
Deg... Jantungnya berdebar.
Mendengar suara laki-laki yang tidak asing di telinganya yang berasal dari arah sampingnya, membuat Rania penasaran dan seketika ia menoleh wajahnya ke samping.
Benar saja dugaannya, laki-laki dengan suara yang tak asing itu adalah Rey, mantan kekasihnya sendiri.
Bagaimana mungkin dia bisa ada di sini? Apa dia mengikutiku? Batin Rania penuh selidik.
Sementara itu, Merry hanya diam melihat Rania dan Rey bertatapan dengan tatapan yang tidak biasa, Rey menatap Rania dengan tatapan penuh cinta, namun sebaliknya, Rania dengan tatapan penuh kebencian.
Setelah beberapa detik keduanya saling bertatapan, Merry bersuara hingga membuyarkan lamunan mereka.
"Apa... Kalian saling mengenal?" tanya Merry pada Rania.
Rania membalik wajahnya dan menatap ke arah Merry. "Ti...." belum sempat Rania meneruskan kalimatnya, Rey langsung menyambarnya.
"Tidak salah lagi... Kami memang saling mengenal." balas Rey tersenyum.
Mendengar ucapan Rey saat itu yang dengan sengaja menyambar kalimatnya dan mengakui bahwa dirinya mengenal, membuat Rania semakin kesal. Namun Rania tidak menimpalinya, ia diam dan membuang wajahnya dari Rey. Matanya menatap ke bawah.
"Oh... Kalian saling mengenal, apa kau akan terus diam dan berdiri di sana?" tanya Merry pada Rey yang saat itu hanya berdiri diam sembari menatap wajah Rania. "Bergabunglah dengan kami." imbuh Merry sembari tersenyum.
Mendengar seruan dari Merry dan memintanya untuk duduk dan bergabung, tanpa ragu, Rey pun berjalan mendekati mereka dan mencoba untuk duduk di kursi sebelah Merry yang menghadap langsung ke arah Rania.
"Mer... Sepertinya aku harus pulang." ucap Rania dengan wajah menunduk tanpa mau menatap wajah Rey yang berada tepat di depannya.
"Kenapa cepat sekali? Makananmu pun masih belum habis..." balas Merry heran.
"Tiba-tiba selera makanku jadi hilang." jawab Rania.
Cih... Apa-apaan dia? Apa wajahku begitu tidak enak di pandang hingga membuatnya hilang selera makan? Batin Rey berdecak.
"Oh... Bukankah kau bilang sangat menyukainya? Dan aku lihat kau begitu menikmati makanmu tadi." timpal Merry sembari mengernyitkan kedua alisnya.
"Jika kau merasa terganggu denganku, aku akan pergi." ucap Rey dengan nada lembut.
Mendengar ucapan Rey barusan membuat Rania semakin kesal dan ingin sekali memukul wajahnya.
Cih... Apa yang dia rencanakan sebenarnya? Rasanya tidak mungkin ada kebetulan yang benar-benar kebetulan dalam dua kali pertemuan. Batin Rania penuh selidik.
"Tidak perlu." balas Rania singkat.
Rania berdiri dari duduknya dan berjalan pulang. Meski ia tidak tahu harus ke mana karena ia lupa arah pulang, namun kedatangan Rey benar-benar membuatnya tidak nyaman dan ingin sekali menyingkir dari hadapan Rey.
"Tunggu." Teriak Merry.
Teriakan Merry saat itu membuat langkahnya terhenti.
Merry beranjak dari duduknya dan segera mendekati Rania yang saat itu diam berdiri membelakangi mereka.
"Kau bilang tidak tahu arah pulang, apa kau yakin bisa pulang sendirian?" tanya Merry meyakinkan.
"Tentu saja... Kau tidak perlu cemas Mer." balas Rania tersenyum.
"Tapi ini sudah malam, Ran." balas Merry sembari memegang tangan Rania.
"Dia benar... Apa kau tidak takut? Ini sudah malam." ucap Rey dari belakang mereka.
"Aku lebih takut berada bersama seorang laki-laki dari pada harus berjalan sendirian di malam hari." balas Rania dengan nada sinis dan seolah-olah sedang menyindir mantan kekasihnya itu.
Cih... Kau benar-benar masih belum berubah Rania, masih saja keras kepala. Jika aku adalah suamimu, kau tidak akan bisa berlaku seperti ini padaku. Batin Rey berdecak.
