
Keesokan harinya.
Pagi itu, Zein terasa sangat berat untuk membuka matanya setelah terpejam beberapa jam di waktu malam, menikmati hangatnya malam, berada di atas ranjang dalam satu selimut yang sama, memeluk mesra tubuh istrinya dalam dekapan tubuhnya yang bidang, menikmati setiap aroma harum dari tubuh istri tercintanya, hingga malam berganti pagi. Menjadikan gelap berganti terang.
Zein masih mendekap tubuh istrinya yang masih tertidur, sebelum keduanya benar-benar beranjak dari tidur mereka. Rania yang masih tampak pulas dalam tidurnya, Zein yang sudah membuka matanya dan mencoba menikmati waktu bersama istrinya sebelum ia benar-benar pergi. Sesekali ia mencium rambut istrinya dan memeluk tubuh istrinya.
Rasanya... Ingin selalu berada di sampingmu, sayang...! Bukan hanya kau yang ingin terus berada di sampingku, aku pun sama seperti dirimu. Batin Zein berharap.
Sayangnya, Zein tidak bisa berlama-lama menikmati kehangatan pagi kala itu bersama istrinya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Drrrt.. Drrrt...
Terdengar suara dan getaran yang berasal dari atas meja, tepatnya di samping sisi ranjangnya. Dengan segera Zein meraih ponselnya, dengan mata yang masih berat untuk terbuka lebar, ia mencoba melihat layar ponselnya. Ia tahu bahwa itu pasti Ronald tidak ada yang bisa menghubunginya sepagi itu pada nomor pribadinya, yang khusus di peruntukan untuk orang-orang khusus.
Ronald
Benar saja dugaannya, memang Ronald yang menghubunginya. Zein langsung menggeser tombol berwarna hijau dan meletakkan ponselnya di samping telinganya.
"Ya..." jawab Zein dengan suara pelan setengah sadar.
"Selamat pagi, Tuan... Aku hanya ingin memastikan bahwa tuan sudah bersiap untuk jam delapan nanti." Ronald menyapa Zein lalu mencoba mengingatkan Zein agar tidak lupa.
"Ya, Ron... Tentu saja." jawab Zein singkat.
"Baik, Tuan, aku akan sampai ke tempat Tuan sebelum jam delapan...!" jelas Ronald.
"Ya." jawab Zein singkat lalu mematikan ponselnya, meletakkannya di samping kasur.
Begitu selesai pada panggilan teleponnya, Zein kembali meringkuk dan memeluk tubuh istrinya. Saat itu, Rania sudah terbangun dari tidurnya.
"Sayang..." ucap Rania dengan suara lembut.
Kalimat pertama yang di ucapkan Rania saat bangun dari tidurnya.
Mendengar ucapan tersebut, hati Zein terasa meleleh, pasalnya, jarang sekali Rania mengucapkan sayang ketika bangun dari tidur dan membuka matanya.
"Eh... Ratuku, sudah bangun ternyata?" ucap Zein dengan nada meledek.
__ADS_1
Rania hanya tersenyum malu mendengar suaminya menyebutnya ratu.
Kini keduanya saling berhadapan dan berpelukan.
"Sayang... Apa kau benar-benar akan pergi hari ini?" tanya Rania dengan wajah berharap obrolannya semalam hanyalah sebuah mimpi.
Mendengar pertanyaan istrinya, Zein tahu bahwa Rania masih sangat berat di tinggal olehnya pergi. Jika Rania tidak sedang hamil muda, Zein tidak akan terlalu pusing dan seberat ini memikirkan istrinya. Ia bisa dengan mudahnya membawa istrinya kemana pun sekalipun menyangkut urusan pekerjaannya, seperti sebelumnya.
Namun kali ini keadaannya memang berbeda, hingga membuatnya terpaksa meninggalkan istrinya.
Zein membelai dan sesekali memainkan rambut istrinya.
"Sayang... Jangan terlalu cemas ya! Kasihan anak kita yang ada di perutmu, kau tidak boleh stres saat aku pergi..! Demi anak kita, aku hanya pergi untuk beberapa hari saja, setelah urusan pekerjaan selesai, aku akan kembali secepatnya." Zein memberikan pengertian lagi pada Rania.
