Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Membuat sarapan pagi.


__ADS_3

*Keesokan harinya.


"Sayang... Hari ini kamu bisa pergi ke kantor. Kalau di rumah, aku tidak merasa takut seperti saat di rumah sakit." ucap Rania yang masih berada di bawah selimut di kasur yang sama dengan Zein.


"Apa kau yakin? Jadi sekarang kamu mencampakkanku dan mengusirku nih?" Ledek Zein.


"Heheh... Bukan gitu sayang, aku benar-benar tidak apa-apa di rumah, rumah ini terlalu ramai untuk membuatku merasa takut." jawab Rania sambil tertawa kecil.


"Oh begitu..." Zein memegang pipi Rania sambil tersenyum, lalu beranjak dari tidurnya dan segera mandi.


Sambil menunggu Zein mandi, Rania bangkit dari tidurnya, berjalan menuju lemari baju dan dibukanya lemari baju yang berisi setelan kantor suaminya. Jarinya menyusuri setiap kemeja dan jas yang menggantung di sana.


Hmmm... Tidak ada yang menarik. Apa aku harus membelikan beberapa warna yang menarik yah...? Batin Rania.


Seperti tidak ada yang menarik baginya, semua warna kemeja dan jas tampak senada warnanya, hanya ada warna hitam, putih, abu-abu yang dominan di sana. Akhirnya ia meraih kemeja putih, jas berwarna abu-abu, celana dan dasi yang senada. Lalu meletakkannya di atas kasur. Ia menuruni tangga dan pergi ke dapur.


"Selamat pagi Nyonya, apa yang Nyonya cari di dapur? Biar Bibi siapkan." ucap Bibi Ros dengan sopan.


"Hmmm... Aku ingin membuat sarapan pagi untuk Tuan Bi." jawab Rania sumringah sambil meraih dua lembar roti tawar.


"Oh, baik Nyonya..." Bibi Ros mengikuti apa maunya Rania, sebab tidak biasanya Rania mau turun ke dapur dan membuatkan sarapan pagi untuk suaminya. Ia berdiri di belakang Rania dan tetap mengawasi kalau-kalau Rania membutuhkan bantuannya.


Dengan cekatan tangannya mulai membuat sarapan. Setelah meletakkan dua lembar roti di atas piring, ia membuka kulkas dan di ambilnya dua buah telur dari dalam kulkas, dengan lincah, ia memecahkan telornya dengan garpu di tangan kanannya dan menuangnya ke dalam mangkuk berukuran sedang. Kemudian ia mengocok telornya sebentar. Ia melirik sekeliling dapur untuk mencari susu kental manis. Ia membalik tubuhnya ke arah Bi Ros.


"Hmmm... Bi, apa ada susu kental manis di sini?" Tanya Rania.


"Umm... Di dapur utama sepertinya tidak ada Nyonya, sebab Tuan tidak pernah mengkonsumsi susu kental manis. Hanya ada susu cair. Tapi, mungkin di dapur belakang, ada... Sebentar, Bibi carikan dulu yah." Rania mengangguk, Bibi Ros pun pergi untuk mengambil susu di dapur khsus karyawan.


Hmmm... Kira-kira Zein suka tidak yah, sama roti telur susu yang aku buat? Batin Rania menerka.


Ah, biarin aja deh. Gumam Rania. Sambil menunggu Bibi Ros membawakan susu.


Ia kembali mengocok telur.


"Eh... " Rania terkejut ketika suaminya memeluknya dari belakang secara diam-diam.

__ADS_1


"Sayang... Kau sedang apa?" Zein masih memeluk Rania sambil. Menyandarkan dagunya di bahu kanan Rania.


"Um... Aku sedang membuat sarapan pagi untukmu, Zein... Lepaskan, aku malu. Bagaimana jika mereka melihat kita?" jawab Rania sambil memegang tangan Zein dan berusaha melepaskan pelukan suaminya. Namun, semakin ia ingin melepaskan, Zein malah semakin memeluknya dengan kencang.


"Biar saja mereka melihat, meski mereka melihat, mereka tidak akan bicara sepatah katapun. Ini adalah hal yang wajar dilakukan bagi pasangan suami dan istri. Lagi pula, mereka akan terbiasa dengan pemandangan seperti ini, nantinya." Bisik Zein di telinga Rania.


"Aw... Geli, Zein." Membuat Rania tertawa geli karena bisikannya yang terlalu dekat hingga membuat bulu kuduknya bangun.


"Nyonya ini susunya." Dengan tergesa Bi ros berjalan ingin memberikan susu kental manis. Namun ia tidak menyadari bahwa Tuannya sedang mencumbu istrinya. Membuatnya menahan langkahnya dan berhenti sejenak. Di belakang mereka.