Di sela-sela obrolan mereka, akhirnya Zein menemukan keberadaan Rania. Saat itu Zein melihat Rania sedang berdiri bersama seorang wanita, yaitu Merry.
"Rania... Ke mana saja kau?" ucap Zein dengan nada kesal.
Dengan napas yang masih tersengal karena berlarian mencari Rania dan membuat kepanikan bagi dirinya dan orang lain, tentu saja membuat Zein kesal karena ulah istrinya.
"Ze... Zein." Rania terkejut begitu mendengar suara Zein dan sudah ada di depan matanya.
Sementara itu Rey masih duduk di atas kursi dengan santai sembari memperhatikan mereka dari jarak lima meter.
Begitu Zein melihat ada Rey yang sedang duduk di atas kursi dengan santai. Emosinya semakin memuncak.
"Apa yang kau lakukan di sini, Rania...!" ucap Zein dengan nada sedikit berteriak sembari melirik wajah Rey. "bisakah sehari saja tidak membuatku cemas?" lanjutnya.
Untuk pertama kalinya Rania melihat suaminya begitu terlihat kesal dan marah, Rania pun hanya tertunduk diam menyadari kesalahannya, terlebih dengan kehadiran Rey di tengah-tengah mereka. Jelas saja itu membuat suaminya semakin kesal dan cemburu.
"Jangan berteriak seperti itu di hadapan seorang wanita...!" ucap Rey dengan tatapan mengancam.
Merry semakin bingung dengan keadaan di hadapannya saat ini, namun ia hanya diam dan memperhatikan mereka.
Mendengar ucapan Rey benar-benar membuat Zein semakin emosi, wajahnya mulai terlihat merah padam.
"Brengsek... Beraninya kau..." belum sempat Zein mendekati Rey dan ingin segera memukulnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Rania menarik tangan suaminya dan memeluknya dengan erat.
"Bisakah kita pulang sekarang? Aku akan jelaskan begitu sampai di hotel." Bisik Rania lirih sembari terisak tangis.
Mendengar ucapan Rania sembari terisak tangis, akhirnya Zein meredam emosinya dan memilih pergi meninggalkan tempat itu meski jauh di hatinya ingin sekali memukul mantan kekasihnya. Namun ia tidak ingin ada keributan di depan mata Rania hingga membuat mental Rania terganggu lagi.
Kemudian Zein dan Rania bergegas pulang.
Begitu sampai di hotel, baru saja keduanya memasuki kamar hotel dan menutup pintu. Zein langsung melayangkan pertanyaan lagi.
"Kenapa kau bisa bersamanya?" tanya Zein dengan tatapan yang masih diliputi kemarahan.
"Sebenarnya, ini bukan seperti yang kau bayangkan, Zein." jelas Rania.
"Lalu... Apa yang harus aku bayangkan untuk seorang istri yang sedang bersama dengan mantan kekasihnya?" balas Zein dengan nada emosi.
"Zein... Kau tidak berpikir aku sengaja melakukan ini, bukan?" balas Rania meyakinkan sembari memegang tangan Zein. "Aku tidak tahu kenapa dia bisa tiba-tiba muncul? Aku tidak sedang berduaan dengannya, ada Merry di sana, bagaimana mungkin kau berpikir...?" lanjutnya.
"Hahah... Siapa Merry? Apa kau punya teman di sini?" balas Zein dengan nada sinis.
"Dia memang bukan temanku, tapi saat aku bertemu dengannya tadi, kami jadi berteman, aku tidak sengaja bertemu dengan Merry. Lalu kami makan bersama dan tiba-tiba Rey datang." Rania menjelaskan semuanya dengan detail meyakinkan suaminya yang saat itu benar-benar sedang marah karena cemburu melihatnya bersama mantannya.
Lalu keduanya duduk di atas kasur dan Rania menjelaskan semuanya dengan jelas bagaimana sampai akhirnya Rey bersama mereka.
Akhirnya Zein bisa menerima penjelasan dari Rania, walau bagaimana pun Rania kini telah membencinya, tidak mungkin Rania dengan sengaja bertemu dengannya. Zein justru curiga Rey mengikuti mereka, mengingat Rey pernah mengatakan ingin merebut kembali Rania dari sisinya.
Setelah emosinya mereda, akhirnya Zein bisa sedikit lebih lega. Namun keberadaan Rey saat ini di tengah-tengah liburan mereka cukup membuat Zein curiga dan lebih berhati-hati lagi pada Rey.
