Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Hati yang kasmaran.


__ADS_3

Malam itu sama seperti malam-malam biasanya, keduanya hanya tidur dibawah satu selimut yang sama, kondisi Rania yang masih belum memungkinkan untuk melakukan malam pertama, membuat Zein harus lebih bersabar menunggu sampai istrinya benar-benar sembuh dari luka tembak seminggu yang lalu.


*Keesokan harinya.


🌸Selasa pagi yang cerah🌸


"Zein..." Rania memanggil.


"Kenapa sayang?" jawab Zein yang masih setengah sadar, ia masih menikmati tidurnya di bawah selimut yang sama dengan Rania.


Rania menyentuh wajah Zein dengan sangat lembut, lalu mengatakan lagi. "Zein..." berharap suaminya membuka mata karena panggilannya.


"Ehm..." Zein bergumam, dan masih tetap memejamkan matanya.


Haishh... Suaraku tidak ada artinya sama sekali baginya. Gerutu Rania kesal.


"Sayang.... "


Begitu Rania memanggilnya dengan sebutan sayang. Zein langsung membuka kedua matanya lalu tersenyum semanis mungkin di depan istrinya.


Hadeh... Rupanya dia hanya ingin di panggil sayang. Rania kembali membatin.


"Begitu aku memanggilmu, sayang. Kau langsung membuka matamu. Huuuh... " Kata Rania kesal sambil memanyunkan bibirnya.


Zein selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan, begitu Rania cemberut dengan bibir manyun. Dengan sergap, Zein malah mendaratkan kecupannya, lalu melepaskannya lagi. Kecupan singkat yang hanya beberapa detik saja. Sambil mengulurkan lidahnya, seolah merasa senang.


Sementara itu, Rania hanya diam, tersipu malu. Sambil memegangi bibirnya.


Melihat tingkah Rania justru membuat Zein semakin gemas. Saat Rania sedang melamun sembari memegangi bibirnya, Zein kembali mendaratkan kecupannya. Namun kali ini ia mendaratkan kecupannya di kening Rania.


Rania terkejut, kini ia menempelkan telapak tangannya pada keningnya, mengernyitkan alisnya seraya berkata. "Nanggung banget sih... Kenapa gak seka..." belum sempat Rania melanjutkan perkataannya. Zein langsung menyambar bibirnya lagi, namun kali ini, bukan sebuah Kecupan singkat. Melainkan ciuman maut, jurus andalannya.


Keduanya saling mengigit bibir satu sama lain di atas ranjang dan di bawah selimut yang sama. Zein mulai meraba bagian dada Rania, lalu menelusuri bagian perut Rania, menyentuh secara lembut hingga jarinya mulai menyentuh belahan dada Rania. Ia terus menelusuri setiap bagian tubuh Rania, masih dengan bibir yang terus ******* bibir Rania. Namun, ketika jarinya mulai menelusuri bagian pinggang rania, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Dan ternyata ia sadar bahwa masih ada perban yang menempel di bagian perut dekat dengan pinggang Rania. Seketika ia melepaskan ciuman mautnya itu, mengeluarkan tangannya dari dalam baju Rania dan terpaksa menghentikan aksinya yang selalu tanggung.


Ibarat sebuah ketegangan yang hampir memuncak. Harus terhenti karena luka yang masih belum sembuh total di bagian perut Rania akibat luka tembak seminggu lalu.


Zein membelai rambut Rania sambil menatap dalam wajah istrinya yang hanya berjarak satu jengkal saja dari wajahnya. "Sayang... Apa lukanya masih terasa sakit?" tanya Zein.


"Tidak terlalu, hanya ketika tersentuh, ada sedikit nyeri saja." jawab Rania.


"Nanti aku akan hubungi dokter Viona untuk datang dan mengecek kondisi perutmu yah?" kata Zein sambil tersenyum dan memeluk mesra tubuh istrinya.


"Sepertinya tidak perlu, Zein. Kata dokter lukanya akan membaik dalam waktu tujuh sampai sepuluh hari. Tunggu saja tiga hari lagi. Sepertinya akan membaik di hari ke sepuluh." Rania mencoba menjelaskan.


