
Keduanya masih berpelukan menunjukkan kemesraan di depan David.
Begitu Rania melepaskan pelukannya dan menatap kembali wajah suaminya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah suaminya tampak memar dan terdapat luka di bagian sudut bibirnya.
"Sayang... Wajahmu... Kenapa dengan wajahmu?" tanya Rania dengan raut wajah cemas sembari menyentuh ujung bibir suaminya.
Rasa panik Rania saat itu benar-benar melupakan kehadiran David yang masih berdiri memandanginya menyentuh dengan lembut bibir suaminya.
Apa mereka sedang menunjukkan romantisme sebagai pasangan suami dan istri? Batin David sembari menggelengkan kepalanya.
"Aw..." Zein merintih kesakitan ketika Rania menyentuh ujung bibirnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Rania mulai meninggikan suaranya seolah semakin panik.
"Sayang... Aku hanya terjatuh saat berjalan. Aku tidak apa-apa." jelas Zein sembari menggandeng tubuh Rania dan melingkarkan tangannya di pinggang Rania.
"Sayang... Aku bukan anak kecil. Tidak ada luka jatuh yang seperti ini." jawab Rania sembari menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan penjelasan suaminya atas luka di wajahnya.
"Sayang hari sudah semakin gelap, sebaiknya kita masuk dulu. Nanti aku akan jelaskan di dalam." bujuk Zein sembari menggandeng tubuh Rania dan memaksanya berjalan pelan.
"Wah... Wah... Apa kau melupakanku, Zein?" David bicara dengan lantang dengan posisi kedua tangan menyilang di dada melihat Zein berjalan beberapa langkah meninggalkannya.
Zein pun sadar bahwa dirinya telah mengabaikan kedatangan sahabatnya itu. Ia pun menoleh ke belakang sembari tertawa.
"Hahaha... Ikutlah, aku tidak perlu mempersilahkanmu untuk masuk, karena kau bukan tamu di rumahku." Zein meledek.
"Hahaha..." David tertawa begitu mendengar ucapan Zein lalu berjalan mengikuti Zein di belakang.
"Tuan, apa sudah selesai? Kalau sudah, aku permisi untuk pulang." tanya Ronald dari belakang.
"Astaga... Aku benar-benar melupakan semuanya." Zein menepuk jidatnya.
Ronald pun hanya tersenyum mendengar Jawaban dari Zein.
"Kau boleh pergi, Ron. Terima kasih untuk hari ini." ucap Zein sembari tersenyum.
"Baik, tuan." balas Ronald sembari menundukkan kepala dengan sopan lalu bergegas untuk masuk ke dalam mobil dan di antar oleh Surya, supir pribadi Zein.
Hari pun sudah mulai gelap berganti malam. Senja kala itu benar-benar menunjukkan keindahannya, ketiganya berjalan menyusuri jalan beraspal menuju rumah Zein sembari menikmati senja yang menunjukkan pesonanya.
Tampak sepasang suami istri berjalan sembari bergandengan melingkarkan tangannya masing-masing di pinggang mereka.
Di tengah romantisme sepasang suami istri yang sedang berjalan mesra bergandengan tangan di depannya, David yang berjalan mengikuti mereka dari belakang hanya bisa mengelus dada, ia seperti sedang menonton film romantis secara live, jiwa jomblonya mulai meronta. David berjalan dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, berjalan lunglai sembari menggelengkan kepalanya.
Cih... Apa mereka sedang menunjukkan betapa romantisnya kehidupan pernikahan? David membatin, jiwa jomblonya kembali meronta.
__ADS_1
Begitu sampai di dalam rumah.
"Vid, makanlah dulu... Sementara aku membersihkan tubuhku." ucap Zein tersenyum.
"Nanti saja... Aku belum lapar, sebelum ke sini aku sudah mengisi perutku agar tidak menyusahkan di sini." balas David sembari tertawa kecil.
"Hahaha... Dasar kau ini, baiklah, kalau begitu aku ke atas dulu." sahut Zein sembari menepuk lengan David kemudian beranjak untuk menaiki tangga bersama Rania.
"Oke." David mengangguk.
"Sayang... Setelah berjalan cukup jauh, sepertinya kakimu lelah, biar aku gendong ya." bujuk Zein dengan tatapan menggoda.
"Aku tidak lelah, Zein... Aku masih kuat jika hanya menaiki tangga ini." sahut Rania sembari menggelengkan kepalanya.
"Kau selalu bilang tidak apa-apa, padahal kenyataannya lain." balas Zein sembari mengangkat tubuh Rania dan menggendong menaiki tangga.
Lagi-lagi Rania tidak mampu menolak suaminya untuk tidak menggendongnya. Diam lebih baik baginya saat suaminya memaksa menggendongnya. Karena ia sudah tahu hobi suaminya.
Haishhh... Apa pasangan suami istri memang selalu romantis seperti ini? Atau mereka saja yang sengaja ingin menunjukkannya di depan laki-laki jomblo ini? David hanya bisa menggerutu melihat kemesraan mereka.
Kini Rania dan Zein sudah berada di atas dan di dalam kamarnya.
Sementara itu David mengelilingi ruang tengah dan memandangi beberapa foto pernikahan Zein dan Rania yang terpampang di beberapa tembok di ruang tengah.
