
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Zein memulai kerjanya di pagi hari, setelah menikmati sarapan bersama istri tercintanya, ia pun bergegas pergi menuju kantornya.
Begitupun dengan Ronald, ia melakukan aktivitasnya seperti biasa, menjadi seorang asisten pribadi dari seorang pengusaha sukses yaitu Zein Arka.
Sementara itu, Rania yang tengah hamil muda, memilih untuk tidak datang ke butik hari ini, karena sedang merasakan mabok atau mual yang luar biasa. Selain di larang oleh suaminya untuk berangkat ke butik miliknya, ia juga merasa sangat lemas pada kehamilan pertamanya ini.
Di butik sudah ada Melly yang menghandle pekerjaan, Rania tidak perlu merasa cemas ketika dirinya tidak datang ke butik.
Sementara itu, ibunya Rania berencana akan datang ke rumah Rania, ia sudah tidak sabar ingin menemui anak pertamanya yang kini tengah hamil.
"Ibu... Mau ke mana? Tumben pagi-pagi begini sudah rapih." tanya Tania yang sedang duduk di meja makan sembari menikmati sarapan paginya.
"Ibu mau ke rumah kakakmu lah." balas ibunya dengan wajah senang.
Ayahnya yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh ibunya Rania pun ikut senang mendengar berita tersebut.
"Mau Ayah antar atau naik taksi?" tanya ayahnya.
"Naik taksi saja lah." jawab ibunya singkat.
Karena ibunya Rania pernah mengalami kecelakaan saat membawa mobil hingga menabrak trotoar, sampai saat ini ia trauma dan tidak di perbolehkan menyetir mobil sendiri. Meski kecelakaannya dulu tidak terlalu parah dan tidak menyebabkan luka serius di tubuhnya, namun ia masih mengingatnya hingga saat ini.
"Hem... Tania sendirian di rumah dong?" ucap Tania dengan wajah cemberut.
"Kalau kau mau ikut, ikut saja sama ibu." balas ibunya tersenyum.
"Engga ah... Tania mau istirahat aja di rumah." sahut Tania.
Ia masih ingat dengan jelas kejadian kemarin saat dirinya dan Ronald terjebak di tengah jalan yang sepi saat hendak mengantarnya pulang.
Tania memilih untuk beristirahat di rumah.
"Ya sudah... Ayah berangkat ke kantor dulu ya." ucap ayahnya sembari menjulurkan tangannya pada ibunya Tania, dan ibunya langsung mencium tangannya.
Begitupun dengan Tania, Tania mencium tangan ayahnya sebelum ayahnya berangkat ke kantor.
Setelah ayahnya pergi ke kantor, dan ibunya menyusul pergi ke rumah kakaknya. Tania bergegas ke atas menuju kamarnya.
Sementara itu, di tempat Rania.
Pagi itu, Rania tampak sedang meremehkan tubuhnya yang lemas di atas kasur setelah beberapa kali memuntahkan makanan yang sudah di makannya.
Di tengah rasa mualnya, sesekali kepalanya terasa pusing hingga membuatnya tidak ingin beranjak dari kasur.
Ibunya Rania pun akhirnya sampai di rumah Rania.
"Selamat pagi Nyonya...?" sapa Bibi Ros pada ibunya Rania yang baru saja sampai.
__ADS_1
"Pagi... Dimana Rania, Bi?" tanya ibunya Rania.
"Nyonya sedang berada di kamarnya, Nyonya." jawab Bibi Ros sembari menunduk sopan.
"Baiklah, aku akan ke atas menggunakan lift saja." ucap ibunya Rania, lalu menuju lift.
"Baik Nyonya." Bibi Ros menunduk sopan sembari mengantar ibunya menuju lift.
Tok tok tok
Begitu mendengar suara ketukan di balik pintu kamarnya, Rania pun menatap ke arah pintu seraya bertanya.
"Siapa?" setengah teriak Rania bertanya dari dalam kamarnya.
Siapa ya? Apa Zein sudah pulang? Ah... Tidak mungkin. Batin Rania bingung.
"Rania... Ini ibu." sahut ibunya dari luar pintu.
Oh... Ternyata ibu. Batin Rania.
"Masuk Bu...!" sahut Rania dari dalam kamarnya mempersilahkan ibunya untuk masuk ke dalam.
Tidak lama setelah mendengar jawaban dari Rania, akhirnya ibunya segera membuka pintu lalu masuk ke dalam.
Melihat ibunya berjalan mendekatinya, Rania pun bergegas beranjak dari kasur dengan perlahan. Belum sempat ia bangun, ibunya langsung melarangnya.
