
Begitu sampai di rumah, Rania langsung masuk ke kamarnya, meletakkan tas nya di atas meja dan menjatuhkan dirinya di atas kasur empuknya. Rasa kantuk di matanya dan juga rasa lelah yang melanda di tubuhnya tidak tertahan hingga ia tertidur di atas kasur sebelum mengganti pakaiannya.
Keesokan harinya.
Pagi itu seperti biasa, Zein dan Rania melakukan aktivitas yang sama pada pagi-pagi sebelumnya. Keduanya berangkat bekerja bersama.
Tania sibuk mempersiapkan pendaftaran di salah satu universitas yang cukup ternama karena keunggulannya dalam melahirkan murid-murid berprestasi.
Nila akademiknya yang cukup baik, terlebih menjadi salah satu murid terbaik di sekolahnya dengan nilai yang memuaskan. Hingga membuatnya mudah menentukan pilihan memasuki universitas manapun dengan nilai sempurna yang diraihnya saat di sekolah.
Untuk sementara ini, Tania mencoba mengabaikan perasaannya pada Ronald demi untuk tetap fokus pada pelajarannya di kampus. Karena ia memiliki cita-cita yang ingin ia capai dan masa depannya masih terlalu panjang.
Tania percaya, bahwa cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri.
Bagaimana dengan Evelin?
Ya, tentu saja Evelin berusaha mengejar cinta Ronald. Di usianya yang sudah terbilang dewasa, apa lagi saat ini ia sudah memasuki semester enam. Hanya perlu dua semester lagi baginya untuk menyelesaikan kuliahnya.
Meski Evelin memiliki sifat buruk, yaitu semena-mena terhadap orang lain, dan hobinya berganti pasangan di kampus yang sudah bukan rahasia umum lagi. Namun, Evelin adalah seorang wanita yang cerdas dalam bidang akademik.
Dan sejak scandal dirinya dengan Ronald saat di kebun strawberry, membawa sedikit perubahan baginya. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi berganti pasangan. Bahkan, banyak laki-laki di kampusnya yang mengejar-ngejar dirinya karena kecantikan dan keseksiannya. Evelin tak pernah menghiraukan mereka dan mengabaikannya. Ia hanya ingin fokus pada pendekatannya terhadap Ronald. Satu-satunya laki-laki yang mengabaikannya di antara ratusan laki-laki yang justru mengejarnya.
Siapa yang tidak mengenal Evelin? Dari keluarga Arka yang cukup dikenal di kalangan bisnis. Dia juga adalah adik dari seorang pengusaha sukses yaitu Zein Arka.
Apapun bisa ia dapatkan termasuk laki-laki yang yang selama ini pernah menjadi kekasihnya, bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan Ronald yang hanya bekerja sebagai sekertaris kakaknya.
Kelemahannya hanya satu, yaitu harus bersaing dengan iparnya sendiri, yang juga adik dari kakak iparnya yaitu Rania. meski ia tidak begitu yakin dengan perasaan Tania pada Ronald. Namun Evelin sangat yakin, ada sesuatu yang di sembunyikan Ronald tentang Tania. Terlihat dari tatapan Ronald saat menatap wajah Tania. Hal itu lah yang membuat Evelin berpikir panjang dan berhati-hati dalam mendekati Ronald. Sebab ia tak ingin sampai ada gesekan antara dirinya dan Evelin hingga membuat pernikahan kakaknya bermasalah nantinya.
Bagaimana pun, prinsip hidupnya adalah, kebahagiaan keluarga yang utama baginya. Menciptakan keharmonisan pada keluarga adalah yang utama bagi keluarga Arka. Terlebih Zein selalu mengingatkan dirinya akan hal itu.
Lalu bagaimana dengan Ronald?
