
Pagi itu seperti biasa, Zein sudah bersiap untuk berangkat ke kantornya. Sementara itu Rania pun sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi suaminya. Meski tidak kekurangan pelayan bahkan kelebihan pelayan, Rania lebih suka menyiapkan sarapan untuk suaminya sendiri. Menurutnya, cara seperti itu mampu memberikan keromantisan dan kenyamanan dalam suatu rumah tangganya. Begitupun dengan suaminya, Zein lebih lahap menyantap masakan yang di buat olehnya dengan rasa cinta.
Zein mulai menuruni tangga bersiap untuk sarapan pagi bersama istrinya, begitu melihat meja makan yang sudah tersedia berbagai menu sarapan di atas meja namun belum melihat istrinya duduk di kursi. Zein pun bergegas menuju dapur. Pikirnya, pasti Rania masih berada di dapur.
Rania tengah asik menggoreng telur mata sapi untuk suaminya dengan cetakan berbentuk hati. Seolah melambangkan rasa cintanya yang kian mendalam untuk suaminya.
Tiba-tiba dari belakang Zein memeluk tubuh Rania dan bergelayut manja dengan menyandarkan dagunya di bahu istrinya.
Meski sempat terkejut ketika tiba-tiba suaminya memeluk tubuhnya dari belakang, namun Rania sudah mulai terbiasa dengan keadaan itu dan menerima perlakuan sayang yang di tunjukkan oleh suaminya padanya.
Cup Zein mengecup mesra leher istrinya.
"Sayang... Lepaskan pelukannya sebentar, aku jadi geli dan tidak fokus masaknya." pinta Rania sembari memegang lembut pipi suaminya yang masih bergelayut manja di bahunya.
"Umm... Biarkan aku menikmati aroma tubuhmu yang memikat ini selama lima menit lagi." tawar Zein dengan nada manja.
"Hahaha... Apaan sih kamu, sayang?" ucap Rania sembari tertawa. "Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika rasa telur ini jadi tidak enak." sambungnya lagi.
"Tentu saja, Apapun yang kau buat dengan tanganmu pasti enak." Rayu Zein.
Setelah telurnya matang, Rania pun menaruhnya di atas piring yang sudah di sediakan olehnya sebelumnya.
Kemudian Zein melepaskan pelukannya ketika melihat istrinya meletakkan telur itu di atas piring.
"Wah... Sayang, Bagaimana bisa telur itu berbentuk hati?" tanya Zein terkejut.
"Tentu saja bisa... Apa kau tidak lihat tadi aku mencetaknya dengan alat berbentuk hati? Lalu membuatnya dengan cinta, dan... Jadi deh telur mata sapi berbentuk hati ini." jelas Rania, Zein pun tersenyum.
Selama memeluk tubuh istrinya, Zein hanya memejamkan matanya demi menikmati tubuh harum istrinya yang sedang di peluknya hingga tidak memperhatikan istrinya yang sedang memasak.
Kemudian Rania berjalan sembari membawa telur di atas piring yang di bawanya menuju ruang makan. Zein mengikutinya dari belakang sembari tersenyum sendiri melihat istrinya berjalan mendahuluinya.
Sayang... Terimakasih untuk perhatianmu yang luar biasa ini. Batin Zein bersyukur memiliki istri yang perhatian hingga mau menyiapkan sarapan pagi untuknya meski Zein sudah menyediakan banyak pelayan untuk istrinya.
Keduanya kini sudah duduk di kursi masing-masing lengkap dengan piring dan menu sarapan di atas meja.
"Sayang aku tidak tega memakan telur buatanmu ini." ucap Zein ragu-ragu memotong telur yang barusan di buat oleh istrinya.
"Loh... Memangnya kenapa, sayang? Aku membuatnya untukmu." balas Rania heran dengan ucapan suaminya barusan.
"Kalau aku memotongnya, nanti bentuk hati ini tidak utuh lagi dan terbelah dong." jawab Zein dengan suara manja.
__ADS_1
"Lalu... Apa hubungannya?" jawab Rania bingung.
"Tentu saja ada hubungannya, aku ingin hati kita tetap utuh dan terus mencintai sampai kita menua bersama." timpal Zein tertawa kecil.
"Hahaha... Apaan sih kamu, pagi-pagi sudah membual seperti itu." sahut Rania sembari tertawa.
Melihat Rania tertawa membuat Zein ikut tertawa hingga membuat keduanya larut dalam kehangatan di tengah sarapan pagi mereka.
"Ini enak sayang... Terimakasih untuk masakanmu hari ini." ucap Zein di sela-sela makan mereka.
Rania tersenyum lega mendengar pujian dari suaminya tentang masakan yang dibuatnya.
Meski hanya masakan sederhana, namun ketika kita membuatnya dengan cinta, rasanya akan terasa nikmat bahkan melebihi makanan termahal di dunia sekalipun. Begitulah kekuatan cinta.
"Apa kau suka masakanku?" tanya Rania penasaran.
"Tentu saja aku suka... Masakanmu adalah yang terenak setelah mama." Zein memuji dengan tulus.
"Kalau begitu aku akan memasak untukmu setiap hari." ucap Rania dengan semangat.
