
Masih dalam perjalanan menuju jakarta.
Zein dan Rania tampak tertidur pulas, namun Evelin mencoba mengobrol dengan Ronald yang kaku dan cuek.
Ronald tampak begitu fokus pada arah jalan, namun sesekali ia melirik kaca spion bagian dalam mobil yang ada di bagian depan tepatnya di tengah. Di sela-sela menyetir, Ronald tampak mencuri pandangan ke arah spion hanya untuk melihat Tania.
Tania hanya asik dengan ponselnya, setelah lelah bermain game, Tania yang selalu mendapatkan pesan singkat dari David pun membalas dan sesekali tersenyum karena membaca pesan David sering kali menghiburnya.
Melihat Tania tersenyum sendiri dengan layar ponselnya, cukup membuat Ronald cemburu. Dengan siapa sebenarnya Tania berkirim pesan? Hingga membuatnya sampai tersenyum seperti itu. Namun Ronald harus tetap fokus pada arah jalan di depannya, terlebih jalanan yang masih berbelok dan menurun.
"Ron..." panggil Evelin.
Tania menoleh wajahnya ke arah Ronald dan mengabaikan pesan dari David begitu mendengar Evelin memanggil nama Ronald.
"Ya... Ada apa, Nona?" Jawab Ronald datar.
Mendengar Ronald menyebut Evelin dengan sebutan Nona, tentu saja membuat Tania sedikit kesal. Bagaimana mungkin Ronald memanggil Evelin dengan sebutan manis seperti itu? Sedangkan ia sering kali di panggil anak kecil? Pikir Tania heran.
Tania masih mencermati obrolan antara Ronald dan Evelin sambil berlagak main ponsel. Namun sebenernya, ia memasang telinganya dalam-dalam dan mencermati obrolan mereka.
"Terimakasih untuk ciuman itu..." ucap Evelin.
Belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Ronald langsung menyelanya. "Sebaiknya Nona diam dan jangan bicara, aku harus fokus mengendarai mobil ini...!" ucapnya dengan nada sedikit gugup.
Evelin diam dan tak meneruskan kalimatnya, Ronald menyela ucapan Evelin, karena ia tahu di sudut belakang tempat Tania duduk. Terlihat Tania sedang memperhatikan obrolan mereka. Ronald tak ingin membuat Tania kesal ataupun kecewa. Meski sudah jelas Tania tetap akan kesal dan kecewa mendengar Evelin mengatakan kata ciuman, namun setidaknya Ronald tak ingin memperpanjang masalah itu. Ia ingin menjelaskannya sendiri pada Tania di waktu yang tepat.
Tidak sekarang, saat mereka sedang bersama Zein dan Rania. Meskipun Zein dan Rania terlihat sedang tertidur, tetap saja itu adalah keadaan yang tidak nyaman bagi Ronald untuk membahas permasalahan ciumannya dengan Evelin.
Tujuan Evelin membahas soal ciuman dirinya dengan Ronald, memang tidak lain ingin membuat Tania kesal. Namun karena Ronald memintanya untuk diam dengan alasan ingin fokus membawa mobil di jalan berliku dan tajam.
Di tengah jalan, mereka pun berhenti sebentar di area penjual oleh-oleh khas daerah puncak. Zein meminta untuk berhenti sejenak untuk membeli oleh-oleh untuk dibagikan pada keluarga maupun para pelayanannya di rumah.
__ADS_1
Setelah selesai dengan tujuan mereka, mereka pun akhirnya melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju jakarta.
Setelah beberapa jam berada di perjalanan, akhirnya mereka sampai dikediaman Zein. Tentunya setelah mengantar Evelin kembali ke rumah orang tua Zein sembari memberikan bingkisan oleh-oleh untuk orang tuanya. Lalu ke tempat orang tua Rania untuk mengantarkan Tania sekaligus memberikan oleh-oleh untuk mertuanya.
Dan setelah itu, akhirnya Zein dan Rania bisa beristirahat di rumah.
Begitu selesai mengantar Zein dan Rania kerumahnya. Ronald pun segera mengganti mobil Zein dengan mobilnya lalu memacu mobilnya kembali ke rumahnya dengan membawa beberapa oleh-oleh untuk keluarganya.
Keesokan harinya.
