
Setelah Rania tertidur pulas, Zein segera menyusul istrinya untuk beristirahat.
Hari itu benar-benar membuatnya cukup lelah, menghadiri banyak meeting di luar di tambah pekerjaan-pekerjaan lainnya.
🌿 Keesokan harinya. 🌿
Cuaca minggu pagi kala itu begitu cerah, secerah hati Ronald dan dan Tania yang sedang di landa cinta.
Meski mereka harus menjalani hubungan rahasia, namun itu semua tidak menghalangi keharmonisan mereka bahkan kepercayaan mereka.
Ada yang berbeda di rumah Tania pada minggu pagi kala itu, Sekitar pukul tujuh pagi, Tania sudah bangun dari tidurnya. Biasanya ia akan bangun pada pukul sepuluh atau bahkan pada pukul dua belas siang pada hari minggu. Karena pada hari itulah ia libur dari semua kegiatan kampusnya yang cukup menguras waktu dan otaknya selama kuliah.
Namun kali ini ia bangun pagi-pagi sekali hanya untuk mencoba beberapa gaun, kaus dan kemeja. Hampir semua baju yang ia miliki, dari pakaian santai sampai yang resmi ia coba satu per satu. Namun dari sekian koleksi pakaian yang ia miliki di lemari pakaiannya, yang terbanyak adalah pakaian santai. Yaitu kaus dan celana jeans.
Huuuh... Sepertinya aku harus manambah koleksi gaun...! Semua yang aku coba kebanyakan kaus dan celana jeans. Tidak menarik sekali jika memakai kaus dan jeans saat berkencan. Gumam Tania sambil berlagak di depan cermin.
Sesekali ia memutar tubuhnya saat sedang mencoba gaun pendek setinggi lutut.
Hem... Sepertinya ini terlalu seksi. Batinnya menolak.
Lalu ia kembali mencoba gaun berwarna putih berpadu rendah berwarna pink di sisi kedua bahunya. Tingginya di bawah lutut dan tidak terlalu menampakkan keseksiannya.
Setelah beberapa kali memutar tubuhnya, menghadap ke kiri lalu ke kanan, mencermati setiap detailnya. Akhirnya Tania memilih gaun sederhana itu.
Ah... Ini cocok untuk pergi kencan bersamanya. Batin Tania setuju.
Kini ia beralih pada bagian rambutnya.
Pertama ia mengikat rambut panjangnya setinggi melewati batas kepala, setelah di perhatikan, menatap dengan teliti di depan cermin dan ternyata gaya rambut seperti itu tidak cocok untuk gaun yang ia kenakan.
Lalu ia pun melepaskan ikatan rambutnya, kini Tania berusaha memisahkan bagian rambutnya menjadi dua bagian, setelah ia membagi rambutnya menjadi dua bagian. Tangan kiri memegang rambut dan tangan kanannya memegang karet gelang lalu mengikatnya rambut bagian kirinya dengan kencang, sama halnya dengan rambut bagian kiri, ia melakukan hal yang sama untuk rambut bagian kanannya.
Setelah selesai menguncir rambut panjang lurusnya menjadi dua bagian. Seperti biasa, i berlagak di depan cermin, memutar tubuhnya lalu berbalik ke kiri dan ke kanan demi memandangi tampilannya.
Dan setelah di cermati, akhirnya Tania memutuskan untuk melepas kembali kunciran rambutnya karena merasa tidak cocok.
__ADS_1
Ya, lagi-lagi dia mencoba membuat tampilan yang berbeda.
Seolah tidak merasa lelah setelah hampir dua jam ia berdiri di depan cermin mengganti pakaian, berlagak, berputar, miring ke kiri dan kanan sampai mengubah tampilan rambutnya beberapa kali. Ia masih sangat bersemangat memainkan rambutnya yang panjang dan lurus itu.
Lalu ia pun membuka kembali ikatan rambutnya, namun kali ini ia duduk di atas kursi rias nya.
Mungkin karena terlalu lama berdiri dan berlagak di depan cermin cukup membuat kakinya terasa pegal.
Ia memisahkan kembali rambutnya menjadi dua bagian dengan menggunakan kedua tangannya, ia mencoba mengepang rambutnya menjadi dua bagian, yaitu kiri dan kanan.
Setelah cukup lama ia mengepang rambutnya, akhirnya ia selesai juga.
Tania beranjak dari duduknya dan berdiri lagi, seperti biasa. Ia akan memutar tubuhnya, berbalik ke kiri dan ke kanan. Begitu saja yang ia lakukan dari jam tujuh pagi sampai waktu sudah mendekati angka sembilan.
