
Hanya butuh waktu setengah jam saja Rania sudah sampai di butik miliknya.
Dengan di antar oleh supir pribadinya sekaligus pengawalnya, akhirnya sampai di butiknya.
Begitu sampai di butik yang sudah lama tidak di kunjunginya, ia segera masuk ke dalam dan melihat kondisi butik tersebut, begitu ia sampai di dalam. Rania terkejut karena di dalam masih terlihat rapih dan bersih bahkan tidak ada debu sama sekali di meja kerjanya.
Aneh... Aku sudah lama tidak datang ke sini, dan tidak ada pekerja juga yang datang, tapi kenapa masih terlihat rapih dan bersih? Batin Rania heran.
Setelah cukup lama Rania berdiri dan memandangi ruangan yang di penuhi gaun buatannya, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
Rania penasaran, lalu berjalan mendekatinya.
"Melly." ucap Rania terkejut.
"Eh... Ibu, selamat pagi bu?" sapa Melly sembari tersenyum.
Saat itu Melly sedang membersihkan lantai.
"Kenapa kamu bisa ada di sini Mel?" tanya Rania penasaran.
"Oh... Iya maaf bu sebelumnya aku tidak memberitahukan pada ibu." kata Melly sembari menundukkan kepalanya. "Sebenarnya setiap hari aku datang ke sini untuk membersihkan butik Ibu, karena tuan memintaku untuk tetap bekerja meski hanya membersihkan butik ini." lanjutnya.
"Hem... Pantas saja butik ini masih terlihat bersih dan rapih, aku bahkan bingung kenapa bisa sebersih ini, padahal sudah lama tidak dikunjungi. Rupanya kau lah yang membersihkannya." balas Rania sembari tersenyum.
"Iya bu, tuan yang memintaku." balas Melly.
Zein... Zein... Ternyata seperhatian ini padaku, sampai hal-hal kecil seperti ini saja, kau bahkan memikirkannya. Batin Rania tersentuh mengetahui suaminya yang begitu perhatian.
"Baguslah, mulai besok kau akan terus bekerja Mel, tapi bukan membersihkan butik, kau akan bekerja seperti biasanya, karena mulai besok aku akan membuka butik ini lagi." ucap Rania dengan semangat.
"Benarkah? Aku senang mendengarnya Bu." sahut Melly sambil tersenyum.
"Oh ya... Kau hubungi mereka lagi yah...! Kalau masih ada yang menganggur bisa panggil untuk bekerja kembali di sini." kata Rania pada Melly.
"Baik, bu." balas Melly sembari mengangguk sopan.
"Oh ya Mel, apa selama kau membersihkan butik ini, tidak ada yang datang? Misalnya konsumen?" tanya Rania.
"Tentu saja ada bu, banyak yang datang dan ingin dibuatkan gaun oleh Ibu, namun saya menolaknya karena tuan berpesan agar tidak menerima pesanan sementara ibu istirahat di rumah." jelas Melly.
"Hem... Begitu, apa mereka kecewa?" Rania bertanya lagi.
"Sebagian ada yang tampak kecewa dan sebagian lagi ada yang mengerti begitu aku jelaskan." balas Melly. "Oh iya, pernah ada laki-laki yang datang juga waktu itu, sepertinya laki-laki yang pernah datang ke sini sebelumnya dan berbincang dengan ibu." imbuhnya.
Siapa... Apa mungkin Rey? Hem... Sudahlah, aku tidak perduli. Batin Rania dan mengabaikannya begitu saja.
"Kapan Mel?" tanya Rania lagi.
"Entahlah aku lupa Bu, tapi itu sudah lama sekali." jelas Melly.
Yah... Mungkin saja itu Rey. Batin Rania menerka.
Rania memilih mengabaikannya, kini ia sedang fokus menata kembali butiknya yang sudah lama tidak di jalankannya.
"Baiklah, kontak para pekerja sbelumnya ya Mel." pinta Rania sembari berjalan mendekati meja kerjanya.
"Baik, bu." balas Melly.
Sementara Melly menghubungi para pekerja sebelumnya untuk bekerja kembali, Rania sibuk mengecek situs web nya, untuk melihat apa ada konsumennya yang ingin memesan lewat online. Dan benar saja, ada banyak sekali yang memesan gaun melalui online, namun karena tidak mendapat respon dari Rania, akhirnya mereka membatalkannya.
Hem... Sayang sekali. Batin Rania kecewa.
Untuk sejenak Rania duduk bersandar di kursi goyangnya dan menyapu pandangannya mengelilingi butiknya. Sempat terpikir olehnya untuk memasang foto pernikahannya dengan Zein.
Lalu ponselnya berbunyi, Rania pun merogoh ponsel yang ada di dalam tas nya, menggeser tombol hijau dan segera menjawabnya.
