Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Papeda part 2


__ADS_3

Zein dan Ronald beserta Pak Surya mulai menelusuri setiap penjual yang menjajakan jajanan anak SD.


Sampai mata Zein tertuju pada sebuah gerobak kecil, dilihatnya seorang seorang penjual paruh baya sedang menggulung kayu berukuran kecil di atas wajan. Penjual tersebut tampak begitu mahir menggulung makanan berbentuk seperti lumpia, lalu di taburi saus, serbuk berwarna merah dan putih di atasnya, kemudian di gulung hingga membentuk gulungan.


Jajanan tersebut tampak begitu menarik hingga membuat Zein ingin mencobanya.


Zein mulai mendekati penjual tersebut dan berdiri tepat di depan gerobak bersama beberapa anak kecil yang juga sedang mengantri jajanan tersebut.


"Paman... Kalo mau beli, antri di belakang dong...!" celetukan dari seorang anak kecil yang berada di samping Ronald.


"Iya... Benar."


"Tau nih... Maen selang aja."


Teman-temannya ikut bersuara.


Mendengar celoteh dari anak SD yang memintanya untuk antri di belakang, akhirnya Zein pun mengikuti perintah mereka.


Kalian masih anak-anak, tapi sudah menjengkelkan, bagaimana jika sudah dewasa? Batin Zein kesal.


Zein pun akhirnya berjalan mundur mengikuti barisan, berdiri di urutan paling belakang.


"Hey... Kau, iya kau." tanya Zein pada salah seorang anak kecil yang berdiri di depannya.


"Aku...?" tanya anak kecil tersebut dengan gerakan menunjuk hidungnya.


"Iya... Siapa lagi? Apa nama makanan ini?" tanya Zein dengan kepala menunduk dan menatap wajah anak laki-laki tersebut.


"Masa paman gak tahu sih?" jawab anak laki-laki tersebut sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya..!" balas Zein kesal.


"Tanya saja pada penjualnya." sahut anak laki-laki tersebut sembari membalik badan lalu membelakanginya.


Astaga... Kenapa anak ini begitu menyebalkan? Batin Zein heran.


Sementara itu, Ronald dan Pak Surya mendekati Zein begitu melihat Zein sedang ikut mengantri makanan tersebut.


"Tuan, sedang apa disini?" tanya Ronald.


"Entahlah... Aku tertarik dengan makanan ini, proses pembuatannya cukup menarik." balas Zein sembari tersenyum, "Apa kau mau?" lanjutnya sembari melirik ke arah Ronald dan juga Pak Surya.


"Oh ya... Apa kalian sudah menemukan papeda?" tanya Zein pada Ronald dan Pak Surya.


Ronald menggelengkan kepalanya. "Belum, Tuan." jawab Ronald.


"Bukankah Tuan sedang membelinya saat ini?" ucap Pak Surya sembari menunjuk gerobak penjual papeda.


Mendengar ucapan Pak Surya, Zein pun terkejut.


"Maksudmu... Ini makanan ini namanya papeda?" tanya Zein memastikan sambil menunjuk gerobak yang ada di depannya.


Pak Surya pun mengangguk. "Benar, Tuan." sahut Pak Surya.


Ya Tuhan... Dunia memang tak selebar daun kelor. Batin Zein heran.


Menyadari bahwa makanan tersebut adalah makanan yang sedang di carinya. Akhirnya Zein pun memutuskan untuk memborong semuanya.


"Ya sudah kalau begitu beli saja semuanya...!" perintah Zein pada Ronald.


"Baik, Tuan." Ronald mengangguk.


Sekarang... Tinggal mencari es dawet. Batin Zein mengingat.


"Lalu, di mana kita bisa mendapatkan es dawet, Ron?" tanya Zein dengan wajah bingungnya.


"Sebentar, Tuan... Biar aku coba menelusuri seluruh area sekolah ini. Siapa tahu, di sini ada yang jual." jawab Ronald.


"Iya Tuan... Biasanya juga di sekolah SD, ada juga yang menjual es dawet." ucap Pak Surya antusias.


"Baiklah... Kalian cari itu yang namanya es dawet...! Aku tunggu di mobil." balas Zein dengan wajah lelah.


Lalu Ronald dan Surya pun menelusuri area sekolah untuk mencari es dawet.


Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya Ronald dan Surya datang dengan membawa bungkusan papeda dan es dawet.

__ADS_1


Ronald memegang satu bungkus plastik ukuran sedang, sementara Pak Surya membawa sepuluh bungkus es dawet yang sudah di ikan dengan karet karena takut berceceran di dalam mobil jika tidak di ikat.


"Bagaimana... Apa kalian mendapatkannya?" tanya Zein penasaran.


Ronald dan Pak Surya mengangguk, pertanda bahwa mereka berhasil mendapatkan makanan dan minuman yang di inginkan istrinya.


"Kerja yang bagus." ucap Zein penuh rasa lega karena berhasil memenuhi keinginan istrinya.


Lalu Ronald dan surya segera masuk ke dalam mobil, Pak Surya mulai memacu mobilnya dan segera pulang.


"Tuan... Turunkan saja aku di depan sana, biar aku naik taksi." usul Ronald, saat mobil sedang dalam perjalanan pulang.


"Memangnya kenapa, Ron?" tanya Zein bingung mendengar pemerintah Ronald barusan.


"Saya mendapat chat dari Sely bahwa Saya harus kembali ke kantor untuk beberapa urusan dan persiapan besok selama di Singapura." jelas Ronald.


Sely adalah bawahan Ronald.


"Oh begitu, biar Pak Surya yang akan mengantarmu ke kantor setelah aku sampai di rumah." usul Zein.


"Tidak bisa, Tuan. Aku harus segera ke kantor." bantah Ronald.


"Tapi naik taksi terlalu beresiko." balas Zein mengingatkan.


"Tidak apa-apa, Tuan. Aku sudah biasa naik taksi." timpal Ronald.


"Baiklah jika itu maumu." balas Zein pasrah.


Tidak begitu lama, Pak Surya menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menurunkan Ronald di sana.


"Hati-hati, Ron." ucap Zein dari dalam mobil.


"Iya, Tuan. Terimakasih." balas Zein sembari tersenyum.


Lalu Pak Surya pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Zein.


Akhirnya Zein pun sampai di rumahnya dengan membawa pesanan istrinya. Tangan kirinya menenteng plastik bag yang berisi papeda, sementara tangan kanannya menenteng plastik bag berisi es dawet yang sudah tidak terlalu dingin, karena es nya mencair sewaktu dalam perjalanan pulang.


Begitu mendengar suara mobil suaminya, Rania pun segera bangkit dari kasurnya, berjalan cepat menuruni anak tangga, karena sudah tidak sabar ingin melihat apakah suaminya berhasil membawakan pesanannya.


Begitu sudah berada di ruang tengah, masih dalam posisi berdiri dan melihat istrinya berjalan cepat menuruni anak tangga. Sontak membuat Zein khawatir.


Zein melarang istrinya untuk menggunakan tangga dengan alasan, Rania yang selalu ceroboh dan tidak hati-hati.


"Ah... Iya lupa, ya sudah... Sudah terlanjur, masa mau naik lagi?" jawab Rania sembari menuruni tangga.


Namun Rania tidak memperdulikan perintah Zein karena sudah kepalang tanggung, dan terus melanjutkan langkahnya menuruni tangga.


Awas saja nanti... Biar ku tutup tangganya, mau tidak mau kau harus menggunakan lift. Batin Zein mengancam.


"Sayang... Apa kau mendapatkannya?" tanya Rania dengan wajah sumringah begitu sudah sampai di bawah dan berhenti tepat di depan suaminya yang masih berdiri menunggunya.


"Ya... Tentu saja." balas Zein dengan wajah bangga karena berhasil mendapatkan pesanan Rania.


Kemudian Zein berjalan mendekati sofa, meletakkan plastik bag tersebut di atas meja.


"Bi... Tolong ambilkan gelas...!" Teriak Zein pada Bibi Ros.


"Iya, Tuan." sahut Bibi Ros.


Zein duduk di atas sofa begitupun dengan Rania, ia duduk di samping Zein dan menunggu Bibi Ros membawakan gelas.


Tampak jelas raut bahagia di wajah Rania saat memandangi plastik bag yang ada di atas meja, sesekali ia menjulurkan lidahnya melihat makanan dan minuman yang sangat ingin di makannya dari tadi.


