
Mendengar nama Dokter Gea, cukup membuat Rania terkejut. Rania sempat berpikir, apa mungkin dokter Gea adalah dokter kandungan?
Apa mungkin Dokter Gea, adalah dokter kandungan? Batin Rania menduga.
"Siapa itu Dokter Gea?" Rania bertanya dengan wajah bingung.
"Dokter Gea, adalah dokter yang akan membantumu di rumah selama aku di tidak ada di rumah." Zein menjelaskan.
"Itu artinya... Dia akan tinggal di rumah?" tanya Rania dengan wajah penasaran.
"Iya sayang... Dia akan tinggal di rumah sementara aku di sini. Kau tidak perlu repot mengurusnya, Bibi Ros akan mengurus segalanya. Kau hanya perlu jaga kesehatanmu dan bayi kita...!" jelas Zein.
"Hem... Baiklah." balas Rania singkat.
"Ya sudah, jangan terlalu di pikirkan dan istirahatlah...!" ucap Zein.
"Iya." Rania mengangguk.
"Love u, sayang... Muaaach." kata terakhir dari Zein sebelum ia bener-bener mengakhiri panggilannya.
Cih...
Mendengar kata terakhir dari suaminya yang terdengar menggelikan, Rania pun hanya berdecak sembari tersenyum-senyum sendiri.
Rania memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung bajunya.
Sementara itu, Tania yang saat itu sedang duduk di samping Rania dan mendengarkan pembicaraan Rania dan Zein bersuara.
"Kak... Sepertinya ada mobil yang mendekat." ucap Tania dengan wajah fokus pada mobil yang mulai mendekat.
Sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya, mendengar ucapan Tania, Rania pun penasaran dan menatap ke arah jalan panjang beraspal dari gerbang hingga depan rumahnya.
Mobil siapa ya? Sepertinya aku baru melihatnya. Batin Rania heran.
Apa itu mobil dokter Gea? Batin Rania mencoba menerka.
Pandangan mata Rania dan Tania fokus pada arah mobil yang mulai mendekat.
Tidak lama, mobil itupun sampai dan berhenti tepat di depan mereka.
Rania dan Tania pun bergegas bangkit dari duduknya.
Seorang wanita muda berparas cantik dan anggun berbalut baju kemeja hitam berjas putih dengan terusan rok putih selutut keluar dari dalam mobil. Ia mulai mendekati Rania, melambaikan senyum sapa.
"Selamat pagi, Nyonya...?" sapa wanita tersebut sambil mendaratkan senyum.
"Pagi..." balas Rania singkat.
Dengan wajah bingung Rania memperhatikan wanita tersebut dari ujung rambut hingga kakinya.
Rania sempat cemburu dengan kedatangan wanita tersebut, meksi ia berpikir bahwa pasti dia adalah Dokter Gea.
"Perkenalkan, saya Gea." Gea mengulurkan tangan kanannya.
Benar saja dugaaanku. Rania membatin.
"Oh.. Silahkan masuk Dok." ucap Rania mempersilahkan dokter Gea masuk ke dalam rumahnya.
Tidak lama, Bibi Ros pun datang untuk menyambut dokter Gea dan menjelaskan apa-apa yang harus dikerjakan dokter Gea selama berada di rumah Zein termasuk tempat tidur untuk dokter Gea. Lalu mereka pun masuk ke dalam bersama-sama.
Sementara dokter Gea bersama Bibi Ros, Rania bergegas ke kamarnya, begitu pun dengan Tania yang mengikutinya di sampingnya.
Orang-orang yang mengerjakan pemagaran bagian depan tangga juga sudah selesai dan pergi.
__ADS_1
Kini, tiap kali naik dan turun, Rania terpaksa harus menggunakan lift.
Hari-hari berjalan seperti biasanya di rumah Rania.
*** Tiga hari kemudian ***
Pagi itu, seperti biasa, Rania melakukan aktifitasnya sama seperti hari-hari sebelumnya.
Sementara itu, Tania mulai kembali ke rumahnya karena ada urusan di sekolahnya. Deket Gea sedang berada di kamarnya, entah membaca-baca buku atau untuk sekedar bersantai. Karena tugasnya hanya memeriksa Rania dan setelahnya ia memiliki banyak waktu santai. Tidak seperti saat di rumah sakit milik Zein.