Tentu saja Ronald tetap bekerja bersama Zein. Ia menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja, pernah mencintai seorang wanita. Namun ia tidak tahu bagaimana memperjuangkannya karena suatu keadaan yang menurutnya sulit. Namun meski demikian, Ronald hanya ingin tetap fokus pada pekerjaannya saja. Soal hati, ia menyerahkannya pada waktu, seperti prinsipnya yang masih belum berubah, yaitu menjalani seperti air yang mengalir, ia tidak tahu hatinya akan bermuara pada siapa suatu saat nanti, karena baginya, hati tidak bisa di mengerti sampai kita sendiri yang mengendalikannya dan menjadikannya indah.
🍁Enam bulan kemudian🍁
Di kediaman Zein.
"Sayang... Tolong ambilkan air...!" kata Rania dengan suara yang terdengar sesak sambil menyandarkan punggungnya dengan perlahan pada punggung kasur.
"Sebentar, sayang..." jawab Zein tergesa.
Zein berlari mengambil air mineral, menuanya ke dalam gelas, duduk di samping Rania tepatnya di tepi kasur sambil menyodorkan gelas berisi air mineral tersebut dan membantu Rania meneguk air tersebut dengan tangannya.
"Bagaimana rasanya hari ini, Sayang?" apa masih terasa sakit?" tanya Zein dengan suara lembut sambil mengusap pipi Rania.
Ya, kandungan Rania sudah memasuki usia delapan bulan mendekati sembilan bulan. Usia yang sudah sangat rentan untuk proses melahirkan, di tambah rasa nyeri dan keram pada bagian perut bisa datang kapanpun tanpa bisa di prediksi.
Itulah sebabnya, sudah dua bulan terakhir Rania berada di rumah dan tidak lagi pergi ke butik.
"Sedikit lebih baik." jawab Rania sambil memegang perutnya yang besar.
"Aku berangkat kerja dulu ya, sayang...! Baik-baik di rumah dan jangan berjalan sendirian...! " Zein berusaha menenangkan Rania sebelum berangkat ke kantor.
Tidak lupa, ia juga selalu menyempatkan untuk berinteraksi dengan jagoannya yang masih berada di dalam perut Rania. Agar kedekatan dan kehangatan di antara keduanya tetap tercipta saat jagoannya lahir ke dunia.
Hasil USG pada bulan lalu menyatakan bahwa anak di dalam perut Rania berjenis kelamin laki-laki. Namun itu hanyalah sebuah prediksi dari dokter untuk sementara. Tidak menjamin keakuratan, yang terpenting bagi Zein dan Rania. Bisa melahirkan bayi yang sehat dan sempurna secara fisik sudah bersyukur.
Sebelum benar-benar berangkat ke kantornya, Zein meletakkan telinganya di bagian tengah perut Rania sambil berkata.
"Hai jagoan papa... Papa berangkat kerja dulu ya, jangan nakal sama mama ya...! Boleh nendang perut mama, tapi jangan kencang-kencang ya..! Kasian mamanya kesakitan." ucap Zein memberikan pesan pada jagoan di dalam perut Rania sambil memberikan pesan lalu mencium perut Rania.
Melihat kehangatan dan kebahagiaan yang terpancar di wajah suaminya, Rania hanya tersenyum membayangkan, betapa semakin indah dan bahagianya kehidupan pernikahan mereka setelah kehadiran buah hati mereka di tengah-tengah mereka.
Zein berjalan meninggalkan Rania keluar dari kamar sambil tersenyum lebar pada istrinya yang saat itu tengah berada di atas kasur.
__ADS_1
Sesaat setelah Zein pergi dari kamar Rania. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu.
"Masuk...!" jawab Rania dari dalam kamar.
Rania sudah tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah dokter Gea. Dokter spesialis kehamilan.
Dokter Gea adalah salah satu dokter spesialis kehamilan yang bekerja di Rumah Sakit milik keluarga Arka. Namun sudah satu minggu ini, dokter Gea di pindah tugaskan dari rumah ke rumah Zein, demi menjaga kesehatan kandung Rania yang saat ini sudah memasuki masa melahirkan. Karena takut terjadi sesuatu pada Rania, Zein meminta dokter Gea untuk sementara bekerja di rumahnya sampai Rania melahirkan.
