
Rania tampak terkejut ketika taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti. Sama terkejutnya dengan Rania, pengemudinya pun ikut terkejut.
Di dalam mobil, mata Rania awas, tampak sebuah mobil menghalangi taksi yang ditumpanginya, lalu ia menoleh ke belakang. Tampak juga sebuah mobil hitam berada tepat di belakang taksi yang ditumpanginya. Matanya terus melihat penuh selidik. Rasa takut mulai menghinggapinya.
"Pak, cepat jalankan mobilnya ke samping. Kita tidak bisa diam saja!" ucap Rania panik.
"Tidak bisa Nona, walau bagaimanapun mobil kita berada di tengah-tengah mereka. Kita tidak bisa maju ataupun mundur." jelas si pengemudi dengan tubuh bergetar.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rania panik.
"Entahlah... Setahuku, aku tidak punya musuh, untuk apa mereka menghadang jalanku?" ucap si pengemudi heran.
Keduanya masih berada di dalam mobil dengan kaca yang tertutup dan terkunci.
Tiba-tiba seseorang berjas hitam mengetuk kaca mobil depan, tepat di bagian si pengemudi duduk. Si pengemudi tampak bingung, lalu suara Rania mengagetkannya.
"Jangan di buka pak!! Biar saja kacanya terkunci." pinta Rania pada si pengemudi agar tidak membuka jendela kaca. Sambil tangannya meraih ponsel dan menekan tombol angka 1 lebih lama. Itu kontak Zein yang sengaja di atur oleh Zein ketika dalam keadaan darurat. Namun Zein yang tengah menghadiri rapat penting, membisukan ponselnya, agar tidan berdering ketika dirinya sedang rapat.
Berkali-kali Rania menghubungi suaminya namun tak kunjung di jawab. Aarghhh... Bagaimana ini? Zein... Kau sedang apa? Rania membatin cemas. Rania mengira pasti orang-orang yang menghentikan perjalanannya itu, tidak lain adalah suruhan Rey.
Kemudian orang berjas hitam di luar mobil kembali mengetuk jendela kaca mobil, namun kali ini tidak dengan jari tengahnya, melainkan dengan ujung pistol.
Kondisi jalan itu memang sepi, mereka sengaja melancarkan aksinya di tempat sepi.
Melihat senjata api menodong kepalanya, meski dari luar kaca mobil. Tentu membuat si pengemudi semakin gemetar ketakutan. Tanpa pikir panjang, dengan segera menekan tombol di bawah kaca mobil, lebih tepatnya di samping tangannya. Kaca mobilnya mulai bergerak ke bawah. Terlihat laki-laki lengkap dengan kacamata hitam yang menempel di hidung dan ber jas hitam, menatap kebelakang, melirik wajah Rania kemudian menggerakan dagunya dan memiringkannya, pertanda meminta Rania segera keluar.
Rania tampak ketakutan dan tubuhnya gemetar, pasalnya, Rania adalah wanita yang sangat takut dengan kekerasan apa lagi ketika melihat darah saja ia mungkin akan jatuh pingsan. Itulah sebabnya Rey tak ingin menunjukkan kekerasan di hadapan Rania, meski sebenarnya Rey sanggup melakukannya.
"Ka... Kau, mau apa?" tanya Rania gemetar.
"Cepat turun...!!" ucap laki-laki berkacama yang terus menatapnya.
"Aku tidak mau!" bantah Rania.
"Baiklah kalau begitu." balas laki-laki berkacama, sembari mengarahkan pistolnya tepat di samping kepala si pengemudi.
"Ja... Jangan tuan, tolong jangan lakukan ini. Aku punya anak dan istri yang harus aku tanggung hidupnya." si pengemudi itu merintih dan memohon belas kasih.
__ADS_1
Melihat itu, Rania akhirnya membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. "Kau mau aku kan? Aku sudah keluar! Jadi, jangan ganggu bapak ini dan biarkan dia pergi...!"
"Masuklah!!" Kemudian laki-laki berkacama itu meminta Rania untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Hanya dengan gerakan memajukan dagunya tanpa menyentuh sedikitpun bagian tubuh Rania. Rey meminta agar tidak menyakiti ataupun menyentuh tubuh Rania jika memungkinkan.
Rania akhirnya masuk ke dalam mobil.
Cih... Beraninya kau berbuat curang seperti ini, Rey!! Batin Rania kesal.
Lalu mobil itu membawa Rania pergi, melaju dengan kecepatan maksimal. Menembus hutan belantara yang terdapat di sisi kiri dan kakan tepi jalan. Sementara pengemudi taksi itupun bergegas pergi. Entah mimpi apa dia semalam? Hingga di todong pistol oleh orang yang tak di kenalnya. Batinnya masih syok.
