Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Surat ancaman.


__ADS_3

Rania bergegas keluar dari dalam mobil. Berjalan menuju butik, sementara itu Zein yang tidak turun dari dalam mobil. Memperhatikannya dari dalam mobil, memastikan bahwa Rania baik-baik saja. Setelah dirasa sudah aman, Zein segera berlalu memacu mobilnya dengan cepat.


"Selamat pagi Bu?" Melly memberi salam dengan sopan.


"Siapa orang yang ingin bertemu denganku?" tanya Rania.


"Orangnya baru saja pergi, tapi dia meninggalkan ini untuk Ibu" Melly menyerahkan selembar kertas.


*S**ayang... Bagaimana kabarmu? Apa kau merindukanku? Sudah lama aku tak melihat wajah manismu... Bisakah hari ini kita bertemu? Aku menunggumu di rumah calon mertuaku!! Aku tahu, kau pasti tidak akan datang begitu saja menemuiku tanpa ancaman dariku! Untuk itu, aku akan memberikan sedikit ancaman padamu! Jika kau tidak datang, aku akan menghancurkan seluruh bisnis suamimu dan yang paling menakutkan, aku akan melukai si brengsek yang sudah merebutmu dariku. Pergilah seorang diri dan jangan membawa para cecunguk bersamamu! Kecuali, kau ingin melihat darah bertebaran di mana-mana sehingga itu akan menjadi hari yang tak terlupakan olehmu. Aku hanya ingin bertemu denganmu*. (REY)


Rania bergidik ngeri, begitu selesai membaca isi surat dari mantan kekasihnya yang terlalu terobsesi olehnya.


Cih... Apa baru saja aku sedang membaca kata-kata yang sangat menjijikan...? Apa dia sedang mengancamku? Keterlaluan sekali kau...!! Rania menggerutu kesal setelah membaca isi surat yang tidak masuk akal itu. Namun ia merasa Rey kini berubah jauh, menjadi sosok yang sangat menakutkan. Tidak hanya mengancam dirinya, dia juga pernah mengancam suaminya beberapa waktu lalu. Ucapan Rey selalu terdengar serius. Rania bingung apa yang harus di lakukannya? Sejenak ia terdiam untuk berpikir langkah apa yang akan diambilnya.


Ia terus berjalan mondar-mandir dengan melipat kedua tangannya, sesekali menggigit ujung kukunya. Resah, ya, itulah yang dirasakan Rania saat ini.


Dia tidak mungkin menyakitiku? Tapi, jika dengan Zein... Sudah pasti dia sanggup menyakitinya. Meski aku pergi sendirian tanpa orang-orang suruhan Zein untuk menjagaku. Rey juga tidak akan berbuat macam-macam di rumah orang tuaku!! Aaarggh... Apa yang harus aku lakukan? Batinnya terus bergulat.


Setelah kurang lebih setengah jam Rania berpikir, perang batinnya berhenti pada suatu keputusan yang dirasanya cukup tepat. Ya, akhirnya dia memilih untuk menemui mantan kekasihnya itu. Rania lebih takut jika sampai Rey menyakiti suaminya. Yang ia tahu, kini mantan kekasihnya berubah menjadi sosok yang menyeramkan, bukan tidak mungkin dia akan menyakiti suaminya.


Kemudian Rania mulai berpikir, bagaimana caranya pergi tanpa para pengawal? Lari?jelas tidak mungkin, berjalan mengendap? Itu juga tidak mungkin. Belum selesai pikirannya beristirahat dari memikirkan tingkah Rey, pikirannya kembali disibukkan dengan memikirkan cara keluar dari butik agar tidak diketahui para pengawalnya?


Arrggh... Rasanya kepalaku ingin pecah di buatnya. Rania menggerutu kesal oleh kelakuan Rey.


Ia kembali melakukan gerakan ke sana ke mari layaknya gosokan baju. Melly yang melihatnya pun di buat kebingungan.


"Bu... Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya Melly.


"Tidak ada." singkat saja Rania menjawabnya. Masih dengan gerakan mondar-mandir, menyilangkan kedua tangannya di bawah dada, dan sesekali menggigit ujung kukunya.


Ah... Aku tahu, lewat pintu belakang saja! Mereka juga tidak akan tahu. Lagi pula, di belakang pasti tidak ada penjaga? Pikirnya.


Matanya melirik tajam, mengawasi beberapa pengawal yang berdiri di dalam maupun di luar yang selalu memperhatikan dirinya.


Bagaimana aku bisa keluar jika mereka selalu mengawasiku? Batinnya bingung.


Baiklah, aku pura-pura ke toilet saja. Rania berjalan masuk ke bagian dalam dan membuka pintu belakang dengan gerakan yang sangat pelan, agar tidak menimbulkan suara. Begitu pintu terbuka setengahnya, betapa terkejut dirinya mengetahui bahwa di bagian belakang butiknya pun ada dua orang pengawas.


Astaga... Zein, benar-benar melakukan ini dengan sangat sempurna. Rania heran.

__ADS_1


Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa keluar? Ya Tuhan... Rasanya aku ingin sekali melenyapkan manusia menyebalkan itu, agar hidupku tenang. Rania terus menggerutu kesal, ia dibuat jengkel oleh mantan kekasihnya sendiri.


Seolah sudah putus asa, Rania menyandarkan dirinya di tembok, menurunkan tubuhnya secara perlahan hingga berada di posisi duduk menekuk kedua kakinya. Meletakkan kedua tangannya di atas lutut kakinya dan menempelkan dagunya di atas lutut.


Jika kau berani menyakiti suamiku? Aku akan menyiksa hatimu dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping sampai kau menyesal. Batin Rania mengancam.


