
Kemudian Ronald dan Tania mulai memasuki mobilnya, pergi berkencan di hari minggu pertama mereka berkencan.
Sepanjang perjalanan Ronald dan Tania tampak diam membisu untuk sesaat, entah karena keduanya menahan rasa malu satu sama lain. Yang jelas, Ronald merasa jantungnya berdebar sangat kencang, begitupun dengan Tania.
"Hmmm... Kita mau ke mana?" tanya Ronald dengan wajah menahan malu sambil fokus mengendarai mobilnya.
Tania tampak bingung dengan pertanyaan Ronald barusan, ia hanya menggaruk kepalanya seolah bingung, meski sebenarnya kepalanya tidak sedang gatal.
Setelah beberapa saat, Tania pun akhir menjawab.
"Terserah kak Ron saja... Aku ikut kemana pun kakak pergi." jawab Tania sambil tersenyum malu.
Sejenak Ronald diam, saat mendengar jawaban dari Tania yang mengatakan terserah. Ia sendiri sebelumnya tidak pernah kencan dengan seorang wanita, bahkan tidak pernah pergi ke tempat romantis. Sambil berpikir memikirkan tujuan kencan mereka, Ronald tetap fokus pada mobil yang di kendarainya.
Setelah beberapa saat, tanpa memberitahukan pada Tania kemana tujuan mereka pergi kencan. Akhirnya Ronald memutuskan untuk membawa Tania ke sebuah taman terdekat. Karena hanya itulah satu-satunya taman yang ia tahu dan pernah di singgahi.
Tidak berapa lama, mereka berhenti di sebuah tempat.
Sepertinya ini sebuah taman? Apa kita akan ke sini? Batin Tania menerka.
Namun Tania tetap diam dan tak bertanya, ia hanya berusaha mengikuti Ronald.
Setelah Ronald turun dari mobil, ia berlari kecil ke samping mobilnya dan membukakan pintu mobil Tania. Tania lalu keluar sambil tersenyum menatap wajah Ronald.
"Dimana ini?" tanya Tania sambil menyapu pandangannya pada sekeliling taman.
"Entahlah... Hanya ini tempat yang aku tahu. Lain kali, aku akan mencari tahu tempat yang lebih indah dari ini sebelum kita pergi berkencan." jawab Ronald dengan wajah datar dan malu-malu.
Mendengar jawaban dari Ronald barusan, membuat Tania ingin menahan tawa. Tania tidak pernah menyangka, bahwa laki-laki yang ada di sampingnya ini, yang saat ini menjadi kekasihnya, benar-benar seorang laki-laki yang polos.
"Aku suka..." ucap Tania dengan jelas.
Suka...? Apa maksudnya? Batin Ronald bingung mendengar ucapan Tania barusan.
Kemudian Ronald menghentikan langkah kakinya dan menatap wajah Tania dengan bingung.
"Iya... Aku suka tempat ini, adem dan sangat menenangkan." lanjut Tania sambil tersenyum menatap wajah Ronald.
__ADS_1
Taman yang saat ini sedang mereka singgahi, memang taman yang cukup sepi pengunjung, hanya ada beberapa pengunjung saja yang datang. Dan lebih di dominasi para muda-mudi. Ada beberapa kursi tersedia di sana, beberapa kafe dan juga terdapat danau di sana.
Setelah mendengar jawaban dari Tania, Ronald pun tersenyum karena Tania menyukai tempat itu dan tidak ada raut kekecewaan di wajah Tania.
"Bagaimana kalau kita duduk di sana...?" Ronald menunjuk ke arah danau.
Tania mengangguk setuju sembari tersenyum.
Lalu keduanya melanjutkan perjalanan mereka menuju danau.
Setelah berjalan beberapa meter, keduanya pun sampai di depan danau lalu duduk di kursi.
"Apa kakak sering ke tempat ini sebelumnya?" Tania bertanya di sela-sela waktu mereka menikmati pemandangan danau di depan mereka.
"Ya..." jawab Ronald datar.
Hem... Ternyata dia sering ke sini. Tapi, dengan siapa dia ke sini? Batin Tania sedikit cemburu.
"Oh... Sama siapa kakak kalau ke sini?" tanyanya lagi.
"Sendirian." jawab Ronald datar.
"Apa... Itu artinya, aku adalah wanita pertama yang kakak ajak ke sini?" tanya Tania dengan wajah malu.
Ronald tiba-tiba menatap wajah Tania dengan ekspresi membayangkan sesuatu.
"Sepertinya aku pernah ke sini selain denganmu." ucap Ronald sambil mengingat.