Rania keluar menuju taman di depan rumahnya, seperti biasa, ia kini sangat hobi menyiram tanaman yang banyak sekali berjajar mengelilingi di sisi-sisi rumah Zein.
Begitu Rania sedang menyiram tanaman bunganya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan datangnya sebuah mobil yang sangat di kenalnya.
Ia menoleh ke depan dan melihat ke arah mobil yang mulai mendekatinya. Benar saja, itu memang mobil Zein yang sengaja tadi pagi di bawa supir pribadinya untuk menjemput Zein di bandara.
Zein keluar dari dalam mobil dengan tangan kosong. Berjalan mendekati Rania yang saat itu sedang memegang selang air yang masih menyala. Dan tak lupa menebar senyum tampannya pada istrinya yang terkejut.
Spontan Rania membuang selang air yang di pegangnya, berlari kecil mendekat suaminya.
Sambil berjalan dan membuka lebar-lebar kedua tangannya, Zein langsung memeluk tubuh mungil istrinya yang sudah lama di rindukannya. Tiga hari berada di di Singapura, berjauhan dengan istrinya serasa tiga tahun baginya.
"Sayang..." suara Zein dengan lembut memanggil Rania.
Setelah berpelukan untuk beberapa saat. Keduanya akhirnya masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa, saat masuk ke dalam rumah, Zein memang selalu di sambut hangat oleh para pelayanannya di rumah, begitupun dengan Dokter Gea.
"pagi Dok." Zein menyapa dokter Gea dengan ramah sambil melempar senyum.
"Pagi juga, Tuan." balas dokter Gea sembari tersenyum.
"Tugasmu di rumah ini sudah selesai... Kau boleh kembali ke Rumah Sakit...!" ucap Zein pada dokter Gea disertai senyum.
Setelah menyapa dokter Gea. Zein pun bergegas menuju kamarnya sembari menggenggam tangan istrinya di sampingnya.
Sementara itu, dokter Gea pun menuju kamarnya untuk merapikan bajunya dan kembali bertugas di Rumah Sakit milik keluarga Arka yang di bangun oleh Zein Arka, anak sulung laki-laki satu-satunya.
Begitu sampai di kamarnya, Zein langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya setelah perjalanan di pesawat.
Sementara itu, Rania meletakkan tas suaminya di atas meja.
Meski sangat pencemburu, namun Rania tidak pernah merasa curiga pada suaminya, ia tidak pernah berusaha mencari hal-hal yang aneh, baik di dalam saku jas maupun tas milik suaminya. Rania tahu, seperti apa karakter suaminya, bahkan ia dari pengakuan suaminya bahwa satu-satunya wanita yang di cintai oleh suaminya dari kecil hingga saat ini adalah dirinya, membuatnya selalu berpikir positif terhadap suaminya, meski tidak jarang wanita yang berusaha ingin mendekati suaminya, termasuk sahabat suaminya dulu, yaitu Yina yang kini masih berada di penjara karena kasus percobaan melukai dirinya dulu.
Setelah selesai menyegarkan tubuhnya, Zein yang saat itu masih menggunakan handuk menutupi bagian pinggang hingga lututnya, berjalan mendekati Rania yang saat itu sedang berdiri di depan meja merapikan berkas. Dari belakang Zein memeluk tubuh istrinya hingga membuat Rania terkejut.
"Eh... Sayang, tubuhmu masih basah. Keringkan dulu." seru Rania.
Tubuh Zein yang masih basah dengan rambut yang juga masih basah, membuat bulir-bulir air yang menetes dari rambutnya jatuh mengenai tubuh Rania.
Seolah tak menghiraukan ucapan istrinya, Zein yang terlanjur memendam hasratnya selama beberapa hari jauh dari Rania, justru mengangkat tubuh istrinya. "Eh... Sayang, kau mau apa?" tanya Rania malu-malu sembari memukul manja dada bidang suaminya.
"Masa kau tidak tahu sih?" jawab Zein dengan nada menggoda.
Rania tahu maksud dari suaminya yang tiba-tiba menggendong tubuhnya, terlebih mereka tidak bertemu selama tiga hari.