"Ya, sayang, ada apa?" tanya Rania.
Rupanya yang menghubunginya adalah suaminya.
"Hem... Jutek sekali istriku ini." Ledek Zein dari seberang telepon.
"Heheh... Kenapa sayang?" tanya Rania lagi, namun kali ini dengan nada manja.
"Cuma kangen aja, sayang... Oh ya, bagaimana hari pertama bekerja lagi?" tanya Zein.
"Hem... Tentu saja menyenangkan." balas Rania.
"Baguslah." balas Zein singkat.
"Oh ya... Terimakasih ya sayang atas perhatiannya." balas Rania malu-malu.
Zein bingung mendengarnya. "Terimakasih untuk apa sayang?" tanya Zein penasaran.
"Tentu saja untuk Melly, kau yang meminta Melly datang setiap hari dan membersihkan butik, kan?" tanya Rania.
"Oh itu... Iya itu memang tugasku sayang, sebagai seorang suami harus memperhatikan semua urusan istrinya." balas Zein dari seberang telepon.
Mendengar pernyataan dari suaminya, Rania semakin yakin bahwa Zein benar-benar mencintainya.
"Aku bahkan tidak terpikir ke situ sama sekali, sayang, tapi kau malah melakukannya tanpa aku minta." balas Rania terharu.
"Tidak apa-apa sayang, asal kau bahagia, apapun akan aku lakukan." balas Zein menggoda.
"Tuh kan mulai deh ngerayu lagi." ucap Rania.
"Heheh... Ya sudah aku harus bekerja lagi. Baik-baik dan jangan pulang terlalu sore ya." balas Zein sembari mengakhiri panggilannya.
"Ya." balas Rania singkat.
Setelah menerima panggilan dari suaminya, Rania pun keluar untuk membeli bunga segar untuk di pajang di dalam fast bunga kecil dan menaruhnya di atas meja kerjanya. Hal yang selalu di lakukannya setiap hari sebelum ia menikah.
Rania selalu memasang bunga di atas meja kerjanya, karena ia suka dengan bunga.
__ADS_1
Rania pun keluar dari butiknya dengan di ikuti oleh pengawalnya di belakang, padahal letak toko bunga tersebut tidak jauh dari butiknya, hanya berjarak lima belas meter saja dari butiknya. Namun Rania tidak mau protes lagi dengan kebijakan yang diberikan suaminya, ia mulai mengerti, bahwa yang dilakukan suaminya adalah semata-mata karena terlalu menyayanginya. Meski biasanya ia begitu risih di ikuti oleh para pengawalnya, namun kini ia mulai terbiasa.
Setelah selesai memilih bunga, Rania segera kembali ke butik dan memulai kembali pekerjaannya yang sudah lama ditinggalkannya.
Seperti biasa, Rania memulai pekerjaannya dengan membuat desain gaun. Beberapa gaun pengantin masih tampak rapih dan terpasang pada manekin.
Hari pun sudah mulai menunjukkan waktu sore, Rania teringat akan pesan dari suaminya agar tidak pulang terlalu sore, ia pun segera berkemas untuk pulang.
"Mel, aku pulang yah, kau juga pulanglah, tidak banyak pekerjaan di hari pertama." ucap Rania pada Melly yang saat itu sedang menata beberapa gaun.
"Baik, bu, sebentar lagi aku pulang." balas Melly sembari tersenyum.
Lalu Rania pun keluar dari butiknya dan menuju mobilnya yang sudah siap.
Sementara itu di belakang terdengar suara klakson mobil, Rania memalingkan wajahnya dan begitu dilihatnya, itu adalah mobil suaminya. Ia tersenyum dan mendekati mobil suaminya.
Pak Surya berlari kecil, segera membuka pintu mobil belakang.
Sementara itu, dari dalam mobil, Zein membuka kaca jendela mobilnya seraya berkata. "Masuklah, kira makan sore di luar." ucap Zein dari dalam mobil sembari tersenyum.
Tanpa menimpali ucapan suaminya dan hanya membalasnya dengan senyuman, Rania bergegas masuk ke dalam.
Kini keduanya sudah berada di mobil yang sama.
"Bagaimana hari ini, sayang?" tanya Zein sembari membelai rambut Rania.
Pefft Rania menghela napas. "Biasa saja." balasnya.
Lalu merebahkan tubuhnya di punggung kursi mobil.
"Jangan terlalu lelah." ucap Zein sembari menatap wajah istrinya yang tampak lelah.
Rania memandang wajah suaminya tanpa berkata apa-apa, hanya memperlihatkan senyuman di wajahnya. Senyuman yang entah apa maknanya, lalu memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
Zein tidak ingin banyak bertanya dan hanya ingin memberikan kenyamanan pada istrinya. Zein memeluk tubuh istrinya sembari mengelus rambutnya.
