Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Kepergok lagi di dapur


__ADS_3

Mendengar suara memanggilnya, Tania pun menoleh wajahnya seraya melempar senyum lebar.


Ya, Evelin masih mengingat Tania walau pertemuan mereka hanya beberapa kali sebagai sesama ipar.


"Hay... Evelin." Tania menyapa sambil tersenyum lalu beralih pandangan pada ponselnya yang saat itu sedang memainkan ponsel.


Sebenernya saat Evelin berciuman dengan Ronald. Baik Evelin maupun Tania, keduanya sama-sama tidak menyadari satu sama lain. Karena mereka tidak saling melihat dengan jelas.


Evelin sama sekali tidak mengetahui ada Tania di belakang karena tertutup tubuh Ronald. Sementara Tania hanya melihat seorang wanita sedang mencium Ronald. Tania baru menyadari bahwa wanita itu adalah Evelin saat ia melihat Evelin sudah tertidur di kursi mobil bagian depan, membuatnya harus tersingkir dari duduknya sebelumnya.


Tidak lama setelah perjalanan dari kebun strawberry menuju Villa, akhirnya mereka sampai di Villa tujuan mereka.


Begitu sudah sampai, Rania dan Zein langsung menuju kamar. Melihat Rania yang sudah cukup lelah karena berjalan-jalan di kebun strawberry. Akhirnya Zein memutuskan agar Rania beristirahat terlebih dahulu.


Sementara itu, Ronald sibuk mengatur beberapa hal yang perlu di atur, termasuk para pengawal yang turut ikut serta dalam liburan mereka.


Tania yang masih merasa kesal dan kecewa, memutuskan untuk masuk ke salah satu kamar lalu menutup dan mengunci kamar tersebut.


Di Villa tempat mereka berlibur memang di sediakan banyak kamar yang sudah tertata rapih dan bersih. Semua kamar memiliki fasilitas yang sama, sehingga mereka bisa memilih kamar manapun untuk di tempati selama mereka berlibur.


Ronald memang sudah menyiapkan semuanya sebelum mereka pergi, Villa pilihan Ronald juga Villa terbaik dengan fasilitas yang baik. Terdapat kolam renang yang menyatu dengan taman yang luas, saat berada di kamar bagian atas, panorama alam yang indah dan asri juga akan menghiasi mata mereka saat memandang dari jendela kaca kamar mereka.


Di sela-sela kesibukan Ronald mengatur dan mempersiapkan segala kebutuhan, Evelin datang dan menghampiri Ronald.


"Kenapa kau begitu sibuk? Apa kau tidak ingin istirahat...?" tanya Evelin dengan wajah santai.


"Jika Nona ingin istirahat, istirahatlah... Nona tidak usah perduli dengan bawahan sepertiku." jawab Ronald tegas.


Meski di dalam hati Ronald masih menyimpan kekecewaan dan kekesalan terhadap Evelin. Kenyataan bahwa Evelin adalah adik dari Tuannya, membuat Ronald harus bersabar dan menyimpan kekesalannya.


Lalu Ronald berjalan mendekati salah satu pengawalnya. Seolah tak pernah puas mengganggu Ronald, Evelin pun mengikutinya dari belakang.


Begitu Ronald berbalik badan dan melihat Evelin berada di depannya, jelas itu membuat Ronald kesal karena telah mengganggunya dalam bekerja.


"Nona... Bisakah anda tidak mengikuti-ku dan mengganggu pekerjaanku...!" ucap Ronald dengan nada penegasan.


"Siapa yang mengikutimu...? Kau saja yang terlalu percaya diri...!" sahut Evelin dengan wajah meledek.


Evelin berjalan melewati Ronald yang saat itu sedang berdiri dan duduk di salah satu kursi dekat taman.


Setelah sudah tidak ada lagi yang perlu dikerjakannya, Ronald pun berjalan masuk ke dalam rumah untuk memeriksa ruangan di dalamnya sembari memilih kamar untuknya tidur.


Sebenernya ada niat terselubung di hati Ronald, ia tidak hanya datang untuk mengecek kamar dan ruangan, tapi matanya menyapu sekeliling berharap bisa melihat Tania atau setidaknya tahu di mana letak kamar Tania.