Sementara itu di butik milik Rania.
Setelah hampir tiga puluh menit Rania tidak nampak di dalam maupun di luar butik, para pengawal mulai curiga.
Melly yang pada akhirnya pura-pura sadarkan diri kembali, hanya berdiri dan mondar mandir ketakutan. Takut jika sampai aktingnya ketahuan. Lalu salah seorang pengawalnya berjalan mendekati Melly.
"Hey... Di mana Nyonya? Aku tidak melihatnya dari tadi?" tanya pengawal itu dengan wajag garang.
"A... Aku tidak tahu! Aku juga sedang berpikir di mana Nyonya sekarang." jawab Melly pura-pura tidak tahu dengan ucapan yang terbata.
"A... Aku benar-benar tidak tahu." Melly kekeh tidak mau jujur.
"Jika kau tak menjawabnya, aku akan mencungkil kedua matamu!" pengawal itu berusaha mengancam.
"Ba... Baiklah, aku akan jujur, tapi tolong jangan sakiti aku! Aku hanya berusaha mematuhi perintah Bu Rania saja." ucap Melly ketakutan.
"Haissh... Cepat katakan sekarang!" kali ini pengawal itu membentaknya.
"A.. Aku tidak tahu Bu Rania pergi ke mana pastinya. Yang aku tahu, setelah membaca isi surat dari seorang laki-laki tadi pagi, Bu Rania memintaku untuk membantunya keluar, katanya ingin menemui seseorang dan aku juga tidak tahu itu siapa." jelas Melly.
Lalu pengawal itu pergi dan mengumpulkan beberapa pengawal yang lainnya untuk kemudian menyebar dan mencari Rania di area sekitar. Kemudian salah satu di antaranya mencoba menghubungi Zein.
Di kantor Zein.
Begitu rapat selesai, Zein segera melihat ponselnya dan kebetulan ponselnya berdering. Panggilan itu berasal dari kepala pengawal yang di tugaskannya untuk menjaga Rania.
Ada apa dia menghubungiku? Batun Zein penasaran, dengan segera ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Ya, ada apa?"
__ADS_1
"Tuan ada kabar buruk." belum sempat pengawal itu melanjutkan ucapannya. Zein memotong pembicaraannya. "Apa maksudmu kabar buruk?"
"Nyonya menghilang, tuan. Kami saat ini sedang berusaha mencari." jelas pengawal itu.
Rania menghilang... Pergi kemana dia? Zein terkejut.
"Apa yang kalian lakukan sampai bisa kehilangan Rania?" bentak Zein dari seberang telepon.
Zein bukan orang yang pemarah, namun jika itu menyangkut tentang Rania, apa lagi samapi menghilang. Dia akan berubah menjadi sosok yang garang.
"Ma... Maafkan kami tuan." pengawal itu meminta maaf.
"Sejak kapan dia menghilang?" tanya Zein tergesa.
"Sejak setengah jam yang lalu, tuan." jelas pengawal itu.
"Cepat cari dan temukan Rania sekarang!" perintah Zein dari seberapa telepon. Lalu mematikan ponselnya.
"Apa Nyonya menghilang, tuan? Tanya Ronald yang saat itu sedang berada satu ruangan dengannya.
"Iya, cepat lacak di mana keberadaan Rania sekarang melalui GPS yang sudah sayang pasang di ponselnya dan lakukan tugasmu sekarang!" pinta Zein.
"Baik, tuan." balas Ronald sembari mengangguk dan segera pergi meminta orang-orangnya untuk berkumpul dan mencari keberadaan Rania.
Sementara itu Zein membuka layar ponselnya dan dilihatnya panggilan dari Rania yang mencoba menghubunginya beberapa kali. Rania mencoba menghubungiku? Batinnya menyesal karena tidak bisa mengangkat panggilan dari Rania. Dengan tergesa ia mencoba memanggil kembali Rania lewat ponselnya. Tidak lama, Rania langsung menerima panggilannya. "Zein, tolong aku!" Teriak Rania dari dalam ponsel. "Sayang, kau baik-baik saja kan?" Tanya Zein cemas. Belum sempat Rania menjawab, kemudian seseorang datang dan merampas ponselnya.
*Bersambung.
Please jangan pelit VOTE...!
Tolong hargai waktu author untuk menulis dengan apresiasi kalian buat dukung author.
Klik➡️LIKE, KOMEN, FAVORIT, BINTANG LIMA, FOLLOW AUTHOR, VOTE.
Tolong jangan pelit buat VOTE...! Author saja gak pelit buat UPDATE dan UP Sesering mungkin buat kalian. Author akan berterimakasih atas dukungan dari kalian.
Happy reading, semoga kalian suka.🤗
__ADS_1