
Rania hanya memakan satu tusuk papeda dan meneguk beberapa tegukan es dawet. Masih ada sembilan ikat es dawet lagi dan beberapa tusuk papeda. Melihat sisa makanan dan minuman yang masih banyak sekali di atas meja, Zein pun akhirnya memberikannya pada beberapa karyawannya di rumah, dari pada terbuang. Pikirnya.
"Bi..." Teriak Zein memanggil Bibi Ros.
"Ya, Tuan... Ada yang bisa Bibi bantu?" jawab Bibi Ros.
"Jika ada yang mau... Silahkan di makan. Yang ini belum di sentuh ataupun di makan oleh Nyonya. Jika tidak, kau boleh membuangnya, Bi." perintah Zein.
"Baik, Tuan." Bibi Ros mengangguk.
Setelah itu, Zein berjalan menaiki tangga menyusul Rania yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Seperti biasa, begitu Zein masuk ke dalam kamar. Mendapati istrinya yang sedang memuntahkan makanannya.
Ueeek...ueeek...
Terdengar suara muntahan dari dalam toilet.
Dengan perasaan panik Zein segera masuk ke dalam toilet.
"Sayang... Apa tidak bisa menahan rasa mualnya? Kau baru saja memasukkan makanan, itupun hanya sedikit."tanya Zein dengan wajah khawatir.
Rania menatap cermin yang ada di depannya, mengusap mulutnya yang basah karena telah membasuh wajahnya, mengelapnya dengan handuk kecil.
Matanya terlihat berkaca-kaca, ada gumpalan bening dimatanya yang mulai jatuh.
"Aku juga lelah harus selalu memuntahkan makanan yang baru saja ku makan, tapi... Beginilah kondisiku saat ini." jawab Rania dengan suara lemas, sesekali ia mengelus bagian perutnya.
Mendengar jawaban dari istrinya, Zein seolah ikut merasakan apa yang di rasakan istrinya saat ini, jelas ini tidak mudah. Pikir Zein.
"Maafkan aku, sayang... Semoga kau kuat menjalani masa-masa ini demi anak kita." Zein memeluk dengan hangat tubuh istrinya, menempelkan dagunya di bahu istrinya lalu mengecupnya.
Lalu Zein menggendong tubuh istrinya, meletakkannya dengan sangat pelan ke atas kasur, tangannya mulai melepaskan kancing baju Rania. Seolah terhipnotis, Rania hanya diam tak bergerak, menatap dengan tatapan dalam ke wajah suaminya.
Setelah melepaskan seluruh kancing baju istrinya sampai terlepas dan hanya tersisa bagian dalam yaitu penutup dada, Zein berdiri sejenak, membuka jas dan kemejanya serta celana hingga tersisa bagian dalam celana berukuran pendek.
Zein mulai membungkukkan tubuhnya kembali, mendekati Rania perlahan, melepaskan seluruh lapisan kain yang menempel di tubuh Rania lalu mulai menaikkan kakinya ke atas kasur dan terjadilah pertempuran santai dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati namun tetap bisa merasakan kenikmatannya.
Setelah kurang lebih setengah jam pertempuran itu berlangsung, akhirnya selesai. Zein masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah Zein keluar, bergantian Rania pun masuk ke dalam untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah keduanya selesai membersihkan tubuh mereka, keduanya memilih untuk beristirahat di atas kasur, di bawah selimut yang hangat.
"Sayang..." Zein memanggil dengan suara lembut.
"Ya." jawab Rania singkat.
Matanya hanya tertuju pada langit-langit kamar.
Kemudian Zein memiringkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di atas perut Rania, menatap penuh cinta wajah istrinya yang terlihat cantik meski dari samping.
Lalu Rania pun memiringkan tubuhnya, melingkarkan tangannya pada bagian pinggang suaminya dan di tatapnya wajah tampan suaminya.
__ADS_1
Bagaimana aku menjelaskan soal kepergianku besok...? Zein membatin penuh rasa cemas.
