sedang menatapnya dari belakang.
"Sayang... Kau sudah pulang?" tanya Rania sembari berjalan mendekati suaminya lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Setelah mendengar cerita hidup dari Bibi Ros, Rania menyadari satu hal yang sangat berharga. Yaitu, tentang kebersamaannya dengan Zein, saat ini ia ingin melewati hari-harinya dengan kenangan indah bersama suaminya. Karena ia tak akan tahu bagaimana takdirnya dengan Zein suatu saat nanti. Apakah mereka akan menua bersama atau justru sebaliknya?
"Sayang... Kau kenapa?" tanya Zein heran.
Tentu saja Zein merasa heran dengan sikap istrinya, tidak biasanya Rania langsung memeluknya dengan sangat erat saat ia pulang dari kantor.
Tanpa menjawab apapun pertanyaan dari Zein, Rania terus memeluk tubuh suaminya seraya berkata.
"Sayang... Aku ingin kita selalu seperti ini sepanjang napas kita masih berhembus." ucap Rania sembari melepas pelukannya dan di tatapnya dalam-dalam wajah suaminya yang terlihat heran.
Mendengar ucapan Rania, Zein pun semakin bingung, kemudian Zein melirik pandangannya ke arah Bibi Ros, seolah bertanya apa yang terjadi pada Rania?
Bibi Ros hanya tersenyum simpul, lalu mengangguk.
Melihat ekspresi Bibi Ros, Zein menduga, mungkin saja Rania baru mendengar cerita hidup Bibi Ros di masa lalu. Hingga membuatnya merasa takut kehilangan dirinya.
Zein kembali memusatkan pandangannya pada Rania.
"Sayang... Tentu saja kita akan seperti ini sampai menua." jawab Zein sembari tersenyum.
Rania tersenyum mendengar jawaban dari suaminya. Lalu keduanya pun masuk ke dalam rumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Langit yang terang pun berubah gelap berganti malam. Matahari berganti dengan bulan.
Malam itu, di atas ranjang dan di bawa selimut yang sama. Zein dan Rania tampak sedang memandangi langit-langit kamarnya.
Tampak keduanya saling berbincang satu sama lainnya.
Bersambung\=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
Terimakasih. 🙏🏻
__ADS_1