Dari sekian foto pernikahan mereka yang terpajang. Kenapa aku tidak melihat satupun wajah istrinya tersenyum...? Cih... Hanya Zein yang selalu tersenyum di depan kamera. Hmmm... Pasangan yang cukup aneh, padahal yang ku lihat saat ini, mereka benar-benar terlihat romantis. Batin David heran.
Sementara itu, di kamar Zein.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Zein keluar dari kamar mandi sembari mengibaskan handuk kecil di atas kepalanya untuk mengeringkan rambut basahnya setelah keramas.
Rania yang sudah duduk di tepi kasur dengan kotak P3K di sampingnya. Memanggil suaminya dengan lembut.
"Sayang... Duduklah." pinta Rania sembari menepuk kasur di bagian sampingnya seolah meminta Zein duduk di sampingnya.
Zein tersenyum lalu mendekati istrinya dan duduk di sampingnya.
Kemudian Rania membuka kotak berisi obat-obatan lengkap dengan beberapa alat dan bahan untuk pengobatan sederhana.
Diraihnya cairan alkohol dan selembar kapas dan menuangkan cairan alkohol di atas kapas lalu menepuk-nepuk pelan ke area sudut bibir suaminya.
"Aw..." Zein meringis kesakitan. "Sayang... Bisakah lebih pelan lagi?" sambungnya.
Rania berhenti untuk sesaat dan melirik wajah suaminya yang tampak meringis menahan sakit.
Melihat ekspresi lucu suaminya, membuat Rania mencoba menahan tawanya dengan mengunci bibirnya ke dalam di depan wajah suaminya yang hanya berjarak sepuluh sentimeter saja.
__ADS_1
Dengusan yang keluar dari hidung Rania karena menahan tawa membuat Zein gemas dan ingin mengecup bibir Rania
Aku yakin... Dia sedang menertawakanku dan menahan tawa melihat wajahku saat ini. Batin Zein malu.
Hais... Jika saja bibirku tidak terluka dan tidak sedang di obati olehnya, aku sudah melahap bibirnya yang menggoda itu. Zein membatin lagi, berusaha menahan dirinya agar tidak mencium bibir istrinya dalam keadaan itu.
Setelah selesai membersihkan dengan cairan alkohol, Rania kembali membuka kotak obat tersebut dan mengambil sebuah botol kecil dengan cairan berwarna merah, kemudian menteskannya pada cutton bud dan menempelkan dengan gerakan sangat lembut di sudut bibir suaminya.
Kali ini Zein berhasil menahan rasa sakitnya dengan tidak menunjukkan wajah meringis di depan Rania agar tidak ditertawakan diam-diam oleh istrinya.
Dan terakhir Rania meraih perekat luka transparan berukuran kecil dan ditempelkannya tepat di sudut bibir suaminya yang terluka.
Sepanjang Rania membersihkan lukanya hingga menempelkan perekat di sudut bibirnya, Zein hanya diam dan memandangi wajah cantik istrinya.
Namun begitu Rania selesai menempelkan perekat di sudut bibirnya, rupanya Zein baru menyadari dan melihat jari telunjuk Rania yang terlihat dibungkus dengan perekat luka.
"Sayang... Jarimu kenapa?" tanya Zein terkejut sembari memegang lengan Rania.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil kok." jawab Rania sembari melepaskan tangannya dari genggaman suaminya yang tampak cemas.
Mendengar jawaban dari Rania membuat Zein sedikit kesal dan menatap Rania dengan penuh selidik.
Rania melihat sorot mata penuh ketegasan ingin mendengar jawaban jujur darinya di mata suaminya saat itu.
"Sayang... Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil dibandingkan luka di wajahmu saat ini." jelas Rania meyakinkan Zein yang begitu penasaran.
"Sayang... Bisakah untuk tidak menyembunyikan apapun dariku?" balas Zein sembari menyentuh pipi Rania.
Pffft... Rania menghela napas.
"Sebenarnya... Tanganku terluka saat aku sedang membuat kue untukmu, tapi tiba-tiba aku menyenggol gelas di samping tanganku hingga jatuh dan pecah. Lalu aku berusaha membersihkannya, namun sayangnya aku tidak hati-hati hingga serpihan gelas kaca itu melukai jariku." jelas Rania dengan ekspresi memajukan kedua bibirnya.
"Sayang... Bukankah ada banyak pelayan di rumah ini? Kenapa tidak meminta mereka membantumu? Apa gunanya mereka jika kamu melakukan pekerjaan mereka?" sahut Zein dengan nada kesal.
Wajar saja jika Zein merasa kesal pada Rania, Rania selalu ingin melakukan segalanya sendiri dan ceroboh hingga mengalami banyak hal yang membuatnya terluka tanpa disadari.
Mendengar ucapan suaminya yang menampakkan raut kesal, membuat Rania diam dan menundukkan kepalanya, membuang pandangannya dari wajah suaminya yang sedang marah saat itu.
Melihat Rania tertunduk diam membuat Zein merasa bersalah karena sudah memarahinya.
"Sayang... Maafkan aku, jika kata-kataku barusan melukaimu." Zein mendekati Rania dan memeluk tubuhnya yang tampak menunduk. "Aku hanya tidak ingin kau terluka. Bisakah sehari saja tidak membuatku cemas?" Bisik Zein di telinga Rania.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa untuk terus dukung aku yah
__ADS_1
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
Terimakasih atas dukungan dari kalian. 🤗