Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Hampir saja


__ADS_3

Nampak seorang pria bertubuh tinggi kekar dengan setelan tiga potong dan berbalut dasi di bagian lehernya.


"Sayang, kenapa diluar?" Tanya Zein semabri menunduk melihat Rania yang sedang berada di kursi roda.


"Apa katamu barusan? Sayang? Jangan bercanda kamu, Zein." Ucap Rania kesal sembari membuang muka dan menggigit bibir bawahnya seolah merasa malu dan kesal. Bisa-bisanya Zein memanggilnya Sayang di depan Orang banyak termasuk Viona yang saat itu juga tersipu malu melihat pasangan suami istri yang menurutnya aneh, Yang satu agresif dan yang satunya lagi pemarah.


Dengan segera Zein mengangkat dan menggendong tubuh Rania di pelukannya.


"Kamu mau apa sih Zein? Lepasin aku!!" Teriak Rania kesal sambil menepuk dada bidang Zein yang nampak kekar.


"Tenanglah, biarkan aku menggendong-mu, daripada membiarkan seorang perempuan harus mendorong kursi roda dengan beban yang tidak ringan." Ucap Zein datar.


Sial, jadi menurutmu tubuhku ini berat? Gerutu Rania kesal.


"Kalo berat, turunkan saja aku. Aku bisa jalan sendiri." Ucap Rania kesal.


"Kau yakin bisa berjalan sendri? Jaraknya masih sangat jauh loh...!" ledek Zein.


"Tentu saja, cepat turunkan aku!!" Rania semakin kesal dibuat Zein.


"Kenapa keras kepalamu engga pernah hilang yah?" Ucap Zein pelan.


"Maksudmu apa? Jangan berlagak seolah sudah lama mengenalku yah." ucap Rania yang semakin kesal.


"Sudahlah Rania, tidak bisakah kamu diam? Jika semakin banyak bergerak, aku akan semakin kesulitan menggendong-mu." Zein memperingatkan.


Suruh siapa menggendongku? Dasar kau, awas saja nanti. Gerutu Rania.


Sementara mereka berdua berjalan menuju rumah. Viona dan yang lainnya menyusul dibelakang. Sesampainya di depan pintu rumah, Zein terus berjalan menuju lantai dua dengan menaiki tangga.


"Bukankah di sana ada lift, kenapa tidak naik lift saja?" Tanya Rania heran.


"Jika aku naik lift, waktu menggendong-mu akan sangat sebentar." Jawab Zein sambil tersenyum dan melirik wajah Rania.


Astaga, kenapa benar-benar sangat menyebalkan. Rasanya jika saja kakiku tidak sakit, akan ku tendang dia sampai jatuh. Gerutunya kesal.


Sepanjang menaiki tangga, Zein selalu melirik Rania dan tersenyum senang karena bisa memiliki lebih banyak kesempatan memegang tubuh Rania dengan menggendongnya.


Sementara itu, Salah seorang pelayan membukakan pintu, mempersilahkan Zein masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Istirahatlah, jika kau ingin keluar. Panggil saja aku! Aku akan membawamu kemanapun kau mau." Bisik Zein di telinga Rania, lalu meluruskan kaki Rania agar tidak kaku. Kemudian Zein duduk di bangku sebelah Rania.


Sampai kapan aku begini? Rasanya harga diriku hilang di depannya. Rania membatin.


"Liburan ke Paris di undur, mungkin lain waktu sampai kamu benar-benar pulih." Ucap Zein sambil menatap wajah Rania dan menarik tipis kedua sudut bibirnya.


"Oh begtu." Rania senyum senang.


Baguslah, setidaknya aku bersyukur atas itu. Batin Rania senang mendengar kabar dari zein tentang batalnya liburan mereka ke paris.


Sementara Rania sendirian di kamar, Zein keluar kamar dan menuruni tangga. "Bibi Ros, apa Nyonya sudah makan sore?" Tanya Zein pada salah satu pelayannya. "Belum Tuan." Jawab Bi Ros singkat. Zein tersenyum licik seolah merasa senang memiliki kesempatan untuk bisa menyuapi Rania makan. Langkahnya begitu semangat mencari makanan dan lauk pauk untuk dibawanya ke kamar.


Tangannya sangat cekatan membawa sepiring nasi beserta lauknya dan tak lupa segelas lemon tea, menaiki tangga demi tangga hanya untuk diberikan pada Rania. Bisa saja ia memerintah pelayannya, namun ia lebih suka mengambilnya sendiri untuk istrinya.


Kemudian tangan kanannya menarik gagang pintu dan membukanya. Sementara itu tangan kirinya memegang nampan berisi makanan dan minuman.


Melihat Zein begitu kerepotan membawa makanan. Rania hanya menunjukkan ekspresi wajah kesalnya.


Cih... Dia terlalu membuat dirinya sendiri kerepotan. Lalu, apa gunanya para pelayan itu? Gerutu Rania heran.


Zein meletakkan nampan di meja dan dengan segera ia duduk di bangku. Tangannya menyendok makanan dan berusaha menyuapi Rania. "Makanlah, kau belum makan sore, bukan?" Tanya Zein pelan.


"Makanan ini enak loh... Tidakkah mau menghargai usahaku untuk sepiring nasi yang kuambil dari bawah?" Ucap Zein sambil meledek.


