Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Semangkuk bubur cinta


__ADS_3

Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa bisa terkena hipotermia? Batin Rania penasaran.


Kemudian ia menemui dokter Viona untuk bertanya lebih lanjut tentang kondisi Zein.


"Dokter, kenapa Zein bisa terkena hipotermia? Apa penyebabnya?" Tanya Rania bingung.


"Yang sudah pasti itu, karena kedinginin, kehujanan dalam waktu lama, terlebih Tuan Zein masih mengenakan pakaian setengah kering." jawab Viona.


"sebenarnya apa yang terjadi semalam dok?" Tanya Rania penasaran.


"Maaf, nyonya, Apa nyonya tidak mengingat kejadian semalam?" Timpal Viona.


"Yang saya ingat, saya berlari menuju gerbang dalam kondisi hujan. Setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi." Rania mengucapkan dengan rasa menyesal.


"Semalam, Tuan Zein mengejar nyonya dan kehujanan. Mungkin karena terlalu lelah Menggendong nyonya dari depan gerbang sampai ke rumah. Jadi Tuan lupa mengganti baju dan ketiduran." Jelas Viona.


Jadi semua karena aku? Batin Rania menyesal.


Tanpa bertanya lagi, ia segera pergi meninggalkan Viona dan menuju kamar Zein. Ia berjalan dengan lemas.

__ADS_1


Zein, aku tidak habis pikir padamu. Kenapa kau masih saja memperdulikan-ku? Jelas-jelas aku menyakitimu berulang kali. Tolong jangan terlalu baik padaku, Zein!! Rania membatin.


Rania duduk di samping Zein yang masih tertidur pulas. Rania menempelkan telapak tangannya menyentuh dahi Zein. Memastikan bahwa panasnya sudah mereda. "Syukurlah, suhunya tidak terlalu panas." ia menyandarkan punggungnya di bahu kasur. Memejamkan matanya, merenungi kesalahannya.


Zein terbangun dan terkejut melihat Rania tertidur di atas kasur dengan posisi duduk menyandarkan punggungnya di bahu kasur, tangannya masih dalam posisi memegang dahinya. Namun gerakan Zein rupanya membangunkan Rania.


"Oh...kau sudah sadar Zein?" Tanya Rania lembut.


"Iya, kau tidak apa-apa kan?" Zein balik bertanya, diiringi senyum.


"Mmm... Aku tidak apa-apa, Zein. Seharusnya aku yang bertanya padamu." Rania menatap wajah Zein penuh kecemasan. Ada raut penyesalan di wajah Rania.


"Tidak ada kebodohan dalam mencintaimu." Ucap Zein sambil tersenyum simpul. Mendengar kalimat itu dari Zein, batin Rania pedih, serasa ada yang menusuk jantungnya. "Zein... Maafkan aku." tanpa sadar air mata menetes di pipinya, Rania sadar, bahwa laki-laki yang saat ini berada di sampingnya bukanlah penghancur hidupnya, melainkan pembuka kehidupan baru yang akan membuatnya bahagia kelak.


Tak ingin terlihat menangis, Rania pun bergegas pergi dengan beralasan ingin mengambil makan di dapur. "Zein, aku ke dapur dulu ambil makanan untukmu yah. Kau pasti lapar." Kata Rania tergesa.


Melihat Rania bisa bersikap baik dan lembut saja sudah membuat Zein senang.


Rania datang dengan membawa semangkuk bubur sayuran.

__ADS_1


"Zein, aku sengaja membuat bubur sayuran, agar kau bisa bertenaga lagi." kata Rania tersenyum.


Seperti inilah Rania yang ku kenal dulu. Penuh dengan senyum bahagia. Batin Zein


"aaaa.... " Pinta Rania pada Zein, sembari menyodorkan sendok berisi bubur hangat.


Zein membuka mulutnya dan melahap bubur itu dengan sangat bersemangat.


"Sebenarnya kau lapar atau doyan, Zein?" Tanya Rania sembari tertawa. Rania berusaha menutupi dan menghalau hatinya dari bayang-bayang lalu. Dan menerima Zein dengan sepenuh hati. Itu sebabnya, ia berusaha mencairkan suasana agar tampak bahagia di depan Zein yang sedang sakit.


Seperti sebuah mimpi, itulah yang ada dalam benak Zein saat ini. Tapi ia berharap ini bukan mimpi.


Keduanya larut dalam tawa.


Rania yang berpura-pura bahagia, sementara Zein berpura-pura tidak tahu dan menganggap sikap Rania adalah sungguhan. Bagi Zein, tidak masalah jika itu hanya sandiwara. Tidak masalah jika senyum dan tawa Rania hanya kepalsuan. Baginya melihat Rania tertawa dan bersikap lembut terhadapnya sudah lebih dari cukup.


Zein percaya, bahwa suatu saat Rania bisa mencintainya dengan tulus. Setulus dirinya mencintai Rania.


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2