
Zein memutuskan untuk bermalam di penginapan malam ini.
"Rania, tunggulah sebentar di sini!! Aku akan segera kembali." ucap Zein sambil memegang bahu Rania.
"Kau mau kemana, Zein?" tanya Rania penasaran. Namun Zein tidak menjawabnya.
Zein berlari kecil menuju mobil yang terparkir di tepi pantai hendak mengambil payung. Sebenarnya bisa saja ia memerintahkan Pak Surya untuk mengambilnya, tapi ia ingin mengambilnya sendiri.
Tiba-tiba Zein datang dengan membawa sebuah payung hitam, dengan segera ia memayungi Rania, nampak keduanya saling bertatapan. Kemudian Zein membelai rambut Rania yang sedikit basah karena rintik hujan.
Apa ini... Ada apa dengan jantungku? Rasanya terasa berdebar? Gumam Rania dalam hati penuh heran.
Untuk kedua kalinya, jantungnya berdebar setelah bertahun-tahun sejak kepergian Rey.
Kemudian Zein melingkarkan tangan kirinya di pinggang Rania dan merangkulnya, sementara itu tangan kanannya memegang payung lalu berjalan menuju penginapan.
Ya Tuhan, jantung ku ... Rasanya berdebar semakin kencang setiap kali tangannya menyentuh bagian tubuhku.
Akhirnya mereka sampai di sebuah penginapan minimalis yang seluruh desain nya terbuat dari kayu, menambah kesan klasik.
Sementara itu, Pak Surya tidur di sebelahnya. Nampak rumah minimalis itu berjejer, mereka akhirnya masuk ke dalam. Rania dan Zein melihat dan mengamati setiap isinya, kemudian tatapan mereka tertuju pada ranjang berukuran kecil yang hanya muat untuk dua orang saja. Di ruangan itu hanya terdapat satu ranjang dan di lengkapi beberapa properti pendukung yang serba terbatas namun tetap di lengkapi dengan kenyamanan.
Bagaimana ini? Hanya ada satu ranjang? Dan sialnya hanya ada sofa berukuran kecil. Rania membatin.
"Jika kau keberatan tidur satu ranjang, aku bisa pesan satu kamar lagi di sebelahnya." usul Zein.
"Mmmm... Tidak apa-apa Zein. Kita tidur disini saja." balas Rania.
"Aku keluar sebentar, kau tunggu di sini ya." pinta Zein sembari berjalan keluar.
Kemudian Rania berjalan mendekati ranjang itu dan mencoba mendudukinya.
Ini cukup nyaman, walau ukurannya terlalu kecil. Batinnya.
Sementara itu, Zein berjalan menuju tempat pemesanan.
"Selamat malam Tuan Zein." ucap salah seorang pelayan perempuan sembari menunduk sopan. Matanya melirik penuh kekaguman melihat ketampanan yang di miliki Zein.
Siapa yang tidak kenal Zein. Zein yang cukup terkenal dengan ketampanannya terutama kemahirannya dalam berbisnis, bisnisnya yang tersebar luas di beberapa kota hingga ke luar negeri. Terlebih Zein sudah sering pergi ke tempat itu untuk sekedar melepas penat. Karena itulah ia cukup di kenal oleh beberapa pegawai di sana terutama pegawai wanita yang terpesona sosoknya yang berkarisma. Resort yang sering di datanginya juga merupakan milik rekan bisnisnya.
"Apa masih ada kamar kosong?" tanyanya cepat.
"Maaf Tuan Zein, baru saja beberapa rombongan datang dan mengisi seluruh kamar, tapi jika Tuan mau, saya akan mengosongkan satu kamar lagi untuk Tuan." jawab salah seorang pelayan wanita dengan sopan.
__ADS_1
"Ahhh... Tidak perlu, itu terlalu merepotkan orang lain. Mau tidur dimana nanti mereka? Aku tidak suka mengusik orang lain, setiap orang mempunyai hak yang sama." ucap Zein tegas tersenyum.
Ya tuhan Tuan Zein memang pria idaman, selain tampan, ia juga sangat dermawan dan bijak, huuuuh... Sayangnya dia sudah menikah. Gumam salah seorang pelayan wanita yang terlihat terpesona sekaligus kecewa.
"Baiklah, terima kasih, aku akan kembali ke kamar." ucap Zein berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
"Ah iya Tuan, selamat malam." ucap pelayan itu sembari memberi salam.
Sementara itu, Rania terlihat sedang duduk dan memegang sebuah buku novel. Ada beberapa jenis buku yang disediakan pihak resort agar tamu bisa membaca dan tidak jenuh selama dikamar. Tiba tiba.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan dibalik pintu, Rania bergegas membukanya. Dilihatnya seorang lelaki tampan dengan wajah kecewa.
"Ada apa Zein?" tanya Rania.