"Bisakah ini yang terakhir kalinya kau membuatku cemas, sayang?" pinta Zein dengan tulus.
Rania mengangguk dengan wajah menyesal.
"Kau tidak tahu betapa cemasnya aku mencarimu tadi? Bagaimana jika kau hilang di negeri orang? Bisakah menghargaiku sebagai suamimu?" ucap Zein meyakinkan.
Mendengar ucapan suaminya, Rania pun meneteskan air mata, lalu memeluk tubuh suaminya. "Maafkan aku, sayang." ucap Rania sembari menangis.
Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Rania, bagaimana pun Rania membuatnya kesal berulang kali bahkan harus menahan rasa cemburunya, ia tetap memaafkan istrinya.
"Maafkan aku juga, sayang, aku tahu ini juga kesalahanku, seharusnya kita menikmati waktu libur kita, bukan meninggalkan dan membuatmu sampai pergi sendirian, tolong mengerti pekerjaanku, sayang." ucap Zein meyakinkan.
Rania diam dan hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa kau mau aku mengajakmu keluar malam ini?" tanya Zein.
Akhirnya keduanya pun memutuskan untuk tidur dan beristirahat malam itu.
🍀keesokan harinya🍀
Pagi itu tampak begitu cerah, Rania berdiri di depan jendela kaca berukuran besar dan menatap cerahnya langit kala itu, matanya menyapu seluruh bangunan-bangunan yang tinggi dan megah yang berada di bawah matanya memandang.
"Sayang, apa kau sudah siap?" tanya Zein dengan raut wajah gembira.
"Ya, kita mau ke mana hari ini, sayang?" balas Rania sembari tersenyum.
"Ke mana pun yang kau mau, sayang." balas Zein sembari memeluk Rania dari belakang.
Lalu keduanya pun bergegas pergi untuk mengunjungi tempat wisata di tempat mereka berlibur.
Begitu sampai di bawah, Zein sudah di sambut oleh supir pribadinya di sana dengan di ikuti para pengawal di belakangnya.
Selama berjalan menuju mobil, para pegawainya melemparinya dengan kalimat sapaan. Membuat Rania bingung, kenapa mereka di sambut begitu meriah hanya untuk seorang pengunjung hotel.
"Sayang, kenapa mereka begitu berlebihan menyambut kita? Bukankah kita hanya tamu biasa di hotel itu?" tanya Rania penasaran begitu sudah berada di dalam mobil.
Zein hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan Rania.
Tidak ingin pertanyaannya menjadi panjang dan merusak suasana, akhirnya Rania memilih diam dan melupakan pertanyaannya yang tidak mendapat jawaban dari suaminya.
Sepanjang jalan menuju tempat wisata, Rania terus memandangi kaca jendela mobil menikmati setiap sudut kota yang di penuhi dengan bangunan-bangunan modern.
"Sayang..." ucap Zein.
Rania pun menoleh wajahnya dan melihat ke arah suaminya.
Lalu Zein melingkarkan sebuah jam tangan mewah di pergelangan tangan Rania.
"Eh... Untuk apa ini?" tanya Rania dengan wajah polosnya.
"Tentu saja untuk melihat waktu." balas Zein tersenyum.
"Aku tahu, tapi masalahnya aku tidak terbiasa memakai jam tangan." balas Rania sembari mengernyitkan alisnya.
"Mulai sekarang, kau harus terbiasa memakainya." balas Zein tersenyum setelah selesai memakaikan jam tangan di tangan Rania.
Rania hanya diam dan mengikuti perintah suaminya, meski ia tidak suka memakai jam tangan.
__ADS_1
Jam tangan yang di lingkarkan di tangan Rania bukanlah jam tangan biasa, itu adalah jam tangan khusus yang di dalamnya terdapat alat deteksi, seperti GPS.
Memasang GPS di dalam ponsel Rania tampak sia-sia bagi Zein, karena Rania selalu meninggalkan ponselnya kapanpun dia mau. Namun tidak dengan jam tangan yang melingkar di tangannya. Dengan begitu, Zein sedikit lebih lega.
"Kau tidak perlu melepas jam tangan ini saat mandi, ini jam tangan anti air, jadi jangan pernah melepasnya...!" ucap Zein dengan sorot mata mengancam.
Hem... Aneh sekali... Kenapa aku tidak boleh melepasnya? Inikan hanya jam tangan biasa. Batin Rania heran.
Namun Rania pun tak ingin membuat suaminya kesal dan merusak suasana liburan mereka, Rania memilih mengiyakan ucapan suaminya.