"Hmmm begitu... Baiklah. Kalau kau merasa sakit atau apapun. Telepon aku, atau minta Bibi Ros agar menghubungi dokter Viona." jelas Zein. Rania mengangguk setuju.


🌸Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi menjelang siang.🌸


"Sayang... Apa kau tidak ke kantor hari ini?" Rania mengingatkan.

__ADS_1


"Ah... Iya, aku hampir lupa." Zein tertawa kecil.


"Berada di dekatku, apa membuatmu melupakan segalanya...?" goda Rania, sambil menyentuh hidung suaminya dengan telunjuk.


"Tentu saja... Kau sudah menyihir hidupku. wajahmu benar-benar memantrai pikiranku hingga melayang dan terus memikirkanmu saat di manapun." balas Zein menggoda.


"Hahaha... Apa kau sedang menggombaliku?" tanya Rania sambil tertawa.


"Jika kau berkata itu lagi dengan tawamu yang manis itu, aku tidak akan tahan menahannya lagi. Bisa-bisa aku hilang kendali dan menerkammu sampai habis tak berdaya." Zein memperingati agar istrinya tidak menggodanya terus dengan senyum manisnya.


Trddd... Trddd...


Suara ponsel Zein berbunyi. Hingga membuyarkan cumbuan dua kekasih yang sedang di landa cinta di atas kasur.


"Sayang... Ponselnya berdering." ucap Rania.


"Iya... Sebentar biar ku angkat." timpal Zein, sambil melepaskan pelukannya dan menggeser tubuhnya, lalu menjawab panggilan di ponselnya.


"Iya, ada apa Ron?" tanya Zein.


"Selamat pagi, Tuan, apa tuan masih berada di rumah?" tanya Ronald dari seberang telepon yang saat itu sudah berada di kantor Zein.


"Iya... Aku masih di rumah, ada apa Ron?" tanya Zein.


"Maaf, tuan, aku hanya ingin mengingatkan bahwa hari ini ada jadwal meeting dengan Grup Prime Food, tuan?" Ronald mengingatkan.


"Astaga... Aku lupa. Apa mereka sudah datang?" tanya Zein lagi.


Setengah jam... Perjalanan dari sini ke kantor butuh waktu satu jam. Jelas tidak akan sempat. Batin Zein menerka.


"Ron, sepertinya... Aku tidak bisa datang tepat waktu sampai rapat di mulai. Sementara ini, kau yang akan menggantikanku dan mengurus semuanya. Aku akan datang siang ini." jelas Zein.


"Baik, tuan." Ronald setuju. Lalu Zein mengakhiri sambungan telepon itu.


Zein bergegas bangun dari tidurnya, berjalan menuju kamar mandi.


Sementara itu, Rania tetap di atas kasur. Ia masih ingin berada di kasur, entah kenapa hari itu, ia ingin bermalas-malasan di atas kasur.


Ketika Zein selesai mandi, sambil berjalan, ia mengibaskan rambutnya dengan handuk kecil yang menempel di kepalanya.


Melihat Rania yang masih asik di atas kasur, membuat hasratnya kembali bergejolak. Ia duduk di tepi kasur, menaikkan kakinya lalu memeluk tubuh Rania yang sedang tidur miring membelakanginya.


Menyadari pelukan suaminya, Rania pun membalik tubuhnya. Keduanya sudah beradu tatap lagi.


Tubuh Zein yang terlihat basah dan menyebarkan aroma harum membuat jantung Rania berdebar seolah ada hasrat berbeda saat itu.


"Sayang... Bukannya kau harus ke kantor sesegera mungkin?" Rania mengingatkan kembali.


"Entahlah... Kenapa setiap kali aku melihatmu apa lagi ketika mataku menyapu seluruh bagian tubuhmu. Aku merasa seperti terhipnotis. Seluruh tubuhmu, benar-benar membuatku terhipnotis dan tak ingin jauh dari sisimu." Zein kembali menggoda istrinya.

