
Di tengah rasa kecemasan Ronald yang terus memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Tania justru asik menikmati jagung bakar yang tinggal tersisa setengahnya.
Ronald sengaja menatap wajah Tania dengan sinis dan penuh ancaman agar ia segera menghabiskannya. Lagi-lagi Tania seolah tidak perduli dan dengan sengaja memperlambat waktu.
Tania dengan sengaja melepaskan satu per satu biji jagung bakar itu lalu memakannya. Tidak bisa di bayangkan, akan membutuhkan waktu berapa lama untuk menghabiskan jagung bakar yang hanya tinggal setengahnya.
Merasa di buat kesal dengan kesengajaan Tania, Ronald akhirnya memutuskan untuk menarik paksa tangan Tania agar mau beranjak dari duduknya.
Namun sayangnya usahanya gagal, Tania menahan tubuhnya agar terasa berat hingga Ronald tak mampu menariknya saat duduk.
"Apaan sih kak...? Aku belum selesai menghabiskan jagung ini...!" Tania membentak sambil melirik tajam wajah Ronald yang masih memegang lengannya.
Ronald memalingkan wajahnya untuk sejenak dengan raut penuh kekesalan.
Sementara itu, terlihat beberapa orang di sekeliling mereka yang juga sedang duduk menikmati secangkir kopi maupun jagung bakar, tampak memperhatikan keduanya. Namun mereka hanya diam sambil melihat apa yang akan terjadi pada pasangan muda ini? Pikir mereka.
Tania memang terkadang bisa sangat keras kepala dan suka melihat seseorang kesal di hadapannya.
Tania masih terlihat sangat santai dengan jagung bakarnya.
Tania mengacuhkan Ronald yang masih berdiri di hadapannya dengan raut wajah penuh kekesalan.
Di tengah-tengah rasa cemas dan kesal yang melanda dirinya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ya, ternyata panggilan itu berasal dari Zein.
Tuan...? Batin Ronald panik.
Takut akan di tanyai yang macam-macam oleh Zein perihal Tania yang juga tidak ada di sana. Untuk pertama kalinya seorang Ronald tampak bingung dan tidak percaya diri dalam menerima panggilan dari Zein.
"Ya... Tuan." jawab Ronald dengan suara tegas.
Ia berusaha untuk tidak terdengar gugup saat menerima panggilan daro Zein.
"Ron... Apa kau dan Tania sedang pergi bersama? Karena aku tidak melihat kau maupun Tania di Villa..! Dan pengawal bilang, kau pergi sendirian, menyusul Tania pergi sendirian juga. Apa kalian sedang bersama saat ini? tanya Zein dengan nada cemas.
"Benar, Tuan... Kami bertemu di luar dan sekarang kami sedang bersama. Mohon maaf karena saya tidak memberitahukan ini pada Tuan." jelas Ronald.
"Hem... Begitu, baiklah... Jika Tania sedang bersamamu. Aku hanya cemas jika dia di luar sendirian. Jaga Tania baik-baik, Ron...! Kakaknya bilang, anak itu terkadang suka usil dan keras kepala." Zein menjelaskan.
Ya... Tentu saja, aku bisa melihatnya saat ini. Batin Ronald membenarkan pernyataan Zein.
__ADS_1
"Baik, Tuan." jawab Ronald singkat.
Begitu Zein mengakhiri panggilannya. Ronald memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Sepanjang Ronald menerima panggilan, Tania tidak berhenti menatap wajah Ronald, penasaran siapa yang menghubunginya?
"Siapa barusan yang menghubungi kakak...? Apa dia kak Zein?" Tania bertanya dengan wajah penasaran.
"Bukan urusan anak kecil untuk tahu siapa yang menghubungiku...!" jawab Ronald sambil tersenyum sinis, dengan wajah seolah melecehkan Tania yang masih seperti anak kecil.
"Cih..." Tania berdecak kesal sambil menarik salah satu ujung bibirnya ke atas.
"Apa kau ingin bermalam di sini?" tanya Ronald serius.
Mendengar ucapan Ronald, semakin membuat Tania ingin Ronald merasakan kekesalan.
