Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Darah yang mengalir di tubuh Rania.


__ADS_3

Tok tok tok


Terdengar suara ketukan dibalik pintu.


"Masuk...!!" jawab Zein dari dalam pintu.


Lalu, nampak seorang Dokter datang, dan masuk untuk memeriksa kondisi Rania.


Ia adalah dokter Frans. Salah satu Dokter pribadi keluarga Zein Arka selain dokter Viona.


"Selamat malam Tuan, maaf... Saya harus memeriksa kembali keadaan Nyonya, apakah sudah membaik atau belum." ucap dokter Frans.


"Silahkan Dok...!" jawab Zein tersenyum dan mempersilahkan.


Dokter Frans pun mendekati Rania. "Bagaimana keadaan Nyonya? Apakah sudah membaik?" tanya dokter Frans sambil tersenyum.


"Sudah agak membaik kok, Dok... Hanya saja, ketika aku sedikit berteriak atau bergerak, rasanya sedikit nyeri." Rania menjelaskan.


"Oh... Iya Nyonya, itu wajar terjadi pasca operasi. Untuk itu di sarankan jangan terlalu banyak bergerak." ucap dokter Frans sembari tersenyum.


"Iya dok, saya mengerti." jawab Rania.


"Selama delapan jam jangan makan dulu ya Nyonya...! Minum boleh, tapi sedikit saja dan dalam waktu berkala." jelas dokter Frans.


"Dokter Frans... Apa hari ini istri saya sudah bisa di bawa pulang ke rumah?" tanya Zein sedikit ragu.


"Maaf, tuan... Sepertinya malam ini Nyonya harus menginap di rumah sakit. Saya takut luka jahitannya akan terlepas jika terlalu banyak bergerak dalam perjalanan pulang." timpal dokter Frans, memberi penjelasan.


"Oh... Begitu, baiklah aku mengerti, Dok." balas Zein mengakhiri pembicaraan.


"Oh.. Ya, Tuan, Setelah ini, akan ada beberapa perawat yang datang untuk memindahkan Nyonya ke ruang rawat...!" Dokter Frans menjelaskan.


"Hmmm... Begitu, baik dokter." balas Zein sembari mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi keluar, tuan!" ucap dokter Frans sembari menunduk sopan.


"Baik Dok, terima kasih...!" balas Zein.


Lalu dokter Frans pergi dan berjalan pelan meninggalkan ruang operasi.


Sambil menunggu perawat datang, Zein di dalam menemani Rania, duduk di bangku samping tempat tidur Rania dan menyandarkan kepalanya di atas kasur, lalu menatap wajah Rania. Membuat Rania salah tingkah.


"Ah... Jangan melihatku seperti itu, Zein!" pinta Rania dengan wajah merah merona.

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Aku suamimu, Aku berhak memandangimu, menyentuhmu, menciummu dan apapun itu." ucap Zein tersenyum, sambil mengecup tangan Rania.


Mendengar ucapan itu, Rania hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kau tahu, Rania... Betapa takutnya aku hari ini dengan peristiwa ini, jantungku hampir copot karena memikirkan-mu. Terlebih ketika melihatmu tertembak dan mengeluarkan banyak darah. Rasanya seperti peluru yang menancap di perutmu ikut menancap diperut ku." kata Zein panjang lebar menjelaskan perasaannya. Lagi-lagi Rania hanya menanggapi ucapannya dengan senyuman.


"Hmmm... Aku bicara panjang lebar, dan kau hanya tersenyum." Kata Zein lemas.


Untuk pertama kalinya Rania melihat Zein begitu terlihat seperti anak-anak dengan bibir manyunnya. Membuatnya harus menahan tawa.


"Kalau ingin tertawa, tertawa saja. Tidak perlu di tahan!" ucap Zein meledek.


"Maafkan aku untuk hari ini, aku yang terlalu percaya dan nekat pergi sendiri menemui Rey. Hanya karena ia mengancamku." kata Rania dengan wajah bersalah.


"Lupakan saja, lain kali jangan pernah lakukan itu lagi, jangan pernah membantahku, jangan pernah takut dengan ancaman bodoh seperti itu, tidak ada satu orang pun yang bisa mengancam-ku dan berhasil menjatuhkan-ku, Rania...! Jadi, jangan pernah takut dengan tulisan yang berisi ancaman!! Mungkin suatu saat kau akan dapatkan surat ancaman lagi dan lagi. Apapun itu, sekalipun isi surat itu mengancam-ku, jangan pernah takut dan menyembunyikannya dariku, Paham!!" Zein menjelaskan pada Rania dan menegaskan bahwa dirinya tidak bisa di kalahkan atau di ancam oleh siapapun. Rania menghela napas dalam-dalam, lalu mengangguk.


Tampaknya ucapan Zein barusan, cukup menyadarkan Rania, bahwa suaminya bukanlah orang sembarangan. Karena selama ini, meski ia tinggal bersama suaminya dalam satu rumah, ia hampir tidak bisa melihat seberapa kuat kekuasaan suaminya. Sebelumnya ia hanya bisa menerima nama dan status suaminya saja. Tanpa bisa melihat hati dan kedudukannya.


