Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Ruang Operasi.


__ADS_3

Ruang operasi itu masih di penuhi oleh beberap dokter dan perawat handal yang dimiliki rumah sakit milik Zein. Ia memang sengaja membangun rumah sakit untuk orang-orang dari kalangan menengah ke bawah yang tidak mampu membayar pengobatan. Mengingat ibu nya yang menderita penyakit menahun seperti Melanoma, itu juga yang menjadi alasannya membuka rumah sakit pribadi yang diperuntukkan untuk keluarganya sendiri dan orang-orang yang tidak mampu.


Beberapa kali Zein bangun dari duduknya, berdiri dan mondar mandir di depan ruang operasi untuk sekedar memastikan apakah Rania baik-baik saja! Namun sayangnya dokter masih belum terlihat keluar dan memberikan kabar padanya. Lalu ia duduk kembali dan menenangkan diri sambil merapal Doa di dalam hati. Nampak jelas raut kecemasan di wajahnya, perlahan ada bulir air mata yang menetes dari pipinya, ia tidak bisa menahannya lagi agar air matanya tidak jatuh. Sekeras ia menahan, semakin banyak air menggenang di pelupuk matanya. Sesekali ia menunduk dan menutup matanya dengan kedua tangannya, dengan terus merapal doa di hatinya.


Sementara itu, Ronald masih duduk di sampingnya. Sesekali ia menyentuh lembut bahu Zein, mencoba menguatkan Zein yang sedang kalut.


"Tuan, tenanglah. Aku yakin Nyonya tidak apa-apa!" ucap Ronald mencoba menenangkan.


"Kau dengar kan tadi? Dia bilang... Bahwa dia mencintaiku? Untuk kali pertamanya aku mendengar kalimat itu sepanjang bersamanya. Tapi, kenapa harus dengan keadaan seperti ini?" ucap Zein dengan napas terputus menahan suara tangis.


Mendengar ucapan Zein, membuat Ronald tertunduk diam. Hanya mendengarkan dan tak mampu berkata-kata. Ia paham betul, selama ini tuannya hanya mencintai satu wanita, yaitu istrinya yang saat ini sedang dalam masa kritis di ruang Operasi melawan sakit akibat luka tembak. Tentu saja itu menjadi pukulan berat baginya, belum sempat ia menikmati masa indah pernikahannya yang seharusnya penuh kebahagiaan layaknya pasangan suami istri. Justru sebaliknya di saat kemesraan itu sudah tercipta, dimana istrinya sudah membuka hati, sebaliknya malah terjadi insiden seperti ini.


Tiba-tiba sebuah langkah kaki terdengar tidak jauh dari tempat Zein dan Ronald duduk. Lalu menghampiri, semakin dekat dan semakin jelas langkah itu dan berhenti tepat di samping tubuh Zein.


Zein yang saat itu sedang dalam posisi duduk menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dengan segera ia meluruskan punggungnya, lalu dilihatnya orang yang menghentikan langkahnya dan berdiri di sampingnya.


Orang itu tidak lain adalah Rey dan Jeremi. Mantan kekasih istrinya, dan juga Jeremi si penembak yang dengan mudahnya melesatkan pelatuk di tubuh istrinya.


Sontak membuat aliran darah di tubuh Zein kembali naik dan bergejolak, dengan segera ia bangun dan menarik baju Rey, melayangkan kembali pukulannya. Namun Rey nampak diam tanpa melawan sedikit pun pukulan yang di layangkan oleh suami dari mantan kekasihnya itu. Ia hanya menunjukkan wajah dengan rasa bersalah yang mendalam.

__ADS_1


Belum sempat amarahnya mereda, bersiap melayangkan kembali pukulan keduanya ke arah wajah Rey. Jeremi menyela hingga Zein menghentikan tinjunya sebelum menempel tepat di pipi Rey. "Tu... Tuan, tolong jangan pukul tuan Rey lagi!! Pukul saja aku!!" ucap Jeremi terbata lalu menundukkan wajahnya.


"Ya, tentu saja! Kau lah yang membuat istriku tertembak." Zein mendorong tubuh Rey, beralih menarik baju Jeremi dan melayangkan tinjunya, Bugggh. Jeremi nampak meringis kesakitan dan tidak melakukan perlawanan apapun, ia tahu dirinya pantas menerima pukulan itu. Bahkan lebih dari itupun ia pantas menerimanya.


