
Akhir-akhir ini Zein sibuk dengan pekerjaan kantornya. Membuatnya harus pulang larut malam. Namun ia terkejut ketika pulang dan mendapati Rania sudah bisa duduk dengan normal. Duduk di sofa, Merengkuh menyandarkan kepalanya di atas lutut.
"Waaah... Ditinggal sehari saja kau sudah bisa berjalan dan duduk dengan baik ya? Udah gak bisa gendong kamu lagi deh" Ucap Zein menggoda.
Rania tetap diam dan menatap langit malam yang penuh dengan bintang berkelip.
"Sayang... Aku membawakan sesuatu untukmu. Lihatlah!!" Kata Zein dengan semangat sambil melirik sepotong cake.
Rania hanya melirik, lalu kembali menatap langit. Padahal Zein membawakan sepotong chocolate cake, kue kesukaan Rania. Namun Rania tetap tidak beranjak dari duduknya dari sofa. Seakan tak ingin lamunannya terganggu.
Melihat Rania yang justru diam tak beranjak dari sofa dengan wajah masam, malah membuat Zein merasa gemas dan dan ingin menggodanya. Zein mendekati Rania, duduk dibelakang Rania, tangannya mulai merengkuh tubuh kecil Rania, berusaha memeluknya dari belakang, menempelkan dagunya di bahu kiri Rania dengan kecupan mesra di leher Rania. Rania tetap diam tak berkutik, dalam bayangannya Zein tak lain adalah Rey. Namun beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa Zein lah yang memeluknya dan mengecup lehernya. Sontak ia terkejut dan melepas tangan Zein dengan kasar. Berdiri dan menjauh dari Zein dengan perasaan kesal.
Maafkan aku Rania, aku tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak menyentuhmu. Sampai kapan kau bersikap dingin seperti ini padaku? Sesaat setelah itu, Zein mematung dengan perasaan tak berharga. Batin Zein pedih.
"Aku belum siap disentuh, apa lagi dengan sengaja kau menyentuh leherku!! dari sisi manapun aku tidak ingin kau menyentuhku!! Apa kau mengerti Zein?" Ucap Rania dengan nada tinggi dan berlalu meninggalkan Zein yang saat itu hanya mematung.
Entah kenapa Rania begitu emosi hanya karena Zein memeluknya dan mengecup bagian lehernya. Mungkin saat itu perasaanya benar-benar berkecamuk. Masa lalu yang terus mengusiknya, seolah menjadi bayangan hitam yang terus mengikutinya. Sementara kenyataan bahwa dirinya sudah menikah tak terbantahkan oleh apapun. Ia tidak tahu harus berbuat apa, yang ia tahu saat itu adalah berjalan menjauh dari Zein.
Tangan kanannya menekan tombol lift, dan tangan kirinya mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Begitu keluar dari lift, langkahnya terus berjalan dengan penuh amarah. Sementara itu beberapa pelayan nampak bingung, dan mengikuti Rania dari belakang sambil memayungi Rania yang saat itu sedang hujan, Rania terus berjalan melewati jalan beraspal itu menuju gerbang. Entah apa yang ingin dia lakukan, beberapa kali ia menangkis payung. Ia lebih senang membiarkan dirinya kehujanan.
Zein masih mematung, merasa harga dirinya tak berarti. Padahal ia hanya memeluk dan tidak memaksanya melakukan yang lebih dari itu. Kemudian terdengar ketukan dari balik pintu, membuat Zein tersadar dari lamunannya.
"Tuan, ini Bi Ros." Ucap Bi Ros tergesa.
"Ya, kenapa Bi?" Kata Zein.
"I...itu Tuan, nyonya pergi keluar berjalan kaki di tengah hujan."
__ADS_1
Mendengar ucapan Bi Ros membuatnya panik dan segera berlari membuka pintu dan mengejar Rania. Rania yang berjalan tanpa sadar sudah berada di depan gerbang.
Sementara Zein yang masih berada di depan pintu, dengan perasaan panik, nafasnya tersengal karena berlarian dari lantai dua menuruni tangga, memerintahkan penjaga gerbang untuk tidak membukakan gerbang untuk Rania bisa keluar.