Akhirnya mereka sampai di sebuah restauran dan duduk di kursi yang sudah di siapkan.
Di atas meja sudah ada beberapa makanan favorit istrinya. Dengan cahaya lampu dan hari yang mulia gelap, mereka menikmati makan mereka dengan suasana yang romantis.
"Sayang..." ucap Rania di sela-sela makan mereka.
"Ya, kenapa sayang?" tanya Zein sembari memotong steak dengan pisau.
"Sekarang aku sudah tahu." balas Rania sembari menatap wajah suaminya.
Zein menghentikan tangannya dari memotong steak dan beralih menatap wajah istrinya.
"Tahu apa sayang?" tanya Zein dengan suara lembut.
Rania membuka tasnya dan meraih bingkai foto masa kecilnya lalu meletakkannya di atas meja.
Zein tampak bingung melihat Rania memberikan bingkai yang di dalamnya ada foto masa kecil istrinya.
Rania memegang bingkai tersebut dan menunjukkan pada suaminya. "Sayang... Lihatlah, kau pasti tahu dan mengenal jepit rambut yang aku pakai di foto ini." kata Rania sembari menunjuk foto dirinya.
Melihat itu, Zein mulai paham maksud dari ucapan istrinya.
"Ya, tentu saja aku tahu." balas Zein tersenyum.
Rania tampak mengernyitkan kedua abisnya.
"Lalu?" tanya Zein dengan wajah datar.
Cih... Haruskah aku jelaskan, Zein? Batin Rania kesal.
Tanpa berkata apapun, Rania menaruh kembali bingkai foto miliknya di dalam tas dengan kasar.
Rania kesal, karena suaminya tidak merespon apapun dari apa yang telah dia tunjukkan pada suaminya.
Rania berpikir, mungkin suaminya sudah tidak perduli dengan masa lalu mereka saat masih kecil. Itu sebabnya ia tampak kesal.
Rania memotong steak dengan kasar, lalu melahapnya dengan cepat.
Melihat istrinya tampak kesal, Zein meletakkan garpu dan pisau di atas piringnya, beralih menatap wajah istrinya.
"Sayang... Itu hanyalah masa lalu kita yang sudah tidak penting lagi untukku saat ini." ucap Zein dengan suara lembut.
Mendengar ucapan suaminya, tentu membuat Rania semakin kesal.
Apa? Masa lalu? Sudah tidak penting lagi? Apa maksudnya? Batin Rania kesal.
Tanpa membalas ucapan dari suaminya, Rania hanya diam dan menatap tajam wajah suaminya dengan sorot mata yang menunjukkan kekesalannya.
"Sayang... Aku sudah tidak perduli lagi bagaimana masa lalu kita? Lagi pula kau bahkan belum mengingatnya bukan? Yang terpenting bagiku, saat ini adalah kamu milikku seluruhnya, baik hati dan tubuhmu." jelas Zein dengan wajah meyakinkan.
Mendengar ucapan suaminya, Rania sadar, ia mengingat atau tidak masa kecilnya dulu, suaminya akan tetap mencintainya dengan tulus.
Rania mulai lega, memegang tangan suaminya dan tersenyum.
"Terimakasih, sayang... Aku mencintaimu." ucap Rania sembari tersenyum.
Untuk pertama kalinya Rania mengungkapkan perasaannya pada suaminya dalam kondisi sadar.
Mendengar pernyataan cinta dari Rania membuat Zein senang. Namun Zein hanya membalasnya dengan senyuman, senyuman yang begitu dalam maknanya.
Keduanya larut dalam makan malam yang romantis seperti sepasang kekasih yang baru saja jatuh cinta.
Setelah selesai makan malam, keduanya bergegas pulang ke rumahnya.
Begitu sampai di rumah, keduanya pun bergantian membersihkan tubuh mereka lalu bersiap untuk beristirahat.
🍀Tania🍀
__ADS_1
Malam ini adalah malam perpisahan Tania bersama teman-teman sekolahnya.
Tania mencoba gaun yang akan di pakainya untuk bernyanyi di hadapan para guru dan siswa-siswi.
Di depan cermin, ia memoles wajahnya dengan lihai, setelah selesai berdandan, Tania mulai bersiap untuk pergi ke sekolahnya.
Dan tiba-tiba ponselnya berbunyi, dengan segera ia pun menggeser tombol berwarna hijau di ponselnya.
"Ya, halo, siapa ini?" tanya Tania bingung.
Karena nomor yang menghubunginya belum terdaftar di kontak ponselnya.
"Ini aku, David." jawab David dengan santai.
"Oh... Iya ada apa kak David?" tanya Tania.
"Boleh aku mengantarmu ke pesta perpisahan di sekolahmu?" tanya David dari seberang telepon.