Menyadari suara Bi Ros, Rania langsung melepaskan pelukan suaminya dan membalik badan. "Ah.. Terima kasih Bi." ucap Rania sambil meraih susu yang ada di tangan Bi Ros.


Sementara itu, Bibi Ros pergi dari dapur dan meninggalkan mereka berdua. Lalu zen berdiri di samping kulkas menyandarkan tubuhnya membelakangi wastafel. Menatap wajah istrinya yang sedang fokus mengocok telur.


"Sayang, apa yang kau buat?" tanya Zein penasaran sambil melirik roti.


"Lihat saja nanti." jawab Rania singkat, sambil tangannya mengocok telur lalu menuangkan empat sendok susu kental manis ke dalam mangkuk berisi dua butir telur, mengocok kembali sampai telur dan susu tercampur merata, memasukkan satu persatu roti tawar ke dalam campuran telur dan susu kental manis tadi. Melumuri seluruh bagian roti sampai tercampur merata.


Zein tampak serius melihat istrinya yang terlihat lihai.


Sementara itu Rania masih tampak sibuk. Ia mengambil teflon dan menaruhnya di atas kompor elektrik, kemudian menekan tombol on pada bagian samping. Tidak lupa ia mengoleskan mentega di atas teflon dan setelah itu ia Memanggang roti yang sudah dilumuri campuran telur dan susu di atasnya.


"Iya... Apa kau tak menyukainya?" tanya Rania yang saat itu sedang berdiri dengan tangan kanan memegang spatula dan menunggu rotinya matang.


"Tentu saja aku suka..." jawab Zein tersenyum. "Rasanya aku malas pergi ke kantor dan ingin terus berada di dekatmu seperti ini." Sambungnya, sambil melingkarkan tangannya kembali di pinggul Rania.


"Um... Kan, nanti sore juga kita ketemu lagi, Zein." bujuk Rania.


"Hmmm... Sepertinya hari ini, aku akan pulang malam, sayang..." jelas Zein sambil menghela napas.


"hmmm begitu... Ya sudah, pulang sore atau malam kan sama saja, Zein. Aku akan tetap di rumah dan menunggumu pulang." jawab Rania sambil membalik roti.


"Sayang... Bagaimana dengan luka di perutmu? Apa masih terasa sakit?" tanya Zein penasaran.


"Um... Kadang masih terasa nyeri sih. Kenapa?" jawab Rania lalu balik bertanya.

__ADS_1


"Ah... Tidak apa-apa." jawab Zein sambil tersenyum.


Hmmm... Sepertinya aku harus lebih sabar lagi dan menahannya, ketika tidur satu ranjang dan tidak melakukan apapun. Zein membatin.


"Taraaa... Sudah jadi nih. Yuk kita sarapan." ucap Rania sambil menghirup aroma dari roti telur susu panggang buatannya.


Keduanya berjalan menuju meja makan. Setelah keduanya duduk. Rania menaruh dua lembar roti telur susu buatannya di atas piring suaminya. "Terimakasih, sayang." kata Zein sambil tersenyum. Rania pun membalasnya dengan senyuman.


Semoga kau menyukainya.


Batin Rania berharap ketika Zein mulai memotong roti itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Rania terus memperhatikan mulut Zein yang tampak sedang menikmati makannya.


"Sayang.. " ucap Zein sambil mengunyah roti.


"Iya... Apa rasanya tidak enak?" raut wajah Rania mulai berubah.


"Aku baru tahu jika roti tawar dicampur dengan susu dan telur lalu di panggang, bisa jadi seenak ini." Zein memuji makanan buatan istrinya.


"Makan dan habiskan sarapannya jika kau suka." kata Rania sambil tersenyum puas.


Syukurlah kalau kau menyukainya.


Batin Rania puas, melihat suaminya begitu menikmati makanan buatannya sampai habis tak tersisa.


Begitu selesai makan. Untuk pertama kalinya Rania meraih tas milik suaminya yang di letakkan di bangku, memegangnya dan mengantar suaminya sampai depan pintu rumah.


Meski Zein tampak heran melihat perubahan sikap Rania yang begitu terlihat manis, namun di hatinya merasakan bahagia yang luar biasa.


"Sayang, jaga dirimu baik-baik di rumah yah. Ingat jangan pergi kemanapun!" ucap Zein sambil mengusap lembut atas kepala Rania.


Cup... Zein mengecup lembut kening Rania sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil lalu pergi. Dan Rania hanya tersipu malu.


Begitu mobil Zein melaju, Rania membalik tubuhnya dan menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya.


***Bersambung.

__ADS_1


Halo readersku tercintah... Maaf yah baru update. Buat yang udah nunggu maupun yang setia membaca novelku, makasih banget udah setia membaca novelku ini. 🤗


jangan lupa ➡️LIKE➡️KOMEN ➡️VOTE YA**.


__ADS_2