Tanpa menolak atau pun mencari alasan, Rania akhirnya pasrah dengan apa yang akan di lakukan suaminya hari itu.
Dan seperti biasa, kemesraan itu terjadi lagi, Zein melakukannya dengan sangat hati-hati mengingat istrinya yang saat ini sedang hamil muda.
Setelah pertempuran hangat tersebut berakhir, keduanya masih berada di atas ranjang dan di bawah selimut yang sama. Menikmati sejenak waktu berdua mereka dengan saling berpelukan.
"Sayang..." Rania memanggil dengan suara lembut.
__ADS_1
"Ya." sahut Zein sembari membelai dan memainkan rambut istrinya.
"Aku ingin liburan... Tapi ke mana ya?" usul Rania.
"Jangan sekarang-sekarang ini ya sayang...!" jelas Zein.
Mendengar jawaban suaminya, sontak Rania terkejut. Rania mendongakkan wajahnya ke atas, menatap penuh heran wajah suaminya.
"Memangnya kenapa? Apa kau masih sibuk?" tanya Rania heran.
"Saat ini memang tidak terlalu sibuk, tapi aku khawatir dengan keadaanmu sekarang." balas Zein sembari menatap wajah istrinya.
Seketika Rania mendengus, menundukkan wajahnya kembali, wajahnya yang tepat berada di depan dada bidang suaminya itu tampak masam.
Rania sedikit kesal karena keinginannya untuk liburan justru di tolak oleh suaminya.
Entah kenapa, tiba-tiba Rania ingin sekali pergi liburan. Entah karena rasa jenuh yang melanda dirinya saat hamil berada di rumah setiap hari? Atau karena keinginan dari pengaruh kehamilannya.
"Sayang... Nanti saja yah, kalau anak kita sudah lahir, kemanapun kau ingin pergi, aku akan menurutinya." bujuk Zein sembari tersenyum pada Rania.
"Tapi, sayang... Aku maunya sekarang. Gak perlu ke luar negeri, aku cuma pengen liburan sehati atau dua hari ke tempat yang sejuk dan jauh dari keramaian." Rania merengek seperti anak kecil yang sedang minta jajan.
Melihat Rania begitu ingin pergi liburan. Batin Zein tidak tega melihatnya, namun ia juga tidak tega jika harus melihat Rania bepergian, ia khawatir Rania mengalami kelelahan di jalan saat bepergian.
Kali ini Zein bingung harus bagaimana?
Akhirnya ia pun memutuskan untuk mendiskusikan ini pada dokter Gea yang sudah menangani Rania beberapa hari terakhir selama dirinya di Singapura.
"Sebentar, sayang... Biar aku telepon dokter Gea dulu." ucap Zein sembari meraih ponselnya yang ada di atas meja, di samping kasurnya.
Kenapa harus telepon dokter Gea? Batin Rania bingung.
"Untuk apa menelepon dokter Gea?" tanya Rania penasaran.
"Aku akan mengajaknya liburan bersama kita." jawab Zein tersenyum meledek.
"Sayang... Apa Kau ingin melihat piring terbang?" ucap Rania penuh ancaman.
"Hahahah..." Zein tertawa terbahak mendengar ucapan Rania barusan.
Zein berhasil membuat istrinya cemburu dan berpikir ucapannya adalah sungguhan.
Tidak lama, sambungannya pun tersambung pada dokter Gea.
"Iya, Tuan... Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Gea dari seberang telepon.
"Tentu saja... Aku ingin bertanya, apa boleh jika sekarang-sekarang ini istri saya bepergian jauh, misalnya ke luar kota?" tanya Zein dengan wajah serius.
Mendengar ucapan Zein, Rania mengerti maksud dari tujuan Zein menghubungi dokter Gea.
Oh... Jadi ternyata untuk mengatakan hal itu? Batin Rania mengerti.
Sayang... Kenapa sih kamu selalu buat aku meleleh dengan setiap perhatianmu itu? Kau bahkan memikirkan segalanya untukku, sementara aku sendiri tidak begitu mempedulikan sesuatu. Batin Rania tersentuh.
Bersambung \=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
__ADS_1
TERIMAKASIH. 🙏🏻