Cukup satu pukulan dari Zein saja mampu membuat Jeremi sempoyongan dan terlihat darah menetes di sudut bibir kanannya. Hingga membuat Zein menghentikan pukulannya kembali dan mendorong kuat tubuh Jeremi hingga terpental beberapa meter dari dirinya. Lalu ia kembali menatap wajah Rey. Dilihatnya dengan tatapan tajam yang tidak bisa diartikan maknanya.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Zein dengan napas tersengal.


"Biar bagaimanapun Rania adalah wanita yang sangat aku cintai, terlebih semua yang terjadi padanya adalah karena kesalahanku, jadi aku berhak berada di sini saat ini...!" jawab Rey seolah menantang.


"Cih... Masih beraninya kau menyebut dirimu mencintai istriku di depan wajahku! Apa kau waras?" Teriak Zein penuh amarah.


"Dalam hal ini, kau hanya beruntung bisa memiliki tubuhnya. Tapi, tidak untuk hatinya!! Aku yakin jauh di lubuk hatinya, Rania masih sangat mencintaiku...!" ucap Rey percaya diri.


"Ayolah... Tidak hanya dirimu yang takut kehilangan Rania, aku pun sama halnya denganmu. Hanya status saja yang membedakan kita, kau hanyalah pemilik sahnya, sedangkan aku hanya orang yang kalah cepat darimu. Jadi, tolong kesampingkan dulu egomu, biarkan aku melihat keadaan Rania saat ini. Aku juga tidak mungkin merebutnya darimu dalam kondisi seperti ini." jelas Rey menenangkan.


Di tengah keributan mereka di luar. Tiba tiba suara pintu terbuka, seorang pria paruh baya dengan baju berwarna hijau botol keluar dari ruang operasi dan berkata sambil menatap wajah Zein. "Tuan, luka tembak di perutnya menyebabkan banyak darah yang terbuang, ia hampir kehabisan..." belum sempat dokter melanjutkan kalimatnya, Zein menyela kalimat yang diucapkan dokter.


"Ambil saja darahku...!" ucap Zein tergesa.

__ADS_1


"Nyonya membutuhkan golongan darah O, tuan. Kebetulan di rumah sakit ini sedang kehabisan stok darah O. Apa golongan darah tuan sama?" dokter kembali melanjutkan kalimatnya.


Sial... Golongan darah ku, kan A. Zein terdiam seolah lemas tak bertenaga.


"Dok, golongan darahku O... Ambil saja darahku sebanyak yang Rania butuhkan...!" suara Rey memecah keheningan.


"Bagaimana, tuan?" tanya Dokter menatap wajah Zein, seolah meminta persetujuan Zein selaku suami dari pasien kritis yang berada di dalam.


"Pergilah...!" jawab Zein lemas. Saat itu tidak ada pilihan lain baginya selain menyetujui tawaran dari Rey, walau sebenarnya ia sangat tidak rela jika di dalam tubuh istrinya mengalir dan bercampur darah mantan kekasihnya, terlebih orang seperti Rey.


"Baiklah tuan, mari ikut denganku untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum aku mengambil darahmu...!" Dengan tergesa, Dokter dan Rey berjalan masuk menuju ruang Operasi.


Di dalam tepatnya bersebelahan dengan tempat tidur berukuran kecil lengkap dengan selang infuse dan selang menempel di bagian hidung Rania. Rey merebahkan dirinya di tempat tidur yang hanya berada di samping Rania berjarak dua meter saja dari tempat Rania terbujur kaku.


Selagi darah mengalir keluar melalui selang infuse di tangan kanannya untuk didonorkan ke tubuh Rania. Rey terus menatap wajah pucat Rania dengan mata terpejam dan selang yang menempel di bagian tubuhnya. Ada raut penyesalan mendalam di wajahnya karena keegoisannya, Rania harus berada di ruang Operasi dan merasakan sakit akibat luka tembak yang di layangkan Jeremi karena salah sasaran.


seharusnya Zein yang berada di situ..! Bukan Rania. Rey membatin.


*Bersambung.

__ADS_1


➡️**LIKE ➡️KOMEN➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA... inget ya... VOTE, VOTE, VOTE... Biar novelku bisa masuk Rank sepuluh besar. Heheh... Ngarep gapapa yah. Namanya juga usaha. Makanya kalian dukung dongs... 😊 biar akunya makin semangat UP.


happy reading, readersku tercintah**... 🤗❤️


__ADS_2