Beberapa menit kemudian, ia mengangkat kepalanya. Seperti mendapat ide baru. Dengan segera ia beranjak bangun dan berjalan mendekati Melly.


"Ssst... Mel... Melly." dengan berbisik Rania memanggil Melly. Menyadari dirinya di panggil, Melly pun segera menghampirinya.


"Iya Bu... Ada apa?" tanya Melly berbisik.


"Ikuti aku." Rania menggandeng tangan Melly. Dan berjalan masuk ke dalam, setelah dirasa sudah jauh dari jangkauan para pengawalnya. Ia kembali berbisik. Mel, tolong bantu aku keluar tanpa diketahui oleh mereka, ada hal penting yang harus aku lakukan...! Bisakah kau alihkan pandangan dua pengawas di belakang itu? Pinta Rania sambil menunjuk tangannya tepat ke arah dua pengawas yang sedang berdiri di pintu belakang.


"Tapi Bu... Tuan sudah berpesan agar ibu tidak keluar sendirian tanpa pengawas!" bantah Melly.


"Kau bekerja di sini untuk siapa Mel?" tanya Rania bernada mengancam. Maafkan aku Mel, aku terpaksa mengancam-mu seperti ini.


"Tentu saja untuk Ibu." jawab Melly pasrah.


"Kalau begitu, lakukan saja apa yang aku perintahkan!" ucap Rania tegas.


Aku tidak tahu ini salah atau benar? Yang aku tahu, hanyalah memikirkan keselamatanmu, Zein. Batin Rania bingung.


Dengan segera, Melly membuka pintu, keluar dan berjalan lurus. Sementara para pengawas itu hanya melirik santai langkah Melly. Tidak lama kemudian Melly mulai berakting meremas bagian perutnya seolah kesakitan. Satu orang pengawas mulai tertipu dan mendekati Melly.


"Ada apa dengan perutmu?" tanyanya tegas.


"A... Aku tidak tahu, rasanya sakit sekali." jawab Melly merintih.


"Sebaiknya kau pergi ke dokter!" ucap pengawas itu sambil menahan tubuh Melly yang terlihat lemas dan hampir jatuh. Sementara itu, pengawas yang satunya tetap berdiri dan berjaga, meski sesekali matanya melirik Melly dan temannya.


"Aggh.. Ke... Kepalaku, rasanya sakit sekali, pandanganku sepertinya mulai gelap!" aktingnya semakin meyakinkan.


"Hah... Kau merepotkanku saja! Ayo ikut denganku! aku akan membawamu ke rumah sakit." pengawas itu berusaha memapah Melly.


Sementara itu, Rania memperhatikan mereka dari dalam pintu yang sedikit terbuka. Ayo tunjukkan kemampuan akting-mu Mel...!! Dari dalam Rania tampak greget.


Melly menyadari usahanya akan sia-sia jika dirinya hanya mendapat perhatian dari salah seorang pengawas saja. Tiba tiba Melly menjatuhkan dirinya dan berlagak tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Yah... Dia malah pingsan." pengawas itu tampak bingung, sementara yang satunya lagi hanya menahan tawa. Seolah senang dengan penderitaan temannya.


"Hey... Kau jangan diam saja! Bantu aku cepat!" Teriak pengawas itu meminta bantuan temannya. Lalu temannya segera mendekatinya dan membantu memapah Melly yang pura-pura pingsan.


Arrrgh... Sial, aku harus merelakan tubuhku di sentuh mereka secara cuma-cuma! Gerutu Melly kesal.


Oke... Akting-mu memang tidak bisa di ragukan Mel. Seharusnya kau melamar jadi artis saja. Batin Rania meledek menahan tawa. Begitu kedua pengawas itu fokus pada Melly, ia segera keluar dengan gerakan mengendap. Setelah ia bersembunyi di tembok bagian samping, dengan cepat ia berlari sampai langkahnya menjauh dari butik dan tidak terlihat oleh para pengawalnya.


Kemudian ia berhenti berlari di tepi jalan, melihat ke kiri dan ke kanan untuk menyetop taksi. Napasnya tersengal, perlahan ia mulai mengatur napasnya, taksi pun berhenti di depannya. Dengan segera ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam taksi.


Melihat penumpang nya begitu kelelahan dengan napas yang tersengal, membuat pengemudi taksi itu merasa iba dan mengulurkan tangannya dengan sebotol air mineral di tangannya. "Maaf, Nona... Kebetulan saya ada air mineral yang masih tersegel, sepertinya anda membutuhkan ini...!"


"Heh... Berlari sangat melelahkan." dengan napas yang masih tersengal, Rania meraih botol air mineral yang ditawarkan pengemudi taksi tersebut. "Terima kasih Pak."


"Kita mau ke mana Nona?" tanya si pengemudi.


"Tolong antarkan aku ke jalan A ya pak!" jawab Rania.


"Baik Non." balas si pengemudi seraya menunduk sopan.


Di tengah perjalanan tiba-tiba beberapa mobil yang sudah dari tadi mengikuti taksi yang di tumpangi Rania dari belakang, menghadang jalan hingga membuat si pengemudi mengerem mendadak.


*Bersambung.


Terimakasih buat kalian yang udah:


➡️Selalu kasih LIKE


➡️Sempetin buat KOMEN


➡️Jadiin FAVORIT


➡️Rela KASIH BINTANG LIMA


➡️Mau nyumbang VOTE


➡️Jangan lupa juga buat FOLLOW AUTHOR


Semakin banyak kalian nge'VOTE author, semakin sering juga author buat UP.

__ADS_1


Pokonya terima kasih buat dukungan kalian SEMUA. 🤗❤️


__ADS_2