Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Tersesat


__ADS_3

Sebelum membaca, author mau ingetin kalian untuk terus dukung author dengan cara:


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️FAVORIT➡️BERI BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


💞Selamat membaca💞


Pagi itu, setelah melakukan serangan pada istrinya, tampak raut wajah berbunga di wajah Zein. Ia pergi sejenak untuk menemui kawan lamanya yang bernama David.


Baru saja Zein melangkahkan kakinya beberapa langkah. Tiba-tiba ia bertemu dengan Yina yang saat itu sedang berjalan dan menemui David.


"Hai... Zein, kau di sini rupanya? Di mana istrimu?" sapa Yina penasaran.


Seperti biasa, Yina selalu menunjukkan wajah manisnya di depan Zein.


"Kau juga sedang apa di sini? Istriku sedang istirahat di kamar." jawab Zein dengan ekspresi wajah sumringah, lain dari biasanya.


Wajah yang penuh aura bahagia menikmati indahnya sebuah pernikahan atas dasar cinta. Cinta yang di dapatkan karena ketulusan dan kesabarannya menaklukkan hati istrinya yang sebelumnya tidak pernah mencintainya. Jangankan untuk perasaan cinta. Untuk sikap menerima saja, Rania tidak pernah menunjukkannya pada suaminya.


Istirahat...? Wajahnya terlihat sangat senang... Apa mereka baru saja...? Batin Yina menebak penasaran melihat raut di wajah Zein begitu penuh aura bahagia.


Ia terlihat sangat kesal, namun ia sadar jika dirinya tidak bisa menghalangi percintaan mereka yang sudah terikat pernikahan. Yina hanya bisa menunjukkan kemarahannya dengan mengepalkan tangannya.


"Kau mau ke mana?" tanya Yina sambil menyembunyikan rasa kesalnya.


"Oh... Aku mau menemui David, sedang apa dia sekarang?" jawab Zein.


"Aku tidak tahu dia sedang apa... Kita pergi bersama saja, kebetulan aku juga mau menemuinya." usul Yina.


"Benarkah? Baiklah..." ucap Zein sambil tersenyum.


Mereka berjalan bersama untuk menemui David. Yina tampak berjalan memepet tubuh Zein. Namun Zein yang menganggapnya biasa dan tidak lebih dari teman. Tidak menyadari sikap Yina yang selalu ingin dekat dengannya.


Sementara itu Rania bergegas untuk membersihkan diri setelah mendapatkan serangan maut dari suaminya berkali kali. Setelah selesai mandi, ia memutuskan untuk pergi menyusul suaminya sembari berjalan-jalan melihat suasana pantai.


Ia berjalan menyusuri setiap tempat, matanya menyapu sekitar area mencari sosok suaminya yang entah di mana. Rania tidak bisa menghubungi suaminya lantaran ia lupa membawa ponselnya dan meninggalkannya di kamar.


Setelah beberapa kali berjalan namun tak kunjung menemukan suaminya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sebuah bangku dekat taman yang menghadap laut, dengan pepohonan yang rindang di samping kiri dan kanannya.


Pffft... Kakiku sudah sangat lelah, bagaimana aku menghubunginya? Aku lupa membawa ponselku. Sebenarnya sedang apa sih dia sekarang? Seharusnya dia kembali dan melihat keadaanku. Huuuh... Rania menggerutu kesal.


Duduk berdiam diri saja, cukup membuatnya bosan. Matanya tertuju pada bunga-bunga cantik di sampingnya, ia mencoba meraih bunga di samping nya dan memetiknya, lalu memasangkannya di atas telinga kanannya.


Setelah duduk di bangku cukup lama, ia pun segera bangun dan memulai langkahnya lagi untuk mencari suaminya. Hah... Keterlaluan sekali dia? Sampai detik ini tidak menghubungiku sama sekali. Rania membatin sambil berjalan.


Setelah berjalan cukup lama, tiba-tiba langkahnya berhenti tepat di samping kafe, ia terkejut ketika melihat suaminya justru sedang asik berbincang dengan Yina, duduk bersebelahan sambil tertawa. Yina yang menyadari kehadiran Rania justru dengan sengaja memegang bahu Zein tertawa terbahak sambil memiringkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya dengan singkat di bahu Zein.


