
Setelah proses transfusi darah selesai. Rey keluar dari ruang operasi dengan tubuh yang sedikit lemas. Lalu mendekati Zein yang sedang duduk di bangku. Ia duduk tepat di sebelah Zein.
"Terimakasih..!" ucap Zein pelan.
"Terimakasih untuk apa? Jika untuk darah yang aku berikan pada Rania, kau tidak perlu mengucapkannya! Itu sudah tugasku..!" Rey mengucapkannya dengan bangga.
"Berhentilah bersikap seolah-olah kau suaminya! Tidak bisakah kau menempatkan dirimu pada tempatnya!" balas Zein tegas.
Rasanya hari itu terlalu melelahkan bagi Zein hingga harus meneruskan pertikaiannya dengan mantan kekasih istrinya. Terlebih ketika dirinya bahkan tidak mampu mendonorkan darahnya pada istrinya, justru mantan kekasihnya lah bisa mendonorkan darah untuk istrinya. Rasanya seperti peluru menghantam dirinya. Meledakkan hatinya berkeping-keping. Tidak berguna, mungkin itulah yang dirasakannya saat itu.
"Maaf, jika kata-kataku keterlaluan. Tapi, memang aku tidak bisa bersikap seolah Rania adalah milikmu. Sampai detik ini perasaan ku padanya tetap sama, jangan pernah bermimpi dan memintaku untuk melupakannya...!!" bantah Rey dengan percaya dirinya.
Begitulah karakternya, Rey memang orang yang sangat percaya diri. Terutama dalam hal asmara. Seperti cintanya seorang yang di buta-kan dalam cinta hingga tak mampu berpikir dengan benar.
Aku tidak tahu, apakah semua ungkapan hatinya pada Rania adalah sebuah kejujuran tentang cinta? Atau hasrat sesaat yang mendominasi-nya hingga ia kehilangan akal sehat dalam mencintai? Zein membatin penuh tanya tentang ungkapan hati mantan kekasih istrinya itu.
"Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu...! Tidak bisakah kau menerima kenyataan, bahwa Rania saat ini adalah milikku? Jika kau memang mencintainya, seharusnya kau tidak akan egois seperti ini dan menyakiti Rania atas perbuatan-mu...!!" permintaan Zein pada Rey terdengar tulus.
"Mari kita buat kesepakatan, Zein!!" ucap Rey.
Kalimat yang terdengar mengada-ngada dan konyol itu terlontar dari mulut Rey, entah apa yang ada dalam pikirannya sehingga ia mampu berkata hal yang tidak masuk akal untuk di lontarkan.
"Apa kau gila? Hentikan omong kosongmu...! Bagaimana mungkin kau bisa mengajukan kesepakatan? Urusanmu sudah selesai. Jadi, sekarang pergilah. Aku sudah muak melihat wajahmu." Zein menolak permintaannya tentang sebuah kesepakatan.
"Apa kau takut?" kata Rey seolah menantang.
Mendengar kalimat itu, membuat Zein semakin geram dan ingin sekali memukul habis mantan kekasih istrinya yang begitu merepotkannya. Namun Zein masih bisa berpikir jernih, tidak mungkin ia membuat keributan di depan ruang operasi istrinya yang sedang bertaruh nyawa.
"Kesepakatan macam apa yang ingin kau katakan?" singkat saja Zein bertanya.
"Hahaha... Aku suka pertanyaan-mu barusan." bukannya mengatakan langsung pada ininya , Rey malah tertawa seolah meledek.
"Cepat bicara!! Sebelum aku mencabut kembali kata-kataku." ucap Zein tegas.
"Oke...oke... Mari kita bersaing secara sehat? Aku tidak akan mengganggu Rania dengan cara-cara kasar lagi, tentu itu akan membuatnya semakin membenciku. Jadi mulai sekarang, aku tidak akan muncul di hadapan kalian. Tapi... Sebaliknya aku akan berada di balik layar kalian, dan tentunya aku akan menghancurkan-mu. Hingga kau tak memiliki apapun dan Rania akan kembali padaku? Bagaimana, adil kan?" ucap Rey santai dan penuh percaya diri.
__ADS_1
Laki-laki ini... Benar-benar tidak bisa di remehkan. Meski aku memenjarakannya, ia tidak akan bisa dengan mudahnya dipenjarakan dengan kekuasaannya yang cukup besar, aku ikuti saja permainannya. Entah apa yang membuatnya begitu di butakan dalam cintanya. Batin Zein menerka.
"Silahkan saja jika kau bisa...!! Dan, ingat... Sebelum kau menghancurkan-ku, aku yang akan menghancurkan-mu terlebih dulu...!!" balas Zein menantang.
"Baiklah, deal." jawab Rey singkat dengan senyum liciknya. Lalu ia duduk kembali di bangku dan menunggu kabar baik tentang Rania yang tengah berjuang di ruang Operasi.