"Ehh... Jangan bangun, kau tak perlu bangun Rania. Biar ibu saja yang mendekatimu." ucap ibunya melarang.
"Bagaimana keadaanmu, Rania?" tanya ibunya ketika sudah duduk di samping Rania.
"Tidak begitu baik Bu." jawab Rania dengan wajah lemas.
Lalu Ibunya mencoba menyentuh kening Rania.
"Keningmu sedikit hangat." ucap ibunya.
"Entahlah Bu..." jawab Rania.
"Ibu sudah dengar kabar kehamilanmu dari adikmu, itu sebabnya ibu langsung ke sini." jelas ibunya, "Ibu khawatir dengan keadaanmu." lanjutnya.
"Iya Tania pasti sudah cerita pada Ibu." balas Rania sembari memegang mulutnya yang terasa mual.
"Apa kau baik-baik saja, Rania?" tanya ibunya panik ketika melihat Rania mual.
Merasa bahwa dirinya akan muntah, Rania pun bergegas menuju toilet.
Ueeeek... Ueeeek...
Rania pun muntah untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Dengan berjalan lemas, akhirnya ibunya ikut membantunya berjalan menuju kasur.
"Apa saat aku berada di perutmu dulu, juga seperti ini rasanya?" tanya Rania.
"Ya... Kau seperti ibu saat mengandungmu dulu." jawab ibunya tersenyum, "Tapi kau tak perlu cemas Rania...! Ini tidak akan lama, hanya beberapa bulan di awal saja, selebihnya kau tidak akan merasakan mual dan pusing yang berlebihan seperti sekarang." kata ibunya memberi semangat pada Rania.
Beberapa bulan saja...? Baru hari ke dua saja aku sudah payah begini...! Bagaimana bisa alu melewati ini selama beberapa bulan? Batin Rania lemas ketika mendengar pernyataan dari ibunya yang sudah berpengalaman darinya menghadapi kehamilan yang begitu payah.
"Kamu harus banyak istirahat dan makan makanan pendukung ibu hamil." ucap ibunya, "Apa Bibi Ros memasukkan masakan yang baik untuk ibu hamil?" tanya ibunya.
"Ya... Tentu saja Bu, Zein sudah mengatur segalanya untuk kehamilanku." balas Rania tersenyum.
"Syukurlah... Kau harus bersyukur memiliki suami yang begitu menyayangimu, Rania." ucap ibunya sembari memegang bahu Rania.
"Iya bu, aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari hidupnya." jawab Rania tersenyum sembari membayangkan semua ketulusan dan kebaikan Zein dulu.
"Mumpung ibu sedang di sini, kau mau ibu masakan apa?" tanya ibunya.
"Tidak perlu Bu... Aku tidak berselera makan apapun." balas Rania tersenyum, "Oh ya... Ibu mau makan apa? Biar Rania ambilkan." kata Rania tersenyum.
"Ah tidak perlu repot-repot... Ibu masih kenyang, tadi sebelum berangkat kesini, ibu sudah sarapan." jelas ibunya.
"Oh iya... Ibu di antar ayah atau naik taksi ke sini?" tanya Rania.
"Ibu naik taksi, ayahmu pergi ke kantor pagi-pagi sekali karena ada urusan mendesak, dia juga titip salam untukmu." jelas ibunya.
"Hem... Begitu." jawab Rania, "Lain kali kalau ibu mau kesini, bilang Rania dulu Bu, biar Rania kirimkan orang untuk menjemput ibu." lanjutnya.
"Hahah... Ibu tidak suka di jemput-jemput seperti itu. Apa lagi di jemput orang yang tidak ibu kenal." sahut ibunya sembari tertawa kecil.
"Heheh... Ya gapapa lah bu, ibu harus terbiasa." balas Rania tertawa.
Setelah keduanya mengobrol cukup lama. Akhirnya ibunya Rania pun bergegas kembali ke rumahnya.
"Rania... Ibu pulang dulu ya, jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah...!" ucap ibunya sebelum pergi meninggalkan Rania.
Rania mengangguk sembari tersenyum.
Setelah memeluk tubuh Rania, ibunya pun bergegas pergi.
"Hati-hati di jalan Bu." Teriak Rania dari atas saat melihat ibunya menuruni anak tangga.
Ibunya melambaikan tangan laly tersenyum. Ibunya keluar dengan di antar oleh Bibi Ros menuju mobil untuk di antar oleh supir pribadi Rania.
Bersambung\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
__ADS_1
TERIMAKASIH. 🙏🏻