Tidak hanya itu, Zein juga ingin Rania melahirkan di rumahnya sendiri. Oleh sebab itulah Zein sudah mempersiapkan segalanya demi kelancaran persalinan Rania termasuk beberapa alat medis yang juga sudah di siapkan di rumah Zein saat ini. Mengingat prediksi kelahiran Rania di perkiraan sekitar tiga mingguan lagi.
Dokter Gea membuka pintu kamar Rania dengan di temani seorang suster yang berada di belakangnya sambil membawa meja dorong berisi obat-obatan dan beberapa vitamin untuk Rania.
Zein sengaja mempekerjakan salah satu perawatnya untuk menemani dokter Gea selama berada di rumahnya. Zein tahu bahwa dokter pastinya membutuhkan seorang teman yang bisa untuk di ajak bertukar pikiran, pendapat, solusi, atau untuk sekedar teman ngobrol selama bertugas di rumahnya dalam merawat istrinya sampai melahirkan.
"Selamat pagi, Nyonya...?" Sapa dokter Gea sambil tersenyum. Dengan di bantu oleh perawat di sampingnya, dokter Gea menyiapkan beberapa obat yang perlu di minum oleh Rania saat pagi hari. "Bagaimana hari ini, Nyonya? Apa sudah lebih baik?" tanya dokter Gea sambil menyodorkan obat tersebut pada Rania.
"Sudah lebih baik, Dok, terimakasih." jawab Rania sambil meraih obat tersebut lalu meminumnya.
Pasalnya, kemarin Rania mengalami sakit di bagian perutnya seperti ingin melahirkan hingga membuat Zein ketakutan setengah mati melihat Rania menahan sakit, Namun ternyata itu hanya rasa sakit menjelang melahirkan saja, dan belum waktunya melahirkan.
Setelah memberikan obat pada Rania serta memeriksa tubuh Rania sebentar dan ternyata kondisi Rania baik-baik saja. Dokter Gea bersama perawatnya pun segera keluar dari kamar Rania dan kembali ke ruangan pribadinya untuk mengecek beberapa pekerjaannya maupun untuk sekedar berbincang dengan perawat yang selalu di sampingnya.
Setelah selesai minum obat, dengan di dampingi oleh Bibi Ros. Rania ingin berjalan-jalan sebentar untuk meregangkan otot di kakinya karena terlalu sering tiduran di kamar. Selain itu, Rania juga di anjurkan untuk berjalan-jalan ringan menginjak aspal atau tanah tanpa alas kaki.
Meskipun di rumahnya ada dokter Gea dan juga salah seorang perawat, namun untuk menemaninya berjalan-jalan atau untuk sekedar menemaninya di kamar, Rania lebih senang bersama Bibi Ros. Karena Rania sendiri sudah menganggap Bibi Ros layaknya ibunya sendiri, karena ibunya tidak bisa selalu menemaninya di rumah saat hamil.
Ada ayah dan juga adiknya yang butuh perhatian ibunya. Dengan Bibi Ros dan Dokter Gea beserta perawat saja sudah cukup bagi Rania.
Sementara itu di kantor Zein.
Zein tampak sedang sibuk memeriksa beberapa berkas di tangannya. Sesekali ia membuka lembaran demi lembaran kertas yang sudah di periksa sebelumnya lalu menandatanganinya.
Pun sama halnya dengan Zein, Ronald juga tampak sedang sibuk di ruangan sambil memeriksa berkas-berkas yang akan ia berikan lagi pada Zein untuk ditandatangani.
Di sela-sela waktu sibuknya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Bunyi yang menandakan adanya pesan singkat yang masuk ke ponselnya.
Nona gila
Terlihat pesan singkat dari kontak di ponselnya dengan nama (Nona Gila). Ya, kontak tersebut adalah tidak lain yaitu Evelin, adik dari Tuannya yang selalu semena-mena padanya. Ronald sengaja menamai kontaknya dengan nama tersebut, karena Evelin selalu membuatnya kesal dengan sikapnya yang semena-mena.