Entah itu sudah yang ke-berapa kalinya Zein memberikan pengertian pada istrinya.
Rania hanya tersenyum lalu mengangguk. Senyuman yang mengartikan bahwa dirinya sudah menerima keputusan suaminya.
Kini ia sudah pasrah dan menerima kenyataan bahwa suaminya memang harus pergi meninggalkannya untuk beberapa hari ke depan demi pekerjaan suaminya.
Hem... Sudah ku duga, dalam ingatannya saat ini memang di penuhi dengan makanan-makanan aneh. Batin Zein.
"Tentu saja, sayang... Aku akan membawanya untukmu." balas Zein penuh keyakinan.
Tidak sulit baginya mendapatkan makanan yang pernah di makan istrinya selama di Singapura dulu. Lagi pula jarak antara Singapura dan Indonesia tidak terlalu jauh, ia masih bisa membawa makanan kering, dan makanan lainnya yang di panggang dan tidak terlalu basah di dalam pesawat.
"Sayang... Cepatlah bersiap...! Nanti kesiangan." kata Rania dengan nada sedikit cemas.
Zein tersenyum mendengar ucapan Rania barusan, dalam benaknya, dia yang melarang, dia juga yang mengusirnya segera pergi.
Dasar wanita... Susah di tebak. Batin Zein tersenyum.
Zein akhirnya beranjak dari tidurnya dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara menunggu Zein selesai mandi, Rania masih meringkuk di atas kasur yang hangat, sambil menunggu suaminya selesai mandi.
Setelah beberapa menit berada di kamar mandi, Zein akhirnya keluar dengan handuk menutupi bagian pinggang sampai lutut. Berjalan mendekati Rania sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
__ADS_1
Melihat Rania yang masih meringkuk di atas ranjang tanpa selimut, berbalut baju tidur yang sangat tipis hingga memperlihatkan bagian dada dan juga pahanya yang mulus, jelas bisa mengundang nafsu suaminya.
"Sayang... Jangan seperti itu, bangunlah...! Jika seperti itu, aku bisa menerkam-mu lagi dan tidak jadi pergi." Zein mengancam sembari meledek istrinya.
"Heheh... Iya, iya, aku bangun." Rania mulai beranjak dari atas ranjang dan menuju kamar mandi dengan gontai.
Begitu Rania selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, ia masih mendapati suaminya yang tengah merapikan beberapa berkas untuk di bawa sambil duduk di atas kursi di depan meja kerjanya.
Masih memakai handuk menutupi bagian dada hingga atas lutut, Rania mendekati suaminya dan melingkarkan kedua tangannya tepat di leher suaminya.
Zein yang sedang merapikan beberapa berkas pun akhirnya terkejut hingga membuatnya menghentikan tangannya dari merapikan berkas. Ia meletakkan berkas itu di atas meja lalu memegang tangan istrinya yang tampak melingkar di dadanya.
Zein menoleh wajahnya ke arah wajah istrinya yang tengah memandanginya sembari tersenyum.
"Sayang... Apa kau sedang memancingku, agar aku tidak jadi berangkat?" tanya Zein dengan wajah melirik ke arah bagian dada istrinya.
"Heheh..." Rania tertawa malu.
Lalu Zein beranjak dari duduknya, perlahan mendekati tubuh Rania yang masih setengah kering berbalut handuk.
Zein memeluk istrinya seraya berkata.
"Sayang... Sejujurnya aku tidak ingin pergi, apa lagi kau selalu saja membuatku gemas seperti ini." ucap Zein dengan malas.
Rania melepaskan pelukan suaminya, menyentuh pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir suaminya.
Muuuach
Kecupan pagi itu benar-benar membuat hati Zein bergetar, terasa hangat dan menenangkan, ada hasrat yang mulai bergejolak di dalam aliran darahnya. Ingin sekali ia balas dengan serangan ciuman yang bertubi-tubi, merengkuh tubuh istrinya dengan sangat kuat dan melampiaskan hasratnya yang tertunda.
Bersambung\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
TERIMAKASIH. 🙏🏻
__ADS_1