Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Dua garis


__ADS_3

Di tengah rasa pusing yang kian menyerang, di tambah rasa mual yang tidak bisa di lawan, Rania yang tadinya mencoba menahannya sampai sore baru pulang ke rumah. Pada akhirnya ia tak sanggup menahan rasa yang tidak karuan yang kini hinggap di tubuhnya.


"Mel... Bisa bantu aku sebentar?" Rania memanggil Melly yang saat itu sedang sibuk mengganti gaun pengantin pada manekin.


Mendengar panggilan dari Rania yang tampak letih, dengan segera Melly berlari mendekati Rania yang saat itu sedang duduk di atas kursi membaringkan kepalanya di atas meja karena rasa pusing di kepalanya yang kian meningkat.


"Iya Bu... Ada apa?" tanya Melly dengan sopan.


Uuueeek...


Belum sempat Rania mengucapkan sepatah katapun pada Melly, tiba-tiba Rania merasa mual kembali hingga membuatnya harus berlari menuju toilet.


Melihat Rania tampak mual-mual dan wajahnya terlihat sangat pucat, Melly sedikit menduga bahwa mungkin saja Rania sedang hamil.


Apa Bu Rania sedang hamil yah? Melly membatin penuh selidik.


Melly berjalan mendekati Rania untuk memastikan apa Rania baik-baik saja.


Sementara itu di dalam toilet, Rania tampak sedang berdiri menatap cermin, kedua tangannya bertumpu pada kaca marmer. Dengan wajah yang basah dan tetesan-tetesan air yang jatuh dari wajahnya jatuh di atas wastafel, ia menatap tajam ke arah cermin. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang terjadi padanya?


"Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Melly dari dekat pintu toilet yang terbuka.


Pertanyaan Melly membuyarkan lamunannya.


Rania memalingkan wajahnya, melirik ke arah Melly dengan tatapan yang entah apa maknanya.


"Entahlah Mel... Aku sendiri tidak tahu, apa yang terjadi padaku? Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini." jawab Rania dengan suara lemas.


"Mungkin Ibu terlalu lelah dan butuh istirahat." jawab Melly mencoba menenangkan Rania agar tidak panik.


Karena jika Melly mengatakan bahwa Rania hamil, takut akan membuatnya kecewa jika kenyataannya tidak hamil, Melly tidak mau menduga sesuatu yang belum jelas kebenarannya.


"Kamu benar Mel... Mungkin aku terlalu lelah, akhir-akhir ini memang sangat melelahkan." balas Rania, lalu bergegas kembali ke meja kerjanya.


Sesekali rasa pusing dan mualnya hilang, namun sesekali juga rasa pusing dan mualnya kembali datang.


Kini Rania duduk di atas kursinya kembali, mencoba meneruskan kembali sketsa gaun yang belum sempat di selesaikannya.


Dan lagi-lagi kepalanya terasa pusing hingga membuatnya tidak bisa fokus dalam bekerja.


"Mel..." Teriak Rania dari jauh.


Melly segera mendekatinya.


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Melly dengan sopan.


"Tolong belikan aku obat sakit kepala di minimarket terdekat." pinta Rania dengan wajah yang sudah pucat.


"Tapi Bu..." ucap Melly terputus.


Melly takut jika Rania meminum obat sembarangan dan ternyata dia sedang hamil, itu bisa membahayakan kandungannya.


"Tapi apa Mel?" tanya Rania bingung.


"Bagaimana jika ternyata ibu sedang hamil?" balas Melly dengan ragu. "Maaf atas kelancangan saya bu." imbuhnya.


Mendengar ucapan Melly barusan cukup membuat Rania terkejut, seketika ia berpikir, apa benar ucapan Melly barusan? Namun ia juga tidak yakin jika ia sedang hamil. Kini Rania dalam kebingungan.


Dalam benak Rania, ia ingin mencoba alat tes kehamilan, namun ia terlalu takut pada kenyataan jika ternyata dugaannya salah. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja ke rumah dengan di antar suaminya.


"Sepertinya aku akan pulang, Mel, tolong kamu urus butik yah?" ucap Rania sebelum ia pulang dan menghubungi suaminya.


Dengan segera, Rania menghubungi suaminya.


Tidak lama Zein mengangkat telepon darinya.


"Ya sayang... Ada apa?" tanya Zein dengan suara lembut.