Namun, karena area di dalam ruangan itu sangat luas dan hampir semua kamar di desain dengan motif yang sama. Hingga Ronald tidak bisa membedakan kamar mana yang di tempati Tania. Hanya nomor yang membedakan setiap kamarnya.


Tania belum juga keluar dari kamarnya, ia masih mengunci kamarnya dan berada di dalam kamar sambil memainkan ponselnya.


Rupanya Tania sedang asuk berkirim pesan singkat dengan David.


Setelah mencoba mencari dan mengelilingi seluruh area kamar dan masih belum bisa menemukan kamar Tania, Ronald pun merasa lelah, ia akhirnya memutuskan untuk memasak mie instan di dapur. Ronald memang belum makan siang semenjak sampai di puncak.

__ADS_1


Dapur di Villa tersebut memang sudah di siapkan beberapa makanan instan dan snack yang baru di beli dan di sediakan. Mau makan makanan instan jenis apapun ada di sana.


Saat airnya sudah mendidih, Ronald pun segera membuka bungkus mie instan dan memasukkannya ke dalam panci berukuran sedang. Lalu tangannya mulai meraih sayur caisim dan memotongnya kecil-kecil dan di masukan ke dalam panci berisi mie instan yang sudah lebih dulu ia masukan.


Ia kembali menggeser tubuhnya dan mencari mangkuk untuk wadah mie instan buatannya, namun ia tak menemukan di mana mangkuk itu di simpan. Sementara menunggu mie nya matang dengan sempurna, ia pun masih berusaha mencari mangkuk.


Tiba-tiba Evelin datang dan memberikan sebuah mangkuk berukuran sedang padanya.


"Apa kau mencari ini?" tanya Evelin yang saat itu berdiri di belakangnya.


Ronald bangun dari posisi jongkok, berdiri dan menatap wajah Evelin lalu meraih dengan kasar mangkuk tersebut dari tangan Evelin.


"Di mana Nona menemukannya?" tanya Ronald penasaran.


Pasalnya Ronald sudah mencarinya namun tidak ketemu.


Evelin berjalan mendekati sebuah lemari yang di menempel di tembok bagian atas, membuka dan memperlihatkan pada Ronald, ada banyak piring gelas dan mangkuk berjejer di sana, membuat Ronald terkejut.


Sial... Rupanya di sana mangkuk-mangkuk itu bersembunyi. Batin Ronald memaki dirinya yang tidak tahu.


Setelah melihat ekspresi Ronald, Evelin pun tersenyum getir, senyuman yang mengartikan sebuah ejekan.


Ronald pun mengangkat mie instan yang sudah matang, menuangnya ke dalam mangkuk berisi bumbu. Setelah itu ia duduk di kursi lengkap dengan meja makan yang besar.


Baru saja Ronald mulai melahap mie instan dengan sempit, Evelin duduk tepat di samping Ronald dan menggeser mangkuk tersebut setelah Ronald makan satu suapan.


"Bagaimana rasanya? Apa boleh aku mencobanya?" ucap Evelin sembari memperlihatkan ekspresi wajah tersenyum merayu.


"Nona... Anda bisa membuatnya sendiri...!" Jawa Ronald dengan tatapan kesal.


Ronald hanya tercengang melihat setiap kelakuan Evelin yang selalu semena-mena padanya.


Dan malangnya Ronald, setiap ia sedang berdua dengan Evelin meski bukan kemauannya, Tania selalu saja melihat momen dirinya sedang berdua dengan Evelin.


Di sudut dekat pintu, Tania berdiri memperhatikan Ronald dan Evelin dari jarak yang hanya tiga meter saja dari tempat Ronald dan Evelin duduk bersama. Dalam penglihatan Tania hanyalah seorang laki-laki dan perempuan sedang duduk bersama sambil menikmati semangkuk mie instan bersama. Membuat Tania semakin geram melihatnya.


Sebenernya Tania pergi ke dapur hanya untuk membuat mie instan, namun sayangnya, matanya sudah terlalu sakit melihat Ronald yang selalu berdekatan dengan Evelin. Membuatnya berpikir untuk kembali ke kamarnya.


