
Begitu Rania melirik ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya saat berdiri menyuarakan protesnya.
Deg... Betapa terkejutnya ketika ia tahu bahwa laki-laki tersebut adalah Rey, mantan kekasihnya. Pantas saja ia merasa mengenal suara tersebut.
Seketika Rania diam dan berpikir, bagaimana mungkin mantan kekasihnya bisa berada dalam satu pesawat?
Dengan penasaran Rey pun melirik ke atas, dia pun sama terkejutnya dengan Rania. Ia tidak mengira bahwa ia bisa satu pesawat dengan Rania.
Rey melakukan perjalanan ke Singapura hanya untuk urusan bisnisnya, namun sepertinya Tuhan memberikannya kesempatan untuk bisa melihat wajah Rania tanpa di sengaja.
"Rania...? Kebetulan sekali, bagaimana keadaanmu?" tanya Rey dengan wajah terkejut.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Rey, Rania meninggalkan tempat itu dan bergegas masuk ke dalam toilet
Begitupun sebaliknya, Rey tidak ingin membuat Rania takut karena melihat dirinya. Ia pun tidak berusaha mengejarnya, Ia tahu bagaimana dirinya dulu bersikap kasar pada Rania hingga membuat Rania masih membencinya sampai saat ini.
Setelah selesai dari toilet, Rania segera kembali ke kursinya. Dan begitu sudah sampai, Zein langsung melayangkan pertanyaan.
"Sayang, kenapa lama sekali? Apa ada masalah?" tanya Zein dengan wajah cemas.
"Oh... Tidak apa-apa sayang, tadi terjadi insiden kecil." jawab Rania sembari tersenyum.
Rania tidak ingin suaminya sampai tahu bahwa Rey berada di pesawat yang sama. Ia takut akan menimbulkan keributan.
"Insiden...? Insiden apa sayang? Tanya Zein penasaran. "Sayang... Bajumu kenapa?" imbuhnya ketika melihat baju yang dikenakan Rania terdapat noda berwarna coklat karena tumpahan air kopi oleh wanita tadi saat Rania hendak ke toilet.
"Heheh... Tidak apa-apa kok, sayang, tadi ada seorang wanita yang tidak sengaja menumpahkan air kopi di tubuhku." jelasnya sembari tertawa kecil, demi menghindari kepanikan suaminya.
Peffft... Rania menghela napas, begitu sudah duduk di kuris, tepatnya di sebelah suaminya.
Kenapa Rey bisa ada di sini? Apa yang akan direncanakannya? Batin Rania penuh selidik, sembari menatap jendela kaca dan memandangi cerahnya langit saat itu.
Setelah kurang lebih perjalanan selama satu jam, akhirnya mereka pun sampai di changi air port.
Begitu sampai, dengan segera Rania meminta Zein untuk segera turun.
"Sayang... Ayo cepat turun, kita sudah sampai." pinta Rania tergesa.
Ia tidak ingin suaminya sampai berpapasan dengan Rey yang duduk di belakang tidak jauh dari mereka.
"Sabar sayang, kita tidak sedang menghadiri rapat, kita ke sini hanya untuk berlibur." balas Zein sembari tersenyum.
Rania tampak gelisah melihat orang-orang yang sedang berjalan keluar dari pesawat.
"Sayang, kenapa kau tampak gelisah? Apa kau bertemu temanmu?" tanya Zein sembari melepas seat belt yang terikat di pinggangnya.
Rania hanya tersenyum cemas menimpali ucapan suaminya.
Sementara itu, barang-barang mereka di bawa oleh para pengawalnya di belakang.
Dari belakang, Rey memperhatikan Rania yang saat itu sedang berdiri dengan raut wajah cemas, ia pun tahu arti dari kecemasan di wajah mantan kekasihnya. Dengan sengaja, Rey turun belakangan dan berusaha tidak menampakkan dirinya di hadapan suaminya.
Setelah Zein dan Rania sudah keluar dari pesawat, barulah Rey keluar dan memperhatikan mereka dari belakang dan jarak yang cukup jauh.
__ADS_1
Di sana sudah ada seseorang yang sudah menjemput dan menunggu kedatangan Zein dan Rania, keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka ke tempat di mana mereka akan menginap.
Zein akan menginap di salah satu hotel miliknya yang berada di orchad road, salah satu kota yang cukup terkenal di sana dengan segala keindahan gedung-gedung pencakar langit yang megah dan modern.
Begitu sudah berada di dalam mobil.
"Sayang, kita mau ke mana?" tanya Rania penasaran.
"Kita akan menginap di salah satu hotel di sana, sayang." jawab Zein sembari tersenyum dan menggenggam tangan Rania.
Rania tidak tahu bawah suaminya memiliki hotel di Singapura.
Dalam perjalanan menuju Hotel, Rania tidak berkedip sama sekali memandangi setiap sudut kota yang tampak begitu indah dan bersih, terlebih dengan bangunan-bangunan pencakar langit yang terlihat modern. Matanya berdecak kagum sepanjang jalan menuju hotel.
"Sayang... Apa kau sering pergi ke sini?" tanya Rania sembari memandangi jalan dari balik jendela kaca mobil.
"Tentu saja, sayang." jawab Zein lembut.
Mendengar jawaban dari suaminya, Rania pun berbalik badan dan menatap wajah suaminya penuh selidik.
"Hem... Apa untuk urusan pekerjaan?" tanya Rania dengan tatapan penuh selidik.
"Tentu saja... Memangnya apa lagi?" balas Zein tersenyum.