Mungkin ini adalah yang terberat bagi Zein, ia tidak pernah sekalipun meninggalkan istrinya walau hanya satu malam selama pernikahannya.
Namun kali ini ia harus meninggalkan istrinya yang tengah berbadan dua. Terlebih dengan kondisi hamil payah, namu di satu sisi Zein juga tidak bisa mengajak istrinya karena keadaan Rania yang tidak bisa di ajak pergi karena sedang mabuk berat akibat kehamilannya.
Setelah beberapa menit keduanya saling bertatapan yang entah mereka sendiri yang dapat mengartikan arti dari tatapan tersebut.
"Sayang..." dengan suara lembut Rania memanggil suaminya.
"Ya..." jawab Zein sembari tersenyum simpul.
"Jangan pergi jauh-jauh ya... Aku mau kau terus berada di sini selama aku hamil." ucap Rania dengan wajah penuh harap.
Entah kenapa, malam itu, Rania merasa tidak ingin Zein pergi jauh darinya. Ia ingin Zein terus berada di dekatnya selama masa kehamilannya. Rania sendiri belum tahu, jika sebenarnya suaminya akan meninggalkan dirinya besok pagi ke luar negeri untuk urusan bisnis.
Ya Tuhan... Bagaimana mungkin aku sanggup mengatakan padanya soal keberangkatanku besok ke Singapura? Jika belum bicara saja, dia sudah menahanku untuk pergi. Zein membatin penuh rasa khawatir begitu mendengar Rania yang justru memintanya tetap bersamanya. Padahal Zein belum mengatakan apapun soal keberangkatannya besok ke Singapura.
"Sayang... Kenapa tiba-tiba kau bicara seperti itu?" tanya Zein dengan wajah sendu.
"Tidak apa-apa... Aku hanya merasa takut, jika suatu hari nanti kau akan pergi meninggalkanku untuk urusan pekerjaan," kata Rania dengan wajah sedih. "Aku tahu kau itu sangat sibuk dalam pekerjaanmu." lanjutnya sembari menyentuh pipi Zein dengan telapak tangannya.
Mendengar ucapan Rania barusan, membuat Zein semakin tidak sanggup untuk mengatakan keberangkatannya besok. Zein benar-benar dilanda rasa bingung pada saat itu.
"Sayang... Kau tidak perlu takut jika ternyata aku harus pergi dalam urusan pekerjaan selama beberapa hari...! Disini ada banyak orang yang akan menjagamu dan memenuhi semua kebutuhanmu, kau tinggal perintahkan saja mereka." Zein berusaha memberi pengertian pada Rania.
"Hem... Lebih baik kita jang membicarakan ini sayang... Lagi pula kau juga tidak akan pergi sekarang-sekarang ini, kan?" kata Rania sembari menatap wajah suaminya.
Walau berat, Zein tetap harus mengatakannya.
"Kau pasti bercanda." sahut Rania dengan wajah setengah terkejut.
"Tidak sayang... Aku serius, tadi pagi aku dan Ronald sudah membicarakan soal ini." jelas Zein.
Mendengar ucapan Zein, Rania langsung membalikan tubuhnya dan membelakangi Zein seolah sebuah isyarat bahwa dirinya sedang marah.
Zein mendekatkan tubuhnya lebih dekat hingga menempel pada tubuh Rania, memeluknya dengan erat dari belakang tubuh Rania.
"Sayang... Jangan seperti ini, jika kau seperti ini, aku tidak bisa tenang meninggalkanmu pergi." Zein berusaha memberikan pengertian perihal kepergiannya yang hanya beberapa hari.
Rania tetap diam dan tak bersuara.
"Kau tidak perlu cemas... Kau boleh memanggil ibumu atau Tania menemanimu di sini selama aku di sana." Zein masih terus memberikan pengertian pada Rania sampai Rania bisa menerima keputusannya.
"Bagaimana jika aku ikut?" Rania mencoba memberikan usul.