Setelah di cermati, akhirnya Tania memilih gaya rambutnya. Menurutnya, gaya rambut kali ini sangat cocok dengan gaun yang di kenakannya saat ini, yaitu dengan dua kepangan terpisah antara kiri dan kanan.
Setelah selesai menata rambutnya, kini ia mulai memoles area wajahnya, namun kali ini ia tak butuh banyak waktu dalam memoles wajahnya. Sebab ia tidak bisa berdandan layaknya kebanyakan wanita.
Tania hanya memakai krim pelindung matahari pada wajahnya, lalu di tambah dengan bedak dan di oles tipis-tipis, karena Tania tidak terlalu suka memakai bedak terlalu tebal, tentunya itu karena ia tidak terlepas dari jiwa tomboynya.
Tania mencari lipstik yang warnanya cukup cerah, misalnya merah bata atau merah cerah. Namun beberapa kali ia menyapu pandangannya mencari lipstik dengan warna terang, ia tetap tidak menemukannya. Tentu saja ia tidak menemukannya, karena sebenarnya ia tidak pernah membeli lipstik dengan warna terang.
Cih... Sepertinya mulai sekarang, aku harus lebih sering mengunjungi toko kosmetik. Tania membatin saat dirinya tidak memiliki banyak kosmetik.
Akhirnya Tania terpaksa memilih lip mate dengan warna pink muda, karena memang warna itulah yang ia miliki, lagi pula warna itu tidak terlalu mencolok dan membuatnya justru terlihat natural seperti gadis desa.
Setelah selesai memoles wajahnya, kini ia beralih mencari parfum lalu menyemprotkannya pada area bajunya.
Pukul sembilan pagi ia baru selesai dari dandannya. Ya, dua jam sudah ia berkutat dengan pernak-pernik di depan cermin.
Tidak lama setelah ia selesai berdandan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah pesan singkat dari Ronald.
Menyadari Ronald sudah datang dan menunggunya di depan gerbang. Tania pun segera keluar dari kamarnya untuk menemui Ronald.
Wajahnya begitu senang, terlihat aura bahagia menyelimuti wajahnya. Hingga saat ia melewati ruang tengah dan ada kedua orang tuanya sedang duduk di sofa menegurnya.
__ADS_1
"Tania... Kau mau kemana?" tanya ibunya sambil memperhatikan penampilannya dari atas kepala sampai ujung kakinya.
Penampilannya yang berbeda dari biasanya, bahkan untuk pertama kalinya ia berpenampilan semanis dan seanggun itu. Pikir ibu dan ayahnya.
"Hehehe... Tania ada acara sama teman bu, yah. Tania pergi dulu yah..!" jawab Tania sambil tertawa malu-malu di depan ayah dan ibunya.
"Ya... Hati-hati dan jaga diri baik-baik ya, ayah tidak akan melarangmu, karena kau sudah dewasa." jawab ayahnya sambil melempar senyum lebar.
Ayahnya sudah paham dengan penampilan Tania, ia juga tidak akan mengatur dan melarang Tania berbuat apapun, karena ia sangat mengenal pribadi Tania yang cukup baik dan disiplin, ia hanya mengingatkan Tania. Selebihnya, ia mengizinkan Tania pergi.
Berbeda dengan ayahnya, ibunya justru begitu penasaran dan ingin tahu kemana dan dengan siapa ia pergi.
Setelah mendapat izin pergi dari ayahnya, Tania pun berlari kecil, seolah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya.
"Eh... Taniaaaa... Kau mau pergi kemana dan dengan siapa?" Teriak ibunya saat melihat Tania berlari, namun tidak mengejar Tania.
Ia hanya meneriakinya dari dalam rumah, lalu Tania sudah hilang dari pandangannya.
Hem... Dasar Tania. Ibunya bergumam sambil duduk kembali di sofa tepatnya di samping suaminya.
"Kau ini... Seperti tidak pernah muda saja." ujar suaminya.
"Huh... Selalu saja mengatakan itu." balas ibunya.
Akhirnya Tania sudah berada di depan mobil Ronald.
Berdiri dengan wajah menahan malu dan rasa gugup mulai menyerangnya saat bertatapan dengan Ronald.
Ronald tampak begitu terkejut melihat penampilan Tania di luar biasanya.
Bersambung\=\=\=>
Hay readersku... Pasti kalian penasaran kan visual Tania dan Ronald? Karena visual Ronald dan Tania belum ada. Baiklah, lain kali author akan selipkan visual mereka ya.
Terimakasih untuk segala dukungannya. 🙏🏻
__ADS_1