"Hem... Sepertinya ide bagus...!" Tania menjawab dengan entengnya sambil melempar senyum ke arah Ronald.
Senyum yang bisa di artikan penuh ledakan di dalamnya.
Ronald menatap dalam wajah Tania, lalu mengecupnya kedua matanya sambil menghela napas.
Baiklah, anak kecil... Kau yang memintaku. Batin Ronald tersenyum.
Masih dengan tangan kanan memegang jagung bakar lengkap dengan tusukannya.
Tanpa waktu lama, Ronald langsung mengangkat tubuh mungil Tania dan menggendongnya ke atas bahunya yang kekar.
"Eh... Apa-apaan ini? Lepaskan...! Aku bisa jalan sendiri." Teriak Tania.
Tania terkejut bukan main dengan aksi nekat yang di lakukan Ronald kala itu. Begitupun dengan beberapa orang yang sedang duduk bersama mereka sebelumnya. Mereka hanya menggelengkan kepala seraya berkata. Cih... Anak muda jaman sekarang seperti itu ya. Ucap salah seorang wanita paruh baya.
Tania masih mencoba melakukan perlawanan dengan memukul punggung Ronald, sesekali berteriak. Turunkan aku...!!
Ronald tetap berjalan dengan santai tanpa memperlakukan teriakan Tania yang menyeru padanya untuk diturunkan.
"Ini masih jauh loh kak... Kau bisa patah tulang jika menggendong ku sampai ke Villa...!" bujuk Tania.
"Kau belum mengenalku dan tahu bagaimana pekerjaanku, Tania... Jadi jangan macam-macam denganku...!" Ronald mengancam.
"Aku tahu, kakak kan bekerja pada kakak iparku...!" balas Tania dengan polosnya.
__ADS_1
"Hahahah..." Ronald hanya tertawa gemas mendengar jawab polos dari gadis kecil yang saat ini sedang berada dalam gendongannya.
Kau belum tahu saja sisi lain dari pekerjaanku, Tania...! Batin Ronald.
Hihih... Sebenernya aku suka di gendong seperti ini, rasanya seperti adegan di film-film korea. Batin Tania tertawa, tapi, bagaimana pun aku harus terlihat jual mahal dihadapannya. Lanjutkan dalam hati.
"Lepaskan aku kak...!!" Tania kembali berteriak, meskipun hanya pura-pura menolak.
"jangan berteriak dan diamlah...!! Atau kau akan menyesal...!" Ronald mengancam.
"Memangnya... Jika aku tetap berteriak, apa yang akan kau lakukan padaku?" Tania bertanya seolah ingin menantang.
"Masukkan saja tanganmu pada kantung celanaku bagian kanan...!" ucap Ronald yang masih menggendong tubuh Tania.
Mendengar ucapan Ronald barusan, sejenak Tania diam dan mencerna maksud dari ucapan Ronald tersebut.
Apaaaa...? Yang benar saja... Apa sebenarnya yang dia inginkan, memintaku memasukkan tanganku ke dalam kantung celananya...? Astaga... Ku harap dia bukan tipe laki-laki seperti itu. Tania membatin heran mendengar perintah Ronald yang cukup aneh baginya.
"Apa kau takut...?" tanya Ronald menantang.
"Tidak... Tentu saja tidak... Dalam kamus-ku, tidak ada kata takut... Ingat itu baik-baik...!" sahut Tania dengan percaya diri.
"Hahah... Apa kau yakin dengan ucapanmu barusan..?" Ronald tertawa sinis.
Sial... Dia meremehkan-ku, Baiklah. Tania membatin kesal.
Akhirnya Tania mengikuti perintah Ronald untuk memasukkan tangannya pada kantung celana bagian kanannya. Begitu ia merogoh tangannya ke dalam kantung celana Ronald, ia merasakan keanehan.
Apa ini...? Benda keras apa yang tersembunyi di dalam. Batin Tania menerka.
Ronald tampak merasakan sedikit rasa geli dengan rogohan tangan Tania saat itu.
Sial... Kenapa lama sekali? Memangnya apa yang dia pegang...? Batin Ronald penasaran.
Bersambung\=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
__ADS_1
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
Terimakasih. 🙏🏻