Selama beberapa bulan terakhir, Ronald dan Evelin memang masih berhubungan, karena Evelin terlalu sering mengganggunya lewat pesan singkat. Namun, hubungan di antara mereka hanyalah pertemanan biasa. Meski sesekali mereka jalan bersama, namun itu hanya karena untuk menemani Evelin atau bahkan untuk sekedar mendengar curhatan Evelin di kampus. Apapun yang di lakukan Evelin padanya, tak pernah bisa merubah hatinya dalam mencintai.
Pernah suatu ketika Evelin menyatakan perasaannya pada Ronald, namun dengan terang-terangan Ronald menolaknya dengan alasan sudah tidak bisa mencintai wanita lain selain wanita yang telah mencuri hatinya saat itu. Meski terkesan pengecut dan tak mau mengungkapkan perasaannya pada wanita tersebut, namun Ronald memiliki keyakinan bahwa suatu saat mereka akan bersama. Ia hanya ingin menunggu sampai waktunya benar-benar tepat. Karena Ronald juga tak ingin pengakuan perasaannya nanti justru mengganggu wanita itu dalam meraih impiannya. Itu sebabnya, Ronald ingin merahasiakan perasaannya dan memilih memendamnya dan akan mengungkapkannya sampai waktunya tepat.
Terlepas dari semua itu, Ronald tidak akan menyesalinya jika ternyata wanita itu sudah memiliki kekasih atau bahkan melupakannya. Karena sejauh ini, selama Ronald mengamatinya dari jauh, tak pernah sekalipun wanita itu berjalan bersama seorang pria, baik saat di kampus maupun di luar kampus. Meski demikian, Ronald tak ingin terluka yakin, karena pengamatannya tidak selalu benar dan bisa saja salah.
Temani aku makan siang...!! Aku tunggu di kafe A.
Begitu isi pesan singkat dari Evelin.
Ya, tidak berubah, sikap Evelin masih sama. Ia selalu bersikap semaunya tanpa perduli dengan orang lain. Ia bahkan tak pernah mengucapkan kata tolong atau pun terima kasih pada Ronald. Dan yang paling menyedihkan, bahkan ia tak menyerah atau memiliki rasa malu meski dirinya sudah mendapatkan penolakan. Ya, memang begitulah karakter Evelin, namun Ronald tak pernah membenci Evelin atau merasa risih dengan kedekatannya, bahkan di mata Ronald saat ini. Evelin tidak lebih dari seorang adik, Ronald hanya menganggap Evelin sebagai adiknya.
Karena pekerjaannya saat itu tidak terlalu sibuk, akhirnya Ronald pun mencoba memenuhi permintaan Evelin untuk makan siang bersama.
Ronald akhirnya sampai di sebuah kafe yang tadi di sebutkan oleh Evelin dalam pesan singkatnya.
Tampak Evelin sedang meminum lemon tea di sudut paling kanan sambil sesekali memandangi laptopnya. Namun Evelin belum menyadari kedatangan Ronald, sampai akhirnya Ronald diam-diam duduk di kursi bagian depan, mereka duduk saling menghadap.
"Ku pikir kau tidak akan datang." Evelin melirik wajah Ronald dengan tatapan sinis, lalu mengalihkan kembali fokusnya pada layar laptop di depannya.
Terlihat ia sedang mengerjakan tugas kampusnya.
"Sejak kapan aku menolak ajakanmu...? Kecuali cintamu...!" sahut Ronald sambil tersenyum meledek.
Sial...!! Evelin melirik sambil menggerutu kesal.
__ADS_1
"Minum dan makanlah, aku sudah memesannya untukmu...!" ucap Evelin di sela-sela kesibukannya mengetik.
"Jika kau sibuk, untuk apa memanggilku dan mengabaikanku...!" ucap Ronald dengan sedikit bernada.
"Apa kau baru mengenalku..?" Evelin melirik tajam ke wajah orang, lalu memalingkan kembali wajahnya dan fokus pada layar laptopnya.
"Hahah... Kau benar." timpal Ronald sambil tertawa.