Melihat Yina begitu akrab serta menyentuh bahu suaminya, membuat Rania kesal yang saat sedang berdiri memandangi mereka dari jauh. Ia mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali melayangkan pukulan pada wanita centil itu. Namun pikiran lainnya melarangnya agar tidak melakukan itu.


Rupanya dia di sana bersama wanita centil itu... Pantas saja melupakanku hingga tak menghubungiku sama sekali. Setelah puas denganku, sekarang malah berduaan sama dia, Kau... Awas saja jika nanti menyentuhku, tidak akan ku biarkan kau menyentuhku. Rania membatin lalu mengancam.


Alih-alih mendekati suaminya, Rania malah berbalik arah lalu pergi meninggalkan mereka. Rasa kesal bercampur cemburu di hatinya mulai merasukinya, ia bahkan tidak memperdulikan ke mana langkah kakinya pergi. Yang ia tahu saat itu adalah hanya berjalan dan pergi sejauh mungkin dari mereka.


"Hai..." sapa David pada Zein dan Yina yang sedang menunggunya di kafe.


"Oh... Hai David." balas Yina tersenyum.


"Bagaimana kabarmu, Vid?" tanya Zein, sambil meletakkan segelas kopi yang sudah di minumnya.


"Seperti yang kau lihat, kabarku sangat baik. Hahaha..." jawab David tertawa, lalu meraih kopi yang ada di depannya.


"Hahaha... Kau memang selalu tampak baik. Entah bagaimana kau bisa mengatur wajahmu agar selalu tampak senang di hadapan orang lain." sahut Zein tertawa.


Dulunya, ketika sama-sama kuliah di london, mereka bertiga bersahabat dengan baik hingga sekarang.


"Oh... Yah, ku dengar kau sudah menikah? Di mana istrimu?" tanya David dengan raut wajah penasaran.


"Hahaha... Rupanya kau suka bergosip juga yah?" ujar Zein tertawa. Lalu menyesap kembali segelas kopinya.

__ADS_1


"Hahaha... Siapa yang tidak tahu gosip pengusaha sukses sepertimu? Apa kau tidak sadar jika wajahmu selalu terpampang di media TV maupun media cetak?" sambung David.


"Hahahah... Bisa saja kau Vid? Istriku sedang istirahat di kamar." jelas Zein.


Yina hanya tersenyum mendengarkan obrolan antara Zein dan juga David yang sudah lama tak bertemu. Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Yina pun segera melihat layar ponselnya. "Kalian lanjutkan ngobrolnya, aku permisi ke belakang." suara Yina menyela obrolan David dan Zein.


"Ya silahkan, jawab saja panggilan itu." Zein mempersilahkan Yina.


Yina pun pergi meninggalkan keduanya untuk mengangkat panggilan itu.


Sementara itu Zein dan David melanjutkan obrolannya.


"Huh... Seharusnya kau membawanya dan mengenalkanku, Zein." sahut David dengan lirikan menggoda.


"Hahaha... Terlalu bahaya mengenalkannya pada playboy sepertimu." timpal Zein sambil mendongakkan kepalanya, menegaskan bahwa Rania adalah miliknya seorang. "Oh yah... Kalian ngobrol saja, aku pergi dulu untuk menemui istriku." sambungnya, lalu bergegas pergi.


"Zein... " panggil Yina dari jauh sembari berjalan mendekati Zein.


Seketika Zein berhenti mendengar panggilan dari Yina.


"Ada apa?" tanya Zein datar.


"Nanti malam jangan lupa yah." ucap Yina malu-malu.


"Oh... Yah tentu saja." jawab Zein datar, ia hanya mengira akan ada perkumpulan biasa nanti malam.


"Tentu saja kami tidak akan lupa, nanti malam kan acara ulang tahunmu, bukan?" celetuk David yang saat itu masih duduk di bangku sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Wah... Aku bahkan melupakan hari ulang tahunmu, Yina." balas Zein terkejut.


Yina hanya tersenyum mendengar ucapan Zein.


"Hmmm... Tentu saja kau melupakannya, kau kan sudah memiliki istri. Jika kau masih mengingatnya, kesetiaanmu patut di ragukan." Ledek David.


"Hahaha... Dasar playboy, sudahlah aku akan pergi." ucap Zein lalu bergegas pergi meninggalkan mereka.


Begitu sampai di kamar.


"Sayang... Kau di mana?" Zein memanggil lagi, sambil berjalan menuju kamar mandi dan membukanya. Barang kali ada di dalam kamar mandi, pikirnya."