"Aku baru saja mengecek kamar, dan ternyata tidak ada kamar kosong satupun. Bagaimana ini?" ucapnya sembari membentangkan kedua tangannya dan menggerakkan kedua bahunya lalu menarik kedua sudut bibirnya ke bawah.
"Ah... Aku pikir kenapa, bukankah tadi sudah ku bilang! Kita tidur di sini saja." ucap Rania sembari tersenyum.
Mendengar kalimat itu, Zein pun ikut tersenyum, batinnya sangat senang.
Tok.. Tok... Tok...
Lalu munculah seorang pelayan wanita terlihat sedang membawa beberapa pakaian ganti di tangannya.
"Tuan, ini adalah beberapa barang kebutuhan anda." ucapnya sembari menyodorkannya pada Zein dan menunduk dengan sopan.
Pihak Resort memang sudah mempersiapkan segalanya untuk Zein meski tanpa di minta.
"Terima kasih, letakkan saja di atas meja!" ucap Zein. "Baik Tuan." balas pelayan itu sembari meletakkan pakaian di atas meja.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi. Tuan?" tanyanya lagi sembari tersenyum genit.
"Tidak, terima kasih." ucap Zein sembari senyum tipis.
Melihat senyuman Zein yang menawan, wanita mana yang tidak tertarik, tentu saja pelayan wanita itu membalas senyumannya dengan senyum menggoda dan mata melirik. "Baiklah Tuan, saya permisi keluar." ucapnya menggoda lalu bergegas pergi.
Melihat senyuman dan lirikan menggoda dari pelayan wanita tersebut cukup membuat Rania kesal. Wajahnya terlihat cemberut setelah pelayan itu keluar dan menutup pintu.
Cih... Apa dia sedang berusaha menggoda Zein? Batin Rania kesal.
Apa dia cemburu? Batin Zein penasaran melihat ekspresi wajah Rania yang terlihat kesal.
"Kau sedang membaca buku apa, Rania?" tanya Zein sambil melirik buku yang masih di pegang oleh Rania ketika membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Ah, ini hanya buku novel." jawab Rania.
"Oh... Teruskan saja membacanya! Aku mau membersihkan tubuhku dulu, dan Itu ada pakaian ganti untukmu, pakailah nanti!!" ucap Zein sembari menunjukkan pakaian yang ada di atas meja.
"Ah... Iya." jawab Rania singkat.
Sementara Zein sedang berada di kamar mandi, sambil menunggu Zein selesai mandi baru gilirannya mandi, Rania duduk di sofa berukuran kecil, tangannya masih memegang buku dan melanjutkan membaca kembali sambil menikmati suara deburan ombak yang berada cukup dekat dari penginapannya demi menghalau segala kebingungannya yang terjebak di ruangan kecil itu.
Setelah selesai mandi dan mengganti baju di kamar mandi, Zein mendapati Rania yang sedang asik membaca buku.
Kemudian mendekati Rania dan duduk di sebelahnya. Rania tampak terkejut melihat Zein yang tau-tau sudah duduk di sampingnya. Rania tidak melihat dan mendengar Zein berjalan mendekatinya karena terlalu asik membaca buku. Rania tampak malu dan salah tingkah. Hingga membuatnya duduk memutar kesamping membelakangi Zein, kemudian Zein justru ikut memutar tubuhnya kesamping dan memegang sebuah buku berlagak ikut membaca buku.
Rania dan Zein, kini duduk di atas sofa dengan saling membelakangi. Duduk bersama di atas sofa dengan posisi keduanya saling menekuk kaki, memegang buku dan menempelkan buku di kedua lutut mereka membuat keduanya tampak salah tingkah.
Perlahan Zein mulai menyandarkan tubuhnya pada Rania, Rania yang tampak menahan malu dan sedikit berat menahan tubuh Zein yang justru asik menikmati sandarannya di punggung Rania, akhirnya bersuara. "Zein, apa kau bisa menegakkan punggungmu sebentar?" pinta Rania.
Lalu Zein menggerakkan punggungnya ke depan sambil tersenyum senang di dalam hatinya. Ketika kau berbalik, maka aku akan tidur dipangkuan mu, Rania. Batinnya senang karena strateginya akan berhasil.
Kemudian Rania bergerak merubah posisinya dengan memutar kembali, duduk menyandarkan punggungnya di bahu sofa. Dan dengan cekatan, Zein langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Rania.
Membuat Rania cukup terkejut dan tampak menahan malu. Belum lagi jantungnya terasa berdebar.
*Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
➡️tolong beri aku vote sebanyak-banyaknya.
Please jangan pelit-pelit buat vote, karena dari vote kalian lah author merasa terdukung dan lebih semangat lagi buat up sebanyak-banyaknya.
Terimakasih. 🤗😊
__ADS_1