
"Aku tidak tahu apakah hari ini dia mangkal di tepi jalan ini atau tidak, Tuan." jelas Ronald sembari menyapu pandangan di setiap tepi jalan.
"Bagaimana jika aku tidak mendapatkannya? Rania pasti akan kecewa dan pasang wajah cemberut sepanjang hari." ucap Zein yang mulai sedikit ragu bisa mendapatkan es dawet untuk istrinya yang saat ini sedang ngidam.
"Coba kita telusuri seluruh jalan ini, Tuan...!" kata Ronald menyemangati Zein.
"Kau pikir jalan ini memiliki ujung?" celetuk Zein.
Ronald ingin tertawa mendengar ucapan Zein saat itu. Namun ia mencoba menahannya agar tidak tertawa di depan Zein.
Di tengah perjalanan mereka mencari penjual es dawet, tiba-tiba ponsel milik Zein berbunyi.
Zein merogoh kantung jas nya dan meraih ponselnya.
Sayangku
Ada apa lagi dia menghubungiku? Batin Zein cemas ketika melihat yang menghubunginya adalah istrinya.
Perasaannya mulai tidak enak.
"Iya... Sayang, ada apa? Aku masih mencari penjual es dawet, kau tenang saja." ucap Zein penuh keyakinan seolah akan menemukan penjual es dawet.
"Bukan itu sayang..." jawab Rania dari dalam ponselnya.
"Lalu?" tanya Zein penasaran.
Batinnya semakin tidak enak.
"Tiba-tiba aku ingin makan papeda." pinta Rania dari dalam ponselnya.
Astaga... Makanan apa lagi ini? Kenapa dia tidak minta pizza, burger, sphageti atau chicken? Batin Zein penuh heran mendengar permintaan-permintaan aneh akhir-akhir ini dari istrinya.
"Sayang... Bisakah kau meminta yang lainnya...? Aku bahkan tidak tahu apa itu papeda?" Zein berusaha menawar.
"Tidak mau... Aku maunya es dawet dan papeda...!! Titik." jawab Rania dengan tegas.
Sudah ku duga... Dia tidak akan mau dengan penawaran lainnya, dia akan tetap pada kemauannya. Batin Zein pasrah.
"Baiklah, sayang... Aku akan mencoba mencarikan untukmu." balas Zein meyakinkan.
"Terimakasih, sayang... Muaaach..." balas Rania dari dalam ponselnya sembari melempar kecupan mesranya.
Awas saja jika aku mendapatkannya dengan susah payah dan tidak di makan. Batin Zein mengancam.
Lalu Zein mengakhiri sambungan tersebut dan menaruh kembali ponselnya ke dalam saku jas nya.
__ADS_1
"Ron..." Zein memanggil dengan suara lemas.
"Iya, Tuan." jawab Ronald singkat.
"Apa kau tahu apa itu papeda? Makanan jenis apa itu? Dimana kita bisa mendapatkannya?" pertanyaan beruntun dari Zein.
Papeda...? Aku bahkan baru mendengarnya. Batin Ronald mencoba menerka.
"Aku tidak tahu, Tuan. Maaf, kalau boleh tahu, ada apa dengan papeda, Tuan?" tanya Ronald dengan wajah serius.
"Kau saja tidak tahu... Bagaimana denganku?" Zein menggerutu.
Mendengar jawaban dari Ronald yang juga tidak tahu apa itu papeda, Zein berinisiatif untuk bertanya pada Pak Surya, supir pribadinya.
"Pak Surya..." Zein memanggil.
"Iya, Tuan." jawab Pak Surya, sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.
"Apa kau tahu, apa itu papeda?" tanya Zein penuh antusias, berharap kali ini bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Oh... Setahuku, itu jajanan anak SD yang sering kali di beli oleh anak-anak." jawab Pak Surya.
"Jajanan anak SD...? Apa kau yakin?" Zein terkejut mendengar jawaban dari Pak Surya bahwa itu adalah jajaran anak SD.
Bagaimana mungkin aku tidak tahu makanan itu? Perasaan... Waktu SD, aku tidak pernah memakannya. Batin Zein penuh heran.
"Lalu... Kira-kira, dimana kita bisa menemukan penjual papeda?" tanya Zein penasaran.