Ronald memakan makanan yang sudah di sediakan Evelin sambil menunggu Evelin selesai mengerjakan tugasnya.
Di sela-sela makannya, tiba-tiba Evelin memanggilnya.
"Ron... Apa kau mengerti maksud dari ini?" panggil Evelin sambil menggeser laptopnya dan memperlihatkan pada Ronald.
Ronald menaruh minuman yang baru saja ia minum lalu meletakkannya di atas meja. Ia menoleh wajahnya ke arah laptop untuk melihatnya.
Setelah melihatnya, Ronald pun memberikan sedikit masukan pada Evelin untuk sebuah jawaban tersebut.
"Ah... Benar juga, kau memang benar-benar bisa di andalkan." ucap Evelin sambil tersenyum senang.
Ronald menggeser kembali tubuhnya dan melanjutkan makannya.
Begitulah hubungan mereka selama ini, hanya sebuah pertemanan biasa, meski jauh di dalam hati Evelin masih menyimpan rasa atau tidak, namun Ronald tak pernah mempermasalahkan hal tersebut selagi Evelin tidak melebihi batas dalam bersikap.
Setelah tiga puluh menit keduanya menghabiskan waktu makan siang di kafe, Evelin pun sudah selesai mengerjakan tugasnya. Ronald merasa harus segera kembali ke kantor.
"Aku akan kembali ke kantor, apa kau membawa mobil?" tanya Ronald sambil beranjak dari duduknya.
Evelin menggelengkan kepalanya sambil merapikan laptopnya dan masukannya ke dalam tas, pertanda bawa ia tak membawa mobil.
Hari itu, Evelin sedang tidak ingin menyetir mobil, saat ia tidak ingin menyetir mobil sendiri. Ia akan memilih menggunakan taksi saat pergi ke kampus.
"Baiklah, biar aku antar kau ke kampus." kata Ronald sambil berjalan meninggalkan kafe tersebut.
"Tungguuuu..." Teriak Evelin.
Sambil mengemas barang-barangnya, Evelin tampak berlari kecil mengejar Ronald di belakang.
Sejak kedekatan mereka sebagai teman, Evelin meminta Ronald untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Nona, seperti sebelumnya. Evelin lebih nyaman dengan panggilan biasa pada umumnya. Karena itulah Ronald kini memanggilnya dengan biasa.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju kampus Evelin. Jarang dari kafe ke kampus Evelin tidak begitu jauh, hanya hitungan menit saja, mereka akan sampai.
Setelah sepuluh menit dalam perjalanan, akhirnya Ronald pun sampai di kampus Evelin, mengantar Evelin hanya sampai depan gerbang.
"Daaa..." Evelin menutup pintu mobil lalu pergi meninggal Ronald sambil melambaikan tangan. Dan tak lupa disertai senyum cantiknya ye membuat para laki-laki di kampusnya tergila-gila, terkecuali Ronald.
Ronald hanya tersenyum melihat tingkah Evelin, dengan segera ia pun mulai memacu mobilnya dan kembali ke kantor.
Namun belum sempat ia memacu mobilnya, terdengar suara yang begitu ia kenal dari arah belakang mobilnya.
Terdengar sekelompok mahasiswi sedang bercanda sambil berjalan memasuki gerbang kampus.
Mendengar suara tersebut Ronald pun langsung mencari tahu dari mana arah suara tersebut, suara yang begitu ia kenal dan mengingatkan pada seseorang. Namun saat ia tahu dari mana arah suara itu berasal, ia hanya melihat sekelompok wanita berjalan mendekati gerbang kampus.
Meski demikian, Ronald melihat dengan sekilas wajah wanita itu dari samping dan cukup mengejutkannya, namun sayangnya ia tak melihatnya dengan jelas dan hanya mengamati bagian belakang tubuh wanita tersebut. Saat ia hendak keluar dari mobil, sayangnya wanita itu sudah hilang dari pandangannya.
Bersambung\=\=\=>
Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
__ADS_1
Terimakasih. 🙏🏻