Saat itu Zein sedang berada di ruang kerjanya memeriksa beberapa berkas dan tidak terlalu sibuk.


Belum sempat Rania bicara.


Uuueeek...


tiba-tiba ia merasa mual hingga membuatnya langsung berlari ke dalam toilet.


Begitu sudah berada di dalam toilet, ia pun langsung menumpahkan isi perutnya lagi. Ini sudah yang ke tiga kalinya ia memuntahkan isi perutnya.


"Sayang... Kau kenapa?" tanya Zein dengan begitu paniknya mendengar suar mual dari istrinya.


Beberapa kali Zein memanggil Rania namun Rania tidak menjawabnya karena sedang berada di dalam toilet.


Akhirnya kepanikan mulai menghampiri pikiran Zein saat itu, tanpa menunggu jawaban dari Rania, Zein langsung berlari dan meminta supir pribadinya untuk segera mengantarnya ke butik.


"Pak Surya, kita ke butik sekarang juga." ucap Zein pada Surya.


Melihat Zein begitu tergesa dan panik, akhirnya Pak Surya pun segera memacu mobilnya menuju butik.


Sementara itu, Rania kembali ke meja kerjanya dan begitu ia melihat panggilannya dengan suaminya sudah terputus ia pun mengabaikannya.


Kenapa dia mematikan panggilannya? Padahal aku belum sempat bicara. Batin Rania heran.


Sebenarnya ada apa denganku? Sudah tiga kali aku memuntahkan isi perutku. Batinnya lagi.


Akhirnya ia pun memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruang belakang demi meredam rasa mual dan pusing di kepalanya.


Baru beberapa menit ia merebahkan tubuhnya di atas sofa, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Siapa? Batinnya.

__ADS_1


Begitu melihat ponselnya dan ternyata suaminya yang menghubunginya, ia pun segera menjawabnya.


"Ya sayang..." jawab Rania.


"Sayang... Tunggu aku dan jangan kemana-mana, saat ini aku sedang di jalan menuju ke tempatmu." ucap Zein dengan tergesa.


"Baiklah." jawab Rania singkat.


Ia sudah tidak bisa banyak bicara lagi, rasanya sudah tidak menentu pada saat itu.


Setelah sepuluh menit Rania ketiduran di atas sofa.


Kemudian Zein sampai di butik, ia berlari dengan cepat untuk melihat kondisi istrinya.


Mendengar suara mual istrinya di dalam ponsel tadi, tanpa berpikir panjang, Zein langsung berasumsi bahwa mungkin saja istrinya tengah mengandung anaknya.


Itulah yang membuatnya segera pulang dan ingin menemui Rania.


"Sayang..." ucap Zein dengan suara pelan.


Zein sudah berada di ruang belakang, duduk jongkok membelai rambut istrinya yang tengah tertidur di atas sofa.


Mendengar suara suaminya memanggilnya dengan sebutan mesra mereka, Rania pun akhirnya membuka matanya.


Begitu yang di lihat adalah benar-benar suaminya, Rania pun refleks memeluk tubuh suaminya dengan melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya yang saat itu sedang dalam posisi berjongkok.


"Ayo kita ke dokter, sayang." ucap Zein dengan percaya diri.


Zein yakin saat ini Rania sedang hamil. Entah kenapa firasatnya benar-benar mengarah ke sana.


"Untuk apa ke dokter, sayang?" tanya Rania bingung.


"Tentu saja untuk memeriksa kondisimu saat ini." balas Zein tegas.


"Aku tidak mau ke dokter, di rumah sakit pasti bau obat." jawab Rania dengan wajah cemberut.


"Ya sudah kita pulang saja, nanti aku akan memanggil Dokter Viona untuk memeriksa keadaanmu." balas Zein meyakinkan.


Mendengar ucapan suaminya, Rania pun lega dan menyetujuinya.


Lalu Zein menggendong istrinya sampai masuk ke dalam mobilnya.


Selama dalam gendongan suaminya, Rania tampak begitu nyaman dan memeluk tubuh suaminya dengan erat, entah kenapa saat itu terasa sangat nyaman sekali, berbeda dengan sebelumnya, meski itu bukan pertama kali ia di gendong oleh suaminya.


"Sayang... Kenapa kau begitu berat?" Ledek Zein sembari tersenyum.


