
Setelah selesai menghubungi seseorang melalui ponselnya. Ronald pun menoleh wajahnya ke arah Tania yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
Menyadari Ronald ikut menatapnya, Tania pun merasa semakin cemas. Dalam pikirannya ada banyak pikiran negatif kenapa mereka berhenti di tepi jalan yang sepi, yang hanya ada pepohonan di sisi kiri dan kanan mereka serta jalan panjang lurus yang jauh dari pemukiman warga.
Belum sempat Ronald menjelaskan perihal berhentinya perjalanan mereka di tepi jalan karena alasan kehabisan bahan bakar.
"Tania." baru saja Ronald mengucapkan namanya sembari menuturkan tangannya ke arah Tania.
Tiba-tiba sekali Tania merasa dirinya sedang terancam.
"Aaaaarrrrrgh... Jangan sentuh aku...!!" spontan Tania berteriak sembari berusaha membuka pintu mobil yang ternyata masih dalam keadaan terkunci hingga membuatnya semakin curiga pada Ronald akan berbuat jahat padanya.
"Tania... Kau kenapa?" tanya Ronald sembari memegang tangan kanan Tania agar tidak histeris.
"Lepaskan...! Beraninya kau menyentuhku..!" ucap Tania dengan wajah marah disertai suara kencang.
"Tania... Jangan berpikir jika aku akan menyakitimu!! Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Tania." jelas Ronald.
Ronald berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan menghentikan rada takut yang ada di pikiran Tania saat itu.
Mendengar ucapan dari Ronald, Tania pun berhenti memberontak dan mencoba mendengarkan penjelasan dari Ronald.
Perlahan Tania mulai melemaskan tubuhnya yang sebelumnya berontak ingin keluar dari mobil, ia mulai menghela napas dalam-dalam dan mencoba untuk tenang mendengarkan penjelasan Ronald.
Tania diam dan menatap wajah Ronald yang saat itu juga menatapnya wajahnya. Meski keduanya saling bertatapan, namun itu hanyalah tatapan biasa. Tatapan dari raut wajah penuh kecemasan yang nampak dari wajah Tania dan tatapan menyesal dari Ronald karena telah membuat Tania harus merasakan keadaan yang disebabkan oleh keteledorannya.
"Mobilku kehabisan bahan bakar hingga akhirnya kita terjebak di tepi jalan yang sunyi ini." jelas Ronald.
Tania mendengarkan penjelasannya dengan serius tanpa menyela penjelasannya.
"Jadi... Jangan berpikir aku akan menyentuhmu atau menyakitimu di sini...! Bagiku... Kau hanyalah seorang anak remaja Tania, tidak lebih." jelas Ronald lagi.
Ronald berusaha meyakinkan Tania bahwa dirinya bukan orang jahat sekaligus menepis pikiran cemas yang ada di pikiran Tania saat itu.
Wajar saja jika Tania berpikir negatif saat mereka berada di dalam mobil, berduaan terlebih di tempat yang begitu sepi dan jauh dari pemukiman warga. Karena bagaimanapun Tania baru mengenal Ronald dan tidak tahu Ronald seperti apa? Di tempat sepi seperti ini, bisa saja seorang lelaki memiliki niat jahat, pikir Tania.
__ADS_1
Namun setelah mendengar penjelasan dari Ronald, akhirnya Tania mulai sedikit lega dan tenang. Perlahan rasa takutnya mulai hilang berganti dengan rasa sedih.
Entah kenapa, saat Tania mendengar penjelasan Ronald barusan yang menyatakan bahwa ia hanyalah seorang anak remaja dan tidak lebih di mata Ronald. Cukup membuat Tania merasa sedikit kecewa mendengarnya. Ia merasa tidak suka dengan pernyataan Ronald yang menganggap dirinya yang tidak lebih dari anak kecil di mata Ronald.
Meski demikian, Tania tak ingin terlalu memikirkan soal perkataan Ronald yang cukup mengganggu pikirannya saat itu. Karena bagaimana pun mereka baru mengenal.
"hem... Begitu." ucap Tania dengan suara lemas.
Ronald hanya mengangguk lalu berbalik badan dan kembali duduk dengan benar di atas kursi mobilnya sembari merapikan jas yang berantakan akibat mencoba menenangkan Tania yang sedang ketakutan saat itu.
Begitupun dengan Tania, ia kembali duduk dengan tenang di atas kursi mobil sembari menatap ke arah kaca depan mobil.
