
Rutinitas Rania di butik tidak jauh berbeda dari biasanya, suasana yang sama dengan adanya beberapa pengawal yang berjaga di dalam maupun di luar butik demi keamanan Rania.
Kecupan Zein semalam, rasanya masih terasa sampai sekarang. Hmmm... Padahal tanpa memaksa pun, aku tidak akan menolak-mu, Zein. Di depan cermin Rania terus memandangi wajahnya, memegangi bibirnya dan sesekali ia tersenyum.
Rania, di rumah ada mama, bisakah kamu pulang temani mama? Aku masih ada rapat penting. Ponselnya berbunyi, dilihat dan si gesernya layar di Ponselnya. Ternyata itu adalah pesan singkat dari Zein.
Mama mertua hari ini ada di rumah... Ada apa yah? Batin Rania penasaran. Lalu segera di balasnya pesan tadi. Baiklah sayang, aku akan pulang dan temui mamah di rumah. Balas Rania singkat, di iringi kata sayang. Lalu Zein menerima balasan itu. Sayang, apa aku tidak salah lihat? Rania memanggilku dengan sebutan sayang? Batin Zein heran, sambil tersenyum sendiri memandangi layar ponselnya. Sementara itu Ronald mengetuk pintu dari luar. "Masuk!" seru Zein dari dalam ruangan. Ronald pun membuka pintu lalu berjalan mendekati Zein dengan membawa sebuah berkas di tangannya.
"Tuan, ini berkas yang perlu tuan lihat! Ada satu berkas bermasalah di dalamnya."
Mendengar ucapan Ronald barusan, Zein segera bertanya. "Apa maksudmu dengan kata bermasalah?" tanya Zein tegas sembari menatap wajah Ronald.
"proyek pembangunan pusat perbelanjaan di kota A yang persiapannya sudah mencapai sepuluh persen dan sedang kita jalankan itu mengalami penghentian tanpa adanya konfirmasi dari pihak kita." jelas Ronald.
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Bukankah semua dananya sudah saya siapkan dan sudah saya sepakati? Apa ada yang tidak beres dengan pemanfaatan dana yang sudah saya siapkan?" tanya Zein lagi.
"Sepertinya bukan soal dana, tuan. Saya sudah cek dana untuk pembangunan di sana dan hasilnya memang sesuai dan tidak ada dana yang hilang." Ronald menjelaskannya dengan jelas sambil menunjukkan beberapa data di dalam berkas itu. Setelah Zein mengecek, memang benar tidak ada masalah dengan dana yang sudah disiapkannya. Lalu masalahnya apa? Pikir Zein penuh selidik, sembari mengepalkan kedua tangannya dan di tempelkan di bawah dagunya.
"Jika masalahnya bukan pada dana yang di siapkan kurang ataupun bermasalah, lalu apa yang membuat proyek kita berhenti?" Zein menatap wajah Ronald.
__ADS_1
"Sepertinya pihak penyedia lahan ingin mencoba membatalkan proyek yang sudah kita sepakati, tuan." jelas Zein.
"Apa maksudmu membatalkan? Bukankah kita dan pihak penyedia lahan sudah menyepakatinya?" balas Zein geram.
"Iya itu yang membuat saya bingung, tuan. Sepertinya seseorang sedang berusaha merebut proyek yang sedang kita jalankan, tuan. Tentu saja orang itu pasti menawarkan penawaran lebih besar dari kita." jelas Ronald.
"Siapa orang itu? Sebelumnya tidak ada yang menggangguku, dan aku juga tidak pernah mengganggu orang lain." tanya Zein penasaran.
"Sepertinya seseorang yang hampir saja mengacaukan proyek pembangunan apartemen di kota B tepatnya di Singapura bulan lalu adalah orang yang sama dengan yang sekarang, itu baru analisa saya saja, tuan. Berdasarkan kesamaan data yang yang saya temukan." jelas Ronald, sembari menyodorkan berkas pada Zein. Dengan segera Zein membuka berkas itu lalu membacanya. "cepat selidiki dan konfirmasi lagi pada pihak penyedia lahan!!" perintah Zein tegas sembari meletakkan berkas itu di samping meja kerjanya. "Baik, tuan." balas Ronald sembari mengangguk sopan lalu bergegas keluar ruangan.