"Jangan biarkan dia keluar!!" Kata Zein tergesa.
Pintu gerbang tetap tertutup, sementara itu Rania menggedor gerbang dan meminta penjaga membukanya. "Buka gerbangnya!!" Suaranya terdengar lirih. Bajunya basah kuyup terkena hujan, dan rambutnya berantakan tak beraturan, matanya mulai layu, dan kakinya pun mulai gemetar kedinginan. Penjaga tetap tidak membuka gerbangnya.
Zein berlari menuju gerbang tanpa payung. Bajunya basah kuyup karena hujan. Sedikit lagi ia sampai gerbang. Namun Rania sudah kelelahan dan kedinginan. Tiba-tiba ia tersungkur di bawah gerbang. Zein berusaha meraih dan menggendongnya.
Sementara itu, mobil dibelakang yang sengaja mengikuti Zein membuka pintu. Namun Zein menolak menaiki mobil. Ia ingin Menggendong Rania berjalan ditengah hujan. Rania tidak sadarkan diri dalam gendongan Zein.
Maafkan aku Rania, lain kali aku tidak akan menyentuhmu, sampai kau benar-benar menerimaku. Zein membatin dengan janjinya sendiri.
Begitu sampai Rumah, Zein meletakkan Rania di sofa dan meminta Bibi Ros untuk mengganti baju Rania yang basah dan memerintahkan Viona untuk segera memeriksa kondisi Rania.
Kemudian Zein meletakkan Rania di kasur dan menyelimuti tubuh Rania dengan selimut hangat. Zein pun akhirnya sudah lebih lega karena Rania baik-baik saja setelah diperiksa oleh Dokter Viona.
*keesokan harinya.
Kali ini Rania terbangun lebih awal, sebaliknya Zein masih tertidur dengan posisi menyelipkan kedua telapak tangannya di kakinya. Seperti orang yang kedinginan. Dengan kemeja berwarna putih dan celana hitam setengah kering.
Rania memegang kepalanya dan merasa sedikit pusing. Efek hujan malam itu cukup membuat kepalanya pusing. Ia bingung melihat dirinya yang sudah berganti pakaian. Dalam benaknya, siapa yang melepas bajunya, sementara ia berusaha mengingat kejadian sebelum ia tidur. Ia ingat semuanya namun tidak mengingat saat Zein Menggendongnya melewati hujan menuju rumah. Yang ia ingat terakhir kali adalah berhenti didepan gerbang. Setelah itu ia tidak mengingatnya lagi.
Ia berusaha bangkit dari kasur, mendekati Zein yang masih tertidur di sofa. Memegang baju Zein berusaha membangunkan Zein. Namun ia kaget ketika baju yang dikenakan Zein masih setengah basah. Dengan cekatan ia menyentuhkan punggung telapak tangannya di dahi Zein. Ia semakin terkejut merasakan hawa panas di dahi Zein disertai dengan tubuhnya yang menggigil kedinginan. Ia pun segera memanggil Dokter Viona untuk segera memeriksa kondisi Zein.
"Dokter... Dokter cepat ke sini!!" Teriak Rania panik.
__ADS_1
Mendengar teriak Ranai, Dokter Viona segera datang dan mengetuk pintu kamar. "Masuk!!" perintah Rania cemas. Kemudian Viona segera masuk dan memeriksa kondisi Zein.
"Untung nyonya segera memanggil, Tuan Zein mengalami Hipotermia." ucap Viona.
Apa yang terjadi semalam? Rania membatin.
"Untunglah kalau begitu." Ucap Rania sambil mengelus dada.
Setelah memindahkan Zein ke tempat tidur. Viona pamit keluar, sementara itu Rania tetap di kamar dan menjaga Zein duduk di samping kasur.
Matanya memandang Zein penuh cemas. Ada banyak pertanyaan di benaknya. Namun ia memilih menunggu sampai Zein sadar dari tidurnya.
*Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
__ADS_1
➡️beri aku vote sebanyak-banyaknya ya biar makin semangat nulisnya.
Terimakasih semuanya. 🤗😊