
"Kakak..." Teriak Tania sembari berjalan dan memeluk kakaknya yang juga tengah berjalan menemuinya.
Keduanya pun akhirnya duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu.
Begitu mereka duduk bersama, seperti biasa Bibi Ros menyiapkan minuman dan makanan untuk mereka nikmati.
"Ada apa kamu datang ke sini tiba-tiba tanpa mengabari kakak terlebih dahulu?" tanya Rania sembari menatap wajah Tania yang tampak tersenyum kala itu.
"Hehehe... Ini kak." Tania menyodorkan kotak makanan berisi makanan favorit Rania yang sengaja di buat oleh ibunya.
"Ibu sengaja masak makanan favorit untuk kakak dan tiba-tiba sekali memintaku untuk mengantarkannya pada kakak." jawab Tania sembari tersenyum.
"Wah... Ibu masih begitu perhatian sekali." balas Rania memuji ibunya.
Dengan penasaran, Rania segera membuka kotak makanan yang di dalamnya terdapat semur daging yang merupakan makanan favoritnya. Namun sayangnya begitu ia membuka penutup tempat makanan tersebut dan mengeluarkan aroma khas semur daging, bukannya ia senang dan menikmati aroma tersebut. Ia malah seperti ingin muntah ketika mencium aroma yang keluar dari semur daging tersebut.
Melihat ekspresi kakaknya yang tidak biasa, Tania pun bingung. Dengan wajah bingungnya, Tania pun bertanya.
"Ada apa kak? Apa kakak tidak suka?" tanya Tania.
Padahal Tania pun tahu bahwa kakaknya sangat menyukai makanan tersebut, terlebih itu adalah buatan ibunya sendiri.
"Em... Tidak apa-apa, ini enak sekali." balas Rania, menyembunyikan rasa mualnya pada Tania yang terus menatap wajahnya dengan tatapan aneh.
Rania kemudian meletakkan makanan tersebut di atas meja.
"Oh iya... Ibu juga memintaku datang ke sini untuk melihat kondisi kakak, apakah baik-baik saja." jelas Tania sembari meraih gelas berisi es jeruk segar, meneguknya dan menaruhnya kembali di atas meja.
"Katakan pada Ibu, aku baik-baik saja dan tidak perlu khawatir." balas Rania sembari memegang bahu Tania.
"Ah... iya kak." balas Tania singkat.
"Ngomong-ngomong... Di mana kak Zein?" tanyanya sembari menyapu matanya ke seluruh ruangan termasuk mendongak ke atas dan melirik kamar Rania.
"Ada di kamar... Biarkan saja, kakak lagi malas dekat-dekat dengannya." ucap Rania dengan ekspresi menarik kedua ujung bibirnya ke bawah.
Mendengar ucapan Rania, Tania pun merasa aneh. Bagaimana mungkin dia tidak suka dekat-dekat dengan suaminya? Pikir Tania.
"Heheh... Kenapa kakak tidak suka dekat-dekat dengan kak Zein? Aneh..." jawab Tania dengan enteng.
"Entahlah... Pokoknya aku sedang tidak suka berdekatan dengannya." jawab Rania sembari menaikan kedua bahunya ke atas.
"Em... Apa kakak sedang bertengkar?" tanya Tania dengan polosnya.
__ADS_1
"Hem... Bukan itu Tania, aku baik-baik saja dengannya dan tidak sedang bertengkar." jawab Rania meyakinkan. "Sudahlah... Jangan di bahas, kelak kau akan merasakannya sendiri ketika sudah menikah." imbuhnya.
Hem... Apa kakak bosan dengan suaminya? Batin Tania menduga.
Ah... Tapi tidak mungkin, kak Rania itu orangnya setia dan tidak pernah bosan terhadap orang lain. Batinnya lagi.
Bau semur daging yang berada di dekatnya tepatnya di atas meja. Membuat Rania semakin terasa mual ketika mencium aromanya. Akhirnya ia pun memutuskan memanggil Bibi Ros untuk memindahkannya.
"Bi..." Teriak Rania.
Mendengar suara Rania, Bibi Ros pun segera datang.
"Iya Nyonya... Ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bibi Ros sembari menundukkan kepala dengan sopan.
"Iya Bi... Tolong bawa makanan ini dan simpan di dapur dulu." jawab Rania sembari menyodorkan kotak makanan tersebut pada Bibi Ros.
"Biak, Nyonya." jawab Bibi Ros sembari meraih kotak makanan tersebut dan membawanya ke dapur.