"Coba kita cari di sekolah-sekolah SD, tuan." usul Pak Surya.
"Benar juga... Ya sudah kita cari es dawet dan papeda secepatnya." ucap Zein yang mulai bersemangat ketika tahu dimana mendapatkan papeda.
"Baik, Tuan." jawab Pak Surya.
"Ron, tetaplah fokus pada penjual es dawet, sembari kits mencari papeda." ucap Zein pada Ronald.
"Baik, Tuan." sahut Ronald seraya mengangguk.
Sementara itu Ronald dan Zein masih tetap fokus pada jendela kaca dan menatap dengan pada bagian sisi jalan, berharap mereka dapat menemukan penjual es dawet.
Sepanjang jalan mereka menyusuri kota tersebut, Ronald sempat melamun. Ia membayangkan jika suatu saat menikah dengan Tania, apa saat Tania hamil, akan bersikap dan meminta yang aneh-aneh seperti kakaknya? Apapun itu dan sesulit apapun, Ronald akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Tania dalam membuatnya bahagia. Dalam bayangan Ronald.
"Ron..." Zein memanggil.
Namun Ronald masih asik dengan lamunannya tentang Tania, hingga ia tidak mendengar penggalian dari Zein yang berada dekat di sampingnya.
__ADS_1
"Ron..." kali ini Zein memanggil dengan suara yang sedikit keras.
Dan lagi-lagi, Ronald tetap tidak mendengar suara Zein yang memanggilnya l.
Ronald masih asik dalam lamunannya bersama Tania.
Merasa panggilannya terabaikan hingga dua kali. Zein pun menoleh wajahnya dan menatap ke arah Ronald.
Betapa terkejutnya ketika Zein melihat Ronald tengah melamun, pasalnya untuk pertama kalinya Ronald tidak fokus saat sedang bersamanya, di tambah ia melihat sendiri raut wajah Ronald yang tampak melamun dengan tatapan kosong dan sesekali tersenyum.
Cih... Dia sedang melamun apa sampai tertawa sendiri? Batin Zein heran.
Zein berdecak heran, entah hal apa yang membuat Ronald melamun? Zein bahkan berpikir jika Ronald sedang jatuh cinta.
"Ronald..." Zein memanggil Ronald sambil menyentuh bahu Ronald hingga akhirnya Ronald tersadar dari lamunannya.
"Ya, Tuan... Maafkan saya, Tuan." sahut Ronald seraya meminta maaf atas ketidakfokusannya.
"Apa yang sedang kau lamunkan? Apa ada masalah?" tanya Zein dengan wajah penasaran.
"Ah... Tidak ada, tuan. Aku hanya terbawa suasana." balas Ronald tersenyum.
"Hem... Ya sudah, kalau ada masalah katakan saja...! Kau tidak perlu sungkan." balas Zein perduli.
Bagi Zein, Ronald sudah seperti adiknya sendiri. Zein tidak akan sungkan untuk mengeluarkan berapa pun uang untuk Ronald. Atau membantu apapun untuk Ronald. Karena Ronald sudah banyak membantunya, terlebih dalam bisnisnya yang berjalan lancar karena dukungan dari Ronald.
Setelah hampir setengah jam mereka menyusuri jalan di kota tersebut, hasilnya benar-benar nihil. Mereka tidak menemukan sama sekali penjual es dawet, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah sekolah SD dan berhenti di tepi jalan berukuran sedang.
"Tuan... Coba kita cari di depan sekolah ini. Barang kali ada penjual papeda." ucap Pak Surya.
Kebetulan mereka berhenti di salah satu sekolah swasta yang jam belajarnya dibagi menjadi dua dan bergilir. Ada yang masuk pada jam pagi, dan ada yg masuk pada jam siang hingga sore. Jadi, masih ada beberapa para penjual jajanan di sana.
"Baiklah... Ron, ayo kita turun...!" pinta Zein pada Ronald.
"Tuan... Biar aku dan Pak Surya saja yang turun dan mencarinya. Tuan tunggu di dalam mobil saja." Ronald memberi saran.
"Tidak apa-apa Ron. Aku akan ikut kalian." balas Zein.
Bersambung\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
TERIMAKASIH. 🙏🏻
__ADS_1