"Hem... Gimana yah, aku cuma gak mau repotin Kak David aja sih." balas Tania malu-malu.
"Hahah... Enggak ngerepotin kok, aku malah seneng kalau kamu mau menerima tawaranku." balas David dengan tawa kecil.
"Baiklah, jika kakak memaksa." balas Tania singkat.
Cih... Siapa yang memaksa? Gadis yang menarik... Batin David berdecak.
"Oke... Tunggu yah, aku jalan sekarang." balas David.
"Oke." balas Tania lalu mengakhiri panggilan itu.
David segera memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal dan lima belas menit kemudian ia sampai di rumah Tania lalu membunyikan klakson mobilnya begitu sudah sampai di depan gerbang.
Mendengar suara klakson mobil, Tania pun segera keluar dengan penampilan yang cantik dan elegan, ia pun tidak lupa memakai heels untuk membuat penampilannya tampak sempurna.
"Bu... Tania berangkat sekarang ya." Teriak Tania pada ibunya yang sedang berada di dapur.
"Di antar siapa Tan?" tanya ibunya.
"Hem... Di antar sama kak David bu." balas Tania lalu berjalan cepat menuju gerbang.
Mendengar nama David ibunya sedikit bingung.
Siapa David? Rasanya aku baru mendengar nama itu? Selama ini tidak ada temannya yang bernama David datang ke rumah. Batin ibunya penuh selidik.
Dengan penasaran, ibunya pun berjalan keluar mendekati Tania, namun sayangnya Tania sudah berangkat bersama David.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini, Tania." David mencoba merayu Tania di sela-sela menyetir mobil.
"Heheh... Bisa aja kakak." balas Tania sembari tertawa kecil.
Tania tampak malu dan risih karena sepanjang perjalanan, David terus memperhatikannya.
Tania juga tidak banyak bertanya karena masih merasa canggung di samping David yang baru dikenalnya beberapa hari terakhir.
Entah kenapa David juga merasa begitu canggung di dekat Tania saat itu, jantungnya terus berdebar hingga membuatnya tidak banyak bicara selama perjalanan menuju sekolahan Tania. Berbeda saat pertama mereka bertemu, David justru tampak santai dan sesekali menggoda Tania. Namun kali ini merasa berbeda, ia tidak bisa mengendalikan jantungnya yang berdebar semakin kencang ketika berlama-lama dengan Tania.
Namun berbeda dengan David, Tania tampak santai meski ada sedikit perasaan malu.
"Apa kakak tidak ada kesibukan?" tanya Tania sembari melirik wajah David.
"Tidak ada." balas David tanpa melihat wajah Tania.
Matanya hanya fokus pada arah jalan dan mengendarai mobilnya.
Ada apa denganku? Ini tidak biasanya... Aku tidak pernah segugup ini di depan wanita sebelumnya kecuali mantanku. Batin David heran.
Karena David tampak gugup, akhirnya Tania hanya diam dan tidak banyak bicara.
Tidak lama mereka sampai di sekolahan Tania.
Setelah memarkir mobilnya, David pun keluar bersama Tania bersamaan.
"Aku akan menunggu sampai selesai dan mengantarmu pulang kembali." ucap David pada Tania.
"Hem... Begitu, ya sudah." balas Tania.
Saat mereka berdua mulai masuk ke dalam ruangan yang sudah ramai dengan para guru beserta siswa dan siswi. Tampak beberapa teman Tania terkejut melihat Tania datang bersama seorang pria dewasa. Ada yang tampak terpesona, ada juga yang tampak memandang dengan pandangan sinis ke arah Tania.
"Em... Kakak tunggu di sini yah, aku mau ke sana, silahkan nikmati makanannya." ucap Tania sembari berjalan cepat menuju keramaian.
Sementara itu, David berjalan-jalan mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah berjalan-jalan, David menemukan tempat yang di rasa cukup nyaman, ia pun duduk di sebuah kursi di sudut ruangan. Di sebelahnya tampak seorang laki-laki sedang duduk dengan memegang segelas lemon tea di tangannya.
David pun melirik laki-laki yang berada tepat di sampingnya.
Namun belum sempat ia menyapa, menyadari laki-laki tersebut adalah orang yang dikenalnya, David pun terkejut.
"Ronald...?" tanya David heran.
Bagaimana mungkin Ronald bisa ada di sana? Pikirnya.
Menyadari namanya di panggil, Ronald pun menoleh wajahnya ke arah David. Sama seperti David, Ronald pun terkejut di buatnya.
"David...?" tanya Ronald dengan wajah bingungnya.
"Sedang apa kau...?" keduanya saling bertanya dengan kalimat yang sama.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukungannya
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
Terimakasih.
__ADS_1