Melihat raut wajah bahagia di wajah Rania, tentu saja membuat Zein ikut bahagia dan terharu. Perjuangan mendapatkan es dawet dan papeda bisa membuat istrinya tampak bahagia, ia tidak menyangka bahwa hal sekecil ini saja bisa membuat istrinya terlihat bahagia.


Tidak lama, Bibi Ros datang dengan membawa gelas.


"Ini, Tuan." kata Bibi Ros sembari meletakkan gelasnya di atas meja.


"Terimakasih, Bi." balas Zein tersenyum.


Bibi Ros segera kembali ke tempatnya.


Seolah sudah tidak sabar ingin segera mencicipi papeda dan es dawet, Rania pun melepaskan ikatan karet yang merekat di plastik lalu menuangnya ke dalam gelas.

__ADS_1


Tiba-tiba Rania berhenti dari menuang es es dawet tersebut seraya berkata.


"Sayang..." suara Rania mengejutkan Zein.


Apa lagi ini? Jangan bilang ada yang salah... Batin Zein sudah ketakutan.


"Iya... Sayang, kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Zein ragu.


"Kenapa es nya tidak dingin?" jawab Rania dengan ekspresi kecewa.


Astaga... Hanya karena es nya sudah tidak dingin, dia bisa langsung pasang wajah cemberut. Batin Zein heran.


"Sayang... Wajar saja es nya jadi tidak dingin lagi, asal kau tahu, aku belinya jauuuuh banget." Zein berusaha menjelaskan.


Mendengar penjelasan Zein, akhirnya Rania tertawa.


"Hehehe... Benar juga." Rania tertawa menahan malu.


"Ya sudah... Tinggal dikasih es batu lagi saja...!" usul Zein.


Rania mengangguk sembari tersenyum.


"Bi..." Teriak Zein.


Bibi Ros segera mendekat. "Iya, Tuan, apa ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bibi Ros.


"Tolong ambilkan es batu ya, Bi..." perintah Zein.


"Baik, Tuan." jawab Bibi Ros singkat.


Bibi Ros pun segera mengambil es batu lalu memberikannya pada Zein.


"Ini, Tuan.." kata Bibi Ros lalu meletakkannya di atas meja.


Zein meraih es batu dan menaruhnya ke dalam gelas.


"Ini..." Zein menyerahkan gelas berisi es dawet pada Rania.


Rania meraihnya lalu mencoba meminumnya.


Begitu sudah di minum beberapa kali, Rania pun meletakkan gelas berisi es dawet tersebut di atas meja.


"Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Zein bingung.


Melihat Rania hanya meminumnya beberapa tegukan saja tanpa memakan isinya,Zein pun sedikit heran.


Seolah tidak sabar mendengar jawaban dari Rania kenapa hanya meminum sedikit, dengan wajah serius, Zein terus memandangi wajah istrinya yang tengah mengusap bibirnya dengan tissue.


"Rasanya biasa saja... Tidak seperti yang aku bayangkan." ucap Rania dengan wajah santai.


Astaga... Aku mendapatkannya dengan susah payah, bahkan aku membelinya sepuluh bungkus, dan dia hanya mencicipi beberapa tegukan saja...? Batin Zein heran.


Matanya kini beralih pada papeda, seperti ekspresi sbelumnya saat ingin menikmati es dawet. Rania memperlihatkan wajah senang dan bersemangat.


Tanpa menunggu waktu lama, Rania langsung mengambil satu tusuk papeda dan mulai melahapnya.


Kali ini Zein berharap Rania akan menyukainya dan menghabiskan papeda yang sudah di belinya.


Dengan wajah serius, Zein terus memperhatikan istrinya saat sedang mengunyah makanan tersebut.


"Bagaimana rasanya?" tanya Zein penasaran.


"Hem... Rasanya sama saja, beda dari sebelumnya saat aku makan papeda." balas Rania dengan wajah datar.


Mendengar ucapan Rania, Zein mulai frustrasi hingga menyandarkan kepalanya di bahu sofa.


Setelah menghabiskan satu tusuk papeda, akhirnya Rania memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


Pyuuuuh... Zein menghela napas dalam-dalam.


Ya Tuhan... Beri aku kekuatan menghadapi sikap anehnya sekarang-sekarang ini. Batin Zein merapal doa.


Bersambung\=\=\=>


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗

__ADS_1


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


TERIMAKASIH. 🙏🏻


__ADS_2