Namun begitu ia membuka pintu kamar mandi dan tak mendapati istrinya. Zein mulai panik, dengan tergesa ia merogoh kantung celananya dan meraih ponsel miliknya, tergesa ia menggeser layar ponselnya untuk menghubungi Rania dan meletakkannya di telinga kanannya.


Tiba-tiba terdengar suara panggilan beserta getarannya. Zein mencari dari mana asal suara ponsel yang terdengar sangat dekat dengannya, kemudian matanya tertuju pada meja di samping kasur, ternyata Rania tidak membawa ponselnya dan meletakkannya di atas meja.


Ceroboh sekali dia... Pergi tanpa membawa ponsel. Zein berdecak kesal.


Kemudian Zein menghubungi supir pribadinya Pak Surya.


"Iya hallo, tuan." jawab Surya dari seberang telepon.


Saat Rania keluar dari kamar, Pak Surya sedang berada di kamarnya hingga tak menyadari Rania keluar sendirian.


"Apa kau tahu di mana Nyonya?" tanya Zein tergesa.


Nyonya... Bukankah dati tadi Nyonya ada di kamarnya? Batin Surya.


"Maaf, tuan. Aku tidak tahu, tuan. Ku pikir Nyonya masih di dalam kamar." sahut Pak Surya dari seberang telepon.


Ia lalu bergegas keluar dari kamar. Kamarnya tidak jauh dari kamar Zein, hanya terhalang dua kamar saja.


Sementara itu, Rania yang sedang berjalan menyusuri pantai dengan membawa amarah di hatinya. Tidak menyadari bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh dan berada di tempat yang sepi, bahkan jauh dari keramaian. Hanya ada pohon kelapa dan pasir pantai.


Aku ada di mana? Kenapa tempat ini begitu sepi? Apa aku sudah berjalan sejauh ini? Batin Rania ketakutan.


Di tengah ketakutannya, tiba-tiba seorang pria bertubuh kekar dan besar mencoba menghalanginya dan mendekatinya.


"Hey... Gadis cantik, kau mau ke mana?" ucap laki-laki bertubuh besar itu sembari tertawa dan bertolak pinggang.

__ADS_1


"Bukan urusanmu...!" jawab Rania ketus.


"Hahaha... Menarik sekali, aku suka wanita sepertimu." sambil tertawa menggoda, laki-laki itu berusaha mendekati Rania perlahan.


Rania mulai merasa ketakutan, ia pun melangkah mundur menjauhi laki-laki besar di hadapannya dengan kaki gemetar.


Bagaimana ini... Tidak ada orang di sini. Meski aku berteriak, tidak akan ada yang mendengar teriakanku. Batin Rania semakin takut. Zein, di mana kau sekarang? Apa kau. Masih asik ngobrol dengan wanita centil itu? Tolong aku...!" Rania merapal doa dalam hatinya.


"Apa kau tersesat? Ikut saja denganku...? Aku akan mengantarmu pulang." bujuk laki-laki itu, sambil terus melangkah mendekatinya.


"Cih... Kau pikir aku bodoh?" jawab Rania menantang, lalu berlari sekuat tenaga.


Namun sayangnya Rania tak pandai dalam berlari hingga membuatnya kalah cepat dari laki-laki yang mengejarnya dan meraih tangannya hingga ia tertangkap dan tubuhnya tersentak hingga jatuh.


Laki-laki itu mulai mendekatinya dengan sorot mata jahat.


"Mau apa kau...? Jangan berani menyentuhku, atau kau akan menyesal." Rania mengancam, meski tubuhnya bergetar hebat.


Belum hilang traumanya atas perbuatan mantan kekasihnya yang bernama Rey, kini ia di hadapkan pada kondisi yang sama. Membuat rasa traumanya semakin mendalam.


Sementara itu Zein masih mencari Rania dengan berlarian menyusuri pantai.


🌴sebelumnya🌴


Zein menghubungi Yina dan meminta bantuan Yina agar mengerahkan seluruh karyawannya dalam mencari Rania.


Yina pun menyetujui permintaan Zein dan mengerahkan beberapa karyawannya untuk menyisir area pantai mencari Rania.


Selain itu, Zein juga menghubungi tim pencarian untuk mencari Rania. Namun lokasi pantai yang jauh dari pusat kota, membuat tim pencarian agak lama untuk bisa sampai di Resort milik Yina.