Di dalam ruangan, Zein terus memikirkan siapa orang di balik ini semua dan berusaha ingin menghancurkannya. Selama ini dia hampir tidak pernah memiliki musuh dalam berbisnis. Baginya, dalam berbisnis, ada prinsip-prinsip tertentu yang tidak boleh di langgar, misalnya dengan cara tidak memaksa atau menghalalkan segala cara. Sangat berbeda jauh dengan Rey Savian yang menghalalkan segala cara sekalipun itu memaksa atau menyakiti orang lain. Bagi Rey, apa yang di inginkan-nya, maka harus di dapatkannya. Tidak ada satupun yang bisa menghalanginya.
Dalam diam, tiba-tiba Zein memikirkan seseorang yang pernah mengancamnya beberapa waktu lalu, dugaan nya sempat mengarah padanya, namun ia lebih memilih menepisnya sebelum terbukti kebenarannya.
Begitu sampai rumah.
"Mamah... Apa kabar?" dengan tersenyum, Rania menyapa sembari mencium tangan ibu mertuanya, lalu memeluknya.
"Kabar mama baik-baik saja, bagaimana kabarmu?" tanya mama mertuanya diiringi senyum senang sambil melingkarkan kedua tangan kanannya di bahu Rania.
__ADS_1
"Ah... Aku baik-baik saja mah, seperti yang mama lihat." sahut Rania sembari tertawa kecil, digandengnya tangan mama mertuanya itu, dan dipersilahkannya untuk duduk di sofa.
Keduanya pun duduk di sofa.
"Rania, bagiamana pernikahanmu dengan Zein? Apa kamu bahagia?" tanya ibu mertuanya lembut sembari senyum tipis dan dipegangnya bahu Rania dengan lembut.
Rania sempat diam untuk sejenak, lalu ia pun mulai bersuara. "Aku bahagia mah, Zein adalah seorang suami yang sangat baik." jawab Rania sembari tersenyum, kemudian di pegang nya tangan ibu mertuanya lalu diletakkannya di atas lutut kakinya dan didekapnya kedua tangan itu dengan lembut.
Mendengar jawaban Rania, membuat mertuanya lega dan senang. Lalu di raihnya gelas berisi teh hangat di meja dan di minumnya seraya berkata. "Zein sangat mencintaimu Rania!! Jadi, dia tidak akan berani menyakitimu. Jika dia menyakitimu, laporkan saja pada mama!!" serunya sembari tertawa dan meletakkan kembali gelas berisi teh hangat itu di meja. "Ah... Tentu saja mah." balas Rania tersipu malu.
"Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan, Rania?" pertanyaan mertuanya ini cukup membuatnya syok, dan gugup harus menjawab apa.
"A... Aku tidak tahu mah, sejauh ini aku tidak merasakan ada yang berbeda dari tubuhku." Rania menggigit ujung bibir bawahnya, lalu menjawabnya dengan gugup.
"Tidak apa-apa, nanti juga di kasih. Banyak-banyak istirahat saja, jangan terlalu capek! Kalau bisa tidak perlu lah ikut bekerja!! Zein suami yang bertanggung jawab, dia tidak akan menelantarkan-mu!" ucap mertuanya sembari tersenyum lalu dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Karena sudah sore, ia memutuskan untuk segera pulang. Sementara itu Rania hanya membalas senyuman atas perkataan ibu mertuanya. "Ada apa mah?" tanya Rania penasaran, melihat ibu mertuanya yang tampak ingin segera pulang ketika melihat jam di tangannya. "Tidak apa-apa, seprtinya hari sudah semakin sore, dan lagi seperti akan turun hujan, mama harus segera pulang. Kamu baik-baik ya sama Zein!". "Iya, mah" singkat saja Rania menjawabnya sembari tersenyum dan menuntun ibu mertuanya hingga ke depan mobil.
Begitu ibu mertuanya sudah pulang, Rania segera masuk ke dalam. Menaiki tangga menuju kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya.
Apa yang dipikirkan ibu mertuaku? Kenapa bertanya seperti itu? Apa mungkin dia ingin segera memiliki cucu? Ah... Yang benar saja. Dalam pikirannya, Rania berusaha mencerna kalimat yang di layangkan padanya oleh ibu mertuanya barusan. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik.
__ADS_1
*Bersambung.
Terus dukung author dengan cara klik like, tinggalkan komen, klik favorit, kasih bintang lima dan vote yang banyak yah! 🤗 biar author makin semangat nulisnya.