Tak ada satupun orang yang berlalu lalang di sana. Jalanan sepi yang hanya ada pepohonan di sisi kiri dan kanan tepi jalan.
"Lalu... Apa yang harus kita lakukan?" tanya Tania dengan tatapan kosong.
"Tidak ada cara lain selain menunggu bantuan, aku sudah menghubungi seseorang dan akan datang dengan membawa bantuan." jawab Ronald meyakinkan.
Mendengar Jawaban dari Ronald cukup membuat Tania lega.
Akhirnya keduanya pun terpaksa menunggu bantuan datang dengan duduk di dalam mobil dengan keheningan satu sama lain.
"Kira-kira... Berapa lama kita akan menunggu?" tanya Tania.
"kurang lebih lima puluh menit kita akan ada berada di sini." jawab Ronald dengan tegas.
"Hem... Lima puluh menit yah? Tidak terlalu lama sih, tapi itu terasa membosankan jika kita hanya berada di dalam mobil seperti ini." sahut Tania sembari menghela napas.
"Mau bagaimana lagi?" balas Ronald pasrah.
Mendengar ucapan Ronald barusan, Tania menoleh wajahnya ke arah Ronald dengan tatapan kosong.
Astaga... Aku tidak menyangka bisa Terjebak di sini... Bersama seseorang yang kaku seperti kanebo ini...? Batin Tania pasrah.
Menyadari bahwa dirinya sedang di tatap oleh Tania, Ronald pun ikut menoleh wajahnya ke arah Tania seraya berkata. "Kau sedang tidak berpikir buruk lagi kan? Bukankah sudah ku jelaskan? Ucap Ronald dengan nada penegasan.
__ADS_1
Yah... Aku tahu, aku cuma seorang anak remaja di matamu. Tidak perlu di tegaskan lagi, aku masih ingat ucapanmu. Batin Tania kecewa.
Setelah beberapa detik keduanya saling bertatapan. Tanpa menjawab ucapan dari Ronald barusan. Tania pun memalingkan wajahnya dan beralih menatap layar kaca pintu mobil yang ada di sampingnya, memandangi pepohonan yang rimbun dengan tatapan kecewa lalu mencoba membuka pintu mobil dan keluar untuk menghirup udara segar.
Namun belum sempat Tania beranjak dari duduknya dan keluar dari dalam mobil. Tiba-tiba Ronald menyela langkahnya.
"Sebaiknya tetap di dalam dan jangan keluar...!! Di luar terlalu berbahaya, kita tidak tahu ada apa di sini?" ucap Ronald dengan tegas.
Seperti seorang anak kecil yang sedang di larang. Tania pun hanya diam dan kembali duduk dengan benar di atas kursi mobil sembari memperlihatkan wajah kesal dan menggigit bibir bawahnya lalu melirik dengan tatapan sinis seolah kesal dengan sikap tegas dari Ronald.
Maafkan aku, Tania. Batin Ronald merasa bersalah ketika harus berkata tegas di depan Tania yang masih remaja.
Ronald sudah terbiasa dengan sikap tegasnya dan itu sangat melekat di dirinya. Hingga tidak bisa menyembunyikan sikap tegasnya sekalipun di depan Tania. Wanita yang cukup menarik perhatiannya.
Keduanya saling membisu di dalam mobil selama menunggu bantuan datang. Hanya bisa merasakan hembusan angin yang menyapu wajah mereka dari balik jendela kaca mobil yang terbuka.
"Apa kau menyesal saat ini?" tanya Ronald tanpa menatap wajah Tania.
"Kenapa harus menyesal?" Jawa Tania singkat.
"Bukankah ini membuatmu kesal?" tanya Ronald lagi.
"Tidak ada yang perlu di sesali, sesuatu yang sudah pasti akan terjadi tidak akan bisa di hindari apa lagi di sesali." jawab Tania dengan bijak.
Mendengar ucapan Tania barusan cukup membuat Ronald terkejut dan menoleh wajah ke arah Tania dan menatapnya penuh tanya.
Anak ini... Di usia muda sepertinya, bisa berpikir sebijak itu dalam keadaan yang hampir saja membuatnya ketakutan. Batin Ronald.
Di sela-sela obrolan mereka. Tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti tepat di belakang mobil mereka.
Bersambung\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
__ADS_1
TERIMAKASIH. 🙏🏻