"Tidak bisa, sayang... Kehamilanmu masih sangat rentan untuk beraktifitas terlalu berat, perjalanan di pesawat akan membuat kelelahan, belum lagi... Saat ini kau sedang mabuk berat. Bagaimana jika terjadi hal-hal yang tidak di dinginkan padamu selama di dalam pesawat?" jelas Zein.
Zein menjelaskannya dengan detail, alasannya tidak bisa mengajak Rania pergi bersamanya untuk kali ini.
"Hem... Kenapa harus sekarang sih?" Rania bergumam.
__ADS_1
"Karena urusan bisnisnya memang harus sekarang, sayang." jelas Zein.
"Hemmm... Kau tidak pergi bersama seorang wanita kan?" entah kenapa Rania melemparkan pertanyaan ini pada Zein.
"Hahahah..." seketika Zein tertawa mendengar pertanyaan dari Rania yang seolah olah menunjukkan rasa cemburu.
"Kenapa tertawa?" Rania berbalik badan lagi, kini badannya sudah menghadap ke arah Zein, keduanya saling bertatapan.
"Tadinya aku hanya akan pergi dengan Ronald, tapi setelah di pikir-pikir... Sepertinya membawa Sely juga, ide yang bagus."jawab Zein dengan nada bicara menggoda.
"Sayang... Siapa itu Sely? Jangan main-main ya...! Ada anakmu di perutku." Rania mengancam.
"Hahaha... Memangnya kenapa kalau ada anakku di perutmu, sayang?" tanya Zein meledek.
"Jika kau macam-macam dengan seorang wanita... Aku akan pergi dan sudah pasti akan membawa anakmu juga, setelah itu, aku tidak akan mengizinkanmu bertemu meski hanya sekali." Rania memberikan ultimatum jika sampai Zein macam-macam dengannya apa lagi dengan wanita lain.
"Waduuuh... Jangan gitu dong, sayang." Zein memasang wajah memelas.
"Pokoknya... Kesalahan apapun yang kau lakukan, aku masih bisa memaafkan, kecuali perselingkuhan...!!" dengan tegas Rania mengancam.
Mendengar ucapan Rania, Zein hanya diam dan tersenyum.
Sekarang malah tersenyum gak jelas, aku kan sedang marah. Rania bergumam.
Zein menyentuh pipi Rania, menatap dalam wajah Rania.
"Sayang... Bagaimana mungkin aku sanggup berselingkuh darimu? Aku bahkan masih mengingat dengan jelas, bagaimana aku mendapatkan hatimu dulu." ucap Zein dengan wajah sendu dan tatapan penuh makna.
Mendengar ucapan Zein, Rania tak menimpalinya barang satu kata pun. Ia hanya tersenyum dengan tatapan penuh makna, sama halnya dengan Zein yang juga menatapnya dan keduanya saling bertatapan.
"Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu selama aku pergi, besok akan ada dokter Gea datang ke rumah, dokter kandungan yang akan menginap di rumah ini untuk beberapa hari selama aku di sana, apapun keluhanmu, kau katakan saja padanya. Mengerti...?" Zein menjelaskannya panjang lebar.
Begitu Zein mendengar soal urusan pekerjaannya yang penting di Singapura dari Ronald tadi siang, Zein langsung mengatur segalanya dengan sempurna untuk Rania sebelum dirinya pergi besok pagi, termasuk menghubungi dokter Gea.
Rania hanya mengangguk setuju. Untuk kali pertamanya ia benar-benar mendengar dan mematuhi perintah Zein tanpa membantah sedikitpun.
"Ya sudah... Ini sudah malam, kau istirahatlah." Zein meminta Rania untuk istirahat.
Lagi-lagi Rania hanya mengangguk sembari tersenyum.
Entah apa yang di rasakannya malam itu? Hingga membuatnya menjadi sangat pendiam dan penurut.
Malam semakin larut, membuat keduanya ikut larut dalam keheningan malam yang syahdu kala itu, hingga membuat keduanya terlelap dalam tidur mereka.
Bersambung\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
TERIMAKASIH. 🙏🏻
__ADS_1