"Terimakasih sayang... Tapi, jika kau lelah jangan di paksa yah! Kan sudah ada Bibi Ros." jawab Zein lembut sembari mengelus telapak tangan Rania yang sedang bersandar di atas meja makan.
Rania mengangguk sembari tersenyum. Keduanya melanjutkan makan pagi mereka dan setelah selesai, Zein bangkit dari duduknya dan bersiap untuk berangkat kerja. Begitupun dengan Rania, ia pun bangkit dari duduknya dan mengikuti suaminya yang berjalan menuju teras rumah.
Zein pun mulai berjalan memasuki mobil yang sudah terparkir di depan pintu rumahnya. Sebelum masuk ke dalam mobil, Zein memalingkan tubuhnya untuk melihat lagi wajah Rania, namun kini ia melambaikan tangan kanannya dengan tersenyum.
Rania di buat malu oleh sikap suaminya kala itu di depan para pelayannya. Namun Rania tetap tersenyum menanggapi tingkah kekanak-kanakan suaminya dan balas melambaikan tangannya lalu menutup mulutnya dengan rasa malu.
Melihat Rania yang terlihat menggemaskan dengan sikapnya yang menutup mulut menahan malu, justru membuat Zein merasa gemas hingga membuatnya berjalan mendekati Rania lagi dan memeluknya tiba-tiba.
"Eh... Sayang... Kenapa kembali lagi?" tanya Rania terkejut.
"Hehehe... Tiba tiba aku ingin memelukmu lagi. Habisnya kau selalu terlihat menggemaskan." Bisik Zein di telinga Rania.
Hmmm... Apa setiap berangkat kerja akan selalu seperti ini? Dia bahkan tidak menganggap mereka ada. Batin Rania sembari menghela napas lalu melirik para pelayan yang tampak berdiri diam dengan kepala menunduk di hadapan mereka.
"Sayang... Nanti kesiangan." ujar Rania sembari mencoba melepaskan pelukan suaminya yang erat.
"Biar saja... Aku kan bos nya." jawab Zein dengan bangga seraya melepaskan pelukannya lalu berjalan kembali menuju mobil.
Kali ini Zein benar-benar masuk ke dalam mobil dan mobil itupun segera melaju.
🍀Di kantor🍀
__ADS_1
Begitu sampai di kantor dan sudah duduk di ruang kerjanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu.
"Masuk." ucap Zein dari dalam ruangan.
Ronald segera membuka pintu begitu mendengar Zein mempersilahkan dirinya masuk dan berjalan mendekati Zein lalu berhenti dan berdiri tepat di depan meja.
"Selamat pagi, tuan." sapa Ronald sembari menunduk sopan.
"Pagi... Bagaimana perkembangan kasus Rania? Jawab Zein sembari melayangkan pertanyaan pada Ronald.
"Sejauh ini, kami belum bisa menemukannya tuan. Namun sudah ada titik terang yang menunjukkan keberadaan si pelaku. Kami masih menelusurinya, tuan. Mohon bersabar." jawab Ronald tegas sembari menyerahkan berkas tentang kasus Rania.
Zein menerimanya lalu melihatnya dan meletakkannya di samping meja kerjanya begitu selesai memeriksa berkas itu.
Sementara itu, Ronald masih berdiri di hadapannya.
"Lalu... Bagaimana dengan Rey? Apa kau sudah menyelidikinya dan memastikan bahwa dia tidak terlibat dalam kasus itu?" tanya Zein sekali lagi sembari menatap wajah Ronald, menunggu dengan penasaran ingin tahu apa yang akan di ucapkan Ronald.
"Tuan, sepertinya Rey tidak ada hubungan dengan kasus Nyonya. Namun kami masih menyelidikinya." jelas Ronald.
Lalu Zein menyadarkan tubuhnya di punggung kursi sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Rasanya memang tidak mungkin jika Rey melakukan hal semacam itu pada wanita yang jelas-jelas masih dicintainya. Batin Zein menerka.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan? Apa Rey masih berusaha mengacaukan perusahaan?" tanya Zein.
"Itu dia, tuan. Yang membuat saya heran. Beberapa hari belakangan ini perusahaan kita aman tanpa gangguan apapun. Semuanya berjalan lancar seperti sebelumnya saat Rey tidak mengacaukan kita." jelas Ronald.
"Apa kau yakin?" Zein bertanya lagi untuk memastikan sembari meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Benar, tuan, tidak ada satupun bisnis maupun rencana pembangunan perumahan di beberapa tempat lainnya yang sedang kita rencanakan mengalami kesulitan. Semuanya berjalan seperti semestinya." jawab Ronald penuh keyakinan.
Aku penasaran... Kali ini, Apa lagi yang akan direncanakannya padaku? Mengingat Ancamannya saat itu terdengar begitu serius. Zein membatin penuh selidik.
"Siapkan kendaraan sekarang juga...! kita akan menemui Rey di kantornya."
Bersambung\=\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah, biar author sering-sering up buat kalian 🤗
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. Syukur-syukur jika kalian bantu author promoin novel author ke teman kalian. 😉
Selamat membaca. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. 🤗
__ADS_1