Seperti biasanya, Zein sudah rapih dengan pakaian kerja dan tas kecil berisi laptopnya yang selalu di bawanya saat kerja.
Zein sudah berada di bawah untuk menikmati sarapan paginya tanpa Rania.
Ya, Rania masih tertidur di atas kasur berselimut tebal. Ia masih sangat malas untuk sekedar bangun dan mengantar suaminya. Zein hanya mengecup kening istrinya sebelum keluar kamar meninggalkan istrinya yang masih ingin berlama-lama di atas kasur. Dengan sengaja ia tak ingin membangunkan istrinya.
Setelah selesai menyelesaikan sarapan paginya, Zein langsung menuju kantor. Dua hri tidak masuk kantor, sudah cukup banyak pekerjaan menantinya.
Tok tok tok
"Masuk...!" ucap Zein dari dalam ruangan.
Zein tahu bahwa yang mengetuk pasti Ronald.
Ronald pun akhirnya masuk dengan membawa berkas-berkas yang ia bawa di tangannya.
"Selamat pagi Tuan, Ini ada beberapa berkas yang perlu di lihat...!" ucap Ronald sembari menunduk sopan.
"Baik, Ron... Taruh saja di meja." balas Zein yang masih sibuk membuka lembaran demi lembaran berkas yang ada di tangannya.
"Baik, Tuan. Oh ya... Jam sembilan nanti kita ada meeting bersama dengan grup Joy Market." jelas Ronald.
__ADS_1
"Baiklah." balas Zein singkat.
"Kalau gitu, saya permisi, Tuan." ucap Ronald dengan sopan.
Zein mengangguk, lalu Ronald segera keluar dari ruang kerja Zein.
Waktu semakin menunjukkan angka dua belas. Setelah melakukan meeting pada jam sembilan tadi bersama Grup Joy Market. Dan menyelesaikan beberapa berkas, Zein menghentikan pekerjaannya sejenak untuk makan siang.
Zein tidak perlu repot-repot untuk keluar ruangan mencari makan, biasanya makan siang akan di antar oleh pelayan kepercayaannya di bagian seksi makanan. Pelayanannya akan datang dan meletakkan menu makan siang Zein di atas meja, setelah selesai menyapa, pelayanan tersebut pun segera keluar.
Makanannya pun bervariasi, menu dari senin sampai sabtu akan berbeda satu sama lainnya, tentunya ada buah dan juga lemon tea. Zein sangat suka minum lemon tea. Minuman segar itu cukup menyegarkan Zein saat lelah bekerja.
Namun Zein juga tidak selalu menghabiskan makan siangnya di dalam ruang kerjanya sendirian. Ia juga sesekali pergi ke kantin atau keluar untuk mencari makanan yang di inginkannya saat ia bosan makan di kantornya.
Sementara itu di rumah Rania.
Saat siang hari, seperti biasa, kegiatan Rania setelah makan makanan penunjang ibu hamil. Serta tidak melupakan susu ibu hamil. Ia akan menghabiskan waktu siangnya dengan membaca buku, entah itu soal desain baju, fashion dan lain-lain. Zein sengaja menyediakan buku-buku perihal fashion yang menyangkut dengan hobi istrinya mendesain baju sekaligus pemilik butik. Meski demikian, saat Rania bosan dengan buku-buku yang sudah di bacanya atau di lihatnya. Ia akan memainkan ponselnya dan memilih buku-buku apapun yang tersedia di online shop. Ia hanya cukup menyentuh layar ponselnya untuk memilih apapun yang ingin di belinya, termasuk makanan. Namun, semua ia pesan harus berdasarkan standar makanan ibu hamil. Karena saat ini, Zein benar-benar mengaturnya dalam hal makanan. Rania hanya di izinkan di rumah dan memesan apapun dari rumah, karena saat ini Zein belum memperbolehkannya keluar rumah tanpanya.
Biasanya Rania lebih sering memesan buku, dengan pengiriman ekspress. Para pelayanannya akan mengantarkan pesanannya ke kamar Rania.
Dan begitulah kegiatan Rania saat hamil. Banyak sekali aturan yang di buat oleh suaminya. Tentu itu semua demi kebaikan istrinya yang kerap kali tidak mematuhi aturannya.
Bersambung\=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
__ADS_1
Terimakasih. 🙏🏻