Saat ini Zein hanya mengandalkan bantuan dari Yina.


🌴 Setelahnya 🌴


"Rania... Di mana kau?" Teriak Zein sambil berlari mencari Rania dan menyapu pandangannya ke seluruh area yang masih ramai dari pengunjung.


"Permisi... Apa kau melihat wanita ini?" Setiap pengunjung yang di temuinya, ia tanya sambil menunjukkan wajah Rania di ponsel yang di genggamnya. Berharap mereka melihat Rania. Namun mereka menggeleng tidak tahu.


Sementara itu, Surya pun ikut mencari Rania di belakang Zein.


* Di tempat Rania *


Saat laki-laki itu mendekati Rania yang sedang tersungkur di atas pasir. Tangannya berusaha menyentuh wajah Rania, namun dengan cepat Rania menangkis tangannya hingga membuat pergelangan tangan Rania tampak nyeri.


"Hahaha... Tenagamu cukup kuat." goda laki-laki itu. Lalu menyentuh pipi kiri dan kanan Rania dan menekannya kuat-kuat hingga membuat bibir Rania terbuka.


Kedua tangan Rania menahan tubuhnya di atas pasir, karena tubuh laki-laki itu terus memepetnya hingga tubuhnya hampir jatuh ke belakang. Saat laki-laki itu hampir mendaratkan ciumannya, dengan cepat Rania menendang bagian tubuh yang paling sensitif milik laki-laki di depannya hingga ia merasa nyeri dan kesakitan.


"Aw... Dasar brengsek kau wanita ******, di perlakukan lembut malah berbuat kasar."


Rania bergegas bangun dan melepaskan diri dari cengkraman laki-laki itu yang sedang menahan sakit. Namun sayangnya ia kalah cepat. Laki-laki itu menarik tangannya kembali dan membanting tubuh Rania di atas pasir dengan sangat kencang hingga akhirnya Rania pun terjatuh dan pipinya tersungkur di atas pasir putih.


Tubuh Rania semakin gemetar hebat ketika mendapatkan perlakuan kasar dari laki-laki di hadapannya, bahkan ia merasakan luka bekas tembakan di perutnya yang masih belum sembuh total tiba-tiba terasa sakit kembali akibat hentakan yang begitu kuat dari laki-laki di depannya.


Rania mencoba bangkit dari tubuhnya yang tersungkur di pasir. Belum sempat ia bangkit, laki-laki itu menarik rambutnya dengan tangan kirinya, lalu melemparkan tamparan di pipi Rania dengan tangan kanannya.


"Aw... Sakit sekali, apa salahku hingga kau memukulku seperti ini? Aku bahkan tidak mengenalmu. Hiks... " ucap Rania sambil terisak tangis.


"Kau yang memintaku untuk berbuat kasar padamu, jika kau tidak melawanku, aku tidak akan memukulmu." ucap laki-laki itu dengan santai.


Posisi Rania saat itu duduk di atas pasir dengan kedua kaki yang berada di tengah-tengah kaki laki-laki di depannya dengan posisi jongkok. Ia tidak bisa melawan karena tangan kanannya sedang memegang perut bekas luka yang mulai terasa nyeri dan sakit. sementara itu tangan kirinya memegangi pipi kirinya yang sakit akibat tamparan laki-laki bertangan besar itu dan perlahan darah juga mulai keluar dari sudut kiri bibirnya.


Laki-laki ini... Mungkinkah orang suruhan Rey? Bagaimana mungkin Rey bisa setega ini padaku dengan terus menggangguku seperti ini? Apa lagi berbuat keji seperti ini? Rasanya sulit ku percaya jika laki-laki ini adalah orang suruhan Rey. Rania membatin penuh selidik.


"Aku mohon biarkan aku pergi, apapun yang kau minta, suamiku akan memberikannya. Jadi... Aku mohon lepaskan aku." ucap Rania sambil merintih memohon belas kasih dari laki-laki kejam di hadapannya.


"Hahaha... Kau pikir aku melakukan ini karena uangmu?" timpal laki-laki itu sembari menarik lagi rambut Rania dan mencoba melepas baju Rania dengan paksa.

__ADS_1


Belum sempat laki-laki itu membuka baju Rania, seseorang datang dan melayangkan tendangannya pada wajah laki-laki itu hingga membuatnya terpental.


🍀Bersambung🍀


__ADS_2