Dan lagi-lagi Rania selalu kesal dengan ucapan Zein yang tak terbantahkan dan membuatnya selalu serba salah. "Aku bisa makan sendiri." Rania berusaha mengambil alih piring dari tangan Zein. "Aww..." Rania kesakitan karena tangannya masih merasa nyeri untuk di gerakan. Dan sepiring makanan dan minuman itu pun jatuh mengotori selimut berwarna putih hingga menimbulkan bercak dari makanan dan minuman yang tumpah oleh Rania.


"Tanganku kenapa?" Ucap Rania pelan sembari membuang muka, memiringkan wajahnya dari Zein dan tertunduk malu.


Sementara itu, Zein merapikan sisa-sisa makanan yang terjatuh dengan memungutnya dan menaruhnya di atas nampan. Zein tidak menunjukkan wajah kesalnya, justru ia tetap tersenyum. Ya, Zein memang laki-laki yang sabar. Hampir jarang sekali ia menunjukkan kemarahannya bahkan pada karyawan dan bawahannya.


Ia bergegas keluar dan membawa selimut yang kotor akibat tumpahan makanan dan minuman yang dijatuhkan Rania. "Tolong ganti dengan selimut yang baru dan bawakan ke kamar!!" Perintah Zein pada salah satu pelayan yang tidak jauh dari kamar. "Baik, Tuan." pelayan itu menjawab dengan cepat dan segera pergi.


Zein masuk kembali ke dalam kamar dan mendapati Rania yang tampak malu atas perbuatannya barusan, sedang berbaring miring dan menyelipkan kedua telapak tangannya di bawah pipi dengan posisi kaki menekuk seolah kedinginan. Melihat Rania terlihat kedinginan, Zein membuka jas nya dan menyelimuti kaki Rania dengan jas hitamnya. Rania hanya tertegun dan tak bergerak seolah sudah cukup dirinya menyakiti Zein atas perbuatannya.


Tok..tok..tok..


Terdengar suara ketukan dibalik pintu, Zein tahu, itu pasti salah seorang pelayan yang membawakan selimut untuknya. "Masuklah!!" Seru Zein. Kemudian pelayan itu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, mendekati Zein dan memberikan selimut itu pada Zein, kemudian bergegas keluar kamar.


Lalu Zein menyelimuti tubuh Rania yang tak bergerak sedikitpun. Kecuali kedua matanya yang tampak bergetar seolah memaksa untuk memejamkan matanya yang belum mengantuk. "Tidurlah sayang! Dan mimpikan-ku didalam tidurmu!" Bisik Zein mesra ditelinga Rania. Mendengar bisikan itu, Rania hanya terdiam dan masih pura-pura tidur. Lalu Zein berlalu dan meninggalkannya.

__ADS_1


"Aaaarghhhh..." Zein menggerakkan tubuhnya seolah lelah dengan pekerjaannya seharian di kantor. Langkahnya menuju kamar mandi bergegas membersihkan tubuhnya. Sementara itu Rania mulai tertidur pulas.


Keheningan malam membuat Zein tampak gusar. Zein mendekat ke arah Rania yang sedang tertidur pulas. Zein hanya berani memandangi wajah Rania dari jauh, meski sebenarnya ia berhak menyentuh Rania. Tapi ia lebih takut Rania membencinya. Ia sadar bahwa Rania belum bisa menerimanya. Hatinya masih dipenuhi laki-laki lain yang bahkan meninggalkannya begitu saja bertahun-tahun tanpa kabar. Kakinya mulai menjauh mendekati sofa di seberang sana. Namun tiba-tiba Rania terbangun.


Melihat Zein sedang berdiri dan berjalan mendekati sofa Rania menghentikan langkahnya dengan pertanyaan tidak penting. "Hoaaaam... Zein jam berapa sekarang?" Zein berhenti melangkahkan kakinya dan berusaha menjawab pertanyaan Rania. "Untuk apa menanyakan jam? Tidur saja lagi, ini sudah hampir pagi." Jawab Zein tegas.


"Em... Itu, Zein bisa kau membantuku bergerak?" pinta Rania memelas.


"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Zein penasaran, berusaha mendekati Rania.


Ah, bagaimana ini? Aku sudah tidak tahan.


"A... Aku mau ke toilet." Jawab Rania pelan dan tersipu malu.


"Oh... Untuk hal sepertu itu, kau tak perlu merasa canggung. Dengan senang hati aku akan membantumu." Jawab Zein meledek sembari menahan senyum.


Yang benar saja, kalimat macam apa itu? Dasar mesum. Batin Rania kesal.


Zein mulai mendekat ke arah Ranai. Dan tiba-tiba kakinya terpeleset akibat sisa makanan dan minuman yang tertumpah sore tadi.


Braaaaak... Belum sempat ia mengangkat dan menggendong Rania dari kasur, tubuhnya justru menindih Rania, membuat kedua wajah saling bertemu dan saling menatap. Hampir saja Zein mendaratkan ciumannya di bibir mungil Rania.



*Bersambung.


Halo pembaca setia NYT 🤗


Terus dukung aku yah, dengan cara:


➡️klik suka (like)


➡️klik favorit


➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)


➡️beri tanda bintang lima


➡️beri aku vote sebanyak-banyaknya ya biar makin semangat nulisnya.

__ADS_1


Terimakasih semuanya. 🤗😊


__ADS_2