__ADS_1


"Ah... Kau selalu saja menggodaku. Sudah pergi kerja sana... Nanti di telepon Ronald lagi loh...!" pinta Rania sambil melepaskan tangan suaminya yang begitu senang memeluk tubuhnya yang mungil.


"Iya.. Iya... Aku akan segera ke kantor. Cepat bangun!" Zein meminta Rania untuk segera bangun dari tidurnya.


"Ihhh... Kenapa memangnya? Aku masih ingin tiduran... Biarkan aku seperti ini. Aku sedang malas beraktifitas." bantah Rania dengan nada manja.


"Bagaimana aku berangkat kerja, jika kamu masih tidur di atas kasur seperti itu?" ucap Zein sambil melirik tubuh Rania.


"Loh... Memang kenapa? Apa hubungannya aku tidur di atas kasur dengan kepergianmu ke kantor?" tanya Rania heran.


"Tentu saja ada hubungannya... Jika kau terus tidur di atas kasur seperti ini. Aku tidak akan bisa berpaling dari memandangi tubuhmu dan memelukmu." jelas Zein, sambil merangkul kembali tubuh Rania lalu tersenyum simpul.


"Ah... Kau ini selalu saja menggombaliku. Udah ah... Aku bangun nih." ucap Rania sambil mengangkat punggungnya lalu menuruni ranjang.


Kini Rania sudah dalam posisi berdiri di depan Zein yang masih tidur di atas kasur.


Melihat Rania berdiri bertolak pinggang dengan bibir manyunnya. Zein segera bangkit dari tidurnya dan mendekati Rania.


Bukannya segera berangkat ke kantor, Zein malah memeluk Rania lagi dan lagi. Entah kenapa dia begitu senang memeluk tubuh istrinya yang mungil itu.


"Tuh... Kan, aku sudah bangun dan berdiri. Kau masih saja memelukku. Lalu kapan kau akan pergi ke kantor jika seperti ini terus, sayang....?" ucap Rania sambil menempelkan kedua tangannya di pipi suaminya lalu tersenyum.


Alih-alih melepaskan pelukannya, Zein justru menyambar bibir mungil rania yang terlihat sangat manis saat tersenyum, lalu mendaratkan kecupan singkatnya lagi.


Aishh... Hari ini sebenarnya dia kenapa sih? Begini saja terus. Gerutu Rania kesal dan tidak tahu lagi harus bersikap apa di depan suaminya agar tidak menimbulkan hasrat suaminya naik.


"Sayang... Aku harus bagaimana, jika kau terus menempel terus di tubuhku seperti ini?" tanya Rania pasrah.


"Diam... Kau hanya perlu diam." jawab Zein sambil mengecup mesra rambut atas kepala Rania yang tubuhnya hanya setinggi ketiaknya saja.


"Baiklah... Aku akan diam sampai kau bosan memelukku." Rania mulai pasrah.


Tidak lama setelah Rania mengucapkan kalimat pasrah, Zein menggendong tubuh Rania dan meletakkan tubuh istrinya di atas kasur kembali.


Rania tampak bingung dalam diam nya.


Orang ini... Semakin lama semakin membuatku bingung saja. Apa seaneh ini sikapnya saat sedang kasmaran? Rania menggerutu heran.


"Apa kau akan menerkamku lagi?" tanya Rania penasaran.


Zein menundukkan kepalanya mendekati telinga Rania yang sedang meringkuk di atas kasur seraya berbisik. "Aku mencintai seluruh yang ada di tubuhmu." sambil mendaratkan kecupan singkatnya di kening Rania, dan menegakkan kembali punggungnya, berlalu meninggalkan Rania dan menutup kamarnya.


Melihat tingkah manja suaminya membuat Rania hanya tersenyum-senyum malu di atas kasur. Dan menutup kepalanya dengan selimut.


*Bersambung.


➡️LIKE➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


jangan lupa mampir di novel baruku ya

__ADS_1


➡️(TERJEBAK CINTA DALAM PENCARIAN)


TERIMAKASIH. 🤗❤️


__ADS_2