"Bukan untuk hal lain kan?" tanya Rania lagi dengan tatapan curiga.
"Tentu saja, sayang... Apa ada alasan lain selain pekerjaan?" jangan pernah berpikir aku pergi bersama seorang wanita kecuali dalam hal bisnis...?" tegas Zein.
Rania tersenyum mendengar jawaban dari suaminya. Rania percaya, setiap kalimat dan Jawaban yang keluar dari mulut suaminya adalah kejujuran. Sejauh ini ia tak pernah mendengar kebohongan dari suaminya, atau pun melihat suaminya dekat dengan seorang wanita, kecuali Yina.
Sedang apa mereka di sini? Apa mereka sedang berlibur? Batin Rey penasaran.
"Jeremi... Selidiki apa yang mereka lakukan di sini dan beri tahu aku kemana saja mereka menghabiskan waktunya selama berada di sini." ucap Rey pada Jeremi.
"Baik,tuan." jawab Jeremi sembari mengangguk.
Rey memang tidak berencana mengganggu acara liburan mereka, namun ketika ia tidak sengaja mengetahui mereka sedang berada di negara yang sama, membuat jiwa penasarannya kembali mencuat, terlebih perasaannya pada Rania masih sangat dalam. Ia hanya ingin memantau mereka dari jauh.
Sementara itu, Zein dan Rania akhirnya sampai di hotel miliknya.
"Sayang... Kita sudah sampai." ucap Zein pada Rania.
"Oh... Cepat sekali, perasaan baru sebentar kita duduk di dalam mobil." balas Rania tersenyum.
Keduanya pun segera keluar dari mobil begitu pintu mobil mereka di bukakan oleh para penjaga di depan hotel.
"Good morning, Sir." ucap salah seorang yang membukakan pintu.
"Morning." balas Zein tersenyum.
Begitu memasuki pintu hotel, Zein di sambut hangat oleh para pekerja di sana. Baik laki-laki maupun perempuan.
Mereka sudah bersiap dan berdiri untuk menyambut kedatangan pemilik hotel.
__ADS_1
"Good morning, Sir?" sapa para pekerja di sana, termasuk manager di sana.
Zein hanya membalas senyum pada mereka yang menyambut kedatangannya dengan hangat.
Kenapa mereka begitu ramah? Apa mereka sudah sangat mengenal suamiku? Hem... Pasti suamiku sering berkunjung ke hotel ini. Batin Rania penuh selidik.
Entah kenapa dalam benaknya, selalu muncul pikiran negatif tentang suaminya saat berada di sana. Rania masih saja berpikir kalau-kalau suaminya pergi bersama seorang wanita dan menginap di hotel tempatnya berada saat ini.
Zein menggandeng tubuh Rania selama perjalanan menuju kamar hotel. Kamar yang selalu di tinggali olehnya saat berkunjung ke Singapura dalam urusan bisnisnya.
Dengan di antar oleh pelayan, Zein dan Rania akhirnya sampai di kamar pribadi miliknya selama berkunjung di sana.
Begitu masuk ke dalam kamar tersebut, Rania terkejut ketika melihat foto pernikahan dirinya dan suaminya berukuran besar terpampang di dinding. Dan di setiap sudut terdapat fast bunga berisi bunga-bunga yang cantik.
"Sayang... Kenapa di kamar hotel ini ada foto pernikahan kita?" tanya Rania dengan wajah terkejut namun bercampur senang.
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak menyukainya?" tanya Zein menggoda.
"Bukan begitu... Kita kan hanya tamu yang sedang menginap di hotel ini, tidak mungkin mereka menyambut kita secara berlebihan seperti ini jika bukan karena kau yang sudah mempersiapkannya." jelas Rania.
Zein berjalan mendekati Rania yang saat itu sedang berdiri menghadap foto pernikahan mereka dan memeluknya dari belakang.
"Sayang... Apa kau senang?" tanya Zein sembari menyandarkan kepalanya di bahu Rania.
"Tentu saja..." jawab Rania tersenyum senang.
Ada raut bahagia di wajah Rania, terlihat dari warna pipinya yang mulai tampak merah merona.
"Eh... Kenapa banyak sekali foto-foto kita?" tanya Rania lagi.
Ia tidak berhenti terkejut ketika menyapu pandangannya mengelilingi kamar yang cukup besar dan melihat foto mereka terpampang di setiap sudut kamar.
"Biarkan saja... Inikan liburan milik kita." jawab Zein menimpali kalimat Rania yang terkejut melihat foto mereka bertebaran di setiap sudut ruangan.
"Hem... Tapi, sayang, foto-foto pernikahan kita sepertinya kurang pas deh." ucap Rania dengan bibir manyunnya.
"Memangnya kenapa sayang?" tanya Zein heran.
Memang inilah foto pernikahan kita, apanya yang kurang pas? Batin Zein heran.
"Iya... Lihatlah, foto pernikahan kita terlihat tidak bahagia, aku bahkan tidak tersenyum sedikit pun dalam setiap foto pernikahan kita." balas Rania.
Rania menyadari bahwa dirinya begitu membenci suaminya atas pernikahan mereka, sehingga tidak sedetik pun Rania tersenyum ketika di foto.
"Hahaha... Kau benar, sayang, rasanya aku seperti sedang menikahi siti nurbaya." Ledek Zein.
Huh... Rania menepuk bahu suaminya lalu tersenyum malu.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukungannya ya
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
__ADS_1
Terimakasih.