Setelah beberapa jam mereka menunggu di depan ruang operasi. Dokter keluar dan menunjukkan ekspresi menghela napas.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Bagaimana keadaan kekasih saya, Dok?"
Dua orang itu bertanya berbarengan dengan kalimat yang berbeda di akhir. Membuat dokter kebingungan mendengarnya, apa mereka sedang bercanda? Jelas-jelas wanita yang ada di dalam adalah istri dari tuan Zein, pemilik rumah sakit yang di naunginya. Lalu siapa laki-laki yang mengaku sebagai kekasihnya?
"Nyonya Rania berhasil melewati masa kritisnya, tuan. Dan kini sedang masa pemulihan, Tuan bisa melihatnya sekarang, tapi sebaliknya jangan ada keributan. Karena itu akan mempengaruhi kondisinya." Tak ingin di buat pusing, akhirnya dokter hanya memberitahukan kabar gembira tentang keberhasilan Rania melewati masa kritisnya di ruang Operasi. Dan kini sedang dalam masa pemulihan.
"Terimakasih, Dokter." ucap Zein cepat, lalu dengan segera ia masuk ke dalam, seolah tak sabar ingin melihat wajah istrinya.
Begitupun dengan Rey, ia ikut bersama Zein ke dalam untuk melihat kondisi Rania. Namun sayangnya, kali ini Zein tidak ingin berkompromi dengannya, ia menahan Rey untuk masuk. Melirik wajah Ronald dan memintanya untuk mengurus Rey.
"Lepaskan...! Beraninya kau menyentuhku!" bentak Rey disertai mata melotot tajam dan menangkis kasar tangan Ronald lalu merapikan kembali bajunya yang kusut akibat tarikan tangan Ronald.
Sementara itu di dalam, Zein nampak duduk di bangku dekat kasur tempat Rania terbujur kaku dan belum sadarkan diri. Ia meraih tangan Rania yang masih terhubung selang infuse di punggung telapak tangannya dan menyentuhnya dengan sangat lembut, lalu mencium lembut tangan Rania.
Rania masih belum sadarkan diri. Zein terus menatap wajah Rania. Ada senyum mengembang di wajahnya. Beberapa menit kemudian Rania menggerakkan jari tengahnya perlahan. Zein melirik jarinya yang terus bergerak lalu ia tersenyum senang.
"Sayang... Kau sudah sadar?" Zein berbisik lembut di telinga Rania.
"Hem... Z... Zein, apa itu kau?" tanya Rania dengan suara yang masih lemas.
"Tentu saja ini aku, sayang..." Zein mengangkat kepalanya dan menampakkan wajahnya tepat di depan wajah Rania.
Rania tersenyum tipis, lalu di tatapnya wajah suaminya yang terlihat kusut.
"Apa kau menunggu lama di sini, Zein?" tanya Rania.
__ADS_1
"Ya, tentu saja... Bagaimana mungkin aku meninggalkan istriku yang sedang berjuang di ruang Operasi?" jawab Zein menggoda, sembari menyentuh pipi Rania.
Lagi-lagi Rania tersenyum, namun kali ini, senyum tersipu malu.
Sementara itu di luar ruang operasi.
Sial... Kenapa lama sekali? Sedang apa sebenarnya mereka di dalam? Batin Rey kesal.
Terlalu lama menunggu di luar, membuat Rey gelisah. Akhirnya ia mengetuk pintu itu dengan ketukan pelan. Takut jika terlalu keras akan mengganggu Rania, sebenarnya ia hanya ingin memastikan kondisi Rania saja, jika sudah membaik. Ia akan pulang. Meski ia tahu, Rania pasti akan mengusirnya keluar ketika melihatnya.
Tok tok tok
Begitu mendengar suara ketukan di balik pintu. Rania terkejut dan mengalihkan pandangannya pada pintu.
"Siapa itu, Zein? Apa kau memberitahukan orang tuaku?" tanya Rania cemas.
Pasalnya ia tak ingin orang tuanya tahu kondisinya saat ini. Ia tak ingin membuat mereka khawatir atas keadaannya sekarang.
"Aku rasa bukan, sayang. Aku belum memberitahukan mereka soal keadaanmu saat ini. Aku takut membuat mereka cemas, mungkin setelah ini, aku akan menghubungi mereka soal keadaanmu." balas Zein.
"Ja... Jangan, jangan beritahu mereka soal keadaanku, Zein! Aku tak ingin mereka khawatir." pinta Rania sembari memegang tangan Zein.
"Baiklah kalau itu keinginanmu." balas Zein singkat.
Tok tok tok
Suara ketukan di balik pintu terdengar lagi.
***Bersambung.
Ingat yah readers'ku tercintah...
➡️LIKE ➡️KOMEN➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
VOTE ❤️VOTE ❤️VOTE.
__ADS_1
Terimakasih. 🤗**