"Memangnya kakak tidak ingin mencobanya? Biasanya kakak bersemangat dan langsung makan begitu melihat semur daging." ucap Tania dengan wajah bingung.
"Nanti saja... Masih belum lapar." jawab Rania sembari melempar senyum. "Oh ya... Apa kau ingin makan?" lanjutnya.
"Em... Nanti lah kak, aku belum lapar, lagi pula sebentar lagi juga aku akan pulang." balas Tania tersenyum.
"Iya kak." jawab Tania datar.
Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba Ronald datang.
"Nyonya, ada tuan Ronald di luar mencari tuan Zein." ucap pelayan tersebut menghampiri Rania yang saat itu tengah berbincang dengan adiknya.
Apa... Ada kak Ronald? Batin Tania gelisah.
"Oh... Iya suruh dia masuk...!" jawab Rania.
"Baik, Nyonya." jawab pelayan tersebut lalu pergi meninggalkan Rania dan menemui Ronald untuk mempersilahkan masuk ke dalam rumah.
Tidak lama, Ronald pun masuk ke dalam dan melihat Rania dan Tania sedang duduk berdua di atas sofa saat itu.
Melihat Tania di samping Rania, cukup membuat Ronald terkejut.
"Apa kau mendapatkannya?" tanya Rania dengan antusias begitu melihat kedatangan Ronald.
"Tentu saja, Nyonya." jawab Ronald mengangguk.
__ADS_1
"Oke... Tunggu sebentar Ron, silahkan duduk, aku akan memanggil suamiku." ucap Rania pada Ronald sembari tersenyum.
"Baik, Nyonya." balas Ronald sembari menganggukkan kepala dengan sopan.
Sementara Rania pergi ke atas untuk memberitahukan suaminya tentang kedatangan Ronald.
Ronald yang masih tertegun dalam diamnya dengan posisi berdiri, tampak salah tingkah dan begitu takut menatap wajah Tania di depannya.
"Duduk kak...!" ucap Tania sembari menatap wajah Ronald.
Mendengar ucapan Tania, dengan wajah malu dan gugup yang tidak bisa disembunyikannya, Ronald pun akhirnya duduk di sofa depan dan kini mereka berhadapan satu sama lain.
Ronald tampak diam dengan wajah kaku, menahan rasa malu dan juga rasa gugup yang menyerangnya secara tiba-tiba. Sebelumnya ia tak pernah merasa segugup ini bahkan ketika harus berhadapan dengan orang-orang bersenjata. Namun kala itu terasa berbeda bagi Ronald, selain merasa malu dan gugup, ia juga merasa jantungnya berdebar semakin tidak terkontrol hingga ia sulit untuk sekadar menyapa Tania.
Berbeda dengan Ronald, Tania tampak tenang dan sesekali melirik wajah laki-laki bertubuh tinggi kekar dengan ketampanan yang menawan. Membuat Tania berdecak kagum melihat laki-laki yang ada di depannya tersebut.
Meski Tania juga merasakan jantungnya mulai berdebar semakin lama di berhadapan dengan Ronald, namun Tania masih bisa mengendalikannya dan berusaha mencairkan suasana.
"Bagaimana kabar kakak?" Tania bertanya dengan wajah tersenyum.
Mendengar ucapan Tania, Ronald pun melirik wajahnya lalu berusaha tenang dan menjawab pertanyaan Tania barusan.
"Kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" tanya Ronald dengan wajah datar tanpa tersenyum.
"Heheh... Kabarku juga baik." balas Tania sembari tertawa kecil.
"Oh ya... Bagaimana dengan David?" tanya Ronald penasaran.
David...? Apa hubungannya denganku? Batin Tania bingung mendengar pertanyaan dari Ronald tentang David.
"Maksudnya kak David?" tanya Tania memastikan.
"Iya." balas Ronald singkat.
"Hem... Aku tidak tahu kabarnya, kenapa kakak tidak tanya langsung padanya?" balas Tania dengan wajah bingung.
Apa mereka belum pacaran? Kenapa dia tidak tahu kabar David? Batin Ronald menerka.
Sejak pertemuan Ronald dengan David sebelumnya di pesta perpisahan Tania malam itu, Ronald mengira bahwa David dan Tania mungkin sudah berpacaran.
Namun mendengar ucapan Tania barusan, sepertinya dugaannya salah.
Bersambung\=\=\=\=\=>
__ADS_1
Terimakasih atas dukunganya selama ini dan saksikan terus kelanjutan novel NYT. 🤗