Mulai saat ini... Aku tidak akan takut lagi dengan ancaman kotor-mu, Rey...!! Rania menggerutu kesal.


"Sayang... " ucap Zein pelan.


"Iya, ada apa Zein?" balas Rania.


"Yang mana ya? Kok Aku lupa...?" Rania berpikir, meletakkan tangannya di bawah dagu.


"Belum ada satu hari, masa kau sudah lupa?" timpal Zein dengan alis mengernyit.


"Aku benar-benar lupa, bisa kau jelaskan lebih spesifik?" pinta Rania sembari mencoba mengingat-ingat.


"Ah... Sudahlah, lupakan, mungkin kau mengucapkannya dengan tidak sadar." Zein nampak kesal, Rania bahkan tidak mengingat ucapannya sendiri. Padahal sebelumnya ia sudah senang mendengar Rania mengucapkan kata aku mencintaimu.


"Hmmm..." Rania berusaha mengingat.


"Sudah, jangan diingat lagi. Itu tidak penting." Zein mencoba menyela usaha Rania yang sedang mengingat.


Zein beranjak dari duduknya, berdiri dan mulai melangkah. Namun tiba-tiba Rania memegang tangannya hingga membuat langkahnya terhenti. Ia bingung, kenapa Rania menarik tangannya? Lalu ia membalik wajahnya dan menatap wajah Rania yang memperlihatkan senyuman. Lagi-lagi senyuman yang terlihat manis namun tak bisa di artikan maknanya.


"Aku mencintaimu... Itukah maksud dari pertanyaanmu? ucap Rania tersipu malu.


Ah...sial, kenapa kesannya seperti aku sedang mengungkapkan cinta? Batin Rania kesal bercampur malu. Zein selalu saja bisa membuatnya terjebak dalam berbicara.


Mendengar kalimat itu, Zein menampakkan senyum sumringah, merasa gemas dan ingin menciumnya.

__ADS_1


Ia berjalan mendekati Rania, perlahan menundukkan punggungnya, semakin dekat hingga wajahnya sudah berada sangat dekat dengan wajah Rania. Kedua hidungnya hampir bersentuhan, hanya tersisa jarak lima sentimeter saja untuk bisa saling bersentuhan.


Eh... Dia mau apa? Inikan rumah sakit! Tidak mungkin kan? Batin Rania bingung dengan apa yang akan dilakukannya.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan di balik pintu.


Belum sempat ia mendaratkan bibirnya hingga menempelkannya di bibir Rania dan menggigitnya sampai puas. Seseorang mengetuk pintu dan mengganggunya.


Arrgh... Mengganggu saja..! Gerutunya kesal.


Zein kembali menegakkan tubuhnya, merapikan bajunya dan berdiri tegak, tepat di samping tubuh Rania.


"Masuk...!" ucap Zein dari dalam.


Pintu itu terbuka, dan beberapa perawat masuk dan berjalan mendekati mereka.


"Permisi tuan, nyonya... Kami akan memindahkan nyonya ke ruang rawat." ucap salah satu perawat.


"Ya... Silahkan!" jawab Zein singkat. Masih merasa kesal, karena aksinya tertunda.


Sementara para perawat itu mempersiapkan Rania untuk pindah. Zein keluar dan menghampiri Ronald yang sejak tadi menunggunya di luar.


"Agrh... Aku hampir melupakanmu, Ron!" ucap Zein sembari menepuk dahinya dan menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa tuan, bagaimana keadaan Nyonya?" tanya Ronald khawatir.


"Dia tidak apa-apa dan sudah melewati masa kritisnya. Yah... Meski semua itu berkat laki-laki gila itu." jelas Zein, masih tidak terima di dalam tubuh Rania mengalir darah laki-laki kurang ajar seperti Rey.


"Tidak apa-apa tuan, itu hanya sebuah darah. Ia hanya bisa menyatukan darahnya saja. Dan itu tidak berarti apapun, tuan lah pemilik seluruhnya." balas Ronald dengan senyum tipisnya.


Yah... Dia benar, akulah pemilik seluruhnya. Untuk apa aku memikirkan tentang darah laki-laki brengsek yang mengalir di tubuh Rania? Itu hanya sebuah darah, meski ia tidak mendonorkan darahnya, Rania tetap bisa mendapatkan darah dari orang lain. Dia hanya kebetulan berada di sini dan bisa mendonorkan darahnya. Batin Zein menepis rasa takutnya.


Perkara darah mengalir di tubuh Rania memang bukan perkara biasa, jika darah itu dari orang lain, mungkin Zein masih bisa menerimanya dan menganggapnya biasa. Namun, menjadi tidak biasa ketika darah yang mengalir di tubuh istrinya adalah darah dari mantan kekasihnya yang masih terobsesi pada istrinya. Biar bagaimanapun, ia merasa takut. Takut jika suatu saat, ketika Rey mengatakan yang sebenarnya soal darah yang ia berikan pada Rania dan menjadikan darahnya sebagai senjata untuk menggoyahkan hati Rania.


***Bersambung.


Jangan lupa➡️LIKE➡️KOMEN➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA...!


Ingat yah, VOTE, VOTE, VOTE.


Terimakasih readersku tercinta yang udah setia membaca novelku. 🤗❤️**

__ADS_1


__ADS_2