Mendengar ucapan suaminya membuat Rania kesal dan refleks memukul dada suaminya.


"Hahahah... Aku hanya bercanda sayang, jangan terlalu serius." ucap Zein menggoda.


Lalu Zein meletakkan tubuh Rania dengan sangat hati-hati ke dalam mobil. Begitu sudah berada di dalam mobil, Zein meminta Rania untuk tidur di pangkuannya selama dalam perjalanan.


Rania mengangguk dan merebahkan kepalanya di atas paha suaminya.


"Huh... Ini sangat tidak nyaman, kenapa kepalaku jadi terasa sakit, apa kau sekurus ini sayang?" ucap Rania.


"Sayang... Aku seperti ini dari dulu, lagi pula tubuhku ini sudah sangat proposional, kau mau aku obesitas?" ucap Zein dengan nada kesal karena di bilang kurus.


Selama ia hidup, hanya istrinya yang mengatakan bahwa dirinya kurus.


"Heheh... Tapi ini benar-benar tidak nyaman, sayang." ucap Rania meyakinkan.


Ia pun bangun dari tidurnya di atas paha suaminya lalu menyandarkan tubuhnya di punggung kursi.


"Sayang... Kalau kau tidak nyaman dengan mobil berukuran kecil ini, besok kita gunakan mobil yang lebih besar agar kau nyaman saat di dalam mobil." Zein berusaha menenangkan istrinya.


Rania hanya mengangguk.


"Sayang... Sepertinya aku ingin muntah lagi." ucap Rania sembari menutup mulutnya.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai, apa kau bisa menahannya?" ucap Zein sembari mengusap-usap punggung istrinya.


"Tidak bisa sayang... Ini sudah di ujung." jelas Rania. "Sayang, mana plastiknya?" Teriaknya karena sudah tidak bisa menahan untuk tidak muntah.


"Sayang... Mana ada plastik di sini? Sejak kapan aku menyediakan plastik di dalam mobil? Aku bukan tukang gorengan, sayang." balas Zein dengan panik melihat Rania tampak panik.


Uuueeek...


Aaarrrgh...


Dan akhirnya tumpah juga isi perut Rania di baju suaminya.


Zein tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya tertegun dengan kejadian barusan.


"Sayang... Maafkan aku, bajumu jadi kotor." ucap Rania dengan suara yang sangat pelan lalu tersenyum.


Selama ini Zein terbiasa dengan kebersihan, ia bahkan sering kali merasa jijik mendengar suara mual yang di timbulkan dari orang lain. Namun kali ini berbeda, yang ada di depannya adalah istrinya sendiri. Meski merasa tidak nyaman, namun Zein berusaha terlihat baik-baik saja di depan istrinya dan tidak terlihat jijik sama sekali.


"Sayang, bagaimana ini....? Bajumu kotor sekali, ah aku jijik melihat muntahanku sendiri, apa lagi kamu." ucap Rania dengan wajah tidak enak.


"Tidak apa-apa sayang, sebentar lagi kita sampai, aku akan membersihkan tubuhku begitu sampai rumah." timpal Zein sembari tersenyum.


Akhirnya mereka sampai di rumahnya.


Begitu sampai depan rumah, Zein membuka jas dan juga kemejanya yang kotor akibat muntahan istrinya.


Lalu menggendong kembali istrinya.


"Eh..." Rania terkejut.

__ADS_1


"Kau pasti lemas, biar aku gendong sayang." ucap Zein.


"Tapi, aku bisa jalan sendiri kok, lagi pula kita bisa menggunakan lift." balas Rania.


"Tidak perlu..." balas Zein singkat.


Lalu dengan cepat, Zein menggendong tubuh istrinya dan menaiki tangga.


Hem... Dia ini... kebiasaan menggendongnya tidak pernah hilang. Rania membatin.


Begitu sudah sampai di dalam kamar, Zein meletakkan tubuh istrinya di atas kasur dengan sangat hati-hati.


"sementara menunggu dokter Viona datang, kau istirahatlah." ucap Zein sebelum akhirnya pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Peffft... Ini terasa sangat nyaman. Batin Rania ketika sudah berada di atas kasur lembutnya.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Zein segera keluar dan berganti pakaian.


Begitu sudah selesai mengganti pakaian, Zein mendekati istrinya yang sedang tidur di atas kasur, merebahkan tubuhnya tepat di sampingnya, menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta.