Akhirnya keduanya pun sampai di tempat wisata yang cukup terkenal di sana. Mereka menghabiskan waktunya selama seharian penuh dan begitu menikmatinya.
Setelah selesai mengelilingi beberapa tempat wisata, hari pun sudah semakin sore dan menunjukkan warna gelap di langit. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi kota tersebut dan merasa kakinya sudah semakin lelah. Akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat.
Lalu keduanya kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.
*** Keesokan harinya ***
Masih sama seperti kemarin, suasana pagi tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, menunjukkan langitnya yang cerah.
"Sayang... Apa rencanamu hari ini?" tanya Zein yang saat itu masih terbenam di bawah selimut yang sama dengan Rania.
"Entahlah..." balas Rania dengan mata terpejam dan setengah sadar dari tidurnya.
Keduanya masih sama-sama dengan mata terpejam setengah sadar di bawah selimut yang sama.
Lalu Rania membuka matanya dan mengingat obrolannya kemarin bersama Zein, tentang foto ulang pernikahan.
"Sayang... Bagaimana jika hari ini kita melakukan foto ulang pernikahan kita?" usul Rania sembari memeluk tubuh suaminya.
"Apa kau sangat ingin melakukannya?" tanya Zein masih setengah sadar.
"Tentu saja, apa kau tidak mau melakukannya?" balas Rania sedikit kecewa mendengar kalimat yang di lontarkan suaminya barusan terdengar tidak bersemangat.
"Hem... Tentu saja aku ingin melakukannya." timpal Zein sembari berusaha membuka matanya yang terasa berat.
"Baiklah, sekarang kita bangun dan bersiap sayang." balas Rania sembari beranjak dari tidurnya.
"Ya, kau duluan yang mandi, sayang." balas Zein.
Lalu Rania pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, ia pun kembali duduk di tepi kasur untuk membangun suaminya yang masih asik tidur.
"Sayang... Cepat bersihkan tubuhmu." bujuk Rania sembari menggoyah lengan suaminya.
"Ya." jawab Zein singkat.
Lalu Zein pun segera bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah keduanya selesai mandi, mereka duduk bersama menikmati sarapan pagi mereka di kamar.
Zein sengaja memilih makan di kamarnya, karena jika makan di bawah, pasti banyak kenalannya yang mengajaknya mengobrol atau sekedar duduk bersama membicarakan bisnis. Sebab itulah, dia lebih memilih menikmati makannya di kamar berdua bersama istrinya demi kenyamanan tanpa di ganggu oleh siapapun. Zein ingin menciptakan waktu liburan yang mengesankan bagi istrinya dengan fokus bersamanya.
Setelah selesai makan pagi bersama, akhirnya Zein dan Rania bergegas untuk pergi ke suatu tempat mencari gaun pengantin untuk melakukan foto pernikahan ulang mereka.
Seperti biasa, di bawah sudah ada yang menunggu mereka dan siap mengantar mereka. Dan seperti biasa juga suasana saat mereka keluar dari hotel di penuhi dengan sambutan para pegawainya.
Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya mereka berhenti di suatu tempat yang khusus menyiapkan gaun pernikahan, butik terkenal yang sudah populer di sana dengan segala kebutuhan pernikahan yang tersedia di sana.
Rania menyusuri tempat itu dan memilih gaun pengantin mana yang akan di kenakannya.
Ada banyak gaun pengantin yang cantik dan elegan yang bisa di pilih Rania, karena terlalu banyak pilihan yang menarik, Rania pun sedikit kebingungan dalam memilih.
Sementara itu Zein duduk di atas sofa sembari melihat-lihat majalah yang berisi gaun pernikahan dan foto-foto pernikahan.
Rania masih memutari butik itu dan mencari gaun yang pas untuknya, lalu langkahnya berhenti pada gaun yang tampak menarik di matanya.
"Ini gaun yang sangat indah Nona, apa kau mau mencobanya?" tanya seorang pelayan dari belakang tubuh Rania berdiri.
Mendengar suara dari belakangnya, Rania pun berbalik.
Begitu Rania membalik tubuhnya ke belakang dan wanita itu adalah Merry, ia pun terkejut, sama terkejutnya dengan Rania, Merry pun terkejut.
"Merry...?" sapa Rania terkejut.
"Rania...?" sahut Merry yang juga ikut terkejut.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah.
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
Terimakasih.
__ADS_1