Mendengar ucapan Ronald barusan, jelas saja Tania sedikit terkejut dan penasaran dengan siapa dia ke tempat ini sebelum bersamanya.
"Dengan siapa? Apa dia seorang wanita?" tanya Tania dengan wajah penasaran.
"Hemm..." Ronald mengangguk.
Apa-apaan ini...? Dengan mudahnya dan bangganya dia mengatakan itu. Batin Tania kesal.
"Siapa wanita itu?" tanya Tania sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Ronald.
__ADS_1
Apa dia sedang cemburu? Batin Ronald menerka.
Saat cemburu seperti ini... Wajahnya bener-bener imut. Batinnya lagi.
"Evelin." jawab Ronald santai.
Apa...? Evelin...? Bagaimana bisa? Batin Tania semakin kesal begitu mendengar jawaban dari Ronald yang menyebut nama Evelin.
"Jangan marah...!" ucap Ronald di sela-sela wajah Tania yang sudah diliputi kemarahan.
Tania menatap tajam ke arah Ronald, bertanya-tanya dan penasaran mendengar penebalan dari Ronald.
"Aku dan Evelin selama ini msh berhubungan dengan baik, kami hanya berteman, tidak lebih, jadi jika kau melihat aku dan Evelin tampak akrab, tolong jangan marah...!" jelas Ronald.
"Aku tidak mengerti maksud kakak, yang aku tahu, seseorang yang sudah berkomitmen dalam suatu hubungan. Tidak akan berhubungan dengan lawan jenis satu sama lain melebihi batas kewajaran." ucap Tania dengan wajah sedikit kesal.
"Aku tahu itu... Untuk itulah aku mengatakan semuanya padamu, agar suatu saat ketika kau melihatku dan Evelin bicara layaknya seorang teman, kau tidak perlu cemburu ataupun marah padaku...! Saat ini, memilikimu saja, sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagiku." Ronald berusaha meyakinkan keraguan di hati Tania karena kecemburuannya terhadap Evelin.
Tania hanya diam begitu mendengar penjelasan dari Ronald.
Ronald meraih dan memegng telapak tangan Tania sambil mengatakan.
"Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu, kecuali hubungan kita saat ini dari orang-orang terdekat kita." ucap Ronald lagi.
"Lalu... Bagaimana dengan ciuman kakak dengannya saat itu? Jujur, sampai saat ini, aku masih penasaran." tanya Tania dengan wajah penasaran.
Mendengar pertanyaan dari Tania, Ronald pun tersenyum. Lalu menjelaskan kebenaran dari kejadiannya dengan Evelin kala itu.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Ronald. Tania tersenyum lega, karena ciuman antara Ronald dan Evelin saat itu tidak benar-benar dilandasi oleh rasa cinta.
Tiba-tiba Tania memeluk tubuh Ronald, mendekapnya dengan erat dan tentunya dengan perasaan tenang.
Selama ini ia selalu penasaran mendengar penjelasan dari Ronald. Kini setelah mengetahui segalanya, Tania bisa menerimanya dan tak lagi cemburu pada Evelin, meskipun tidak bisa di pungkiri bahwa ia masih merasa kesal dengan sikap Evelin. Namun memiliki Ronald saat ini adalah sebuah kebahagiaan yang harus ia syukuri, karena setidaknya, Ronald telah memilihnya dari sekian wanita yang mendekati.
Kini Ronald dan Tania benar-benar menjadi pasangan kekasih yang sedang bahagia. Namun, dalam cerita cinta dan kehidupan yang tidak bisa di pisahkan. Tentu akan ada banyak peristiwa yang akan terjadi.
Begitupun dengan Ronald dan Tania, Zein dan Rania hidup dengan bahagia sambil menanti hari kelahiran buah hati mereka.
__ADS_1
Untuk sementara ini, kisah mereka berakhir di sini ya teman-teman. Terima kasih untuk semua para readersku, tanpa dukungan dari kalian aku tidak akan bisa menyelesaikan novel ini. Untuk yang penasaran dengan kisah Tania dan Ronald, author akan pertimbangan kedepannya. Apa mungkin akan dilanjutkan atau tidak? Namun sementara ini, biarkan Zein dan Rania serta Ronald dan Tania hidup bahagia menjalani kisah cinta mereka. 😊
Selanjutnya, mungkin author akan buat novel baru yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya,meskipun entah kapan? Yang jelas author akan terus berkarya. Terus ikuti dan dukung author dalam berkarya ya. Sekali lagi terima kasih semuanya. 😊🙏🏻