Dan tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu.


Tok tok tok


Zein tahu itu pasti Viona, karena ia meneleponnya saat di jalan tadi.


"Masuk...!" ucap Zein dari dalam kamar.


Mendengar suara Zein yang mempersilahkan dirinya untuk masuk kamar, Dokter Viona pun segera membuka pintu kamar dan menyapa Zein.


"Selamat siang, tuan." sapa Viona sembari tersenyum.


Saat itu memang masih siang hari, tepatnya pukul sebelas siang.


"Siang." balas Zein singkat. "Silahkan, dok." Zein mempersilahkan.


Dokter Viona mendekati Rania dan duduk di tepi kasur.


Mendengar suara berisik, Rania akhirnya bangun dari tidurnya.


"Eh... Dokter Viona." sapa Rania terkejut.


"Iya Nyonya apa kabar?" tanya Dokter Viona sambil tersenyum, lalu mengeluarkan alat medis yang di bawanya.


"Hari ini tidak terlalu baik, Dok." jawab Rania dengan nada lemas. "Seperti yang Dokter lihat, aku sangat lelah karena hari ini aku muntah banyak sekali." imbuhnya.


"Oh begitu... Sebentar, biar saya periksa ya Nyonya." ucap Dokter Viona sembari tersenyum.


"Iya dok." balas Rania setuju.


Lalu Dokter Viona memeriksa bagian perut Rania.


Begitu selesai memeriksa.


"Kenapa Dok?" tanya Zein penasaran.


Saat itu Zein berdiri memperhatikan istrinya yang sedang di periksa.


Rania tampak bingung dan menunggu hasil dari pemeriksaan dokter Viona.


"Tuan, sepertinya saat ini Nyonya sedang hamil." jelasnya.


Mendengar pernyataan dari Dokter Viona, sontak membuat keduanya terkejut dan tidak bisa berkata-kata atas perasaan bahagia mereka.


Ada aura bahagia di wajah Zein dan Rania saat itu, bahkan Zein hampir saja menjatuhkan air matanya. Namun ia memilih membalik tubuhnya agar Rania dan Dokter Viona tidak melihatnya menangis, lalu Zein menyeka air matanya.


Zein tidak bisa membayangkan bahwa di dalam perut istrinya ada malaikat kecil yang akan melengkapi kebahagiaan mereka berdua dalam mengarungi rumah tangga.


"Namun ini belum akurat, sebelum kita melakukan tes kehamilan secara akurat." timpal Dokter Viona.


"Saya membawa alat tes kehamilan, mohon Nyonya untuk mencobanya..!" tambahnya.


Zein melirik wajah Rania lalu menganggukkan kepalanya, Rania yang melihat suaminya begitu antusias dan bahagia. Dengan semangat ia pun turun dari kasurnya dan mencobanya di dalam toilet.


Setelah beberapa menit. Akhirnya Rania keluar dari dalam toilet.


Zein dan Dokter Viona yang sudah menunggunya keluar tampak cemas, terlebih suaminya. Selama berada di dalam toilet, Zein mondar-mandir di depan toilet tidak sabar menunggu istrinya keluar dengan membawa berita baik sesuai dengan yang di bayangkannya.


"Bagaiman sayang?" tanya Zein dengan wajah penasaran.


Rania melirik ke arah Dokter Viona lalu beralih melirik suaminya.


Dengan menyembunyikan alat tes kehamilan di belakang tubuhnya dan dengan wajah yang memperlihatkan kekecewaan.


Setelah beberapa detik Zein dan Dokter Viona menunggu hasilnya.


Dengan wajah masam, akhirnya Rania menganggukkan kepalanya lalu tersenyum mengembang.


Melihat ekspresi Rania seperti itu, membuat Zein langsung berubah wajah, Zein tampak senang lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat, tidak perduli di sana ada Dokter Viona. Yang jelas, perasaannya saat itu sangat bahagia.


Setelah beberapa detik memeluk tubuh istrinya, Zein pun melepaskannya.


Ia memegang tangan Rania dan melihat hasil dari tesnya, begitu ia melihat garis dua di test pack, Zein semakin tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi selain bersyukur dan merapal doa di dalam hatinya atas anugerah yang Tuhan berikan padanya melalui istrinya.


Bersambung\=\=\=\=\=>


Jangan lupa dukungnya ya


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2