Menyadari kehadiran Tania di sana, Ronald menatap Tania dengan wajah bersalah. Meski keduanya tidak memiliki status hubungan yang pasti, namun keduanya saling merasakan. Saat Ronald bersama Evelin, Ronald tahu apa yang di rasakan Tania hingga membuat Tania selalu kesal padanya.


Keduanya saling beradu tatap dari jarak jauh dengan tatapan tajam yang entah hanya mereka yang tahu arti dari tatapan itu. Evelin masih asik dengan mie instan buatan Ronald sampai tidak menyadari kehadiran Tania yang sedang berdiri di sana memperhatikan mereka.


Tania akhirnya memutar balik tubuhnya lalu kembali ke kamarnya. Sayangnya begitu ia baru saja melangkah meninggalkan mereka, Evelin memanggilnya dengan suara yang cukup keras.


"Tania....!" panggil Evelin.


Mendengar panggilan dari Evelin, rasanya ingin sekali Tania pura-pura tidak mendengarnya. Namun sayangnya ia sudah terlanjur menghentikan langkahnya begitu mendengar suara Evelin memanggilnya.


Tania akhirnya berbalik badan sembari melempar senyum pada Evelin.


"Kenapa balik lagi?" tanya Evelin heran.

__ADS_1


"Hehe..." Tania hanya membalas dengan tawa kecil.


"Sini gabung sama kita...! Kita lagi makan mie instan nih..." Evelin melambaikan tangannya meminta Tania untuk duduk bersama mereka.


"Ah... Aku masih kenyang. Kalian nikmati saja makan kalian. Aku akan kembali ke kamar." balas Tania sembari berlalu meninggalkan mereka.


"Hem... Kenapa dia?" ucap Evelin dengan nada heran.


Ronald hanya menghela napas dan membatin penuh kekesalan.


Evelin kembali melanjutkan makannya seolah tak perduli dengan orang-orang di sekelilingnya.


Merasa sudah tidak tahan terlalu lama berada bersama Evelin, Ronald pun memutuskan untuk pergi. Ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Evelin yang masih asik menikmati mie instan buatannya.


"Hey... Kau mau kemana?" tanya Evelin terkejut melihat Ronald bangkit dari duduknya sebelum menghabiskan mie instan yang saat ini sedang ia nikmati.


"Ada urusan... Habiskan saja mie instannya...! Jika masih kurang, kau bisa memasaknya sendiri...!" balas Ronald membelakangi Evelin.


Ronald berjalan melewati beberapa lorong yang di sebelah kiri dan kanannya terdapat pintu-pintu kamar lengkap dengan nomor kamar. Matanya mencermati setiap nomor yang tertera di depan pintu, berharap bisa menemukan kamar Tania. Sayangnya semua kamar tertutup hingga ia tidak bisa mengetahui di mana kamar Tania, ia juga tidak bisa dengan tidak sopannya membuka setiap pintu hanya untuk memastikan di mana kamar Tania?


Begitu melihat Ronald pergi meninggalkannya, Evelin pun bangkit dari duduknya meninggalkan dapur dengan menyisakan mie instan buatan Ronald yang sebelumnya begitu ia nikmati.


Sementara itu di dalam kamar, Tania tampak duduk menyandar di punggung kasur, menekuk kedua kakinya sembari memegang ponsel miliknya. Sesekali ia membalas chat yang masuk dari David.


David: sedang apa kau, Tania?


Tania: aku sedang bete...!


David: apa kau masih berada di puncak?


Tania: Ya, tentu saja.


David: Di mana tepatnya?


Tania: entahlah... Yang aku tahu, kami berada di Villa yang tidak jauh dari Fresh Strawberry Garden.


David: kapan rencana pulang?


Tania: Aku tidak tahu kapan pastinya, kemungkinan besok sore, Memangnya kenapa?


David: tidak apa-apa, ya sudah... Selamat berlibur.


Cih... Dasar aneh. Ya... Dia memang selalu aneh. Batin Tania berdecak.


Bersambung\=\=\=>


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗

__ADS_1


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


Terimakasih. 🙏🏻


__ADS_2